Sabtu, 26 September 2015

35 th, what's next ....(2)



Ibarat manusia, hampir separuh usia manusia normal sudah berjalan. Dari sisi perjalanan hidup anggota alumni, hampir sebagian besar sudah melebihi kepala angka 5. Tidak sedikit yang sudah meninggalkan kita, ada juga yang sedang terbaring sakit. Kita doakan bersama yang sudah meninggalkan kita semoga tenang disisiNya dan dalam kondisi kusnul kotimah, sedangkan yang sedang dirundung cobaan dalam kondisi sakit, muda-mudahan dapat disegerakan kesembuhannya. Asam garam kehidupan yang sudah dialami bersama dengan keluarga, sanak saudara, tetangga dan sejawat. Kadang menyenangkan, tak sedikit yang menjengkelkan bahwa menimbulkan kebencian. Maklum sifat-sifat alamiah kemanusiaan masih sangat melekat selama kita masih diberi kehidupan, dan sering iman dalam kondisi down. Perjalanan waktu dengan mempertemukan sesama teman sejawat tentunya tidak sekedar pertemuan tanpa makna, walaupun kadang-kadang kita merasakannya juga, tapi bisa mengambil hikmah dari keberhasilan, kemandegan bahkan ketidakberhasilan dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Yang penting makna kehidupan dapat menjadi saripati untuk amunisi dalam mengarungi bekas sisa kehidupan di kemudian hari.

Kamis, 09 April 2015

PituNem

39 tahun......waktu yang cukup lama, jika dihitung dengan usia rata-rata kita yang berkepala lima, lebih dari separohnya sudah kita jalani.. Waktu pulalah yang secara pelan tapi pasti menutup memori ingatan, menghapus kenangan yang ada di pikiran kita, bahkan membutakan mata terhadap seseorang yang berada dihadapan kita. Terima kasih buat Jan Koum, pencipta sekaligus pemilik WhatsApp, yang membantu mempersatukan 'balung pisah'. Adalah Fakhrudin atau Udin, yang dengan ide cemerlangnya pada tanggal 2 Maret 2015 mengcreate grup SMP 3 Alumni'76 dan ini merupakan langkah awal untuk mempersatukan balung-balung yang sudah puluhan tahun berpisah sebagai bagian dari arema yang pernah mengenyam pendidikan di SMP Negeri 3 Malang.

'Lha iyo, Tiek, sak umpomo katemu nang dalan yo nggak bakalan tak sopo, wong pancene nggak eling', salah satu posting-an WA-ne Herry Keliek Tjahjono menanggapi postingan Atiek, putrinya bu Samad.
"Ayo foto diri masing2, ben eling maneh karo koco lawas, wis berpuluh tahun yoo.."salah satu celetukan Dewi Tejowati, karena penasaran dengan wajah-wajah teman lama yang dalam bayangannya sudah sangat berubah. Pelahan dan pasti banyak temen yang gabung sekaligus memperkenalkan diri lagi. Agus Permadi (yang bukan apa-apanya Permadi yang paranormal...lho) upload kartu siswa, cek primpen-e nek nyimpen rek !
Armadhani 'Ima' Rhythmayanti  posting foto terkini, uakeh sing pangling. Idem, Lilies-nya bu  Siti, guru fisika, tampil anggun dengan foto terkini..dan Esti-pun sama sekali nggak ingat. Rina Widyati, apalagi. Bahkan, ada yang nggak tahu bahwa kami lulusan smp tahun 76. Untuk itu kami sepakat mendeclare sebagai gang pitunem. Banyak yang belum tahu dan kaget kalau Bambang Chotib, Bambang Sutopo, Eri Kusuma dan Panca Rahman (mungkin masih ada yang lain) sudah almarhum. Semoga almarhum teman-teman kita kusnul kotimah, amiinn.
Udin nyari ijasah smp dan menscan dan selanjutnya di posting di WA. Untuk yang terakhir ini, banyak teman yang masih ingat..Udin,

Dan ...hari itu, jumat 3 april 2015, saat-saat yang mencairkan  kerinduan, kealpaan, ketidaktahuan keberadaan, keadaan, kesiapaan teman, sohib, nawak yang sejak dulu merupakan bagian dari canda, tawa dan keseriusan selama tiga tahun  (kecuali sing nggak munggah lho..) menempuh Sekolah Menengah Pertama Negeri Tiga Malang.
Name tag, yang disiapkan Ima dan Rina, membantu teman-teman untuk saling mengenal dan mengingat-ingat kembali memori yang sudah tersimpan puluhan tahun yang lalu. Koen sopo ? Yok opo kabar-e..? Saiki ndek ndi ? Anakmu piro Wis mantu ta ? Putu-ne piro ? Pertanyaan yang lazim dan terucap diantara kita karena rasa keinginan tahunan yang terpendam. Sedikit demi sedikit rasa penasaran yang tercermin pada posting-an melalui obrolan virtual melalui grup WA, mulai terkuak.

Herlin tampak serasi dengan pasangannya, Farial Anwar, yang ipar-an dengan Rina Widyati. Esti Vidyantari masih menduga-duga sekaligus mengingat-ngingat teman yang yang diajak ngobrol. Sri 'Eboy' Mulyani, Iyun, Renny, Si Kembar (Cie & Wied), Ceting, Enny Irawati dan Dani asik banget nggedabrus.

Reza, yang bersama keluarga hadir jauh-jauh dari Balikpapan.
Agung Pramono, jenderal AL, sing parlente. Levi dan Udin, 'provokator' acara yang tinggi mobilitasnya untuk mengatur jalanya acara. Mardi RukmiAnto dengan kejenakaannya menambah susana lebih segar dan fun. Ndari sibuk dengan biodata teman-teman di laptop yang bisa dilihat di screen. Tutut, Andarwati, Yuli, Sri Mulyati, Nandiah asik ngobrol. Dece, Dayat, Atiek, Endang, Wiwik ngrumpi dewe. Gipuk, Budi Raharjo, Yoyok, Wal Koplo, Razak, Bustami, Kukuh, Eko Kocin, Reza guyon abiss. Budi Ojite Tarno, seniman lulusan Ikip asik diskusi karo Sapto, Budi gendut, Gozali, Nungki, Pent Haryoto, Iwan, Agung.
Kehadiran bapak Muyoto , bu Naniek Muyoto, bu Sri Mumpuni dan bu Roeslan semakin mengakrabkan dan mengingatkan kembali kontribusi guru-guru pengajar dalam memberikan ilmu bagi anak didiknya ....walaupun sempat muncul  canda  dari teman terhadap beberapa guru yang pernah menghukum dan teringat sampai saat ini. Luar biasa....
Sepatah kenangan dari beberapa teman sebagai ungkapan memori masa lalu sekaligus menyegarkan kembali kejadian-kejadian yang mengesankan dan terpatri sampai saat ini. Demikian juga dengan kesan-kesan dari ibu guru pembimbing. Alunan lagu dari biduan bidunita glokal menambah keringan dan keakraban sesama nawak.
Akhirnya lagu Kemesraan milik Iwan Fals, mengakhiri pertemuan pitunem malam dengan membawa kebahagian, kebahagian dan kesan yang mendalam buat semua hadirin dengan harapan ada pertemuan untuk silaturahmi yang intens di waktu yang akan datang dengan semboyan nawak forever.

Rabu, 31 Desember 2014

Gajah Mada, catatan perjalanan sejarah kerajaan Jawa kuno.

