Senin, 05 Juli 2010

Europe Tour [4].barcelona.monaco

Menuju Barca

Hari ke-8. Barcelona. Bangun pagi agak terlambat, terlalu capek untuk perjalanan lebih dari 800 km. Apalagi Agusta, yang nyopir dan tak tergantikan. Sori ya Gus...kita-kita nggak punya SIM Internasional. Seperti biasa Agusta cek dulu air radiator, kondisi mobil masih ok, cuci mobil ...tidak terlalu perlu, karena memang tidak ada hujan, tidak jalan becek.
Setelah sarapan di kantin yang tersedia di pom bersiap-siap kembali untuk perjalanan selanjutnya. Rute yang dipilih bensin, Barcelona-Girona-masuk wilayah Perancis di Le Perthus-Perpignan-Narbonne-Montpelier (jangan diplesetkan ya...)-Nimes-turun ke selatan menuju Marseilles.
Kota Barcelona pagi itu agak mendung, dan benar, dalam perjalanan keliling kota turun gerimis. O ya..hujan di daratan Eropa tidak sedahsyat hujan di negara tropis. Hujan yang dimaksud adalah gerimis.






#Sebagai pengikat rindu, akan kukenang slalu, cintaku di Barcelona,lo siento mucho senorita.# Salah satu penggalan lirik lagu Barcelona yang dinyanyikan Fariz RM. Barcelona, kota terbesar ke-2 setelah Madrid, yang berada di pantai selatan Eropa memang bikin rindu. Bangunan spanyol (bukan separo nyolong lho...) yang banyak dijumpai di tanah air, meniru bangunan yang ada di sini....kalee. Arsitektur bangunan walaupun bangunan yang sudah berusia puluhan, bahkan ratusan tahun, tetap kokoh berdiri dan ada kenikmatan tersendiri apabila memandangnya.
Sebagaimana kota-kota besar di Eropa, banyak sekali dijumpai taman-taman kota dengan berbagai seni patung dan seni 3 dimensi lain yang sangat indah. Tampak di salah satu bundaran di jalan raya, berdiri bangunan sederhana menjulang tinggi. Ternyata air menggelontor dari ujung bangunan tersebut, bener-benar air mancur...bukan air muncrat.
Barcelona segera berakhir, tidak banyak yang mestinya layak dinikmati karena keterbatasan waktu. Terlalu sedikit waktu untuk menikmati tempat-tempat bagus di kota Barca ini, sayang..... Agusta.... tancap lagi.

Beristirahat di Rest Area dengan Kebun Bunga Matahari
Perjalanan dilanjutkan lagi, menjelang makan siang mampir dulu di restoran khas Spanyol. Berbagai makanan berjejer di meja pajang layaknya restoran padang. Agusta yang lebih banyak tahu tentang makanan eropa, milih berbagai lauh yang cocok untuk lidah melayu. Bungkussss....Oh ya...sebelum berangkat, kami sempat menanak nasi untuk bekal perjalanan, maklum perut jawa sekali seminggu harus ada nasi yang bersarang di perut. Nikmat kali, makan nasi berlauh ayam panggang yang di ramu oleh chef spanyol.
Seusai waktu asar, dalam perjalanan Agusta melihat ada perubahan temperatur yang meingkat di dasboard mobil. Diputuskan untuk mencari bengkel sepanjang perjalanan. Setelah 2-3 bertanya ketemu bengkel yang dimaksud. Seorang pria tua beruban (tahunya dari warna rambut yang berwarna putih...) menghampiri kami. Tanpa banyak bicara langsung memeriksa indikator suhu dan melihat kondisi radiator. Ditemukan adanya sedikit kebocoran pada selang air menuju radiator. Solusinya selang harus diganti...masalahnya, apa ada barangnya ? Ada, walaupun bekas kondisinya masih bisa terpakai. Tidak lama untuk mengganti selang. Seperti biasa, basa-basi sejenak bapak tanya dari mana mau kemana ? Secara berkelakar dia bercerita kalau di Italia akan banyak dijumpai orang atau tempat merah/ red area (maksudnya.. wanita-wanita nakal). Kami semua jadi tersenyum, teringat apa yang kita lakukan di kamar-nya pak Burlian Jamal. Setiap malam minggu setelah tengah malam, kami berkumpul di ruang pak Jamal, satu-satunya kamar diantara kami ber-6 yang ada tv-nya. Acaranya nonton film +17 di salah satu stasion tv swasta, Sat Eine. Tidak lama sih, antara 30-45 menit-an. Kebanyakan film-film yang diputar adalah produksi Italia. Benar juga bapak bengkel ini, rupanya dia juga penggemar Sat Eine. He..he..aya..aya wae.
Menjelang petang kami nyampai di perbatasan negara Perancis, desa yang terletak namanya Le Perthus. Seperti layaknya wilayah-wilayah perbatasan antar negara, dijumpai berjejer-jejer pintu pemeriksaan imigrasi seperti layaknya pintu tol Jagorawi.

