Rabu, 07 Juli 2010

Europe Tour [3].cordoba.granada

Mesquite-Cathedral de Cordoba

Hari ke-6.Cordoba adalah ibukota propinsi Cordoba,yang terletak di daratan tengah Spanyol. Penginapan sederhana sekali, satu kamar terdiri dari 6-8 kamar tidur kecil, dan beberapa orang turis backpaker dari Yunani (setelah melihat dari plat mobilnya). Karena sederhananya, heater water tidak tersedia. Terpaksa mandi pagi berdingin-dingin ria.



Jembatan di depan Masjid Cordoba
Masjid Cordoba dari Jembatan


Ingatan masa-masa SMP jadi terngiang kembali. Bu Wulan, guru sejarah SMPN 3 Malang, yang mengajarkan tentang sejarah dunia tentang masjid Cordoba yang sangat mashyur pada pada pemerintahan Islam di Spanyol pada abad-abad pertengahan. Nah....inilah tempatnya. Siapa sangka ?

Salah Satu Sudut Kota Cordoba

Mesquita-Catedral de Cordoba. Ikon yang selalu menjadi tujuan wisata utama. Semula pembangunan adalah untuk gereja (dinamakan gereja St.Vincent) pada awal abad 6. Setelah Kekaisan Damaskus (bani Umayah) berkuasa di Spanyol, pimpinan pada saat itu, Emir Ar-Rahman, membeli gereja dan membangun kembali dan sekaligus merubah fungsinya menjadi masjid. Pembangunan dilakukan selama 200 tahun. Kejayaan Islam tampak di sini dengan arsitek bangunan yang indah dengan gaya timur tengah. Abad 12 awal mulai kepudaran kepemimpinan Islam dan ditaklukannya oleh bangsa Nasrani. Oleh Raja Ferdinant III masjid dirubah fungsi menjadi gereja kembali. Di dalam bangunan masih dijumpai tulisan ayat-ayat Al Qur'an di dinding-dinding dan diletakan grand piano di tengah mimbar. Interior dalam katedral mempunyai kemiripan dengan masjid Nabawi. Tiang-tiang penyangga bangunan yang dihubungan dengan bagian melengkung setengah lingkaran. Pada bagian ini diberi warna dengan garis coklat terakota dan krem berselang-seling. Mengagumkan. Tidak ada aktifitas keagamaan di dalam, hanya beberapa tukang sibuk merenovasi beberapa bagian yang harus diperbaiki. Di depan masjid-katedral terhampar sungai Guadalquvir dan jembatan dari bata yang membentang di ujung pintu masuk katedral. Sayang sekali tidak ada air yang mengalir di sungai tersebut. Tidak jelas kenapa ? Mungkin pas lagi summer ?

Istirahat dan Makan Siang



Dua jam untuk mengetahui keindahan dan kejayaan Islam di masjid cukuplah sudah. Kami harus segera meluncur lagi ke Granada, melewati Sevilla yang semalam hanya diintip sebentar.
Kali ini sempat beli makanan ala spanyol dan dibawa untuk di makan di jalan saja, ngirit waktu. Tengah hari di bawah terik matahari dalam perjalanan, rehat sejenak untuk makan siang di bawah pohon rindang. Tanah terhampar gersang dan di kejauhan terlihat pegunungan berbatu-batu merupakan bagian dari pegunungan Siera Morena.
Sevilla di siang hari lebih indah, bangunan yang terkenal adalah katedral Sevilla. Andong dengan roda empat tampak melintas di jalan-jalan yang membawa turis. Mirip dengan andong yang ada di Yogyakarta.

Katedral


Seperti biasa untuk menikmati suasana kota lebih afdol kalau jalan kaki. Sekali lagi, landmark yang paling berkesan adalah aneka rupa jembatan yang melintas di sungai Guadalquivir (bersumber dari Cordoba), puente de Isabel yang klasik menawan dengan warna kuning keemasan atau Alamillo Bridge yang terkesan modern dan futuristik. Bangunan rata-rata bangunan lama dan klasik. Beberapa perkantoran ditandai dengan adanya bendera negara dan bendera propinsi dan dijaga oleh 1-2 orang.
Tepat 14.30 se-usai waktu sholat Dhuhur, harus segera meninggalkan kota Sevilla untuk mengejar malam hari di Granada (berjarak +/- 350 km-an). Dengan kondisi mobil yang safe dan sopir yang safe juga, menjelang malam hari, kami sudah memasuki kota Granada.

