Jumat, 29 September 2017

Turki -Maroko [2]



Negeri Magribi 

24.4.2017 17:30 Fly to Casablanca by Luthfansa. Perjalanan selama 5 jam, transit di Frankurt selama 2 jam. Sedikit bermasalah di konter cek-in, biasa...Jerman maunya semua perfect. Yang ditanyakan apakah sudah pernah bepergian ke luar negeri ? Masalahnya, pasport baru belum ada catatan perjalanan ke luar negeri, tidak ada catatan imigrasi....😒, sedangkan paspor lama nggak dibawa. Aya-aya wae...  Melalui internet, berhasil di hubungi WNI yang tugas belajar untuk membantu sebagai guide selama di negara Maroko. Ban pesawat landing sempurna di airport King Hasan, Casablanca pada saat arloji mendekati dinihari waktu setempat. Kang Mama (Machludi) pelajar Indonesia (dari Majenang, Cilacap) penerima beasiswa bersama Hasan (WNM) siap menjemput dan mengantar langsung ke Marakech (200 km selatan Casablanca). Selama perjalanan, kang Mama banyak bercerita tentang kondisi dan keadaan negara-negara Afrika Utara. Bangsa Maroko merupakan salah satu rumpun suku Maghribi yang saat ini meliputi empat negara, yaitu Maroko, Mauritania, Aljazir dan Tunisia. Berpenduduk 33 juta, dengan kota-kota yang terkenal antara lain, Casablanca sebagai kota industri (macet pada jama-jam tertentu, tetapi tidak separah Jakarta), Rabbat ibukota administrasi, Marakech sebagai kota wisata. Di tengah daratan terbentang pegunungan Atlas, sebelah utara kondisi tanahnya relatif subur sehingga terkenal dengan pertanian dengan komoditas buah-buahan. Bagian selatan berupa daratan kering, gurun sahara merupakan wilayah berupa pasir tandus sampai perbatasan Mauritania. Walaupun mayoritas (hampir 95%) penduduk beragama Islam (mashab Maliki), Maroko adalah negara sekuler.

Taman Benteng-Travel  Hyundai-Start dari Jam'Fna -Motor isi bensin

25.4.2017 Marakech. Perjalanan malam hari menuju kota  Marakezh tidak banyak yang bisa disaksikan. Hasan, driver mobil rental, yang menganter kami mengendari mobil minibus Hyundai kapasitas 7 penumpang. Karena selama perjalanan belum sempat sholat magrib dan Isa', di bandara Frankurt tidak tersedia mushola, kami minta kang Mama, untuk mencari rest area untuk sholat jamak. Rest area besar, mushola cukup besar dan bersih, baik toilet, tempat wudhu dan ditunggu seorang penjaga. Banyak mobil-mobil trailer berjejer menunggu fajar untuk meneruskan perjalanan.
Menjelang shubuh sampai di hotel Gomassine***, ber-alamat di Boulevard Mohamaed Zerktouni. Cukup waktu untuk mandi dan sholat shubuh, sarapan pagi. Penjemput siap jam 06:00 untuk Sahara Tour. Respsionist kaget ketika kami akan cek-out dan titip koper-koper di konsinyere. Sambil menunggu penjemput, masih ada waktu 30 menit untuk sarapan pagi.
Cafe Gloui - Tim Survey Topografi
Dengan menu sederhana roti dengan  berbagai selai, mentega, keju, salad, cake dan berbagai minuman panas dan dingin. Belum sempat semua disantap, adik sudah di telpon supaya standby di lobi, jemputan akan datang.
Sahara tour paket 2 hari yaitu bermalam di gurun Sahara di wilayah Zagora, 210 km selatan Marakez. Cukup banyak travel yang menyediakan paket-paket tour 2,3 hari bahkan seminggu. Karena banyaknya paket-paket yang tersedia dan peminat/wisman tersebar di banyak hotel, para pengelola paket akan berunding di lapangan untuk menyatukan peserta yang sama paketnya disesuaikan dengan kapasitas kendaraan yang tersedia. Jangan heran kalau peserta akan dioper ke kendaraan lain beberapa kali untuk memenuhi kapasitas mini bus (13-16 orang).  Dalam rombongan kita ada beberapa wisman dari Yunani, Amerika, Jerman dan.... tidak menyangka ketemu dengan mbak Riska, warga Makasar yang sedang tugas belajar S2 di Norwegia. Setelah dua kali oper jemputan, di pangkalan terakhir, jam 8-an dari pasar Souk Municipal Jam' Fna rombongan berangkat dengan seorang sopir  merangkap guide perjalanan. Cuaca pagi cerah, panas di luar terobati dengan AC mobil yang cukup. Perjalanan menuju kota Zagora melewati beberapa pemukiman dan deretan pegunungan Atlas.
Pengunungan Atlas
Maroko dan sebagain negara Afrika Utara adalah bekas jajahan Perancis, tidak heran apabila arah lalulintas, nama-nama kota,  makanan, restoran selain bahasa Arab digunakan bahasa Perancis. Setelah dua jam perjalanan rombongan istirahat di jalan raya No.9 km 91, tepatnya Cafe Glaoui. Beberapa minibus sudah parkir lebih dulu, sebagian sudah berangkat lagi meneruskan perjalanan. Rest Area berada di lereng pegunungan, tampak dikejauhan  tim survey topografi sedang mengarahkan ke salah satu target di arah yang lain.
Motor Bebek di Peg.Atlas - Pegunungan Atlas
Senang rasanya melihat sesama profesi yang bertugas di medan yang sangat berat. Duapuluh menit waktu yang cukup hanya sekedar ke kamar kecil, melihat-lihat pedagang souvenir dan ambil foto beberpa titik. Perjalanan dilanjutkan, mendekati pegunungan Atlas jalan mulai menanjak dengan bukit di satu sisi dan jurang terjal di sisi yang lain. Sepanjang mata memandang, yang tampak bukit-buit dengan batuan dan sedikit tanaman semak-semak. Jalanan berkelok-kelok, ciri khas jalan di pegunungan, dengan kondisi aspal hotmix, beberapa tempat sedang dilakukan perbaikan kualitas aspal atau pemotongan bukit untuk mengurangi jalan kelokan. Lalulintas relatif sepi, truk-truk yang menjadi salah satu penyebab penghambat perjalanan, tidak terlihat. Karena truk yang melintas kondisinya prima, walaupun long vehicals (8-12 roda). Sekali dua kali melintas sepeda motor 70cc, yang memang banyak ditemui di kota. Pada spot-spot tertentu dengan view yang bagus, disediakan tempat-tempat pemberhentian kendaraan. Memberi kesempatan pengendara untuk istirahat atau menikmati view indahnya pegunungan Atlas. Melewati beberapa desa kecil Coul di Tika, Tiseldat, Adiegane, Amersegane, Lamdint, Outzinate, Tabourant rombongan sampai di Eit Ben Haddaou. Bangunan bersejarah, salah satu destinasi wisata yang populer di Maroko, berupa kasbah (benteng) yang berada salah satu di bukit.
Eit Ben Haddaou