Perbatasan Spanyol Perancis

Walaupun sudah tidak diperlukan lagi pemeriksaan visa sebagai akibat kebijakan Uni Europa, pintu-pintu tersebut masih kokoh berdiri, belum sempat dibongkar. Berbagai restoran dan penginapan berderet sepanjang jalan jalan menuju batas. Kami memutuskan untuk rehat sejenak sambil menikmati pemandangan sore hari.
Tidak banyak yang perlu diceritakan dalam perjalanan malam di wilayah Perancis ini, karena hari memang sudah gelap dan lampu lampu di pemukiman penduduk sudah menyala. Perhatian sempat terpaku pada plang lalulintas penunjuk jalan berwarna hijau. Tertulis Montpelier dengan tanda panah ke atas. Lho... jangan-jangan penduduk nya semua laki-laki.
Setelah melewati Nimes, masuk kota Marseilles. Jam sudah menunjukkan jam 20.00.

Hari ke-9. Monaco. Pagi cerah, walau matahari terhalang sedikit awan, tidak menyurutkan kami untuk sightseiing di sepanjang pantai Marseilles. Dengan status sebagai kota paling ramai setelah Paris, Marseilles merupakan salah satu kota pantai di sepanjang teluk Mediterania yang menjadi tujuan wisata pantai yang terkenal, selain pelabuhan yang sibuk juga.
Summer di Eropa memang menjadi waktu idaman bagi warga yang sangat ditunggu. Sepanjang pantai, danau atau tempat-tempat fasilitas umum banyak sekali warga, turis lokal maupun mancanegara, yang kongkow atau berjemur.

Marseiles

Bahkan, jam belum menunjukkan tengah hari, di sepanjang pantai di jalan JF Kennedy sudah banyak warga yang berjemur dan berenang. Sepanjang jalur jalan sebelah timur banyak berdiri hotel-hotel dengan lantai 7-10 berderet-deret dan sepanjang sisi barat terbentang pantai pasir putih dengan hamparan laut biru merupakan bagian dari teluk Mediterania. 1-2 hotel berlantai 40-50 menjulang tinggi.

Mandi dan Cuci Mata

Agusta sengaja tidak mandi di penginapan, karena mau mencoba nikmatnya pantai Marseilles. Beberapa nenek-nenek berjalan-jalan dengan pakaian renang, dan satu diantaranya no-bra. Kalau mata jeli di antara kerumunan pengunjung yang asik berbaring dan bermain-masin pasir, remaji-pun ber no-bra ria santai, nggak risih. Jadi teringat beberapa minggu sebelumnya. Suatu ketika Agusta, sore hari Jumat, mengajak kami untuk mengunjungi salah satu danau yang ada di Stuttgart. Danau nya tidak terlalu besar, dan biasa saja tidak terlalu indah banget sih. Yang luar biasa adalah pengunjungnya yang berenang-renang di danau. Secara tidak tertulis sepanjang putaran danau (dalam waktu 20 menit kita bisa memutari danau dengan berjalan kaki) rupanya sudah di kapling-kapling. Bagian yang dekat dengan akses masuk (parkir kendaraan) untuk anak-anak, artinya semua yang berenang disitu harus berpakaian sopan dengan pakaian renang yang standard. Agak masuk ketengah sedikit, kapling remaja. Siapapun yang berenang disini, seragam-nya cukup bagian celana ke bawah, termasuk pada ladys. Agak kedalam lagi, kebetulan tertutup semak-semak yang agak rimbun, semua sepakat untuk tidak berpakaian apa-apa. Waah..wah.....
Kembali ke Marseilles, setelah puas cuci muka di pantai, perjalanan berlanjut untuk
mengunjungi pelabuhan. Banyak sekali parkir perahu pesiar dengan berbagai model dan warna dengan tiang-tiang yang menjulang. Rupanya pelabuhan juga menjadi obyek wisata juga. Tampak kereta wisata yang ditarik dengan kendaraan, semacam traktor kecil, berjalan pelan sepanjang jalan dan didalam beberapa orang wisatawan santai menikmati perjalanan.

Summer in the Beach, Marseiles

Yacht, Menunggu Penyewa Berlayar di laut Mediterania


Sudut Kota Marseiles




Kebun Bunga Matahari


Perjalanan harusdilanjutkan....Come on... Rute selanjutnya adalah Marseilles-Toulon-Cannes-Nice-Monaco. Sekali lagi jalan keluar kota mulus, tidak ada yang berlobang sedikit-pun. Sepanjang jalan banyak dijumpai hamparan kebun dengan bunga matahari yang sedang berkembang, menguning. Sesuai dengan namanya, kebetulan siang hari matahari berada di atas, arah bunga-nya pun ke atas. Indah sekali. Konon bunga matahari diproduksi untuk dimanfaatkan untuk campuran kosmetik. Perancis identik dengan parfum ..kan ?



Monumen IndoChina (Vietnam)

Setelah melewati Le Muy, melewati Frejus mampir sejenak di Indochina Memorial Park. Bangunan berupa plaza yang didirikan sebagai kenangan keberangkatan tentara Perancis sebelum menjajah Vietnam. Mungkin salah satu negara yang terjauh yang dijajah Perancis, selain negara-negara di Afrika Utara. Dibangun sekitar tahun 1985an.