(novel Langit Kresna Haryadi)

Api itu berada di dalam sekam.
Belum berkobar, akan tetapi pada suatu ketika bisa berkobar, sementara negara ibarat perahu, beberapa besar pun perahu itu, ia di tengah lautan luas yang memberinya berlimpah ombak, bisa terombang-ambing terguncang-guncang. Boleh jadi ombak besar itu akan mereda dan selamatlah perahu itu namun bisa pula ombak itu menggulungnya hingga habis tidak bersisa tenggelam seujung tiangnya. Hal yang demikian bisa terjadi pada Majapahit, apalagi apabila salah dalam mengelola. Majapahit tidak pernah lepas dari perjalanan Singasari dan merupakan kepanjangan kisahnya. Singasari awal mutanya berasal dari sebuah Pakuwon' kediri bernama Tumapel, disebut demikian karena di tempat itu tumbuh banyak sekali buah apel,yang semula diperintah oleh Tunggul Ametung karena kejadian luar biasa, pemerintahnya beralih ke tangan Ken Arok , sang pendiri trah Girindrawangsa atau Rajasawangsa.

Ken Arok.
Ken Arok, ia hanya maling kecil yang sesekali mencegat orang lewat untuk dirampas harta bawaannya.
Namun Dang Acarva Nadendra menengarai Ken Arok, walau ia seorang maling, sejatinya titisan dewa. Demikianlah Dang Acarya Nadendra yang menggunakan nama sandi Pancaksara dan juga nama sandi Prapanca itu menuliskannya dalam kakawin berjudul Desawernana, menjadi pembuka kisah tentang Majapahit kepada orang-orang di zaman mendatang. Ken Arok adalah anak Ken Endok yang bersuami Gajah Para dari Desa Pangkur, namun sejak kecil harus berjibaku dengan kepahitan hidup. Mungkin kedua orang tuanya tidak peduli atau mungkin sudah mati menempatkan Ken Arok harus bertahan menghadapi kepahitan hidup, tidak ada pilihan lain Ken Arok terpaksa harus menyambung hidup dengan cara menjadi pencuri. Brahmana Lohgawe', sebagaimana dituturkan oleh Dang Acarya Ratnamsa kepada Dang Acarya Nadendra yang mengikuti perjalanan Prabu Hayam Wuruk mengunjungi wilayah kekuasaannya, brahmana itu menandai tanda-tanda gaib yang melekat pada sosok Ken Arok itu. Brahmana Lohgawe menandainya sejak menemukan jejak maling itu di padang rumput yang banyak dihuni binatang liar bemama Karautan. Brahmana Lohgawe mengentaskan Ken Arok dan membawanya menghadap Akuwu Tunggul Ametung yang memiliki istri yang kecantikannya tiada tara,Ken Dedes. Apabila semula Brahmana Lohgawe berhasil menerjemahkan tanda-tanda gaib yang melekat pada sosok Ken Arok, hal yang sama ditangkap Lohgawe ketika melihat pertanda gaib pada diri Ken Dedes. Brahmana Lohgawe curiga, Ken Dedes adalah perempuan utama yang memegang pertanda gaib Arbanareswari.
Ken Arok terlebih-lebih, is sangat tertegun melihat kecantikan istri Akuwu itu. "Kelak aku harus bisa merebutnya," janji Ken Arok pada diri sendiri. Ken Arok sama sekali tidak peduli meski Ken Dedes sedang dalam keadaan hamil. Ken Arok menjadi prajurit di Tumapel, bersahabat erat dengan Kebo Ijo. Sahabat bisa jadi merupakan tempat berbagi keluh kesah, namun Ken Arok memiliki cara pandang yang berbeda. Sahabat bisa dimanfaatkan untuk keperluan apa saja, tempat mengeluh, namun bisa juga untuk keperluan lain, misalnya untuk melepas fitnah sebagai batu loncatan
untuk meraih cita-cita.
Mula-mula ia memesan sebuah keris kepada seorang Empu pembuat dhuwung bernama Gandring Bari Lulumbang, sebuah tempat yang berada tidak jauh dari Madakaripura, hanya sehari perjalanan dari kota pelabuhan Ywangga. Empu Gandring adalah pembuat dhuwung yang hebat dan terkenal hingga ke empat penjuru langit, keris buatannya terkenal hingga ke Tumasek dan ada yang dibawa ke Tartar, sebuah negeri yang bertempat jauh di barat di mana di sana tapal batas tempat matahari terbenam. Keris buatan Empu Gandring semua berjiwa, yang dipahatkan itu melalui tapa brata yang dilakukan berbulan-bulan yang dibuat dengan bahan bake yang bukan dari biji besi sembarangan. Logam yang digunakan merupakan logam pilihan yang dicampur dengan batu bintang, menjadikan semua keris buatan Empu Gandring memiliki kelebihan Bari dhuwungrautan empu yang lain. Ken Arok memesan keris itu kepadanya. Namur Ken Arok adalah prajurit yang tidak memiliki cadangan kesabaran. Beberapa kali is mengunjungi Empu Gandring untuk melihat sudah sampai sejauh mana pembuatan keris yang dipesannya. Ken Arok terpaksa pulang dengan menggigit jari berulang-kali, itu karena pembuatan keris yang dilakukan Empu Gandring memang rumit. Terakhir, bilah keris memang telah teraut bagus, akan tetapi itu pun masih belum selesai karena gagang yang digunakannya masih sementara, gagang cangkring. Ken Arok yang menyimpan rencana jangka panjang tidak sabar. Empu Gandring pasti tidak pernah menyangka, bahkan bermimpi pun tidak, ketika dengan hati beku dan dingin Ken Arok membenamkan keris yang masih belum tuntas pembuatannya itu. Empu Gandring menggeliat dengan tangan mengenggam perut yang tertembus senjata pusaka hasil rautannya. namun tentu Empu Gandring tidak bisa menerima kematin ini. Itulah sebabnya dari multunya terlontar kutukan yang menyebabkan Ken Arok gemetar. "Eling eling Ken Arok, sira den eling, tibaning supata piwalesing awak mami, sira nemahi palastra, " Kata Empu Gandring dengan suara terbata.