Ben Haddaou tercatat sebagai Warisan Dunia dibawah pengawasan Unesco sejak 1987, salah satu destinasi wisata yang cukup populer di Maroko. Dari desa terakhir tempat pemberhatian bus, pengunjung harus berjalan kaki melewati lembah +/- 2 km, mengalir sungai kecil sedalam mata kaki. Air nya bening, uniknya rasanya asin. Ben Haddaou merupakan perkampungan kuno yang terletak di lereng bukit dengan semua bangunan berdinding tanah liat, dengan warna khas coklat lumpur. Konon, hanya ada beberapa keluarga yang tinggal di area tersebut. Keunikan lokasi dan bentuk bangunan yang masih asli, menjadi daya tarik sutradara terkenal untuk lokasi shooting film-film Hollywood, terutama film-film genre sejarah. Tercatat lebih dari 20 film pernah shooting di sini, antara lain Lawrance Arabia, Sodom I Gomora, The Jewell of the Nile, Samson et Delilah,Gladiator, The Bibble, Indiana Jones, King Tut, Game of Trones dan lain-lain.
Berjalan menuju Kasbah Ben Haddaou
Diperlukan stamina dan tenaga yang cukup untuk menaiki lereng bukit, melewati perkampungan dan beberapa diantaranya menjual souvenir. Bahkan ada penginapan juga tersedia. Pada puncak bukit berdiri satu bangunan kotak persegi yang dinamakan Kasbah Eit Ben Haddaou. Dari puncak bukit ke arah selatan dan barat tampak jembatan beton memanjang dan perkampungan/desa.

Ben Haddaou dengan latar belakang perkampungan
Sedangkan di sisi sebelah utara dan timur hanya hamparan bukit-bukit batu dan garis tipis memanjang di kejauhan, jalan raya trans sahara. Tak terasa waktu menjelang tengah hari, rombongan mulia turun melewati jalur yang lain. Makan siang dengan menu ala Perancis, di Loasis D'or, desa terdekat dengan Le Kasbah.
Perjalanan berlanjut. Lokasi selanjutnya adalah menuju lokasi Sahara Tour.  Rombongan melewati jalan raya no. 12. Pada meeting point  yang sudah biasa mereka lakukan, driver menemui rombongan 4-5 orang badui yang membawa 12 unta di suatu titik yang tidak bernama dan tidak ada tandanya, sekitarnya hanya terhampar gurun pasir. Kita semua turun beserta barang bawaan, perjalanan dilanjutkan dengan naik onta, sopir dan mobil meninggalkan rombongan.
Sahara Tour
Masing-masing dipersilahkan memilih onta, menyesuaikan dan naik di punggungnya yang sudah dipasang pelana dengan alas karpet. Kurangnya informasi tentang barang apa saj yang sebaiknya dibawa, baju dan pakaian dibawa dalam tas koper tidak praktis, lebih efisien jika dibawa menggunakan tas punggung. Rupanya mereka sudah mengantisipasi dengan menyiapkan satu-dua onta tidak berpenumpang, hanya khusus membawa tas-tas tersebut.

Perjalanan dimulai ...Sahara Tour. Suasana inilah yang 'dijual' kepada para pelancong mancanegara, menikmati suasana padang pasir gurun Sahara di atas pelana onta. Seandainya tidak menggunakan pelana berkarpet tebal, gerakan naik turun pantat mengikuti ergonomisnya punggung onta merupakan suatu kesulitan sekaligus kenikmatan tersediri. Posisi duduk yang tidak pas, mengurangi kenyamanan.
Perkemahan Sahara Tour
Akibatnya satu-dua penumpang merelakan ontanya untuk melenggang tanpa beban, karena penumpangnya lebih nyaman berjalan kaki. Lepas waktu a'sar menjelang magrib rombongan berjalan ke arah gurun, lokasi tenda penginapan. Jarak nya +/- 12 km, ditempuh dalam waktu +/- satu jam. Matahari perlahan dan pasti turun di ufuk barat, tampak warna putih dengan backgroung warna kuning oranye dengan awan tipis terpendar di berbagai arah.
Jejak-jejak..
Sampai di lokasi hari mulai gelap, bayangan sinar matahari masih cukup untuk melihat situasi di sekitar penginapan. Sekitar belasan tenda besar berdiri membentuk kotak, di ujung berdiri water toren dan dibawahnya tenda kamar mandi. Salah seorang petugas menyalakan diesel dan menyalakan lampu pada masing-masing tenda. Setiap tenda tersedia empat kasur di atas karpet tebal. Rasanya sudah tidak sabar untuk mandi mengingat perjalanan dari pagi dengan suhu terik dan debu gurun Sahara. Tenda kamar mandi dibagi beberapa bilik kamar dengan shower dan kloset. Sayangnya airnya nggak berfungsi, hanya keluar air pada wastafel. Alhasil, hanya cuci muka dan gosok-gosok sedikit beberapa bagian badan yang berkeringat. Acara selanjutnya diner di tengah arena yang telah terpasanga karpet beberapa kursi.


26.4.2017. 05:32 Gurun Sahara. Menjelang shubuh suasana di luar tenda senyap, hanya ada satu lampu menyala di tenda pengelola. Seberkas sinar tampak di ufuk timur, menyongsong terbitnya matahari beberapa saat lagi. Setelah sholat shubuh, pengelola membangunkan di setiap untuk breakfast. Roti tawar, selai, teh dan kopi, menu yang disiapkan untuk mengganjal perut di pagi hari. Sementara kita sarapan, perlahan dan pasti matahari merayap naik di ufuk timur. Guide dan pengelola menyiapkan onta yang di parkir agak jauh dari tenda. 
Menjelang dhuha, rombongan sudah siap di masing-masing onta. Agak sulit mengenali onta yang ditumpangi saat berangkat, sama saja, tidak ber-ac. Pelan tapi pasti rombongan onta berduabelas kembali ke meeting point sore kemarin. Belakangan ketahuan, berbeda posisinya. Beberapa kali bertemu rombongan onta yang tidak ada penumpangnya, kayaknya banyak -banyak lokasi penginapan di gurun sebagai bagian dari Sahara Tour. Meeting point di tempat yang lebih mudah dikenali, karena ada pertigaan jalan dengan plang arah perjalanan yaitu jalan nomor 12 menuju kota Errachidia (terus) dan ke kiri ke Errouha & Beni Zoli.
Street nr.12
Dari kejauhan tampak minibus menuju ke arah kita, jemputan tepat waktunya.