Andong


Hari ke-7.Granada.
Malam hari merupakan waktu yang khusus diluangkan untuk istirahat bagi para backpaker yang berkendara sendiri.

Gedung Pemerintahan


Selain untuk menjaga stamina, tidak ada yang istimewa yan harus dinikmati pada malam hari.
Sarapan pagi disediakan oleh penginapan, menu sederhana. Yang penting ada ganjal perut untuk perjalanan dan tahan sampai menjelang makan siang.

Murid SD di Istana Granada

Ipranto, Endri, Kalveyn


salah Satu Sisi Istana Granada


Hall di Istana Granada

Obyek yang tak kalah terkenal dan juga mengingatkan saya pada bu Wulan, guru sejarah SMP, adalah istana Alhambra. Menurut sejarah-nya istana dibangun pada abad 9 pada masa dinasti Nasrid.
Karena adanya perubahan penguasa, terjadi banyak perubahan atau tambahan konstruksi bangunan, dan pengaruh desain sangat kuat sekali. Pengaruh timur tengah, kebudayaan bangsa Moorish, Eropa, menyatu dalam berbagai bagian bangunan. Terletak agak bagian lembah sehingga harus jalan kaki cukup jauh dari pelataran parkir kendaraan. Berdiri pada area seluas 14,2 ha, warna merah dominan mereflesikan bahan bangunan yang terbuat dari red clay. Banyak turis yang sedang berkunjung ke lokasi, tapi anehnya turisnya opa-oma dan anak-anak sekolah. Yang muda-muda hanya kami ini saja.
Menjelang tengah siang perjalanan harus berlanjut. Tujuan selanjutnya adalah Lorca-Murcia-Alicante-Valencia dengan jarak +/- 450 km. Berangkat jam 9.30 diharapkan sore hari sudah bisa masuk kota Valencia.

Plaza de Toro, Valencia

Valencia terletak di pantai selatan Spanyol. Kota tua yang ditemukan oleh bangsa Romawi pada tahun 137 SM. Sama cantiknya dengan kota Sevilla. Selain stadion sepakbola, salah satu atraksi yang terkenal adalah matador, dengan stadion yang tak kalah megah dengan stadion sepakbola. Sayang tidak ada pertunjukkan pada saat itu, sehingga suasana lengang. Tapi cukup memberi kesan yang mendalam bagaimana seorang matador berhadapan dengan seekor banteng dan ditonton oleh puluhan ribu orang. Uniknya, walau tidak ada show matador, stadion tetap menarik untuk dijadikan obyek wisata. Dengan membayar 10 pesos, pengunjung akan diajak untuk melihat-lihat ruang ganti matador sebelum berlaga, sepanjang lorong dipasang legenda matador dari masa ke masa lengkap dengan pakaian kebesaran.



Matador Lambang Kejantanan
Stadion Matador, Valencia

Pada tempat-tempat fasilitas umum yang terbuka, selalu dipasang patung dengan berbagai aneka desain. Patung matador setinggi dua meter, patung seorang penginjil dan lain-lain.

Suasana Perkebunan di Luar Kota Valencia

Perjalanan harus dilanjutkan menuju kota selanjutnya, Barca, Barcelona. Rute yang ditempuh Castelon de la Plana-Tarragona- Barcelona. Sepanjang perjalanan banyak melewati hamparan kebun-kebun gandum dan satu-dua rumah yang berdiri di tengahnya. Berhenti sejenak di salah satu rest area yang terbuka tidak ada peneduh menjelang magrib, asyiik juga. Sunset di tengah padang luas savana, sekali-kali truk besar dengan lampu kota menyala melintas mendekat, membesar, dan menghilang seolah-olah ditelan bumi yang tampak melengkung, karena efek bumi berbentuk bulat.
Akhirnya ...Barcelona sampai juga ketika waktu menunjukkan jam 22.30. Jalanan sudah mulai lengang. Dengan berbekal alamat youth hostel dan peta kota Barcelona, Calveyn mencoba menyusuri jalan, mencoba mempelototi nomor rumah/ flat yang berurutan. Kurang beruntung, penginapan yang dimaksud tutup, tidak jelas tutup karena sudah penuh atau penjaganya tidak ada di tempat. Dengan langkah gontai mencoba mencari tempat penginapan yang lain. Mampir ke pom bensin, kemungkinan terjelek numpang tidur di rest area-nya. Secara iseng-iseng tanya kepada penjaganya, apakah ada penginapan di sekitar sini. Sayangnya beliaunya tidak mengerti bahasa Inggris, sedangkan diantara kami nggak ada yang bisa bahasa Spanyol. Untungnya ada seorang staf yang , kelihatanya, imigran Aljazair, fasih bahasa Inggris. Basa-basi sebentar, dia menjelaskan kalau di lantai dua pom bensin tersedia penginapan. Namanya untung nggak kemana-mana ya.... Kamar tidur, kamar mandi cukup bersih. Hampir jam 12.00 kami sudah mendengkur.