Ken Arok adalah mantan seorang maling, otaknya licik dan menyimpan banyak sisat culas. Keris yang baru diperoleh itu dihadiahkan kepada Kebo Ijo, teman yang memilikibanyak manfaat. Nyaris semua orang di  Tamapel pada tahu, Kebo Ijo memiliki keris yang dahsyat. Kemana-mana Kebo Ijo pamer kerisnya, hal yang dkemudian menjadi malapetaka yang tidak terbayangkan.
Tengah malam ketika Kebo Ijo tertidir pulas,Ken Arok Menyelinap masuk mencuri keris itu. Ken Arok berbegas menuntaskan rencananya, sungguh bukan pekerjaan yang rumit bagi Ken Arok untuk
menyelinap ke tempat tidur Akuwu Tunggul Ametung, karena ia seorang maling dan jiwa maling itu tidak pernah lenyap. Ken Dedes yang terbangun hanya tertegun melihat Ken Arok, prajurit yang
dikenalnya dengan baik menyelinap masuk dan membunuh suaminya. Pada Ken Dedes, Ken Arok meletakkan ujung jarinya ke mulut sebagi isyarat agar Ken Dedes tutup mulut,tenggelam di dada Tunggul Ametung. Kebo Ijo sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi ketika dengan beringas Ken Arok membunuhnya, dengan menggunakan keris yang sama atas nama tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, membunuh Sang Akuwu. Berangkali Ken Arok sempat membisikkan kata-kata, pangapuramu Kebo Ijo, aku butuh patimu minangka paneadan nggonku nggayuh impenkul. Kebo ljo mati dengan tuduhan telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung, menempatkan Ken Arok sebagai pahlawan dan bahkan mewarisi tak hanya kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung akan tetapi sekaligus juga jandanya. Konon Ken Dedes adalah seorang Ardhanareswari, tanda-tanda itulah yang menyebabkan Ken Arok dengan menggebu mengawminnya, meski di samping Ken Dedes Ken Arok juga mengawini Ken Umang, yang kelak di kemudian hari akan memberi sumbangan atas betapa mendidih dan panas perjalanan sejarah Singasari. Raja Kediri terakhir, Sri Kertajaya yang juga bernama Prabu Dandang Gendis amat marah karena di hari-hari Pisowanan Agung' tidak hadir utusan dan Tumapel yang oleh karena telah beberapa kali berulang terjadi, Kediri menganggap Tumapel melakukan makar.
Tanpa tedeng aling-aling Ken Arok menyatakan tidak lagi meng-akui Kediri sebagai negara yang membawahi Tumapel. Kertajaya yang murka segera mengeraahkan pasukannya untuk menggebuk Ken Arok, akan tetapi Raja Kediri itu tidak menduga sama sekali bakal menghadapi musuh yang membabi-buta dalam berperang. Tumapel memang kalah dalam jumlah, namun memenangkan pertempuran. Ken Arok telah berhasil merobohkan pilar-pilar istana Kediri itu akirnya mendirikan sebutan negara dengan nama Kutaraja,dengan menghapus nama Tumapel dan menempatkan diri sebagai raja pertama Sri Rangga Rajasa Sang Awurpabumi. Kemelut pun terjadi sejalan dengan waktu yang bergerak, dipicu oleh keinginan Ken Arok menempatkan Tojoyo sebagai Pangeran Adipati, padahal jauh sebelumnya telah berjanji untuk menempatkan Anusapati sebagai Putera Mahkota. Dahulu, ketika Ken Arok merayu Ken Dedes agar mau menjadi istrnya, Ken Dedes mensyaratkan anaknya yang akan lahir harus ditempatkan sebagai putera mahkota. Sejalan waktu berlalu, rupanya Ken Arok merasa risih melihat Anusapati yang bukan anak kandungnya itu. Wajah Anusapati mengingatkan Ken Arok pada AkUwU Tunggul Ametung. Caranya berjalan, tatapan mata-nya dan senyunmya yang mengerucut amat mirip Tungul Ametung, maklum benih Tunggul Ametung mengalir di darah Anusapati.
Dikesampingkan ayahnya, dianaktirikan dengan terang-terang, Anusapati mengorek keterangan dari Ibunya. Mendidih darah Anusapati ketika mendengar cerita tentang kematian ayah kandungnya,
Akuwu Tunggul Ametung dibunuh dengan licik oleh Ken Arok melalui menempatkan Kebo Ijo sebagai terfitnah. Maka Anusapati belajar dari Ken Arok, Anusapati meniru apa yang dilakukan mantan maling dari Padang Karautan yang menjadi ayah tirinya itu. Anusapati mengasah  Pengalasan Batil membunuh Ken Arok menggunakan keris yang sama, keris rakitan Empu Gandring, yang dilakukan itu ketika hari sedang senja. Cerita berdarah itu masih berlanjut dengan Pengalasan Batil ikut meregang nyawa ketika Anusapati membenamkan keris Empu Gandring tepat ke belahan dadanya. Anusapati melakukan itu dengan alasan yang sama seperti yang dilakukan Ken Arok pada Kebo Ijo, untuk menghapus jejak. Anusapati naik takhta dengan menjalin hubungan yang erat dengan Mahisa Wong A Teleng, adiknya yang terlahir dari perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok. Namun perjalanan pemerintahan Anusapati harus juga berakhir di ujung keris Empu Gandring. Dendam dibayar kematian, Tohjaya anak Ken Arok dari istri Ken Umang membalaskan kematian ayahnya. Terlena dalam permainan adu jago yang dilakukan di sebuah pasar, Tohjaya mendapat kesempatan melolos keris Empu Gandring dan menikamkan ke pinggang Anusapati. Darah dibayar darah, dendam harus dilunasi.
Anak Anusapati tidak bisa menerima kematian ayahnya di tangan pamannya. Anusapati bahu-membahu dengan Mahisa Cempaka,anak Mahisa Wong A Teleng melakukan perawanan hingga akhirnya Tohjaya yang tidak mampu menguasai keadaan harus melarikan diri dengan ditandu oleh para prajuritnya. Untung tidak bisa diraih malang tidak bisa ditolak, salah seorang pengusung tandunya tersandung dan ambruklah tandu menempatkan Tohjaya tidak hanya sebagai raja terjungkal dari kekuasaannya namun benar-benar sebagai raja yang terjungkal dari alat pemikulnya. Marah Tohjaya dan melampiaskannya dengan menendang prajurit itu, akan tetapi prajurit itu merasa memiliki harga diri yang tidak boleh dihinakan meski oleh seorang Raja. Dengan cekatan ia merampas keris Empu Gandring dan menebaskan pusaka itu ke perut Tohjaya. Mati Tohjaya melalui cara mengenaskan, Tohjaya melarikan diri dari Istana yang riuh oleh peperangan dalam rangka mencari selamat namun tetap saja kematian itu datang menjemputnya. Keris Empu Gandring membuktikan dendam kutukan pembuatnya.

Haruskah kutukan Empu Gandring itu tetap berlanjut?
Ranggawuni dan saudara sepupunya Mahisa Cempaka akhirnya mampu menjalankan pemerintahan atas Kutaraja yang berubah nama menjadi Singasari dengan aman tenang dan damai. Adakah hal itu terjadi setelah keris buatan Empu Gandring yang membawa  kemarahan pemiliknya telah dilarung dengan diceburkan ke puncak Mahameru yang sedang mendidih ? Setidaknya, Narasinga  dan Ratu Angabaya menjalankan pemerintahan secara bersama-sama saling bahu-membahu.
Sri Kertanegara keturunan Ken Dedes dari jalur Ranggawuni akhirnya menjadi raja yang termasyhur di sepanjang perjalanan sejarah Singasari, sekaligus merupakan Raja Singasari yang hidupnya harus berakhir juga dengan cara menyedihkan sebagai akibat dari dendam lama, kali ini bukan dendam saling bantai antar keluarga akan tetapi dari Kediri yang selalu mencari celah dan kesempatan untuk membalas apa yang terjadi di Ganter, perang yang memangkas habis kisah hidup Kediri dan Prabu Kertajaya di tahun 1222, Prabu Jayakatwang, penulis Kidung Wukir Polaman yang kini berbicara.