Istirahat sekalian membayangkan, apakah di Belanda ada memori tentang negara jajahan mereka yang ada di Nusantara sana ? Kota selanjutnya adalah Cannes, kota yang terkenal dengan festival film internasional-nya. Salah satu film nasional yang pernah berpartisipasi dalam festival ini antara lain : Daun Di Atas Bantal karya Garin Nugroho. Film yang dibintangi Christine Hakim menjadi kebanggaan insan perfilman tanah air, kali pertama film film nasional yang mampu menembus ffc.
Cannes tidak sempat menjadi ajang persinggahan kami, sekali lagi gara-gra waktu yang sangat terbatas. Demikian juga dengan kota selanjutnya, Nice. Seperti halnya Marseilles, Nice juga kota turis uantuk pantai yang sangat indah. Sayang tidak ada waktu untuk menikmatinya. Karena ada yang lebih sensional, Monaco. Yah ...Monaco, negara kotaseluas 2 km2 yang terkenal dengan arena perjudian-nya.
Belum terlalu sore untuk tiba di Monaco, artinya masih ada waktu untuk menikmati keindahan pantai (lebih tepat : pelabuhan) dan jalanan serta casino-nya yang terletak di Monte Carlo. Sangat disayangkan jika menikmati keindahan kota tidak memanfaatkan jalan kaki. Setelah parkir kendaraan, kami berjalan menuju ke pantai. Monaco sebagian wilayah topografi-nya berbukit-bukit batu dan tandus serta menghadap ke pantai. Tetapi pihak kerajaan mampu membangun menjadi kota yang modern canggih, kiranya tidak ada sejengkal tanahpun yang tidak digarap pembangunanya secara optimal. Jalan raya, walaupun tidak lebar, tapi sangat mulus. Sehingga tak heran kalau manajemen F1 memilih menjadi salah satu ajang lomba balap jet darat yang sangat didambakan oleh para pembalap. Jalan sempit, berliku, tikungan 180 derajat merupakan salah satu cirinya. Di bawah gedung Fairmont Monte Carlo, tempat berjudi kalangan the haves, terletak jalan yang menjadi bagian dari trek yang harus dilalui para pembalap F1, yaitu di Boulevard Luis. Mustahil berlenggang ria di jalan ini pada saat musim balapan. Sayang musim balapan sudah lewat.

Kota Monaco




Dan Jet Darat Melaju dengan Kecepatan Tinggi


Kasino Monte Carlo dan Bagian Bawah Jalan Untuk Balapan F1

Port Hercules, tempat berlabuh kapal-kapal pesiar mewah dan super mewah. Salah satu diantaranya adalah Queen of Odissey, salah koleksi kapal mewah milik milyuner dunia, Ari Onassis. Walaupun pelabuhan bukan tempat yang cocok untuk menikmati air laut, karena musim panas, beberapa turis (atau salah satu pemilik kapal ?) berjemur ria di bangunan pelabuhan untuk menambat kapal. Istana Grimaldi merupakan kediaman resmi raja Monaco dan keluarga terletak di sekitar Av.Saint Martin.
Suasana lalu lintas relatif sepi, cenderung tidak ada kemacetan. Maklum saja penduduknya cuma 30.000 -an.

Blv. Lois, Monaco

Port Hercules

Sore beranjak mendekati malam, Monaco harus segera ditinggalkan. Italia merupakan ssasaran negara berikutnya yang harus dicapai.
Rute yang ditempuh, Monaco-Menton-Sanremo- Savona-Genova-Marina Carara. Walaupun waktu sudah menunjukkan jam 22.00 lebih waktu setempat, Agusta dan Kalvyn tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat penginapan di desa Marina Carara. Sebenarnya cukup banyak penginapan yang berderet-deret sepanjang jalan yang merupakan wilayah di pantai barat Italia. Jam 23.30 kami sudah berada di kamar di penginapan.

Queen of Odissey,

Sabtu, 03 Juli 2010

Europe Tour [5].pisa.vatikan.

Hari ke-9. Pisa. Menton adalah kota terakhir di Perancis sebelum memasuki wilayah Italia. Perbatasan antar kedua negara di pisahkan dengan bangunan pintu-pintu imigrasi untuk memeriksa visa bagi warga luar Italia yang masuk ke wilayahnya. Ada 5 pintu gerbang yang melayani pengunjung. Ya memang...pada saat itu...Italia belum tergabung pada Uni Eropa, sehingga masih harus ngurus ke konsulat yang ada di Stuttgart.

Perbatasan Perancis-Italia


Penginapan di Marinaa Carera
Marina Carerra setingkat kota kecamatan, tidak terlalu besar untuk daerah wisata pantai. Penginapan yang kami pilih tidak jelek. Bangunan lama warna krem desain kotak. Sayang sekali kamar-kamar untuk klas backpaker tidak ada di bangunan utama, tetapi ada di bangunan lain di belakang. Satu kamar berisi beberapa tempat tidur singgle. Tidak masalah yang penting bisa tidur nyenyak.
Bangun pagi kondisi fisik masih segar. Sarapan pagi sudah disiapkan pihak penginapan. Seperti biasa, penataan ransel-ransel di bagasi dirapikan di mobil. Agusta mengecek kondisi selang radiator, yang dua hari yang lalu diganti. Masih bagus. Ok...go head.