08:12 Perjalanan menuju kota Quarzazate (6d 54m 02d LS, 30d 55m 13.7d BT). Tidak aneh Marakech dan sekitarnya sebagai destinasi wisata favorit karena keunikan alam dan kerapnya digunakan sebagai tempat shooting film-film layar lebar papan atas. Bahkan di kota kecil, Quarzazate, kita dapat menikmati mesium cinema. Sebelum makan siang disiapkan acara vilage tour, melihat lebih dekat kehidupan dan rumah-rumah warga lokal.
Sebagian rumah-rumah penduduk dibangun dari bahan tanah liat dan dominan warna coklat, sepintas jalan-jalan penghubung tidak jauh berbeda dengan jalan-jalan kampung,
sempit di tanah air dan tidak ada yang beraspal. Hampir semua bangunan menara tinggi terdapat sarang burung. Makan siang di cafe Le Kasbah Letoile, sebelah kanan museum cinema.
Museum Cinema
Seperti biasa menu favorit sate kambing dan es jeruk. Makan siang dilanjut dengan sholat dhuhur di mushola seadanya, perjalanan berlanjut, kembali ke Marakech. Perjalanan ke Marakech melewati jalan yang sama, melintas lembah, lereng dan bukit pengunungan Atlas. Kepenatan badan, dan rasa kantuk setelah makan siang tertahan dengan pemandangan liak-liuknya aspal mulus dengan pamandangan hampir monoton, bukit batu kering. Aircondition mobil menahan suhu panas di luar +/- 40 derajat Celsius.
Village Tour
Untuk menghilangkan kejenuhan, di beberapa spot driver menghentikan mobil, istirahat sekaligus menikmati angin sepoi-sepoi udara pegunungan. Tak terasa tiga jam perjalanan, selepas asar menjelang magrib rombongan sampai di Marakech. Di hotel Gomassine sudah ditunggu kang Mama dan dua teman sesama mahasiswa Indonesia. Mereka siap mengantar melihat suasana malam kota Marakech. Selepas magrib, kami berenam berangkat dengan dua taxi.

18.25 : Icon kota Marakech, pasar malam di Jemaa El-Fna. Segala macam kuliner, cenderamata, tukang sulap, qira'ah, pengemis, penari break dance menampati masing-masing lapak di lapangan yang sangat luas. Penjual juice buah di atas mobil box dengan berbagai aneka rasa mengundang siapapun untuk mencobanya. Dengan harga 4-20 Dirham, kita dapat memesan berbagai macam kombinasi buah dengan berbagai rasa. Rasanya bagaimana ?....seger, apalagi kalau pas haus. Suara adzan Isya terdengar keras dari salah satu sisi lapangan, beberapa pengunjung dan pedagang berbondong-bondong mengambil wudhu bersiap sholat Isya berjamaah. Urusan souvenir, kang Mama punya langganan khusus di dalam  pasar. Lumayan beda 10-20 DH, untuk oleh-oleh kerabat di tanah air.
Aneka Juice di Jemaa El-Fna
Urusan makan malam, tidak perlu kuatir, sebelah pasar berderet resto-resto dengan segala menu ala Maroko. Penjaga dan pemilik resto dengan penuh semangat menawarkan aneka makanan. Menu unggulan grill atau sate daging  kambing. Minumnya yang khas teh dengan daun mint.
Tak terasa jam menunjukkan jam 22.00, saatnya istirahat untuk perjalanan besok harinya.
Pasar Malam Jemaa El-Fna, Marakech


27.4.2017 7:30 : Husen dan Kang Mama siap menganter pagi-siang di tiga destinasi wisata, yaitu Meuseum kaktus/ Yves Saint Laurent(YSL), Istana/Museum Baia dan masjid Kattobiyah. Museum Kaktus merupakan rumah kediaman pribadi designer kondang kelahiran Perancis YSL. Selain berbagai macam kaktus, koleksi seni mencakup lukisan, koleksi pribadi berbagai peralatan rumah tangga masyarakat Magribi, koleksi rancangan baju, tas, sepatu dan berbagai asesoris kebutuhan selebritis. Warna biru benhur dan kuning mendominasi interior dalam bangunan museum. Harga tiket masuk 110 Dh.Selanjutnya ke masjid Koutobiyah, icon Kota Marakech, yang berada di seberang taman Jemaa El-Fna. Sayangnya karena alasan tertentu, sering digunakan untuk pertemuan -pertemuan ilegal, masjid hanya dibuka pada jam-jam sholat fardhu. Tampak dari luar masjid dengan menara tunggal berbentuk kotak dengan warna coklat lumpur, tampak megah dan kokoh.
Masjid Kattobiyah
Dengan ketinggian menara 77 meter dibangun pada abad ke12 pada masa pemerintahn Dinasti Murabitun dan mampu menampung 25 ribu jamaah. Menara terletak di sudut utara bangunan masjid. Halaman di sekitar sisi utara semacam pilar-pilar bangunan, bisa jadi merupakan sebagian bangunan masjid yang pernah runtuh/dibongkar. di beberapa sisi halaman tumbuh pohon-pohon jeruk berwarna kuning berbuah lebat. Heran...kenapa koq nggak ada yang usil metik buah-buah tersebut. Ternyata..rasanya pahit.