Ibukota Kediri sedang tidak terlindungi oleh bala tentaranya yang sedang dikirim ke ranah Melayu untuk ngelar jajahan, menundukkan beberapa negara di tempat itu dan memaksanya bersatu di bawah
panji-panji gula kelapa. Menyadarkan negara-negara di ranah Sumatera untuk bersedia bersatu baik secara sadar dan sukarela atau dengan cara dipaksa. Sri Kertanegara berkepentingan mengedepankan
persatuan dan kesatuan khususnya di wilayah Dwipantara dikarenakan peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Kala itu, Singasari kedatangan tamu tak diundang, utusan Kubhilai Khan dari Mongol yang meminta kepada Singasari agar dengan sukarela mau tunduk menjadi negara bawahan Mongol. Keinginan Kubhilai Khan itu menyebabkan Sri Kertanegara sangat murka karena merasa dilecehkan.Utusan Tartar bemama Mengkhianati dipotong telinganya dan dilukai wajahnya, yang sekaligus merupakan jawaban yang diberikan Singasari. Untuk menjamin agar jangan sampai peristiwa itu terjadi lagi, Sri Kertanegara tidak punya pilihan lain kecuali menundukkan negara-negara di wilayah Sumatera yang merupakan pintu gerbang masuk menuju Singasari. Hanya dengan mempersatukan Nusantara itulah nafsu Kubhilai Khan yang ingin melebarkan kekuasaan ke Nusantara bisa diredam. Sri Kertanegara sadar bahwa untuk menghadapi Kubhilai Khan dibutuhkan bala tentara yang sangat besar.
Keadaan negara yang sedang kosong itu dimanfaatkan oleh Bupati Sumenep, Arya Wiraraja yang kecewa karena pangkat dan jabatannya sebagai Demang dilorot oleh Sri Kertanegara. Arya Wiraraja
mengabari Jayakatwang, menyarankan Raja Kediri itu untuk melakukan serbuan mumpung Singasari sedang dalam keadaan kosong. Raja Jayakatwang yang merasa pada dirinya mengalir darah Kediri melihat kesempatan yang telah lama ditunggu. Dipimpin oleh Kebo Mundarangi , serbuan dilakukan dengan siasat membelah pasukan menjadi dua. Sebagian pasukan mengobrak-abrik Mameling di arah utara menyembunyikan pasukan yang lebih besar yang akan menyerbu Kotaraja Singasari dari arah selatan. Menantu raja, Raden Wijaya, anak Dyah Lembu Tal dan berada pada garis keturunan Mahisa Cempaka diperintahkan menghadang serbuan Jayakatwang yang tidak pernah diduga itu. Raden Wijaya memang berhasil meredam musuh di Mameling, namun yang tidak pernah diduga adalah, ketika kembali ke Kotaraja mendapati Istana telah terbakar hangus. Sri Kertanegara dan permaisuri Bajrawati gugur dalam pembantaian itu. Maka terbirit-birit Raden Wijaya bersama para pendukungnya berusaha menyelamatkan diri hingga ke Sumenep dan mendapat perlindungan Arya Wiraraja. Arya Wiraraja berotak culas atau entah apa maksudnya, ia menyarankan kepada Raden Wijaya untuk menyerah dan memohon ampun kepada Jayakatwang. Permohonan ampun itu diterima dan kepada Raden Wijaya dihadiahkan tanah Trik untuk dibuka sebagai tempat di mana ia boleh membuka sebuah wilayah. Di tanah Trik Raden Wijaya membabat hutan bersama pendukungnya. Wilayah yang dibuka itu kemudian diberi nama Wilwatikta hanya karena sebuah alasan, di tempat itu telah ditemukan buah maja yang berasa pahit. Betapa murka Kubhilai Khan mendapati ancamannya tidak ditanggapi oleh Raja Singasari yang menyatakan tidak mau tunduk menjadi 'gedibal' Tartar, tidak hanya itu, simpul syaraf kemarahannya yang paling peka tersentuh melihat utusannya dicederai. Kubhilai Khan mengirim ribuan bala tentara ke tanah Jawa untuk menjatuhkan hukuman kepada Sri Kertanegara, rombongan bala tentara itu sama sekali tidak tahu orang yang menjadi sasaran bidiknya telah tiada. Raden Wijaya yang menangkap berita kedatangan bala tentara Tartar itu bergegas menyambut mereka dan membelokkan serbuan itu ke Kediri dan berhasil meringkus Jayakatwang. Balatentara Tartar yang menyelenggarakan pesta kemenangan sama sekali tidak menyangka Raden Wijaya memberikan sebuah serangan mendadak yang sungguh menyebabkan bala tentara dari seberang lautan itu kocarkacir, ribuan dari mereka mati terbunuh. Serangan dadakan yang dilakukan dengan gemilang itu menyebabkan bala tentara Tartar melarikan diri, sebagian lain menyatakan tunduk dan tingga1 di Jawa, di antaranya bertempat di Wengker yang tidak jauh dari Pamotan.
Dengan berhasil dibalasnya perbuatan Kediri yang telah membunuh mertuanya dan telah berhasil mengusir bala tentara dari Mongol, Raden Wijaya mengumandangkan 'pranyatan kamandikan' atas berdirinya negara Majapahir. Raden Wijaya yang mengawini empat dari lima anak perempuan Prabu Kertanegara itu menyatakan dirinya sebagai Raja pertama Majapahit dengan nama Kertarajasa Jayanegara.Lembu Anabrang yang memimpin bala tentara Singosari dalam rangka pemekaran wilayah ke Sumatera terkejut mendapat Singasari telah tiada. Lembu Anbrang menyerahkan dua putri boyongan, masing-masing Dara Petak dan Dara Jingga dari Dharmasraya kepada Raden Wijaya. Yang muda dari kedua gadis itu dikawini Raden Wijaya. dari Dara Petak itulah lahir Kalagemet.