Nomor Polisi Mobil di Kota Pisa
Tujuan terdekat selanjutnya adalah Pisa. Siapa yang tidak tahu menara miring-nya. Awalnya saya beranggapan bahwa Pisa nama menara tersebut, yang benar adalah nama kota. Karena menara miring terletak di kota ini, untuk memudahkan digandengkan dengan nama menara-nya. Menara miring merupakan salah satu bangunan dari empat bangunan di area katedral Baptistry of St. John seluas lebih kurang 4-5 ha, tidak termasuk makam yang terletak di pojok. Tempat parkir tidak terlalu jauh dengan pintu gerbang katedral yang terletak di Piasa dei Miracoli dan Piasa dei Duomo. Sebelum masuk ke pelataran katedral sempat tertegun sejenak, lho koq ada mobil wilayah karesidenan Surakarta ada di sini. Rupanya mobil Marcedes Benz keluaran terbaru dengan plat AD156DH sedang mencari tempat parkir. AD merupakan plat nomor polisi di salah wilayah karesidenan di Jateng.



Diantara keempat bangunan kokoh yang paling unik adalah menara lonceng langsing yang terletak di sisi sebelah timur komplek. Yang selanjutnya diidentikan dengan menara Pisa (Torre pendente di Pisa). Bangunan lain, katedral yang berdiri kokoh dan lebih besar. Ada lagi menara yang lebih tambun dan lebih pendek dari menara lonceng. Bangunan lain yang paling besar berbentuk kotak yang merupakan pemakaman (camposanto). Dibangun pada abad 11 dengan lama pembangunan 200-an tahun, tinggi menara adalah 55 meter di desain oleh seorang arsitek bernama Guglielmo atau Dioatisalvi (mungkin nama samaran ?). Kemiringan menara memang sangat mengkhawatirkan, konon disebabkan karena kondisi struktur tanah yang labil untuk mendukung struktur bangunan berbobot 10.000 ton lebih. Tentu saja para ahli bangunan negara Italia tidak tinggal diam untuk menghadapi kondisi ini. Beberapa usaha sudah dilakukan, salah satu diantaranya adalah memasukan tiang penyangga pada pondasi bangunan di satu sisi dan menariknya di sisi yang lain. Pada saat ini pengunjung tidak diperbolehkan untuk naik, bahkan memasuki bangunan.





Karena masih dalam proses renovasi dan pembangunan lain, terlihat beberapa theodolit terpasang di lantai 1 menara. Katedral sebagai bagian bangunan lain juga tidak kalah megahnya, bangunan dengan stile Gothic. Banyak pengunjung masuk ke gereja menikmati keindahkan arsitektur interior bangunan. Indah sekali.
Di sepanjang jalan dei Miracolli berjejer rapi toko-toko berjualan souvenir, kaos, gantungan kunci miniatur menara Pisa dan lain-lain. Harganya tidak terlalu jauh nilainya dengan rupiah, karena kurs lira terhadap $US juga rendah. Serombongan motor besar sedang beristirahat, sebagian besar motor buatan Eropa. Dua jam merupakakan waktu yang cukup singkat untuk menikmati keindahan kota Pisa. Sebenarnya masih banyak obyek lain, universitas Pisa yang terletak tidak lebih dari 700 meter dari menara Pisa, terletak di sungai Pisa di jalan Lungamo Antonio Paccinoti. Bagaimanapun waktu yang harus memisahkan kami harus meninggalkan kota Pisa.

Salah Satu Jalan Negara di Italia Bagian Selatan

Perjalanan selanjutnya ke kota Roma melalui Livorno, Grosetto, diharapkan kami bisa menginap di Roma. Rute melalui jalur barat menyusuri jalan-jalan pantai memberikan sensasi tersendiri. Betapa tidak, karena kondisi topografi yang terdiri dari bukit-bukit karang terjal, dibuatlah jalan yang mampu menembus dinding-dinding karang tersebut. Sangat banyak sekali jalan melewati terowongan dengan berbagai variasi panjang yang berbeda-beda. Satu ketika jeda masuk dan keluar tidak sampai 2-3 menit, di waktu lain memerlukan waktu 10 menit lebih. Sebelah kiri dinding terjal menjulang tinggi, di sisi kanan dinding terjal juga menjulang tinggi tetapi kebawah, alias jurang. Sensasional.
Menjelang sore rombongan sudah masuk kota Roma. Masih ada waktu untuk mengunjungi Vatikan, negara di dalam negara, negara kota, mungkin negara terkecil di dunia,luasnya 50-an ha.


Jalan menuju Basilika Santo Petro, bangunan utama negara Vatikan, merupakan jalan besar Via della Concialliazione, di sisi kiri dan kanan disediakan khusus pejalan kaki. Di per-4-an jalan Via Rusticucci, kami sempat bertemu rombongan pengunjung berwajah melayu. Dengan yakin sekali kami mencoba menyapa mereka...e...e nggak tahunya filipino, warga Filipina. Memang mirip nian dan beralasan, karena sebagian besar warga Filipina merupakan penganut Katholik Roma.

Basilika Santo Petrus

Basilika Santo Petro merupakan plasa terbuka berbentuk oval melingkar seluas 1,5-an ha, di tengah berdiri tugu menara setinggi 12 meter-an. Lantai terbuat dari batu persegi 10x10 cm dipasang membujur simetris ke arah pusat. Saat ini suasana relatif sepi, serombongan peziarah/ pengunjung dan dipimpin oleh seorang pastor berdoa ke arah bangunan utama. Rombongan lain sedang berfoto dengan latar belakang bangunan depan. Di sisi lain tampak seorang pastur sedang jongkok dengan khusuk menghadap altar bangunan depan gedung.