Perjalanan dilanjutkan ke istana Baia, salah satu peninggalan istana kerajaan Maroko berupa tempat tinggal. Terletak dekat pasar Arc Rebbi Mordekhay Ben Attar. Sayang sekali tidak ada sisi perabotan warisan yang bisa ditampilkan, hanya ruang-ruang kosong dengan keunikan desain keramik tembok dan lantai dan hiasan kaca patri pada jendela yang bertebaran sepanjang bangunan.
Masjid Kattobiyah

Semakin indah apabila dilihat dari dalam menghadap keluar. Tidak jauh dari istana, masih dalam lingkungan halaman Baia, dikelilingi tembok-tembok tinggi. Di beberapa tempat puncak tembok, dan juga di menara-menara,  bertengger sarang-sarang burung berupa ranting-ranting dan daun-daun kering. Pengunjung diarahkan untuk meninjau ruang-ruang yang berada di pinggir-pinggir area istana. Benda-benda peninggalan kebudayaan masa lampau, foto-foto dokumentasi hanya menempati beberapa ruangan dari banyak yang tersedia. Ruang lain hanya berupa ruang kosong. 
Istana Baia
Halaman tengah berupa ruang terbuka dan sebagian kolam dan taman.Tidak banyak pengunjung yang datang, karena bukan hari libur.
Mengunjungi pasar Arc Rebbi Mordekhay Ben Attar dengan keunikan berupa berbagai aneka rempah dalam bentuk serbuk instan yang dipajang dalam bakul-bakul berbentuk gunung-gunung dan berbagai berbagai warna warni. Unik sekali. Demikian juga obat-obat tradisional (jamu) herbal dengan segala ramuan dipamerkan dalam botol-botol yang berjejer. Proses pembuatan dapat disaksikan langsung untuk menarik perhatian pengunjung.
Keramik & Lampu Kaca Berpatri
Tak terasa waktu menjelang siang, sudah waktunya perut minta diisi untuk energi perjalanan selanjutnya ke kota Casablanca. Sate kambing dan ayam kayaknya tidak menarik lagi, pingin rasa yang lain. Masih di kawasan pasar tampak warung tanpa plang dengan perangkat penggorengan di depan warung. Kayaknya menu ikan yang manjadi andalannya. Ini yang mesti dicoba...nyem..nyem...

Rempah-rempah
12:00an : perjalanan ke Casablanca. Jalan bebas hambatan  ditempuh dalam waktu +/- 2 jam. Sebelum ke bandara, mengunjungi ikon kota Casablanca, masjid Raja Hasan II. Hampir semua bangunan masjid di Maroko mempunyai
desain yang mirip. Bangunan dengan desain persegi dengan satu menara menjulang tinggi di salah satu sudut bangunan dan dengan warna dominan coklat lumpur.
Masjid Hassan II dibangun pada tahun 1986-1993 untuk memperingati ulang tahun mendiang Raja Maroko Hassan II. Masjid Hassan II dibangun menjorok ke samudra Atlantik membuatnya terlihat seakan akan berada di tengah laut layaknya sebuah masjid yang benar benar terapung. Tak salah bila kemudian masjid ini mendapat julukan sebagai masjid terapung terbesar di dunia. Masjid megah ini kini menjadi penanda kota Casablanca.
Masjid Raja Hasan II
Teknologi tinggi di aplikasikan di masjid megah ini dengan memanfaatkan teknologi cahaya laser untuk pencahayaan dan memberikan keindahan tersendiri dimalam hari, penggunaan pemanas lantai untuk mengontrol temperatur ruangan masjid melalui lantainya ketika suhu dingin, penggunaan pintu elektrik, rancangan atap yang bisa di buka tutup dengan teknologi mutakhir dan beberapa bagian lantai masjid menggunakan kaca tebal sehingga memungkinkan jemaah melihat samudera Atlantik yang menyapu bebatuan di bawah masjid. Selain itu masjid ini juga secara keseluruhan berukuran sangat besar dengan dekorasi interior ruang sholat yang mengagumkan, dengan ukiran tangan para pengukir yang memang profesional di bidangnya ditambah dengan dekorasi hasil cetakan semen. Sebuah tim besar para maestro pengukir di pekerjakan khusus menangani proyek pembangunan masjid ini. Bahan bahan terpilih berupa kayu kayu cedar dari kawasan Atlas, batu pualam dari pegunungan Agadir dan batuan granit dari Tafroute.
Menara dan Selasar Masjid
Lebih dari 6000 seniman maroko dipekerjakan pada proyek pembangunan masjid ini sejak dari awal pembangunannya. Dengan biaya proyek mencapai setengah miliar dolar dan sebagian besar dari dana pembangunan tersebut merupakan sumbangan dari rakyat Maroko sendiri (Wikipedia).

Angin pantai berhembus kencang, tidak ada pepohonan yang menjadi penghias taman atau plaza terbuka. Megah. Pintu masjid terbuka bagi jamaah, terkesan ramah kepada pendatang, bahkan dipersilahkan duduk di kursi penjaga jika jamaah akan ganti sepatu untuk masuk atau keluar masjid. Ujung-ujungnya penjaga minta shodaqoh, untuk penjaga bukan untuk kemakmuran masjid. Masjid tidak menyediakan kotak amal. Ruang wudhu berada di basement, kondisinya sangat bersih ditunggu dua penjangga yang siap menyapa dengan senyum dan salam. Walaupun tersedia pancuran, kebiasaan wudhu di Maroko menggunakan ember kecil. Dengan alasan penghematan air, ember yang tersedia digunakan untuk mengambil air dan berwudhu sambil duduk di tempat yang tersedia. Namun demikian menambah air diperbolehkan dengan ember yang ada. Tinggi pintu +/- 2m dan kerangka pintu lengkung setinggi 10 m, melingkari hampir di semua sisi, hanya satu yang terbuka untuk jamaah yang akan sholat. Karpet warma krem dengan pembatas shaf warna merah hati  semua ruangan. Sebelum masuk masjid jamaah dipersilahkan pengunjung dipersilahkan mengambil tas plastik untuk menyimpan alas kaki. Di depan shaf disediakan karpet warna gelap memanjang untuk meletakan tas alas kaki jamaah. Mengingatkan kalau kita sholat idul fitri di lapangan di tanah air. Mihrab tempat imam berkarpet merah hati seluas +/- 16 m dikelilingi marmer coklat. Disamping mihrab berjarak 4 m berdiri mimbar imam untuk khutbah jumat.Tidak ada bangunan tingkat, tiang penyangga  menjulang tinggi berupa marmer abu-abu krem dengan ornamen ukiran ciri khas budaya maghribi, lampu hiasan lingkaran berlampu menggantung di beberapa kubah atap. Sedikit mirip dengan ornamen masjid Nabawi. Keluar masjid terhampar ruang terbuka, pas sekali untuk tempat rekreasi keluarga. Balita berlarian di ruang yang luas, keluarga berselfi ria, bahkan, ini yang membedakan, ada yang pacaran.