Senin, 05 Juli 2010

Europe Tour [4].barcelona.monaco

Menuju Barca

Hari ke-8. Barcelona. Bangun pagi agak terlambat, terlalu capek untuk perjalanan lebih dari 800 km. Apalagi Agusta, yang nyopir dan tak tergantikan. Sori ya Gus...kita-kita nggak punya SIM Internasional. Seperti biasa Agusta cek dulu air radiator, kondisi mobil masih ok, cuci mobil ...tidak terlalu perlu, karena memang tidak ada hujan, tidak jalan becek.
Setelah sarapan di kantin yang tersedia di pom bersiap-siap kembali untuk perjalanan selanjutnya. Rute yang dipilih bensin, Barcelona-Girona-masuk wilayah Perancis di Le Perthus-Perpignan-Narbonne-Montpelier (jangan diplesetkan ya...)-Nimes-turun ke selatan menuju Marseilles.
Kota Barcelona pagi itu agak mendung, dan benar, dalam perjalanan keliling kota turun gerimis. O ya..hujan di daratan Eropa tidak sedahsyat hujan di negara tropis. Hujan yang dimaksud adalah gerimis.






#Sebagai pengikat rindu, akan kukenang slalu, cintaku di Barcelona,lo siento mucho senorita.# Salah satu penggalan lirik lagu Barcelona yang dinyanyikan Fariz RM. Barcelona, kota terbesar ke-2 setelah Madrid, yang berada di pantai selatan Eropa memang bikin rindu. Bangunan spanyol (bukan separo nyolong lho...) yang banyak dijumpai di tanah air, meniru bangunan yang ada di sini....kalee. Arsitektur bangunan walaupun bangunan yang sudah berusia puluhan, bahkan ratusan tahun, tetap kokoh berdiri dan ada kenikmatan tersendiri apabila memandangnya.
Sebagaimana kota-kota besar di Eropa, banyak sekali dijumpai taman-taman kota dengan berbagai seni patung dan seni 3 dimensi lain yang sangat indah. Tampak di salah satu bundaran di jalan raya, berdiri bangunan sederhana menjulang tinggi. Ternyata air menggelontor dari ujung bangunan tersebut, bener-benar air mancur...bukan air muncrat.
Barcelona segera berakhir, tidak banyak yang mestinya layak dinikmati karena keterbatasan waktu. Terlalu sedikit waktu untuk menikmati tempat-tempat bagus di kota Barca ini, sayang..... Agusta.... tancap lagi.