Perjalanan Majapahit ternyata tidak berjalan mulus.
Dari Tuban, Adipati Ranggalawe menyatakan rasa tidak sukanya melihat bukan dirinya yang diangkat Mahapatih padahal Ranggalawe beranggapan. ia yang lebih banyak membuat jasa daripada Nambi yang diangkat menjadi Patih Hamangkubumi itu. Namun cerita tentang pemberontakan tak hanya diberikan oleh Ranggalawe, karena Mahapatih Nambi juga terpaksa mengangkat senjata menempatkan diri berhadapan dengan Majapahit dengan membangun benteng di Pajarakan. Nambi melakukan itu sebagai akibat dari fitnah yang ditebar Mahapati yang sangat ingin menggantikan kedudukannya. Dendang makar selanjutnya juga dikumandangkan dari Lasem. Seorang anggota dari Dharmaputa Winebsuka bemama Rakrian Semi oleh sebuah alasan menyatakan memberontak dari kekuasaan Majapahit. Namun cerita tentang makar yang berbahaya adalah yang dilakukan oleh Dharmaputra Winebsuka Rakrian Kuti yang didukung oleh Rakrian Wedeng, Rakrian Pangsa, Rakrian Banyak, Rakrian Yuyu dan Rakrian Tanca. Makar itu bahkan menyebabkan Gajah Mada pimpinan prajurit berpangkat Bekel harus pontang-panting menyelamatkannya hingga ke Bedander. Gajah Mada yang kembali ke Kotaraja menggalang kekuatan dan berhasil menumpas pemberontakan Rakrian Kuti, dari kelompok Dharmaputra Winebsuka ini hanya Rakrian Tanca yang diampuni karena sangat dibutuhkan kemampuannya dalam bidang pengobatan. Namun 9 tahun setelah
pemberontakan Rakrian Kuti, Kalagemet atau Jayanegara tetap mati juga dibunuh oleh Rakrian Tanca melalui racunnya. Rakrian Tanca terhenyak ketika Gajah Mada membenamkan keris ke perutnya.
Sepeninggal Prabu Jayanegara yang tidak memiliki keturunan, maka Sri Gitarja Tribuana Tunggadewi Jayawisnuwardani secara bersama-sama dengan adiknya, Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa 4 menggelar pemerintahan bersama. Di masa pemerintahan inilah, dengan disaksikan oleh kedua Prabu Putri dan masing-masing suaminya, Raden Cakradara dan Raden Kundamerta disaksikan pula oleh mantan Mahapatih Arya Tadah yang sebelumnya menggantikan Mahapatih Dyah Halayuda, disaksikan segenap Tandha dari pipinan prajurit yang dilakukan oti Tatag Rambat Bale Manguntur. Gajah Mada yang diangkat menjadi Mahapatih menggantikan Arya Tadah mengumandangkan sumpah yang menggegerkan, sumpah sakti yang menjadi pijakan awal untuk membawa Maajapahit menuju kejayaan gemilang, Sumpah Palapa, yang kemudian menjadi pijakan semangat untuk mempersatukan seluruh wilayah Nusantara. Sebagai orang kedua di Majapahit, Gajah Mada mendapat gelar kehormatan sang Mahamantrimukya Rakrian Mapatih Mpu Mada.
Dengan menggenggam semangat Camunda dan menggusur semangat aksobya Gajah Mada berhasil membawa Nusantara menjadi satu kesatuan yang utuh, beberapa negara tetangga yang saling bermusuhan antara satu dan lainnya dihimbau untuk mau bersatu bahu-membahu menghadapi musuh yang sama, Tartar yang berusaha mati-matian menyelinap kembali menanamkan pengaruhnya. Bagi yang bersedia bersatu dengan suka rela diterima dengan terbuka, namun kepada negara yang membangkang apa boleh buat harus digebuk. Bali diserbu, demikian pula dengan Dompo di Sumbawa dan Tumasek di ujung barat yang di ujung hari bernama Singappura, diserang. Namun perjalanan Gajah Mada tidaklah mulus tanpa batu sandungan. Bahwa untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara apabila perlu memang harus dengan pemaksaan. Gajah Mada kecewa karena di pekarangan sendiri, Sunda Galuh2 justru tidak mau menyatakan bersatu. Hubungan kekerabatan yang ada menjadi perintang bagi Gajah Mada untuk memaksa Sunda Galuh di Kawali untuk tunduk. Penyerbuan ke negara itu ditentang oleh banyak kerabat Istana berdasar sebuah alasan, Raden Wijaya terlahir dari perkawinan Dyah Lembu Tal dengan bangsawan Sunda. Adalah Prabu HayamWuruk yang ketika itu berusia 23 tahun merasa membutuhkan seorang permaisuri, dari banyak pilihan jatuhlah pada Dyah Pitaloka Citraresmi yang cantik jelita. Pinangan atas Dyah Pitaloka, anak Prabu Maharaja Linggabuana dari Sunda Galuh dimanfaatkan oleh Gajah Mada. Pesta perkawinan besar-besaran itu diselenggarakan di Majapahit dengan alasan diselenggarakan bersamaan dengan digelarnya Pasewakan yang akan dihadiri oleh segenap utusan negara. Gajah Mada menghadang rombongan tamu yang telah berdandan cara pengantin itu dan mensyaratkan segenap tamu dari Sunda boleh naik ke Tatag Rambat Bale Manguntur apabila sebelumnya menyatakan tunduk menjadi negara bawahan Majapahit. Rombongan dari Sunda Galuh terhenyak dengan kehormatan yang bagai
dikoyak. Tidak ada pilihan lain  bagi mereka kecuali menjaga kehormatan.

Lengser
Melihat di mana-mana prajurit telah mengepung, prajurit Sunda yang jumlahnya tak lebih dari seratus orang itu mengamuk. Prabu Maharaja Linggabuana terbunuh disusul oleh Istrinya yang lampus diri.
Dyah Pitaloka dengan senang hati dan tanpa keraguan mengikuti jejak ibunya. Itulah saat di mana Prabu Hayam Wuruk benar-benar terpukul dan menyalahkan Gajah Mada, hubungan menjadi sangat memburuk Gajah Mada yang tahu diri melepaskan jabatan dan pilih menyepi Madakaripura. Hayam Wuruk kehilangan gairah hidup karena gadis yang didamba berakhir kisah hidupnya dengan cara yang sangat menyedihkan. Ia jalani perkawinannya dengan Sri Sudewi, adik sepupunya sendiri dengan perasaan hambar meski dari perkawinan itu lahir Kusumawardani. Hayam Wumk, akhirnya menemukan cintanya kembali kepada seorang gadis sederhana, ia bukan siapa-siapa, darahnya tidak berwarna biru. Dari perkawinan dengan Biniaji itu lahirlah Breh Wirabumi yang berwajah tampan karena berasal dari bibit Ibu yang cantik dan ayah yang tampan, hanya sayang, seorang pujangga yang menulis Serat Damarwulan, pujangga yang menempatkan diri berpihak pada isrtri tua, menulis kisah yang buruk atas sosok Breh Wirabumi, yang diberi nama ejekan Minak Jingga. Maka perebutan kekuasaan yang terjadi itu menjadi awal Perang Paregrek, perangnya para ingkang samya egrek.

Kamis, 09 Mei 2013

Sisi Lain dari Perth, Waverock.

Ke Australia tidak harus ke Sidney atau Melbourne yang letaknya berada di sebelah timur benua tersebut. Selain jaraknya relatif lebih jauh,dan tentunya korelasinya dengan biaya transportasi, tempat-tempat wisata yang terletah di sekitar kota Perth tidak kalah bagus untuk dikunjungi. Dengan lama penerbangan sekitar 3-4 jam dari Jakarta,tentunya akan menghemat waktu dan biaya yang bisa dilakukan. Perth merupakan ibukota Australia Barat yang mempunyai luas wilayah 30% dari luas wilayah dari benua Australia dengan jumlah penduduk 2 juta-an.

Sebenarnya tersedia banyak paket-paket wisata yang tersedia promosinya di konter-konter hotel, travel dan tempat-tempat umum lain. Paket a whole day menawarkan kunjungan wisata dalam satu hari penuh mengunjungi 3-4 tempat wisata, tentu dalam arah jalur transportasi yang sama. Harga yang ditawarkan beragam tergantung lokasi, akomodasi yang disediakan. Harga bervariasi mulai dari Aus$150 ~200-an. Biasanya berangkat mulai dari jam 08.00 wib dan dijemput di hotel, kemudian di kumpulkan dengan wisatawan-wisatawan yang lain dan dengan menggunakan bus yang besar diberangkatkan bersama-sama ke tempat tujuan yang sudah ditentukan. Petugas resepsionis di hotel-hotel dengan senang hati memberikan bantuan dan pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan tujuan wisata kita. 