Sebagian Jemaat Dari Mancanegara Sedang Berdoa

Seorang Jemaat Khusuk Berdoa

Bangunan terdiri dari pilar-pilar kokoh setinggi 5-6 meter yang berjajar dari utara ke selatan. Dan bahkan sekeliling bangunan yang melingkar oval lapangan Santo Petro. Pada bangunan depan terdiri dari 3 lantai yang tidak sama tingginya, dimana lantai dasar yang paling tinggi. Pilar-pilar tersebut membentang dari lantai dasar sampai lantai kedua. Diantara lantai 2-3 terpampang tulisan latin memanjang yang tentu saja tidak tahu artinya. Diantara pilar-pilar tersebut ada jendela dan pintu serselang-seling. Di salah satu jendela yang terletak di tengah inilah tempat Paus biasa menyapa jamaah-nya pada waktu-waktu tertentu, Natal atau hari-hari suci yang lain. Ada yang aneh, di tugu yang berdiri di tengah sepasang kekasih sedang berasik masyuk sementara beberapa burung dara menyaksikannya. Lho koq......memang Italia memang beda, tidak seperti yang dibayangkan.
Di ujung sebelah kiri bangunan utama, berdiri 2-3 penjaga keamanan (security service). Vatikan merupakan negara yang tidak punya tentara. Konon penjaga keamanan sebagian besar merupakan warna negara Swiss, negara yang dikenal netral. Ditilik dari pakaiannya, memang lebih terkesan penjaga untuk konsumsi pariwisata, daripada penjaga keamanan. Saya dan Kalveyn sempat berbincang-bincang sejenak dengan salah satu diantara mereka, dan diperbolehkan mengambil foto.
Waktu berjalan, matahari sudah berangsur turun ke arah barat. Kami harus meninggalkan Vatikan untuk mencari penginapan. Kota Roma kota yang tua dengan lalulintas yang agak semrawut dibanding dengan kota-kota besar di Eropa. Dan kedisiplinan masih kalah dengan Jerman. Pengendara motor banyak yang tidak menggunakan helm. Di beberapa perempatan tampak pengemis meminta-minta. Seperti di perempatan CSW,Blok M. Aneh. Seseorang berperawakan preman membawa pembersih kaca dan menawarkan kepada beberapa pengemudi untuk membersihkan kaca depan. Keadaan yang hampir sama di Amsterdam, tidak di Berlin.

Security Servise dari Swiss

Sebelum menuju penginapan Agusta masih sempat sighseeing melihat kota Roma di malam hari. Di salah satu wilayah (lupa namanya), dilihat dari banyaknya bangunan flat-flat di seklilingnya kelihatannya pemukiman padat, terdapat lapangan terbuka di mana dibangun bangunan umum berupa patung-patung dan air yang mengalir. Sudah banyak sekali pengunjung yang ada. Di tengah malam dengan disinari lampu-lampu yang ditempatkan diantara banyak patung-patung, semakin menambah keindahan suasana tempat tersebut. It's very beautiful..... sayang tidak sempat diabadikan, tidak ada kamera.
Kali ini kami menginap di bekas penginapan atlet pada saat Roma menjadi tuan rumah Olympiade tahun 1960. Jam sudah menunjukkan jam 19.00 wr (waktu roma). Mandi dan makan....selanjutnya tidur.....zzz...zzzzttt.

Kamis, 01 Juli 2010

Europe Tour [6].roma.venesia.


Asrama Atlet Olimpiade Roma
Hari ke-10. Roma.Venesia. Penginapan atlet merupakan bangunan kotak dengan resepsionis ala kadarnya. Maklum, memang bukan hotel. Fasilitas kamar mandi dan kamar makan layaknya seperti di asrama, rame-rame meriah. Walaupun sudah tergolong bangunan lama, tetapi kondisinya masih sangat terawat sekali. Stadion utama tidak terlalu jauh, memang satu komplek, walaupun di tutup pagar terbuka yang cukup tinggi sangat telihat sekali pilar-pilar penyangga bangunan utama stadion. Sayang masih terlalu pagi untuk dapat melihat kondisi di dalam stadion.






Patung Peringatan Tentara Musolini
Stadion Utama Olimpiade Roma
Seperti layaknya di Munchen atau Berlin (pernah menjadi tuan rumah Olympiade), stadion utama juga menjadi komoditi wisata bagi para turis, walaupun hanya menonton bangku dan lapangan kosong. Seperti biasa fasilitas-fasilitas umum di negara-negara Eropa, tampak berdiri patung-patung dengan beragam gaya. Tampak patung serdadu dalam keadaan berbaris dengan mengangkat senjata di pundak. Kurang jelas apakah ada kaitan antara olahraga dengan tentara.