Beristirahat di Rest Area dengan Kebun Bunga Matahari
Perjalanan dilanjutkan lagi, menjelang makan siang mampir dulu di restoran khas Spanyol. Berbagai makanan berjejer di meja pajang layaknya restoran padang. Agusta yang lebih banyak tahu tentang makanan eropa, milih berbagai lauh yang cocok untuk lidah melayu. Bungkussss....Oh ya...sebelum berangkat, kami sempat menanak nasi untuk bekal perjalanan, maklum perut jawa sekali seminggu harus ada nasi yang bersarang di perut. Nikmat kali, makan nasi berlauh ayam panggang yang di ramu oleh chef spanyol.
Seusai waktu asar, dalam perjalanan Agusta melihat ada perubahan temperatur yang meingkat di dasboard mobil. Diputuskan untuk mencari bengkel sepanjang perjalanan. Setelah 2-3 bertanya ketemu bengkel yang dimaksud. Seorang pria tua beruban (tahunya dari warna rambut yang berwarna putih...) menghampiri kami. Tanpa banyak bicara langsung memeriksa indikator suhu dan melihat kondisi radiator. Ditemukan adanya sedikit kebocoran pada selang air menuju radiator. Solusinya selang harus diganti...masalahnya, apa ada barangnya ? Ada, walaupun bekas kondisinya masih bisa terpakai. Tidak lama untuk mengganti selang. Seperti biasa, basa-basi sejenak bapak tanya dari mana mau kemana ? Secara berkelakar dia bercerita kalau di Italia akan banyak dijumpai orang atau tempat merah/ red area (maksudnya.. wanita-wanita nakal). Kami semua jadi tersenyum, teringat apa yang kita lakukan di kamar-nya pak Burlian Jamal. Setiap malam minggu setelah tengah malam, kami berkumpul di ruang pak Jamal, satu-satunya kamar diantara kami ber-6 yang ada tv-nya. Acaranya nonton film +17 di salah satu stasion tv swasta, Sat Eine. Tidak lama sih, antara 30-45 menit-an. Kebanyakan film-film yang diputar adalah produksi Italia. Benar juga bapak bengkel ini, rupanya dia juga penggemar Sat Eine. He..he..aya..aya wae.
Menjelang petang kami nyampai di perbatasan negara Perancis, desa yang terletak namanya Le Perthus. Seperti layaknya wilayah-wilayah perbatasan antar negara, dijumpai berjejer-jejer pintu pemeriksaan imigrasi seperti layaknya pintu tol Jagorawi.

Perbatasan Spanyol Perancis

Walaupun sudah tidak diperlukan lagi pemeriksaan visa sebagai akibat kebijakan Uni Europa, pintu-pintu tersebut masih kokoh berdiri, belum sempat dibongkar. Berbagai restoran dan penginapan berderet sepanjang jalan jalan menuju batas. Kami memutuskan untuk rehat sejenak sambil menikmati pemandangan sore hari.
Tidak banyak yang perlu diceritakan dalam perjalanan malam di wilayah Perancis ini, karena hari memang sudah gelap dan lampu lampu di pemukiman penduduk sudah menyala. Perhatian sempat terpaku pada plang lalulintas penunjuk jalan berwarna hijau. Tertulis Montpelier dengan tanda panah ke atas. Lho... jangan-jangan penduduk nya semua laki-laki.
Setelah melewati Nimes, masuk kota Marseilles. Jam sudah menunjukkan jam 20.00.

Hari ke-9. Monaco. Pagi cerah, walau matahari terhalang sedikit awan, tidak menyurutkan kami untuk sightseiing di sepanjang pantai Marseilles. Dengan status sebagai kota paling ramai setelah Paris, Marseilles merupakan salah satu kota pantai di sepanjang teluk Mediterania yang menjadi tujuan wisata pantai yang terkenal, selain pelabuhan yang sibuk juga.
Summer di Eropa memang menjadi waktu idaman bagi warga yang sangat ditunggu. Sepanjang pantai, danau atau tempat-tempat fasilitas umum banyak sekali warga, turis lokal maupun mancanegara, yang kongkow atau berjemur.

Marseiles

Bahkan, jam belum menunjukkan tengah hari, di sepanjang pantai di jalan JF Kennedy sudah banyak warga yang berjemur dan berenang. Sepanjang jalur jalan sebelah timur banyak berdiri hotel-hotel dengan lantai 7-10 berderet-deret dan sepanjang sisi barat terbentang pantai pasir putih dengan hamparan laut biru merupakan bagian dari teluk Mediterania. 1-2 hotel berlantai 40-50 menjulang tinggi.