Sewa Mobil. Diantara banyak tempat-tempat wisata yang ada, terdapat 2 tempat wisata alam yang menarik untuk dikunjungi, antara lain Wave Rock dan Pinnacle. Keduanya terletak yang berseberangan dari kota Perth, Wave Rock di sebelah selatan-timur, sedangkan Pinncale di utara. Jarak masing-masing relatif hampir sama, 350 km sekali jalan. Sehingga dengan waktu yang satu hari penuh-pun tidak mungkin kalau kedua tempat tersebut harus dikunjungi. Dari brosur-brosur yang tersebar-pun tidak ada paket wisata untuk mengunjungi kedua tempat dalam satu hari penuh. Apa boleh buat, keputusan harus dilakukan untuk menentukan salah satu dari kedua tempat tersebut. Dengan berbagai pertimbangan yang matang, maka diputuskan untuk mengunjungi Waverock yang letaknya relatif  berada di daratan, tidak terlalu dekat dengan pantai. Keputusan selanjutnya adalah transportasi untuk menuju ke lokasi. Dengan pertimbangan keleluasaan dan fleksibilitas dalam perjalanan, kami memutuskan untuk menyewa mobil. Cukup banyak pula brosur-brosur yang menawarkan penyewaan mobil dengan segala merk dan kapasitas serta jenis mobil. Biaya relatif murah, untuk jenis kendaraan sedan (Hyundai tahun 2006) dipatok harga Aus$165 plus asuransi yang ditawarkan dengan dua pilihan, Aus$30 dibayar langsung (tidak dapat refund) terbebas dari segala kerusakan yang terjadi selama masa sewa. Atau dibayar kemudian apabila terjadi kecelakaan dengan membayar Aus$300, jika tidak terjadi kecelakaan tidak akan dikenakan pembayaran lagi. Tepat jam 9.30 waktu setempat kunci mobil diserahkan setelah urusan administrasi pembayaran dan peng-cek-an SIM di entry di database kantor penyewaan.  Pembayaran hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit, tidak menerima pembayaran secara tunai. Demikian juga pembayaran untuk kekurangan bahan bakar (unlead). Keadaan bahan bakar dalam posisi full tank, setelah diserahkan terimakan akan di’ukur’ berapa kekurangan bahan bakar yang harus dibayar.Masalah muncul karena peta yang tersedia di mobil hanya untuk dalam kota saja, sedangkan peralatan GPS yang biasanya tersedia di setiap mobil,ternyata tidak ada. Tak kurang akal, dengan memanfaatkan fasislitas kamera yang tersedia di handphone dan peta wilayah Australia Barat yang terpampang di ruangan resepsionis, dilakukan pengmotretan peta menuju lokasi dengan bebarapa kali secara berurutan. Jadi-lah Google Map ala manual. Lumayan bisa untuk orientasi.. Walaupun sistem transportasi lalulintas tidak berbeda dengan di tanah air (jalur kiri dengan stir kanan), orientasi arah menuju luar kota merupakan tantangan sendiri.

Walaupun dalam keseharian pada acara-acara rutin biasanya menggunakan transportasi umum dengan jalur-jalur yang tertentu, mengemudikan mobil sendiri di negara orang memerlukan tantangan dan kejelian tersendiri . Dan tentu saja harus  extra hati terhadap rambu-rambu lalulintas yang ada. Maklum ketidakdisispilnan dalam berkendara di tanah air takut kebawa di negara tetangga. Walaupun tidak dijumpai polisi lalulintas (apalagi polisi tidur..)  di setiap perempatan jalan, yang lazim terjadi dit anah air. Banyaknya papan-papan hijau yang terpasang disemua perempatan jalan sangat membantu siapapun pengendara yang buta jalan. Salah satu hal yang membedakan dengan kondisi lalin di tanah aiar adalah jarang terdapat tanda lalulintas untuk arah balik (U-turn),

sehingga kalau salah belok harus mencari perempatan dan mengikuti rute kotak untuk menuju perempatan asal.Untungnya desain penataan kota hampir semua; wilayah pemukiman-perkantoran berbentuk blok-blok, sehingga sangat memudahakan bagi pengendara yang salah jalan. Dengan mengikuti logika berpikir bidang persegi panjang, posisi awal kesalahan dapat terlacak dengan cepat. Ada beberapa cara untuk menuju kota Hyden, distrik terdekat dengan Wave Rock, yaitu ke arah selatan melewati jalan nomor 30 menuju kota Wiiliams-Narrogin-Wickepin-Jitarning-Kulin-Kondinin-Kariganin-Hyden. Atau dengan waktu tempuh lebih pendek melalui  jalan nomor 40 ke arah  tenggara menuju kota Brookton-Corrigin-George Rock-Kondinin-Karigarin Hyden.  Pilihan lain keluar kota melalui jalan nomor 120, melawati York, bertemu dengan jalan nomor 40 di kota Brookton. Rute terakhir inilah yang ditempuh oleh penulis dan rombongan. Arah terdekat yang harus menuju arah timurpusat kota dengan melewati Graham Farmer Fwy-Great Eastern Hwy-Midland-Great Southern Hwy-Mundaring-York. Perjalanan sampai dengan York banyak dijumpai rumah-rumah pinggir kota dengan halaman luas, ciri khas kota daerah pedesaan.  Kecepatan kendaraan juga dibatasi 60 km/jam,cukup banyak tanda lalin warna biru yang menunjukkan batas maksimum kecepatan. Jalur hijau memisahkan jalanyang menuju dan meninggalkan kota Perth. Semua perempatan jalan terpasang lampu lintas. Karena banyak sekali dijumpai perempatan jalan maka kecepatan kendaraan-pun terbatas.Apalagi pada akhir pekan ini banyak sekali komunitas tertentu yang memanfaatkan jalan raya ke luar kota sebagai bagian dari aktifitas mereka. Seperti dijumpai penulis, serombongan komunitas penggemar sepeda santai yang terdiri dari anak-anak, remaja dan kakek dalam rombongan ±40 orang dengan dikawal mobil pengawal di depan dan mobil penyapu di belakang selalu mengingatkan kepada pengendara lain jangan menyalip jika keadaan tidak aman, padahal panjang rombongan bisa mencapai 200 meter sedangkan jalan hanya terdiri dari satu jalur.Selepas memasuki daerah pedesaan sepanjang; jalan nomor 40 pemandangan sebagian besar monoton sepanjang 300 kilometer, yaitu berupa hamparan perkebunan dengan berbagai macam jenis tanaman, biji-bijian, sereal danlain-lain. Rumah-rumah pedesaan ditandai dengan kotak pos yang berjejer, sedangkan rumah berada jauh di dalam melewati jalan tanah satu jalur. Petani-petani mempunyai perkebunan dengan dengan luas areal yang luas 10 ~ 400 hektar. Gudang atau bangunan untuk penunggu rumah terletak di tengah-tengah bidang tanah, sehingga memerlukan waktu yang cukup untuk menuju bangunan dari jalan pintu masuk. Yang unik segerombolan domba-domba dibiarkan menggelandang dalam wilayah areal perkebunan tanpa ada penunggunya. Di beberapa tempat terpampang gambar kanguru (roo)-next 23 km. Untuk menghindari terjadinya lalulalang kanguru yang melintas jalan-jalan raya, dipasang pagar-pagar kayu setinggi 1~1,5 meter. Di setiap desa-desa yang dilalui selalu ditemukan petunjuk tentang lokasi wisata dan tempat-tempat strategis dalam suatu rest area.
Tentu saja sangat membantu bagi kami yang baru perdana dan mungkin terakhir menuju tempat-tempat seperti ini.Sebagian besar jalan hanya terdiri dari dua jalur untuk dua arah dengan arah lurus, jarang sekali terdapat belokan. Sehingga apabila kita  berada di tengah jalur memandang kedepan akan tampak satu titik yang merupakan ujung jalan tempat kita berdiri.  Walaupun bukan jalan tol, dengan lebar  antara 3~4 meter setiap jalur,kondisi jalan sangat mulus dan tidak terlihat adanya tambalan seperti layaknya  banyak dijumpai di jalan-jalan sepanjang Pantura pulau Jawa. Beberapa mobil trailer yang bergerak dengan roda 8~10 ban meluncur dengan santai dan menyalakan klakson seolah-olah menyapa para pejalan yang berpapasan.


