Melanjutkan amalan-amalan selama
bulan Ramadan, penting untuk muhasabah
diri dan mengingatkan bahwa amal yang istiqomah, walaupun sedikit merupakan
amalan yang lebih dicintai di sisi Allah, Dan telah menceritakan kepada kami
Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada
kami Sa'd bin Sa'id telah mengabarkan kepadaku Al Qasim bin Muhammad dari
Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan)
meskipun sedikit." (HR Bukhari Muslim no.6465).
Dalam Al Qur’an, ayat-ayat yang
menjelaskan tentang paket-paket ibadah dan amalan-amalan Ramadan tercantum pada
Surat Al Baqarah dari ayat 183 sampai dengan 186, dan berisi tujuan dari
diperintahkan orang beriman untuk berpuasa, yaitu . menjadikan pribadi muttaqin
(QS 2: 183), syakirin (QS 2:185) dan rasidin (QS 2: 186).
Terdapat dua diksi yang menarik
untuk menjadi perenungan, yaitu
a. Aamanu, puasa hanya diperuntukan untuk orang-orang yang beriman saja. Bagi orang-orang yangmerasanya dirinya tidak beriman, tidak ada keweajibana baginya untuk berpuasa.
b. La'allakum, berisi tentang harapan, artinya tidak banyak yang
orang-orang berimana yang mampumeraih tujuan berpuasa itu, tergantung usaha dan kesungguhan
masing-masing.
Mengapa untuk mencapai takwa harus berpuasa lebih dulu ?
Manusia terdiri dari jasad dan rohani yang keduanya memerlukan nutrisi.
Jasad digerakkan oleh nafsu sedangkan rohani digerakkan oleh qolbu/ hati.
a. Jenis-jenis nafsu yang selalu hadir di jasa manusia
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53)
2. Nafsu Lawwamah (النفس اللوامة), adalah jiwa yang suka mencela, baik diri sendiri (lalai dari kewajiban) maupun mencela orang lain saat berbuat ketaatan.
Allah berfirman:
لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Aku bersumpah demi hari kiamat, dan Aku bersumpah demi jiwa yang suka mencela.” (QS. Al-Qiyāmah: 1–2)
3. Nafsu Mutmainnah (النفس المطمئنة) , adalah jiwa yang tenang, damai, dan tenteram dengan ketaatan.
Allah memujinya dalam firman-Nya:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Hai
jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(QS.
Al-Fajr: 27–30)
b. Jenis-jenis kondisi qolbu :
1. Qolbun mayyit atau hati yang mati, yaitu orang yang jahatnya lebih jahat dari binatang sebab jahatnya menggunakan akal. Kondisi hati ini juga tidak memiliki kehidupan dan tidak mengenal Tuhannya. Orang dengan hati ini maka akan memuaskan apa yang disukainya.
2.
Qolbun maridh atau
hati yang sakit, yaitu walau dia bisa saja beriman, tapi penyakit hatinya
banyak. Ciri khasnya tidak pernah tentram, galau, was-was, cemas, tidak
menikmati hidup. Orang dengan hati yang sakit memiliki perasaan iri hati,
arogan, sombong, ujub, takabbur dan penyakit hati yang lain (QS Al Baqarah
[2]:10)
3. Qobun salim, yaitu orang yang hatinya bersih dan mulia. Orang
yang bahagia hidupnya karena tidak ada penyakit di hatinya. Hati yang sehat dan
memiliki kesempurnaan serta kekuatan sesuai dengan fungsi yang sebagaimana ditetapkan-Nya (QS Soffat [37]:10)
Untuk mengendalikan keduanya, jasad dan rohani, haru diberikan nutrisi yang seimbang. Hanya saja, banyak kebanyakan kita dominan dan fokus pada nutrisi jasmani, dampaknya jasadnya dipenuhi dengan nafsu amarah dan hatinya bagaikan mayit, mati dan tidak ada kehidupan apalagi menggunakan akal dalam menggunakan fungsi- fungsi jasad dalam bersikap dalam kehidupan atau mengendalikan hawa nafsu.