Mandi dan Cuci Mata

Agusta sengaja tidak mandi di penginapan, karena mau mencoba nikmatnya pantai Marseilles. Beberapa nenek-nenek berjalan-jalan dengan pakaian renang, dan satu diantaranya no-bra. Kalau mata jeli di antara kerumunan pengunjung yang asik berbaring dan bermain-masin pasir, remaji-pun ber no-bra ria santai, nggak risih. Jadi teringat beberapa minggu sebelumnya. Suatu ketika Agusta, sore hari Jumat, mengajak kami untuk mengunjungi salah satu danau yang ada di Stuttgart. Danau nya tidak terlalu besar, dan biasa saja tidak terlalu indah banget sih. Yang luar biasa adalah pengunjungnya yang berenang-renang di danau. Secara tidak tertulis sepanjang putaran danau (dalam waktu 20 menit kita bisa memutari danau dengan berjalan kaki) rupanya sudah di kapling-kapling. Bagian yang dekat dengan akses masuk (parkir kendaraan) untuk anak-anak, artinya semua yang berenang disitu harus berpakaian sopan dengan pakaian renang yang standard. Agak masuk ketengah sedikit, kapling remaja. Siapapun yang berenang disini, seragam-nya cukup bagian celana ke bawah, termasuk pada ladys. Agak kedalam lagi, kebetulan tertutup semak-semak yang agak rimbun, semua sepakat untuk tidak berpakaian apa-apa. Waah..wah.....
Kembali ke Marseilles, setelah puas cuci muka di pantai, perjalanan berlanjut untuk
mengunjungi pelabuhan. Banyak sekali parkir perahu pesiar dengan berbagai model dan warna dengan tiang-tiang yang menjulang. Rupanya pelabuhan juga menjadi obyek wisata juga. Tampak kereta wisata yang ditarik dengan kendaraan, semacam traktor kecil, berjalan pelan sepanjang jalan dan didalam beberapa orang wisatawan santai menikmati perjalanan.

Summer in the Beach, Marseiles

Yacht, Menunggu Penyewa Berlayar di laut Mediterania


Sudut Kota Marseiles




Kebun Bunga Matahari


Perjalanan harusdilanjutkan....Come on... Rute selanjutnya adalah Marseilles-Toulon-Cannes-Nice-Monaco. Sekali lagi jalan keluar kota mulus, tidak ada yang berlobang sedikit-pun. Sepanjang jalan banyak dijumpai hamparan kebun dengan bunga matahari yang sedang berkembang, menguning. Sesuai dengan namanya, kebetulan siang hari matahari berada di atas, arah bunga-nya pun ke atas. Indah sekali. Konon bunga matahari diproduksi untuk dimanfaatkan untuk campuran kosmetik. Perancis identik dengan parfum ..kan ?



Monumen IndoChina (Vietnam)

Setelah melewati Le Muy, melewati Frejus mampir sejenak di Indochina Memorial Park. Bangunan berupa plaza yang didirikan sebagai kenangan keberangkatan tentara Perancis sebelum menjajah Vietnam. Mungkin salah satu negara yang terjauh yang dijajah Perancis, selain negara-negara di Afrika Utara. Dibangun sekitar tahun 1985an.



Istirahat sekalian membayangkan, apakah di Belanda ada memori tentang negara jajahan mereka yang ada di Nusantara sana ? Kota selanjutnya adalah Cannes, kota yang terkenal dengan festival film internasional-nya. Salah satu film nasional yang pernah berpartisipasi dalam festival ini antara lain : Daun Di Atas Bantal karya Garin Nugroho. Film yang dibintangi Christine Hakim menjadi kebanggaan insan perfilman tanah air, kali pertama film film nasional yang mampu menembus ffc.
Cannes tidak sempat menjadi ajang persinggahan kami, sekali lagi gara-gra waktu yang sangat terbatas. Demikian juga dengan kota selanjutnya, Nice. Seperti halnya Marseilles, Nice juga kota turis uantuk pantai yang sangat indah. Sayang tidak ada waktu untuk menikmatinya. Karena ada yang lebih sensional, Monaco. Yah ...Monaco, negara kotaseluas 2 km2 yang terkenal dengan arena perjudian-nya.
Belum terlalu sore untuk tiba di Monaco, artinya masih ada waktu untuk menikmati keindahan pantai (lebih tepat : pelabuhan) dan jalanan serta casino-nya yang terletak di Monte Carlo. Sangat disayangkan jika menikmati keindahan kota tidak memanfaatkan jalan kaki. Setelah parkir kendaraan, kami berjalan menuju ke pantai. Monaco sebagian wilayah topografi-nya berbukit-bukit batu dan tandus serta menghadap ke pantai. Tetapi pihak kerajaan mampu membangun menjadi kota yang modern canggih, kiranya tidak ada sejengkal tanahpun yang tidak digarap pembangunanya secara optimal. Jalan raya, walaupun tidak lebar, tapi sangat mulus. Sehingga tak heran kalau manajemen F1 memilih menjadi salah satu ajang lomba balap jet darat yang sangat didambakan oleh para pembalap. Jalan sempit, berliku, tikungan 180 derajat merupakan salah satu cirinya. Di bawah gedung Fairmont Monte Carlo, tempat berjudi kalangan the haves, terletak jalan yang menjadi bagian dari trek yang harus dilalui para pembalap F1, yaitu di Boulevard Luis. Mustahil berlenggang ria di jalan ini pada saat musim balapan. Sayang musim balapan sudah lewat.