Camping Ground. Tak terasa lebih dari tiga jam perjalanan sudah dilalui. Menjelangwaktu Ashar, desa Kondinin (sesama rombongan sering memlesetkan menjadi Konidin) tampak didepan mata. Pengemudi sudah berganti sebanyak tiga kali, waktunya makan siang dan isi bahan bakar Tepat di perempatan Gordon Street  terdapat stasion bahan bakar sekaligus tersedia motel, restorant, toko kelontong dan tentu saja WC umum. Harga premium Aus$ 1.39/liter. Setelah mengisi 23.5 liter untuk menempuh jarak sekitar 300 kilometer (65 kilimeter lagi sampai lokasi yang dituju) diteruskan dengan memesan ayam , chips (kentang goreng) dan coba sebagai pengganjal makan siang seharga Aus$ 13. Terlihat dua orang polisi sedang berdiri santai di ujung jalan, walaupun tidak ada lalulintas yang melintas di jalan desa tersebut, kecuali kami. Untuk menghemat waktu kami makan siang sambil jalan. Tidak banyak pemandangan yang berbeda dengan sebelumnya.
Papan yang menunjukan arah Wave Rock terpasang di beberapa tempat di kiri maupun kanan jalan, menunjukkan lokasi yang dituju sudah semakin dekat. Sampai akhirnya pada papan setinggi satu meter dengan tulisan Wave Rock County-Welcome You di sebelah kiri jalan, menunjukkan tujuan akhir perjalanan. Pengunjung diminta melapor di ‘Booking Office’. Setelah membayar biaya masuk sebesar Aus@15 untuk mobil (orang-nya gratis), pengunjung dipersilahkan memarkir mobil di tempat yang tersedia dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Tersedia banyak sovenir terpajang di rak-rak yang tersusun rapi di dalam kantor pengelola. Harga relatif lebih mahal sedikit dengan harga-harga di kota. Tersedia beberapa fasilita ; wisata antara lain, perkemahan, treking, motor trail dan lain-lain. Beberapa mobil caravan sudah terparkir rapi di lapangan perkemahan, tenda-tenda sudah terpasang. Bahkan sebagian keluarga sudah menggelar karpet dan peralatan gril untuk persiapan makan malam bersama. Dan tentu saja api unggun. Secara teritorial Wave Rock berada di wilayah desa Hyden. Luas areal gugusan batuan yang menjadi andalan untuk bisa langsung di treking yaitu ± 15 ha. Keunikan yang utama dari gugusan batu ini yaitu adanya bentukan topografi hampir vertikal menyerupai gelombang laut berselang-seling melingkar sepanjang 4 kilometer. Pada beberapa tebing terlihat landai sehingga memungkinkan pengunjung untuk naik ke puncak tebing dan di beberapa tempat tampak curam dengan arah menonjol keluar pada bagian atas, sehingga mustahil pengunjung dapat naik sampai atas. Di tempat-tempat tertentu terpampang larangan menggunakan sepatu yang menggunakan hak tinggi untuk menaiki tebing. Pada beberapa tebing yang curam ketinggian bisa mencapai 14-15 meter dengan memanjang sampai 110-an meter.
Di sisi sisi sebelah barat yang menghadap ke utara memajang sampai dengan 150-an meter.
Yang menarik diantara dua tebing yang merupakan satu kesatuan hamparan batuan terdapat cekungan yang difungsikan sebagai penampung air minum dengan kapasitas ± 30000 meter kubik. Setelah menaiki tangga yang disediakan,terhampar dataran yang cukup lapang seluas lapangan sepak bola. Di ujung seberang adanya sekumpulan batuan sebesar mobil berserakan membentuk pemandangan yang unik. Terdapat satu batuan dengan posisi menggantung sehingga seseorang seolah-olah menahan batu tersebut untuk tidak jatuh. Unik. Ke arah utara terhampar pemandangan gurun dengan diselingi semak-semak pohon. Tampak dikejauhan jalan raya yang raya salah satu tranportasi untuk menuju Kalgorlie, kota yang terkenal karena pertambagannya di tengah-tengah benua Australia. Pada pinggir tebing batuan yang kemiringannya curam dipasang pagar pengaman setinggi 50 sentimeter yang terbuat dari beton. Wave Rock merupakan salah satu bagian dari gugusan batuan di bentangan wilayah Hyden yang terbentuk pada jaman  Arkaeozoikum yaitu 2500-300 juta tahun lalu. Diperkirakan pada saat itu belum ada kehidupan dan keadaan kulit bumi masih panas. Warna permukaan batuan dominan coklat dan di beberapa tempat yang curam di selingi warna putih hitam yang merupakan bagian proses erosi yang sudah berlangsung jutaan tahun. Sekilas formasi batuan hampir mirip dengan the wave yang terletak di Utah, AS. Menjelang senja merupakan pemandangan yang sangat eksotis; ke arah ufuk barat, sembari bersyukur mengagumi kebesaranNya dalam menciptakan bumi dan segala isinya.

Senin, 01 Oktober 2012

Negeri Paman Ho

Bandara Internasional Ho Chi Minh

Dalam dua kesempatan yang berbeda, kunjungan ke negeri Paman Ho, plesetan dari Uncle Sam, negeri yang menaklukan negeri Paman Sam, terkesan tidak pergi ke  luar negeri. Perawakan dan bentuk muka yang melayu faces, tidak jauh berbeda kecuali setelah berbicara langsung atau mendengar pembicaraan masyarakat lokal. Jejak-jejak peperangan panjang karena perbedaan ideologi pemimpinnya, terlihat pada beberapa situs sejarah kelam yang dikelola dalam wisata. Jejak-jejak sejarah kelam tampak dominan di eks Vietnam Selatan, dulu ber-ibukota di Saigon, sekarang diganti
nama menjadi Ho Chi Minh. Presiden Vietnam Utara yang makamnya diawetkan sampai sekarang dan ditempatkan di muselium di Hanoi (dulu Vietnam Utara). Dua kota besar ini di Vietnam dapat dicapai dengan beberapa pesawat dari Jakarta (ke Ho Chi Minh) atau Changi (ke Hanoi).