Puasa adalah aktifitas untuk mengendalikan jasad, dengan mengharamkan suatu yang dihalalkan (pada waktu-waktu tertentu). Sekaligus memberi nutrisi hati dengan bersifat sabar, menahan nafsu amarah, bersifat jujur dan menimbulakan rasa kepedulian kepada sesama dan rasa empati.Muttaqin
Memandang khitaban dari surat
Al-Baqarah ayat 3-4, yaitu ciri-ciri orang muttaqin yaitu yang melaksanakan a) shalat,
b) berinfaq dan c) meyakini turunnya Al-Quran sebagai petunjuk.
1. Melaksanakan shalat, dalam bulan Ramadhan, segala keistimewaannya, kita tidak hanya diminta oleh Allah untuk memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan shalat fardu saja, tapi kita diharapkan untuk bisa juga mempertimbangkan dan memperhatikan shalat-shalat sunnah. Kenapa orang muttaqin adalah orang yang yuqimu nassalah. Orang yang tidak pernah memperhatikan tidak hanya hal-hal yang fardu, tapi juga diharapkan hal-hal yang sunnah. Alhamdulillahi Rabbil Alamin.
Dalam satu hadist Rasulullah SAW bersabda, dikatakan oleh sahabat Ibnu Abas, Nabi Muhammad itu adalah orang yang paling dermawan. Di bulan Ramadhan kedermawanan itu bertambah, ibaratnya hembusan angin (HR Muslim no. 2308).
Karena orang yang terus mendengarkan hati dia
adalah pribadi yang akan mencapai derajat ketakwaan kepada Allah SWT.
Ucapan terima kasih atau
alhamdulillah karena ada sesuatu yang diterima dalam bntuk hadiah atau
kenikmatan dunia. Puasa Ramadhan menjanjikan hadiah, yaitu kegembiraan berupa :
a. saat
berbuka puasa dan
b. turunnya
Al Qur’an, sebagai heart to heart advice, nasehat (mau’idah) dari hati ke hati,
yaitu tutun karunia dan rahmat Allah yaitu
memberi pelajaran, penyembuh
penyakit yang ada di dada (hati), dan petunjuk & rahmat (QS Yunus
[10]:57-58)
c. mengumandangkan
takbir, sebagaimana Rasul & para sahabat bertakbir saat fatkul Mekkah,
sebagai ekspresi rasa syukur menerima hadiah dari Allah.
Takbir dalam bentuk lisan
& yg lebih penting takbir hati, karena sembuhnya hati, nafsu amarah sebelum
ramadhan berubah menjadi nafsu mutmainah.
d. memaknai
takdir, sampai pasca Ramadhan kondisi masih sehat, Maknanya masih nutrisi jasad
yang kita dikosumsi yang notabene adalah makanan dari bumi.
Rasid yaitu yang lurus, fokus pada jalan yang lurus. Ciri yang utama adalah banyka meminta, maknanya orang yang paling dekat akan sering & selalu minta karena tidak ada lagi sekat diantaranya. Sehingga bulan Ramadhan disebut sebagai syahrud du’a (bulan penuh doa)
Contoh :
Rasul dalam kesehariannya tidak lepas dari permintaan dalam doanya.
Istikomah
(QS Hud [11]:112)
Inti dari ayat ini adalah istikomah dalam setiap amalan. Rasul mengerti betul bahwa aktifitas yang dilakukan terus menerus dan bersinambungan tidak mudah. Namun demikian, walau ini pekerjaan yang berat Allah memberikan tips untuk mampu melakukan.
a. Berdoa seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw :
b. Melakukan amalan seperti istighfar 70-100 kali setiap hari dapat membantu menjaga istikomah
c. Konsistensi memohon perlindungan Allah dari tergelincir, latihan
selama 20-60 hari, serta menanamkan kebiasaan adalah kunci keberhasilan.
d. Hati manusia seperti bulu yang gampang tertiup angin, membutuhkan
latihan dan usaha terus-menerus, bahkan sampai 20-60 hari agar menjadi bagian
dari diri.