Kota Monaco




Dan Jet Darat Melaju dengan Kecepatan Tinggi


Kasino Monte Carlo dan Bagian Bawah Jalan Untuk Balapan F1

Port Hercules, tempat berlabuh kapal-kapal pesiar mewah dan super mewah. Salah satu diantaranya adalah Queen of Odissey, salah koleksi kapal mewah milik milyuner dunia, Ari Onassis. Walaupun pelabuhan bukan tempat yang cocok untuk menikmati air laut, karena musim panas, beberapa turis (atau salah satu pemilik kapal ?) berjemur ria di bangunan pelabuhan untuk menambat kapal. Istana Grimaldi merupakan kediaman resmi raja Monaco dan keluarga terletak di sekitar Av.Saint Martin.
Suasana lalu lintas relatif sepi, cenderung tidak ada kemacetan. Maklum saja penduduknya cuma 30.000 -an.

Blv. Lois, Monaco

Port Hercules

Sore beranjak mendekati malam, Monaco harus segera ditinggalkan. Italia merupakan ssasaran negara berikutnya yang harus dicapai.
Rute yang ditempuh, Monaco-Menton-Sanremo- Savona-Genova-Marina Carara. Walaupun waktu sudah menunjukkan jam 22.00 lebih waktu setempat, Agusta dan Kalvyn tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat penginapan di desa Marina Carara. Sebenarnya cukup banyak penginapan yang berderet-deret sepanjang jalan yang merupakan wilayah di pantai barat Italia. Jam 23.30 kami sudah berada di kamar di penginapan.

Queen of Odissey,

Sabtu, 03 Juli 2010

Europe Tour [5].pisa.vatikan.

Hari ke-9. Pisa. Menton adalah kota terakhir di Perancis sebelum memasuki wilayah Italia. Perbatasan antar kedua negara di pisahkan dengan bangunan pintu-pintu imigrasi untuk memeriksa visa bagi warga luar Italia yang masuk ke wilayahnya. Ada 5 pintu gerbang yang melayani pengunjung. Ya memang...pada saat itu...Italia belum tergabung pada Uni Eropa, sehingga masih harus ngurus ke konsulat yang ada di Stuttgart.

Perbatasan Perancis-Italia


Penginapan di Marinaa Carera
Marina Carerra setingkat kota kecamatan, tidak terlalu besar untuk daerah wisata pantai. Penginapan yang kami pilih tidak jelek. Bangunan lama warna krem desain kotak. Sayang sekali kamar-kamar untuk klas backpaker tidak ada di bangunan utama, tetapi ada di bangunan lain di belakang. Satu kamar berisi beberapa tempat tidur singgle. Tidak masalah yang penting bisa tidur nyenyak.
Bangun pagi kondisi fisik masih segar. Sarapan pagi sudah disiapkan pihak penginapan. Seperti biasa, penataan ransel-ransel di bagasi dirapikan di mobil. Agusta mengecek kondisi selang radiator, yang dua hari yang lalu diganti. Masih bagus. Ok...go head.

Nomor Polisi Mobil di Kota Pisa
Tujuan terdekat selanjutnya adalah Pisa. Siapa yang tidak tahu menara miring-nya. Awalnya saya beranggapan bahwa Pisa nama menara tersebut, yang benar adalah nama kota. Karena menara miring terletak di kota ini, untuk memudahkan digandengkan dengan nama menara-nya. Menara miring merupakan salah satu bangunan dari empat bangunan di area katedral Baptistry of St. John seluas lebih kurang 4-5 ha, tidak termasuk makam yang terletak di pojok. Tempat parkir tidak terlalu jauh dengan pintu gerbang katedral yang terletak di Piasa dei Miracoli dan Piasa dei Duomo. Sebelum masuk ke pelataran katedral sempat tertegun sejenak, lho koq ada mobil wilayah karesidenan Surakarta ada di sini. Rupanya mobil Marcedes Benz keluaran terbaru dengan plat AD156DH sedang mencari tempat parkir. AD merupakan plat nomor polisi di salah wilayah karesidenan di Jateng.