Selasa, 26 September 2017

Turki - Maroko [3]



Goremee - Cappadopia

28.4.2017 01:10 : Lufthansa Casablanca-Frankurt-Istambul..Landing bandara Atarkturk pagi, jam 09:00, cek-in untuk flight selanjutnya ke Istambul-Goremee jam 17:10. Banyak waktu untuk persiapan dan istirahat. Perjalanan memerlukan waktu satu jam. Menjelang Magrib pesawat landing di bandara Nevsehir. Kebetulan bukan jam yang sibuk, tidak ada satupun pesawat yang berada di apron bandara.
Bandara Goremee
Dari Nevsehir menuju pusat kota, Cappadopia, berjarak 25 km. Tranportasi yang paling murah adalah travel yang sudah di book pada saat booking hotel. Driver sudah siap menunggu, tidak terlalu lama karena hanya menjemput penumpang di pesawat yang sama. Walaupun perjalanan remang-remang menjelang senja, keindahan alam sepanjang perjalanan masih bisa dinikmati. Lalulintas sepi, tidak tampak lalulalang kendaraan, ba'da magrib mobil sampai di Blue Moon Cave Hotel yang terletak di per3an jalan Muze dan jalan Cerdis. Resepsionis hotel sudah menunggu kedatangan kami. Setelah menyelesaikan administrasi cek-in, kami diantar ke kamar yang terletak di lantai 2. Tidak ada lift, menggunakan tanga sempit. Ya...hotel yang termasuk list yang disarankan TripAdvesory bukan hotel yang besar. Karena kecil, penataan kamar dan lorong-lorong, tangga disesuaikan dengan ruang ada.
Blue Moon Cave Hotel
Walaupun sempit penataan ruang, desain interior dan kelengkapan nya
mendekati hotel bintang 2. Layak untuk menjadi acuan bagi traveler. Setelah mandi dan sholat Isa' masih ada waktu untuk sightseeing di sekitar areal hotel dan makan malam.Yang paling dominan adalah toko souvenir, termasuk karpet Turki yang terkenal. Walaupun tidak bermaksud beli, penjaga dengan senang hati tetap menggelar berbagai jenis karpet untuk sekedar melihat saja. Sukur.....kami tidak tergoda. Tapi, untuk souvenir-souvenir yang kecil-kecil, wajib untuk dibeli.

29.4.2017 04:50 Cappadopia.. setelah sholat shubuh, penjemput dari operator dari CihanGiroclu Baloons sudah standby. Kami dianter menuju lapangan terbuka tempat baloon raksasa take off. Sepanjang perjalanan rupanya banyak lalu lalang operator yang bersiap-siap meluncurkan baloon wisatanya di beberapa tempat terbuka. Konon katanya ratusan operator baloon yang siap menganter turis mancanegara untuk menikmati kota Cappdocia dari ketinggian 10 ribu feet. Tiba di lokasi beberapa petugas lapangan menyipakan persiapan,
Persiapan Take-off
membuka baloon, menyiapkan api, menyalakan blower raksasa untuk mengisi udara pada baloon dan ada yang  mempersilahkan tamu untuk sarapan roti dan minum kopi/teh sebelum take off.
Suara desus  blower besar meniupkan udara ke baloon. Perlahan baloon mengembang dan naik ke permukaan udara. Keranjang baloon tempat penumpang berupa ruang terbuka setinggi 1,5 meter berukuran 4x4 meter. Pengikat balon dan kerangjang  berupa tali-tali terbuat dari bahan nilon berdiameter satu centimer setinggi 5 meter-an. Sebelum berangkap pilot baloon mengabsen penumpang sekaligus memberi brifing tentang prosedur dan aspek keamanan.








Di tengah keranjang, dipasang empat tabung gas yang siap untuk menyalakan api dan menghasilkan 
gas di dalam baloon, sehingga baloon dapat terbang di udara. Keranjang dibagi dalam empat sekat, sehingga masing-masing sekat bisa diisi 3-4 orang. Ready...12 orang penumpang sudah siap di dalam keranjang yang terbuat dari rotan kuat. Matahari belum tampak di ufuk timur, tapi pendar-pendar siang pagi sudah memastikan bahwa sinar matahari dalam waktu yang tidak terlalu lama akan muncul dan menerangi sebagian sebagian bumi Goremee. Selamat pagi matahari. Pelan tapi pasti baloon mulai naik, tali penahan masih menempel dan 1-2 orang operator masih memegang tali tersebut. Komunikasi pilot dengan operator masih berlangsung memastikan SOP berjalan sesuai rencana. Tentu saja, kondisi udara dan dari prakiraan cuaca pada malam hari sebelumnya menjadi salah faktor yang dapat memastikan apakah pilot memutukan untuk terbang atau batal. Pelan dan pasti angka altimeter pada GPS yang terpasang pada tali baloon, mulai naik. Sinar matahari semakin terang  dengan
warna kuning semakin ke atas berwarna putih. Saat masih di darat sempat terpikir, nggak akan lihat ke bawah karena ada sedikit sindrom ketinggian.
Kenyataannya.. setelah beberapa ratus meter baloon mengudara, sindrom ketinggian seolah-solah sirna tergantikan dengan pemandangan yang luar biasa. Indah tiada duanya, Alloh Akbar. Bukit-bukit kapur Cappadocia dengan topografi bergelombang, warna putih, di beberapa spot tampak jendela-jendala goa. Padang-padang rumput dan kebun-kebun dengan tanaman sehabis panen menghampar di area yang lain. Diantara hamparan-hamparan tersebut, jalan-jalan berasapal dengan warna hitam tampak seperti tali memanjang diantara di atas lautan pasir putih.
Kendaraan-kendaran yang melintas tampak seperti gerakan-gerakan yang konsisten menuju arah tertentu. Puluhan baloon mengudara pada saat yang bersamaan, ada yang posisinya dibawah,
di atas atau sejajar dengan posisi kita. Warna-warni baloon yang bertebaran di udara menambah keindahan udara Cappadocia pagi ini. Pilot intens berkomunikasi dengan operator di bawah. sekali-kali menambah volume gas untuk menambah ketinggian. Moment-moment indah yang tidak akan terulang manjadi sasaran empuk bagi ujung jari manis untuk menekan tombol on kamera Nikon. Sudut pandang moment 'bird eye view' dengan berbagai latar belakang, seolah-olah kita sebagai burung yang sedang terbang berburu sesuatu nun jauh disana. Pada titik tertinggi seperti yang tertera di altimeter, sang pilot memberitahu posisinya. Artinya kita akan segera turun. Pelan-pelan pilot mulai menurunkan ketinggian, komuikasi dengan operator dibawah untuk menentukan titik pendaratan.
Uniknya take off dan landing di tempat yang berbeda. Baloon-baloon yang lainpun demikian juga, satu persatu mulai menurunkan ketinggiannya. Detil-detil permukaan bumi mulai terlihat lebih jelas, termasuk lalulalang mobil yang melintas di jalan-jalan. Baloon semakin dekat mendarat, posisi pendaratan sudah dikomunikasikan, operator dan mobil bak terbuka sebagai landangan pendaratan sudah standby. Pendaratan pada posisi yang sempit dan akurat, memerlukan keahlian tersendiri, karena dituntut keranjang tepat mendarat diatas bak mobil mobil terbuka dengan ukuran yang mendekati sama. Beberapa kali pilot menambah gas untuk menaikan baloon dan bermanuver untuk memastikan posisi pendaratan tepat sasaran. Pada posisi tertentu, tali penghubung dilepas ke bawah. Operator menangkap dan membantu mengarahkan pendaratan baloon pada posisi yang tepat.
Landing
Brakk...bunyi keranjang beradu dengan lantai bak mobil, landing tepat di posisi yang akurat. Satu persatu penumpang turun dengan senyum kepuasan. Operator lain di sisi yang lain menyambut kita dengan sederetan botol minuman (semacam sampagne) yang diletakan di meja kecil. Pilot menyampaikan selamat pada penerbangan yang lancar dan sebagai penghargaan satu persatu penumpang diberi medali dan segelas minuman. Tentu saja perlu dipastikan bahwa ini bukan minuman yang beralkohol. Yaah..ini hanya minuman ringan, semacam pepsi dan sejenisnya. 
Kembali ke hotel untuk persiapan destinasi selanjutnya.