Di tempat lain menjulang menara sederhana tanpa asesoris, polos, berwarna putih krem dan meruncing pada ujungnya. Tidak ada hiasan apapun di menara tersebut, kecuali tulisan MUSSOLINI DVX. Salah satu tokoh pahlawan Italia yang beraliran fasis.
Sarapan segera diselesaikan, karena tujuan hari ini perjalanan kembali ke-atas arah utara). Seusai dengan jatah cuti summer yang diberikan oleh universitas, seharusnya hari ini harus sudah nyampai di Stuttgart, karena besok harus sudah mulai pelajaran lagi. Agusta menawarkan apa mungkin kepulangan ditunda sehari, karena masih ada tempat di dunia yang terlalu sayang untuk tidak dikunjungi, Venesia. Teman-teman lain tidak terlalu banyak berpikir, langsung di-iya-kan saja. Kapan lagi, mumpung ada waktu dan kesempatan. Dan yang jelas rute kepulang-an dengan lokasi tersebut tidak memerlukan waktu yang terlalu lama.
Kejayaan Musolini PD II

Terlalu singkat kiranya kalau harus segera meninggalkan Roma. Yang paling memungkinkan adalah melihat keindahan kota Roma dengan berkendara. Walaupun Roma dengan Vatikan-nya merupakan kiblat umat Katholik, bukan berarti manusia sekelilingnya tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Konon katanya, kota Roma terkenal karena copet-nya. Dan ini menjadi perhatian bagi turis yang banyak menggunakan fasilitas umum. Tentu saja itu tidak berlaku bagi kami, dan alhamdulillah kami tidak mengalami kecopetan.
Jalanan di Roma tergolong paling sibuk dan macet di beberapa tempat. Tampak seseorang berambut pirang kuning berpakaian jas hitam terusan layaknya mafioso berjalan diantara mobil-mobil yang sedang menunggu lampu merah. E..ee.. nggak tahunya pengemis yang sedang bertugas.

Salah Satu Kota Roma dengan Bekas Bangunan Romawi

Salah satu Flat Pemukiman di kota Roma

Pengemis ala Italia

Disalah satu plasa terbuka Agusta memarkirkan kendaraan. Terlihat ada bangunan megah, seperi biasa dengan pilar-pilar menjulang dengan tinggi 15-20 meter, bangunan pelataran terhampar di depan. Pada bangunan pembatas dengan tempat parkir berupa tembok-tembok marmer setinggi 5 meter-an, dimana penuh dengan ukiran manusia dan desain-desain bangunan dengan tonjolan-tonjolan yang artistik. Berdiri megah di puncak bangunan, seorang penunggang kuda dengan pakaian kebesaran yang akan berperang lengkap dengan tameng dan tombak. Patung hampir serupa dengan ukuran lebih kecil berdiri di pelataran di bawahnya. Italia memang terkenal karena marmer dan citra kesenian kelas dunia. Ingat pelukis Leonardo da Vinci, pematung Michael Angelo sudah tidak asing diantara nama-nama seniman-senima dunia made in Italia.
Dalam perjalanan keluar kota Roma, Agusta sempat melewati jalan dimana berdiri megah Collesium Roma. Tempat legendaris raja-raja Roma pada saat itu melampiaskan hobinya untuk menonton pertandingan antar manusia melalui gladiator, atau lomba kereta kuda ala Ben Hur. Sayang, karena keterbatasan waktu, kami hanya numpang lewat doang melihat kemegahan gedung yang sudah berumur ratusan tahun. Idem dengan Museum di Roma, tempat koleksi barang-barang kesenian kelas dunia.

Museum Roma

Roma dengan perumahan padat berupa blok-blok flat dan jalan kecil berbatu-batu merupakan salah satu ciri khas. Mengingatkan akan suasana kampung di salah satu kecamatan di Yogyakarta yang bernama kecamatan Kotagede, tempat kelahiran istri tercinta, Ratih. Dimana jalan-jalan kampung di batasi dengan tembok-tembok rumah tinggi. Beberapa film spy terkenal seperti James Bond, bahkan menjadikan suasana pemukiman padat di Roma sebagai latar belakang adu lomba kehebatan senjata dan kendaraan.

Jalan l'Aquila Kota Roma

Gang Kampung Kota Roma


Rute yang ditempuh adalah Roma-Orte-Perugia-Cesena-Bologna-Ferara-Podova-Venesia. Perjalanan yang cukup panjang, namun terasa menyenangkan menikmati pemandangan alam Italia yang indah. Entah Agusta, yang harus konsentrasi nyetir. Sorry ya Gus...sekali lagi, bukannya nggak mau mbantu nyopir, tapi nggak punya SIM Internasional, daripada daripada..Sampai saat ini jarak yang sudah ditempuh lebih kurang 6000-an km mulai dari titik nol berangkat, Talsstrase 18 Stuttgart 10 hari sebelumnya.
Di salah satu perempatan jalan, terpampang plang arah menuju luar kota Roma. Diantara arah tersebut tertulis Roma-l'Aquila. Wah..jadi teringat anak pertama yang bernama Aquila Yoma. Ternyata Aquila nama kota tho...padahal saya memilih nama itu karena Aquila merupakan salah satu nama bintang diantara milyardan bintang di langit yang sudah terdeteksi dan diketahui keberadannya oleh manusia. Sedikit kejutan saja....