Diantara keempat bangunan kokoh yang paling unik adalah menara lonceng langsing yang terletak di sisi sebelah timur komplek. Yang selanjutnya diidentikan dengan menara Pisa (Torre pendente di Pisa). Bangunan lain, katedral yang berdiri kokoh dan lebih besar. Ada lagi menara yang lebih tambun dan lebih pendek dari menara lonceng. Bangunan lain yang paling besar berbentuk kotak yang merupakan pemakaman (camposanto). Dibangun pada abad 11 dengan lama pembangunan 200-an tahun, tinggi menara adalah 55 meter di desain oleh seorang arsitek bernama Guglielmo atau Dioatisalvi (mungkin nama samaran ?). Kemiringan menara memang sangat mengkhawatirkan, konon disebabkan karena kondisi struktur tanah yang labil untuk mendukung struktur bangunan berbobot 10.000 ton lebih. Tentu saja para ahli bangunan negara Italia tidak tinggal diam untuk menghadapi kondisi ini. Beberapa usaha sudah dilakukan, salah satu diantaranya adalah memasukan tiang penyangga pada pondasi bangunan di satu sisi dan menariknya di sisi yang lain. Pada saat ini pengunjung tidak diperbolehkan untuk naik, bahkan memasuki bangunan.





Karena masih dalam proses renovasi dan pembangunan lain, terlihat beberapa theodolit terpasang di lantai 1 menara. Katedral sebagai bagian bangunan lain juga tidak kalah megahnya, bangunan dengan stile Gothic. Banyak pengunjung masuk ke gereja menikmati keindahkan arsitektur interior bangunan. Indah sekali.
Di sepanjang jalan dei Miracolli berjejer rapi toko-toko berjualan souvenir, kaos, gantungan kunci miniatur menara Pisa dan lain-lain. Harganya tidak terlalu jauh nilainya dengan rupiah, karena kurs lira terhadap $US juga rendah. Serombongan motor besar sedang beristirahat, sebagian besar motor buatan Eropa. Dua jam merupakakan waktu yang cukup singkat untuk menikmati keindahan kota Pisa. Sebenarnya masih banyak obyek lain, universitas Pisa yang terletak tidak lebih dari 700 meter dari menara Pisa, terletak di sungai Pisa di jalan Lungamo Antonio Paccinoti. Bagaimanapun waktu yang harus memisahkan kami harus meninggalkan kota Pisa.

Salah Satu Jalan Negara di Italia Bagian Selatan

Perjalanan selanjutnya ke kota Roma melalui Livorno, Grosetto, diharapkan kami bisa menginap di Roma. Rute melalui jalur barat menyusuri jalan-jalan pantai memberikan sensasi tersendiri. Betapa tidak, karena kondisi topografi yang terdiri dari bukit-bukit karang terjal, dibuatlah jalan yang mampu menembus dinding-dinding karang tersebut. Sangat banyak sekali jalan melewati terowongan dengan berbagai variasi panjang yang berbeda-beda. Satu ketika jeda masuk dan keluar tidak sampai 2-3 menit, di waktu lain memerlukan waktu 10 menit lebih. Sebelah kiri dinding terjal menjulang tinggi, di sisi kanan dinding terjal juga menjulang tinggi tetapi kebawah, alias jurang. Sensasional.
Menjelang sore rombongan sudah masuk kota Roma. Masih ada waktu untuk mengunjungi Vatikan, negara di dalam negara, negara kota, mungkin negara terkecil di dunia,luasnya 50-an ha.