07:00 Sarapan pagi tersedia di lantai tiga/ lantai atas. Rupanya pemilik hotel sudah menunggu untuk menemani sarapan pagi yang sudah disiapkan. Setengah jam waktu sarapan, lebih dari cukup. Agen travel siap menjemput untuk daily tour siang-sore ini. Seperti paket-paket wisata di Marakech, daily tour diikuti beberapa wisatawan. Mereka harus menjemput satu-persatu di hotel yang berbeda. Pada kesempatan pertama, tak diduga bertemu dengan wisatawan asal negeri dewe, dari Sleman...oalaa. Sayangnya nggak bisa bisa ngobrol banyak, karena dia di plot di paket yang berbeda.
Selime Cathedral Cave
Destinasi pertama mengunjungi Selime Cathedral di Akhsary berupa bangunan berupa goa di  lereng bukit batu. Dibangun pada abad 8-9 pada masa pemerintah Byzantium untuk gereja, tempat tinggal dan pernah juga dipakai untuk markas militer. Selain ruang untuk beribadah,  bangunan dibagi menjadi ruang-ruang yang dihubungkan dengan lorong-lorong sempit.

 
Pintu dan Lorong di Celimi Cathedral
Jendela-jendela atau pintu-pintu menembus dinding goa, sehingga kita dapat melihat lembah sekitar. Ini rupanya yang tampak terlihat dari baloon, lobang-lobang dilereng bukit. Dari lobang ini kita bisa melihat bangunan-bangunan kampung sekitar Akhsary yang tampak jauh di depan. Satu-dua menara masjid menjulang tinggi diantara bangunan-bangunan di sekiarnya.
Kenampakan dari salah satu jendela di Celimi Cathedral
Selanjutnya rombongan menuju Ihlara Valley. Bukit batu dengan keunikan tektur dan lekukan permukaan sepanjang puluhan kilometer dipisahkan lembah dengan sungai selebar 5-8 meter yang mengalir air jernih. Semua penumpang turun disini, mobil akan menjemput ditempat lain, pengunjung berjalan kaki untuk menuju kesana. Setelah membayar tiket masuk, penumpang dipersilahkan turun ke lembah dengan melewati tangga kayu yang dibuat berkelok mengikuti kelengkuan permukaan lereng bukit.
Ihlara Valley
Dibutuhkan stamina yang cukup untuk melewatinya. Pada beberapa spot tertentu, sulit untuk tidak berhenti mengambil gambar untuk dokumentasi. Sampai dasar lembah, kesegaran aliran sungai mengurangi sedikit kepenatan.  Perjalanan selanjutnya mengikuti sisi aliran sungai sepanjang lembah bukit menempuh waktu satu setengahjam-an smapai di titik penjemputan. Titik-titik untuk pengambilan gambar, fasilitas kamar kecil, kedai minuman dengan tempat istirahat tersedia dengan fasilitas yang cukup bagus. Sepanjang perjalanan
menikmati indahnya bukit batu curam sepanjang aliran sungai, jika penat disediakan rest area atau merendam kaki di sungai dangkal.
Topografi Bukir Ihlara
Makan siang disiapkan resto yang di desain mengapung di di atas dan di samping sungai. Menu makan siang favorit masih sekitar grill ikan, nasi lemak dan salad. Setelah sholat dhuhur di (bukan) mushola seadanya, rombongan melanjutkan ke lokasi destinasi selanjutnya....Kaymakly Underground City, yaitu kawasan pemukiman masyarakat dulu yang dibangun di bawah tanah.  Ratusan bangunan seperti ada di wilayah Cappdocia dan menjadi warisan dunio (Unesco), tentu saja menjadi destinasi wisata mancanegara dan lokal. Selanjutnya menuju Pigeon Valley.
Kaymakly Underground City
Bukit-bukit kapur berwarna putih, memanjang dengan puncak puncak-puncak bukit yang bertebaran sepanjang gugusan perbukitan tersebut.  Bentangan topogragi lokasi di bukit tampak unik dan indah dilihat dari baloon.  Tidak banyak waktu di tempat ini, karena pesawat untuk penerbangan ke Istambul menunggu pada jam 19:10. Sesuai kesepakatan dengan pengelola
paket tour, pengantar ke bandara sudah siap di tempat. Sayang sekali tidak bisa berlama-lama di disini, hanya sekedar mengambil gambar dangan background Pigeon Valley, kami bergegas ke mobil jemputan menuju bandara. Bye..bye Goremee. Welcome Istambul..again.
Pigeon Valley
Pigeon Valley


30.4.2017...setengah hari di Istambul tidak banyak yang dikunjungi. Yang paling dekat adalah  Takzim  Square. Bekas barak militer yang dijadikan taman. Untuk mengenang mereka dibangun patung militer ditengah-tengah taman. Taman ini terletak di bukit, untuk menuju ke lokasi dapat  berjalan kaki dengan jalan dengan kemiringan hampir 40 derajat. Tidak seramai di kawasan Sultan Ahmed, bisa jadi karena hari masih terlalu pagi. Tidak ada moment lain yang harus dilakukan selain pengambilan gambar dengan latar belakang monumen Taksim yang berdiri megah. Untuk pulang ke hotel rupanya ada jalur yang lebih cepat dan tidak melelahkan, naik trem. Baru tahu setelah tanya ke polisi wisata yang standby di sekitar taman.