Perugia-Cesena-Ravenna terlewati dengan aman dan nyaman. Makan siang sudah. Podova lewat. Beberapa orang melafalkan dengan Padua, terdapat universitas yang merupakan salah satu universitas tertua di dunia. Akhirnya....
Venesia atau Venedig dalam dialeg Jerman merupakan kota yang terdiri dari kepulauan yang terletak dibawah permukaan laut. Untuk mencapai kesana harus menggunakan taxi air dari San Giuliano yang secara regular 24 jam melayani rute dari daratan Italia -pulau Venesia. Waktu yang ditempuh tidak terlalu lama, lebih kurang 30-45 menit-an untuk jarak 5-6 mile. Di daratan tersedia tempat parkir yang cukup luas. Laut cukup tenang untuk perjalanan sore hari. Sempat khawatir juga, karena boat dengan kapasitas 10-20 orang yang digunakan sebagai kendaraan reguler, bukan ferry. Dermaganya pun sederhana, entah kesengajaan untuk menjaga keunikan atau kami yang tidak tahu kalau ada fasilitas akomodasi lain yang lebih nyaman dan aman. Sebab kalau dilihat dari kejauhan ada jembatan panjang yang menghubungkan satu daratan ke daratan yang lain.

Sudut Kota Venesia

Bus Air Kota Venesia
Mungkin sudah diperhitungkan dengan kemampuan keuangan ....he...he....
Mendarat di salah satu dermaga sederhana, terlihat sebuah boat bertuliskan Carrabinieri sedang meninggalkan dermaga, polisi perairan Italia sedang patroli. Waktu sudah menginjak sore hari, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Tidak terlalu lama untuk mencapai Piasa Sant Marco atau St. Mark Companile. Suatu plasa terbuka seluas lapangan sepakbola, di pinggir-nya banyak kafe menanti pengunjung. Beberapa kafe bahkan sudah menggelar kursi sampai ke pelataran plasa, bahkan grup musik berbaju hijau tosca sudah berdiri siap memainkan alat musik apabila ada pengunjung masuk ke kafe tersebut.
Ojek Air

Dermaga di Gedung Pertunjukan Venesia

Jembatan Penghubung Venesia dan Daratan Italia


Polisi Italia

Salah satu cara pemasaran yang sangat menarik, walaupun masih kosong belum ada pengunjung, namun grup musik tersebut selalu siap stand by, kapanpun. Bukan main.
Venesia merupakan kota dengan banyak kanal di dalamnya, bahkan kanal merupakan transportasi utama penduduk setempat dan turis, tentu saja. Condola merupakan perahu yang didesain sedemikian rupa dengan pengayuh dayung seorang pria berperawakan bagus, cakup menggunakan selendang dan topi. Beberapa, bahkan dikayuh oleh seorang wanita. Selama kunjungan kami yang singkat ini, kami tidak menjumpai kendaraan roda empat. Hal ini kelihatannya memang dipertahankan oleh pemerintah setempat, sebagai trade mark-nya Venesia, kedua mungkin mengurangi polusi, ketiga jalan yang ada berupa gang-gang kecil yang mobil saja nggak mungkin bisa lewat. Memang kesannya seperti jalan tikus, kecil dan memang cocok untuk pejalan kaki.

Gondola

Halaman-pun berupa Air

Kalaupun ada satu dua motor lewat, salah satu harus mengalah. Walaupun demikian, dijamin pemandangannya tidak kumuh seperti kalau kita lewat di gang-gang sempit di kawasan Tambora atau Tanah Abang, misalnya. Jemuran dengan aneka warna kan jenis asesoris pedalaman berjemur seadanya memanfaatkan ruang kosong terbuka untuk lewat sinar matahari. Disini suasananya lain, walaupun jalan sempit di sepanjang kiri kanan gang, berbagai toko butik dengan kwalitas kelas satu berjajar rapi dengan desain pengaturan yang sangat artistik dan menarik perhatian pembeli. Tidak hanya butik, hotel penginapan, rumah makan juga tersedia di gang-gang tersebut. Satu diantaranya KFC yang menempati ruangan yang cukup besar.

Gang Air

Jembatan Kota
Sekalian waktu sudah menjelang magrib, perut sudah teriak-teriak minta segera disumbat. Kami mampir untuk menu makan malam. Terlihat beberapa anak muda sedang sempoyongan sambil keluar membawa bungkusan paket KFC sambil berteriak-teriak. Yang lain acuh saja, sudah biasa, bagi kami ...sedikit takut dan aneh aja.
Malam semakin larut suasan plasa Santo Marco lebih romantis karena hanya diterangi beberapa lampu temaram saja. Walaupun pengunjung tidak terlalu ramai, grup band yang kami lihat sebelumnya sudah mengalunkan beberapa lagu beraliran jazz dengan apik. Beberapa pasangan pangunjung usia setengah baya berdansa ria, asik dengan dunianya, yang lain dianggap kost.

Plasa Santo Marco, Romantis

Jam menunjukkan jam 21.00. Terlalu sedikit tempat yang bisa dikunjungi dengan waktu yang hanya 3-4 jam. Tapi cukuplah, karena perjalanan masih melewati dua negara lagi untuk sampai ke Stuttgart. Dengan menggunakan boat yang sama, kami kembali menuju dermaga San Giuliano untuk menuju tempat parkir mobil dan meluncur ke arah utara.

Hari ke-11. Zurich. Salut (dan tentu saja terima kasih) untuk Agusta, dengan mempertimbangkan kami-kami yang harus mulai kuliah lagi lusa-nya, maka malam ini diputuskan untuk tidak nginap alias nginap di jalan saja. Pertimbangan lain, budget sudah menipis....wah..wah...
Rute yang ditempuh adalah Padova-Vicenza-Verona-Brescia-Bergamo-Monza-Luzern-Zurich. Monza kota terdekat yang kami lewati untuk dapat mampir ke kota mode Milano, dan juga tempat bercokolnya klub sepakbola Italia papan atas , AC Milan. Sekali lagi, waktu yang tidak memungkinkan untuk singgah. Akhirnya, Monza cuma numpang lewat saja.