Jalan menuju Basilika Santo Petro, bangunan utama negara Vatikan, merupakan jalan besar Via della Concialliazione, di sisi kiri dan kanan disediakan khusus pejalan kaki. Di per-4-an jalan Via Rusticucci, kami sempat bertemu rombongan pengunjung berwajah melayu. Dengan yakin sekali kami mencoba menyapa mereka...e...e nggak tahunya filipino, warga Filipina. Memang mirip nian dan beralasan, karena sebagian besar warga Filipina merupakan penganut Katholik Roma.

Basilika Santo Petrus

Basilika Santo Petro merupakan plasa terbuka berbentuk oval melingkar seluas 1,5-an ha, di tengah berdiri tugu menara setinggi 12 meter-an. Lantai terbuat dari batu persegi 10x10 cm dipasang membujur simetris ke arah pusat. Saat ini suasana relatif sepi, serombongan peziarah/ pengunjung dan dipimpin oleh seorang pastor berdoa ke arah bangunan utama. Rombongan lain sedang berfoto dengan latar belakang bangunan depan. Di sisi lain tampak seorang pastur sedang jongkok dengan khusuk menghadap altar bangunan depan gedung.

Sebagian Jemaat Dari Mancanegara Sedang Berdoa

Seorang Jemaat Khusuk Berdoa

Bangunan terdiri dari pilar-pilar kokoh setinggi 5-6 meter yang berjajar dari utara ke selatan. Dan bahkan sekeliling bangunan yang melingkar oval lapangan Santo Petro. Pada bangunan depan terdiri dari 3 lantai yang tidak sama tingginya, dimana lantai dasar yang paling tinggi. Pilar-pilar tersebut membentang dari lantai dasar sampai lantai kedua. Diantara lantai 2-3 terpampang tulisan latin memanjang yang tentu saja tidak tahu artinya. Diantara pilar-pilar tersebut ada jendela dan pintu serselang-seling. Di salah satu jendela yang terletak di tengah inilah tempat Paus biasa menyapa jamaah-nya pada waktu-waktu tertentu, Natal atau hari-hari suci yang lain. Ada yang aneh, di tugu yang berdiri di tengah sepasang kekasih sedang berasik masyuk sementara beberapa burung dara menyaksikannya. Lho koq......memang Italia memang beda, tidak seperti yang dibayangkan.
Di ujung sebelah kiri bangunan utama, berdiri 2-3 penjaga keamanan (security service). Vatikan merupakan negara yang tidak punya tentara. Konon penjaga keamanan sebagian besar merupakan warna negara Swiss, negara yang dikenal netral. Ditilik dari pakaiannya, memang lebih terkesan penjaga untuk konsumsi pariwisata, daripada penjaga keamanan. Saya dan Kalveyn sempat berbincang-bincang sejenak dengan salah satu diantara mereka, dan diperbolehkan mengambil foto.
Waktu berjalan, matahari sudah berangsur turun ke arah barat. Kami harus meninggalkan Vatikan untuk mencari penginapan. Kota Roma kota yang tua dengan lalulintas yang agak semrawut dibanding dengan kota-kota besar di Eropa. Dan kedisiplinan masih kalah dengan Jerman. Pengendara motor banyak yang tidak menggunakan helm. Di beberapa perempatan tampak pengemis meminta-minta. Seperti di perempatan CSW,Blok M. Aneh. Seseorang berperawakan preman membawa pembersih kaca dan menawarkan kepada beberapa pengemudi untuk membersihkan kaca depan. Keadaan yang hampir sama di Amsterdam, tidak di Berlin.

Security Servise dari Swiss

Sebelum menuju penginapan Agusta masih sempat sighseeing melihat kota Roma di malam hari. Di salah satu wilayah (lupa namanya), dilihat dari banyaknya bangunan flat-flat di seklilingnya kelihatannya pemukiman padat, terdapat lapangan terbuka di mana dibangun bangunan umum berupa patung-patung dan air yang mengalir. Sudah banyak sekali pengunjung yang ada. Di tengah malam dengan disinari lampu-lampu yang ditempatkan diantara banyak patung-patung, semakin menambah keindahan suasana tempat tersebut. It's very beautiful..... sayang tidak sempat diabadikan, tidak ada kamera.
Kali ini kami menginap di bekas penginapan atlet pada saat Roma menjadi tuan rumah Olympiade tahun 1960. Jam sudah menunjukkan jam 19.00 wr (waktu roma). Mandi dan makan....selanjutnya tidur.....zzz...zzzzttt.