Cek-out hotel jam 12:00..elveda istambul görüsürüz,jakarta... geri döndüm...Jakarta, I'll be back.

Senin, 09 Mei 2016

Negeri Blambangan

Kota paling timur di pulau Jawa, dengan tagline sunrise of java, rasanya tidak salah kalau kota Banyuwangi merupakan kota pertama di pulau Jawa yang melihat matahari bersinar di pagi hari. Potensi wisata yang luar biasa, dan baru terkuak dalam lima tahun terakhir, merupakan destinasi wisata yang sangat menarik. Puluhan wisata pantai dengan keunikan sendiri, wisata gunung dan wisata budaya kiranya tidak cukup waktu dua hari untuk mengunjungi semua destinasi tersebut. Akses melalui udara via Surabaya hanya dua kali penerbangan per hari, rasanya perlu ditinjau lagi.... karena potensi yang luar biasa. Garuda dan Wings melayani setiap hari pada jam yang bersamaan, jam 11.00 dan jam 11:15.
Apron Bandara Blimbingsari, Banyuwangi
Fasilitas bandara sangat sederhana, hanya da satu bangunan yang terdiri dari dari tiga yang terpisah, keberangkatan dan kedatangan. Keberangkatan terbagi dua, ruang pemeriksaan/cek-in dan ruang tunggu. Karena sempitnya ruang tunggu, perlu ditambah tenda di halaman depan. Rehab bangunan sedang dalam proses penyelesaian, informasinya tahun depan baru bisa digunakan. Jarak bandara Blimbingsari ke pusat kota +/- 15 km. Taxi bandara dengan tarif flat rp. 75.000,- siap mengantar ke penginapan yang diinginkan. Hotel dan penginapan dengan fasilitas bintang 4, tersedia di beberapa tempat. Salah satu diantaranya,hotel Santika agak keluar kota dan wisma Blambangan yang terletak di pusat kota, milik pemda setempat bekerja sama dengan swasta.

Pantai Boom
Hari pertama tiba di Banyuwangi serasa nanggung, alternatif yang paling mudah adalah menikmati suasana kota dengan cara santai. Dengan apa ? Naik becak, merupakan pilihan yang pas. Sesuai arahan mbah Google, kuliner yang dapat urutan pertama hasil searching adalah nasi tempong mbok Nah. Anehnya pak becak ketika ditanya lokasi warung mbok Nah, tidak tahu persis..waahhh. Warung mbok Nah sangat sederhana,menu andalannya nasi tempong yaitu nasi putih anget dengan lauh ikan goreng ditemani sayur daun singkong dan kangkung rebus plus sambel. Disediakan menu tambahan, bothok/ pepes ikan udang, tempe, tahu. Segelas minuman lokal bir temulawak dalam kemasan botol dengan es batu, memuaskan perut yang sedari pagi belum bertemu nasi. Siang hari dengan suhu udara cukup terik, semakin menambah kenikmatan menyantap gurihnya ikan goreng khas Banyuwangi. Sholat asar di masjid agung Baiturrohman terletak di alun-alun Sri Tanjung, merupakan masjid tertua yang dibangun pada abad 18 oleh Bupati pertama yaitu RT Wiraguna, yang makamnya berada di belakang masjid pada bangunan terpisah. Di salah satu pojok alun-alun, dan di tempat-tempat strategis yang lain, terdapat spanduk ukuran sedang dan menarik perhatian bagi siapapun.
Informasi APBD di Alun-alun
Pemerintah memasang spaduk informasi tentang besaran APBD per sektor pembangunan pada tahun berjalan, 2016. Salah satu bentuk pertanggungjawaban publik yang perlu diinformasikan dan diawasi oleh masyarakat. Tentu menjadi contoh bagi daerah-daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Masih menggunakan becak, mengunjungi pantai Boom yang terletak di dalam kota. Ada dua tempat, keduanya ada plang panandanya. yang berada di teluk, tempat mangkal kapal-kapal nelayan lokal dengan berbagai aneka warna. Dan, satu lagi berada ke dalam pantai dengan area lebih luas dan terbuka. Akses jalan masih berupa tanah campuran pasir. Pada sore hari banyak masyarakat sekitar berkunjung ke sini.