Ho Chi Minh City
Nama baru dari kota Saigon, eks ibukota Vietnam Selatan,merupakan kota yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.
Kathedral Nore Dame
. Vietnam Selatan merupakan eks jajahan Perancis. Di beberapa tempat masih terdapat sisa-sisa nama jalan dan bangunan bergaya Eropa. Sebut saja bangunan kantor pos, gereja kathedral dan beberapa bangunan pemerintah dengan corak dominan warna kuning. Notre Dame Cathedral, mengingatkan  pada Notre Dame de Paris, yaitu katedral berasitektur gothic di sebelah timur Île de la Cité di Paris. Terlihat banyak murid sedang praktek menggambar surealistik bangunan ini. Kantor pos Vietnam (Buu Dien), contoh arsitektur lain peninggalan masa penjajahan.
Kantor Pos (Buu Dien)
Masih digunakan fungsinya sebagai kantor pos dan toko souvenir serta sejarah bangunan dalam bentuk keterangan dan lukisan di beberapa dinding.
Bekas kantor presiden Ho yang ditata apik dengan berbagai koleksi souvenir. Diantaranya kaki gajah yang digunakan sebagai tong untuk tempat barang-barang, mengingatkan pada koleksi musium kerajaan Johor Baru.
Museum Istana
Jika ingin souvenir oleh-oleh kerabat dapat diperoleh di pasar Cho Ben Than. Masih di dalam kota,terdapat beberapa museum.Kemelut pengaruh perubahan dan perebutan ideologi liberal ala amerika dan komunis ala china, berbuntut invasi tentara US (era Nixon) ke Vietsel tahun 1975an. Perang fisik dengan berbagai media senjata dan peralatan perang yang standar dan yang mengerikan bisa disaksikan bekas-bekasnya di beberapa Museum Perang.
Cho Ben Than
Cunchi, terletak 75 km di luar kota Ho Chi Minh, memberi gambaran kepada dunia tentang bentuk-bentuk strategi perang darat dengan segala atributnya. Jebakan mematikan, dengan varian-nya, perlindungan diri dari serangan udara,
dahsyatnya bom dari pesawat B52 ditampilkan dalam bentuk kilas balik perjalanan rakyat Vietnama dalam areal seluas +/- 25 ha.
Cunchi, Mesuem Lapangan Perang Vietnam
Paket perjalanan dengan menggunakan bus dengan seorang guide dengan membayar 200.000 dong. Sebagai bagian dari promosi wisata, bus rombongan berhenti di industri merangkap show room souvenir. Uniknya pengrajinnya adalah korban disabel yang lahir karena efek Vietnam Rose.
Dengan tiket 20.000 dong seorang guide akan mendampingi pengunjung untuk menjelaskan dalam bahasa Inggris. Masih dalam suasana masa lampau yang sama, terdapat War Reminans Museum. Dahsyatnya bom kimia dalam program Agent Orange yang berdampak pada ketidaknormalan (cacat genetis) bayi-bayi yang lahir (Vietnam Rose).
War Reminant Museum
Keunikan lain dari kota ini adalah semrawutnya motor roda 2 sebagai moda transportasi berbaur dengan sedikit kendaraan roda 4. Walaupun demikian, pengamatan pada jalan padat dengan taman di
depan pasar Cho Ben Than tidak ditemukan kemacetan yang berarti, walaupun sebagian pengendara mengabaikan laampu lalin.
Saling pengertian. Yang lain, kabel listrik dengan kesemrawutan yang lain, Tidak jelas, apakah karena kondisi ini, beberapa souvenir kota Saigon menggambarkan situasi ini.

Hanoi.
Jika kota terbesar di selatan Vietnam, Ho Chi Minh, begitu pesat dengan pembangunan gedung-gedung modern, Hanoi terlebih lebih klasik dengan peninggalan bangunan paninggalan penjajah Perancis.
Moseleum Ho Chi Minh, bangunan berbentuk kotak persegi setinggi 20-25 meter, tempat bersemayam jenasah mendiang presiden Ho yang di balsem, seperti makam Lenin di Moskow. Sayang sekali, pada saat itu museleum ditutup karena jenasah sedang dalam proses pembalseman ulang. Di belakang taman muselium terdapat taman dengan pagoda satu pondasi (one pilar pagoda).
Taman kota dengan kolam, Hoan Kim, walaupun bukan week end, dimanfaatkan warga setempat untuk bersantai-santai.
Di salah bagian dari kolam terdapat pertunjukan wayang air, hanya untuk pertunjukan malam hari.
Museum Ho Chi Minh
Katedral dengan arsitektur gotic mirip dengan notre dome, tampak kusam tanpa cat, terlihat kusam. Tidak jelas apakah disengaja, sehingga tampak unik. Di tengah mayoritas penduduk beragama Budha,
Kathedral Hanoi
di daerah kota tua, terletak di Hang Luoc st.di tengah-tengah pertokoan yang ramai pada malam hari (night market).
Masjid Al Noor Hanoi, Huan Luoc
Masjid dengan takmir seorang keturunan Pakistan, sepi, sholat Isya hanya diikuti 4 jamaah saja. Uniknya ada tulisan Tiada panggilan sepenting panggilan Illahi. Jelas,
pesan ini ditujukan bukan untuk WNV, Warga Negara Vietnam.
Wisata alam yang unik lagi adalah Ha Long Bay. Terletak di teluk Tonkin,
Ha Long Bay
mendekati perbatasan dengan China, merupakan kawasan  wisata laut seluas 1500 km2 dengan adanya duaribu-an pulau-pulau kecil yang tersebar.
Sebagian besar tidak berpenghuni karena kecuramannya, sebagian digunakan sebagai gardu pandang yang berada di puncak. Perjalanan wisata dibandrol dengan harga 75-120 $US untuk dua hari. Hampir setiap hotel menyiapkan paket wisata ini. Jam 08.00 keesok harinya, penjemput dari travel agent sudah datang. Peserta dikumpulkan dulu di kawan Huan Loc, bersama dengan peserta lain menuju pelabuhan Bay Tham Marine, berjarak 170 km ke arah timur. Menggunakan mini bus ditempuh selama 2 jam. Seperti biasa, istirahat di Thanh Dong, workshop dan penjualan souvenir khas Vietnam. Perjalanan menggunakan perahu cruize yang cukup bersih dan lapang, kamar tidur dengan kamar mandi sendiri. Cuaca pagi cerah, perjalanan selama 3-4 jam ke arah utara.Eclipse, nama cruize yang menjadi host perjalan wisata ini.
Rupanya banyak sekali agen-agen wisata yang memberikan paket ke Ha Long Bay, dan dikelola secara profesional. Paket wist termasuk wisata kano, dinner ala western, breakfast dan lunch. Sensasi Halong Bay memang luar biasa, unik, hanya beberapa tempat yang bisa menyaingi, satu diantaranya Raja Empat. Salah satu obyek wisata yang diakui Unesco.
Pemukiman pekerja wisata layaknya kampung laut menjadi tempat transit sebelum wisata kano. Rombongan diberi waktu satu jam untuk menikmati kano sendiri-sendiri. Walaupun seumur-umur belum pernah menggunakannya, tidak terlalu sulit untuk melakukan olahraga air ini. Asik. Menjelang magrib, pemandu mengajak rombongan menuju cruize untuk persiapan mandi untuk dinner resmi. Pembagian kamar sesuai dengan jumlah tamu. Semua tamu rombongan pelajar-pelajar bule couple, kecuali penulis. Paket dinner didesain resmi ala western dengan urutan hidangan awal sampai penutup.
Kagok saja bagi kita yang tidak biasa. Basa-basi ngobrol asal-asal, dilanjutkan dengan menikmati malam di tengah deretan pulau-pulau kecil dan kerlipan lampu-lampu dari cruize lain yang sedang sandar jangkar.Suasananya santai...
Hari kedua di cruize, setelah breakfast pengunjung diantaer ke goa yang berada di salah satu pulau,  Hang Su Sot. Tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan goa Gong di Pacitan. Bedanya disini
sudah dikelola secara profesional dan terintegrasi dengan baik.
Berakhir sudah perjalanan di Hanoi, saatnya kembali ke tanah dan kerja rutin as usual.