Rupanya perjalanan malam hari memberi kenyamanan tersendiri bagi pak sopir, Agusta. Karena jalan-jalan ke arah utara melewati pegunungan Alpen dengan topografi bergunung-gunung dan tentu saja berkelok-kelok. Sorot lampu mobil pada malam hari menambah kewaspadaan sekaligus memberi sinyal bagi kendaraan pada arah berlawanan. Yang menarik lagi adalah jalan bebas hambatan menembus gunung. Kalau di Italia bagian pantai barat terowongan yang ditembus sepotong-sepotong, artinya mengikuti bentuk kontur perbukitan yang menurun ke arah pantai, di pegunungan Alpen kondisi berbeda. Terowongan betul-betul menusuk ke jantung gunung untuk kemudian menembus keluar pada bagian gunung ke arah yang berlawanan. Konon panjang terowongan bisa mencapai jarak 80 km (?). Jangan khawatir, pembuat terowongan sudah mendesain sedemikian rupa pada setiap kilometer tertentu disediakan lubang angin sekaligus pintu keluar ke alam bebas apabila terjadi sesuatu di dalam terowongan. Yang jelas selain aman dari segi keselamatan juga nyaman dari segi keamanan. Di beberapa tempat selalu tersedia rest area kecil yang terpasang telpon umum dengan beberapa nomor penting terpampang di tiang telepon. Tak terasa pagi hari sudah memasuki wilayah Swiss. Tak ingat betul, jam berapa dan dimana pintu masuk pemeriksaan imigrasi berada. Swiss, saat itu, memang belum termasuk salah satu negara yang tergabung dengan Uni Eropa. Suasana segar dengan matahari terpancar terang. Suasana pegunungan masih terasa sekali, di kejauhan tampak rumah-rumah khas Swiss berdiri diantara hamparan padang kebun yang luas. Beberapa sapi gemuk berkeliaran merumput di sekitar rumah. Di sisi lain dan waktu yang berbeda tampak di kejauhan jembatan kereta api tinggi menembus terowongan di salah satu sisi gunung. Beruntung sekali tampak kereta api dengan beberapa gerbong sedang melintas. Di salah satu desa kami berhenti untuk istirahat dan sarapan pagi.

Perbatasan Swiss - Lechtenstein

Really, Suise


Mungkin ada yang belum tahu, di Swiss ada negara kecil enclave yang independen yaitu Leichtenstein. Di perbatasan kedua negara, kami rehat sejenak. Sekali lagi kami bertemu dengan rombongan motor gede. Agusta sempat mengajak kami berputar sejenak mengunjungi salah satu sudut kota Leichtenstein. Sebenarnya kalau secara umum keadaan daerah di sini tidak banyak berbeda dengan keadaan pedesaan di Jerman. Kalau diperhatikan dari bahasa yang digunakan di Swiss, boleh jadi Swiss dulunya adalah bagian dari negara Jerman, Perancis dan Italia. Karena ketiga bahasa tersebut berlaku di negara Swiss, terutama di wilayah-wilayah yang berbatasan.
Kastil di Bukit Pegunangan Alpen

Siang hari selepas mengunjungi negara mungil ini, kami melewati kota Zurich sekaligus menikmati pemandangan salah satu sisi di danau Zurich. Udara mendung tidak banyak aktifitas di sekitar danau. Selain aktifitas rutin, feri yang melewati trayek harian yang menghubungkan tempat dari tempat kami berada ke seberang lain ke arah tenggara danau.

Vadus, Salah Sisi Kota Zurich

Tidak lama kami berada di danau, setelah membeli beberapa souvenir khas daerah setempat, kami sepakat untuk segera meneruskan perjalanan pulang dengan rute Winterhein-Singen- Rotternberg-Sindelflingen-Suttgart. Terlalu capai turun dari mobil untuk melihat kondisi perbatasan Swiss-Jerman, tahu-tahu kami sudah masuk di Sindelflingen. Sore hari selepas Asar, kami sudah mendarat di depan pom bensin Talsstrase 18. Usai sudah petualangan setengah nekat selama 11 hari dengan jarak tempuh 8100 km dan patungan 500 DM/orang. Terlalu murah untuk akomodasi dan terlalu sayang untuk dilewatkan.

Hari ke-12. Kecapaian sehingga terlambat bangun dan terlambat masuk kuliah. Prof. Mohl sudah berdiri di depan kelas. Rupanya dua rekan (Ipranto dan Kalveyn) sudah berada di dalam kelas dan duduk manis. Belum mapan pantat menempati bangku dengan pas, Profesor sudah menyindir (kalau tidak boleh dikatakan marah) atas keterlambatan kami dan yang jelas atas molornya waktu cuti dari jatah yang diberikan. Nasib yang sudah diperkirakan sebelumnya. Terima kasih Agusta, Kalveyn dan Ipranto. dan tentu Prof. Mohl yang hanya marah sebentar, setelah itu nge-friend lagi.



Catatan : Mohon maaf jika ada yang nggak nyambung, maklum kejadiannya sudah 15 tahun yang lalu.