Hari kedua, persiapan ke gunung Ijen. Napak tilas perjalanan 33 tahun yang silam, tatkala penulis mroyek pengukuran untuk keperluan survei geothermal di lereng barat gunung Ijen, berupa kebun kopi Jampit, milik PTP XII. Baki, ojeg sekaligus pemandu yang akan menganter ke kawah Ijen, mengingatkan sebaiknya berangkat tengah malam,
Paltuding, desa terakhir sebelum mendaki Ijen
supaya bisa menyaksikan blue fire menjelang subuh sekaligus menghindari panas terik matahari. Disepakati untuk berangkat jam 02.00 dari hotel dengan tujuan desa terdekat, Paltuding, 1850 dpl (di atas permukaan laut). Perjalanan malam ditempuh selama 90'. Tiba di lokasi parkir kendaraan roda 2 dan 4 sudah banyak, pengunjung sudah banyak yang datang terlebih dulu atau bahkan bermalam di sini. Tersedia guest house yang disediakan perhutani setempat. sesuai informasi penjaga tiket, jarak ke puncak sekitar 3 km,dengan kondisi normal dengan ketinggian 2386 dpl, dapat ditempuh dalam waktu 60-90'. Untuk pehobi treking alam liar dengan usia kepala lima, jalur ijen cukup berat. karena gelap, perjalanan tidak terasa sampai puncak. menjelang subuh dari puncak gunung terlihat di kejauhan api biru, blue fire, di kawah ijen yang terletak di bawah. Blue fire, fenomena alam karena munculnya gas belerang dan bereaksi dengan udara. konon hanya ada dua di dunia, satu lagi di Eslandia. Untuk melihat blue fire lebih dekat, harus turun ke bibir kawah sebelum fajar terbit.
Rest Area
Kelerengan turun 45% dengan jalan sempit berbatu, perlu extra hati2 jika tidak ingin terjerambab. Kepadatan pengunjung dan kondisi jalan setapak terjal dan penerangan hanya mengandalkan lampu senter, menghambat untuk bisa turun menyaksikan lebih dekat fenomena bluefire. Penghargaan yang sangat tinggi sekaligus kagum kepada para pekerja lokal yang bermatapencaharian membawa belerang dari kawah menuju penampungan (Pondok Bunder) dengan upah hanya Rp1250,00/kilo. Kemampuan beban per orang 40-50 kg, maksimum dua kali bawa/rit. Dapat kita hitung berapa penghasilan mereka dalam sehari.
Kawah Ijen dengan keasaman nol, kedalaman 200 meter seluas +/- 5000 ha, air dengan kandungan hidroclorine yang sangat tinggi. Keriuhan suara pekerja memotong belerang yang keluar meleleh dan memadat setelah bereaksi dengan udara disertai kepulan asap yang sangat pekat, merupakan pemandangan unik sekaligus miris.
Perlahan dan pasti terbit matahari dari sisi tebing sebelah timur membuka pemandangan lebih benderang kondisi kawah ijen menjelang siang. Amazing. Menjelang siang, jam 09.00, puas dengan keindahan kawah Ijen, bersiap-siap untuk naik ke puncak gunung, dilanjutkan turun ke Paltuding. Di ketinggian 2214 dpl
Kawah Gunung Ijen
Pintu Gerbang Menuju Puncak Ijen
Pekerja Pengambil Belerang
beristirahat sejenak di Pondok Bunder, bangunan permanen bulat dengan arsitektur Belanda berwarna merah menyala. Dilihat dari kondisinya, sangat disayangkan sudah tidak berfungsi lagi sebagai tempat istirahat di setengah perjalanan. Beruntung terdapat bangunan semi permanen, selain sebagai posko petugas penjaga hutan, juga berfungsi sebagai warung minuman sekaligus istirahat bagi para pendaki. Minum teh hangat tanpa makanan cukup, lumayan untuk sekedar mengurangi kepenatan. "Lebih enak naik daripada naik", ujar Baki, pemandu kami, kala ditanya berat mana berangkat atau pulang, walau penulis merasa sebaliknya. Jalan tanah, sesekali berpasir, untuk mengurangi kelicinan jalan. Jalan berfungsi juga sebagai batas wilayah administrasi kab Banyuwangi dan Bondowoso.
Sebagai penanda batas wilayah, dipasang tugu beton setinggi satu meter dan lebar 50x50 cm tertera tulisan Jantop AD Kodam V Brawijaya.  Setelah menempuh satu setengah perjalanan, matahari cerah menyambut kedatangan di pos Paltuding, desa terakhir di kaki gunung Ijen. Perjalanan dilanjutkan menuju hotel Santika, Banyuwangi, istirahat dan persiapan destinasi selanjutnya.
Gedung Bunder

Istirahat sejenak menunggu sholat dhuhur untuk melanjutkan perjalanan di beberapa pantai terdekat. Untuk efisiensi dan persiapan perjalanan esok pagi, rental mobil merupakan alternatif yang terbaik. Dengan harga 375ribu per 24 jam, xenia keluaran terbaru siap menganter pengunjung menjelajah sudut-sudut kota sampai ujung selatan. Badha as'ar, perjalanan dilanjutkan ke pantai Watu Dodol. Sayang sekali hujan deras yang turun dengan tiba-tiba, menghalangi untuk dapat menikmati keindahan pantai.

Hari ketiga, menjelang subuh, Bambang, petugas hotel Wisma Blambangan mengetuk pintu kamar, siap menemani perjalanan ke pantai pulau Merah yang terletak di desa Sumber Agung, kec. Pesanggaran.
Tidak ada informasi yang dapat digunakan sebagai rujukan, kenapa dinamakan pulau Merah. Tidak ada pohon yang berdaun merah, tanah berwarna coklat, pasirnya putih, jika sedang surut daratan pulau dengan bukit kecil tidak berpenghuni, menyatu dengan pulau Jawa. Bahkan kalau mau, pengunjung bisa mendaki bukit setinggi 200 meter-an.  Seperti layaknya destinasi wisata pantai, tersedia beberapa penginapatan berupa rumah-rumah penduduk yang disulap menjadi homestay. Beberapa fasilitas mandi bilas terbuka, kursi malas pantai dengan tenda-tenda warna merah maron. Memberi kesan merah pada pantai pulau Merah. Warung-warung makanan berjejer siap melayani pengunjung yang lapar sehabis mandi di pantai. Kondisi pantai cukup bersih, ombak tidak terlalu besar, perahu nelayan tradisional dengan mesin tempel berjejer rapi. Sebagian perahu dengan 4-5 nelayan sedang siap-siap untuk melaut.

Perjalanan dilanjutkan ke pantai Mustika, secara geografis masih berada di wilayah yang sama tetapi fasilitas minimal. Satu pantai berada di seberang bukit, pantai Wedi Ireng. Informasi dari brosur yang tersedia di beberapa outlet hotel, keunikannya karena warna pasir yang berwarna hitam. Kendalanya akses ke lokasi dengan berjalan kaki  atau menggunakan perahu nelayan mengitari pantai Mustika.
Masih di wilayah yang sama, pantai Lampon berada sederetan dengan pantai-pantai yang ada. Pantai Lampon merupakan lokasi latihan tentara marinir, sehingga akses ke lokasi dibatasi. Kondisi terebut berdampak pada sedikitnya pengunjung yang berminat kesini. Kondisi pantai mirip dengan pantai pulau Merah, terdapat pulau yang yang menempel.

Pulau Merah
Waktu terus berjalan sementara destinasi wisata lain masih banyak yang belum dikunjungi, perjalanan pulang dan bersiap-siap meninggalkan Banyuwangi. Bambang rupanya tahu banyak tentang destinasi yang mesti dikunjungi dengan kondisi waktu yang terbatas ini. Sebelum masuk kota Banyuwangi mampir ke alas kota,
yaitu area seluas +/- 5 ha milik perhutani tempat menimbun kayu dengan kondisi pohon-pohon raksasa berumur puluhan tahun. Suasana rindang dan dingin, tidak salah kalau sering digunakan bagi pasangan yang akan menikah untuk pre-wedding photo session. Walaupun kondisi berupa tanah, sehabis hujan genangan air mengurangi kenikmatan menghirup udara rimbun pohon trembesi raksasa. Tiga hari dua malam rasanya waktu yang terlalu singkat untuk dapat mengunjungi seluruh destinasi wisata kabupaten Banyuwangi.  Selamat untuk masyarakat Banyuwangi, anda harus bangga dengan Bupati yang mengerti betul bagaimana mengelola wilayah dengan potensi wisata yang layak jual.
Dengan Pekerja Pembawa Belerang, sedang istirahat
Pantai Pulau Merah
Nelayan pantai Mustika
Radio Osing
Alun-alun Blambangan
Pantai Watudodol