Bapak Munggah Kaji
Sebuah
perjalanan ritual ibadah haji Bapak/Ibu Sutopo
1. Medio Maret 2002/ Dzulhijjah 1422 H
[hardcopy]
2. Medio April 2026 / Dzulhijjah 1447 H
[Hardcopy + Softcopy + Flipbook)
Bapak Sutopo (alm) bin Sargiman
(alm)
Lahir : Gundih, 11
Nopember 1931
Wafat : Malang, 2
Desember 2007
Ibu Sri Rusmiyatin
(almh)
binti Martosuwarno
(Alm)
Lahir : Gombong, 2
Agustus 1937
Wafat: Jakarta, 11 Januari 2007
|
||||
|
5 Berangkat ke Jakarta Kebiasaan bapak-ibu , kalau akan bepergian untuk
waktu yang cukup lama, biasanya nengok cucu-cucu di Jakarta, menitipakan
sebagian barang & benda-benda berharga kepada saudara/ tetangga yang
amanah. Keamanan rumah dititipkan ke Tiarto, suami yu’ Toem.
Mobil dititipkan ke mas Hedi, jalan Mayang 6, untuk dipanasi mesinnya,
setidaknya 2-3 hari sekali, sekaligus memeriksa air radioator. Maklum mobil
sudah butut. Surat surat penting dititipkan ke bu Djahwoto,
tetangga jalan Mayang no 9, depan rumah. Perhiasan-perhiasan yang cukup berharga dititipkan
ke Bude Sup, istrinya alm mas Sutejo di Klojen. Dengan perasan pasrah, kami sampaikan
barang-barang tersebut untuk dititipkan. Untuk anak cucu ibu membelikan oleh-oleh kesukaan
yaitu keripik singkong Miroso dan keripik tempe Serayu.
Hari Senin tanggal 14 Januari 2002 jam 12.30 wib, bapak ibu berangkat dari rumah dengan menumpang dua becak
menuju agen bus Safari Dharma Raya di jalan Dr. Cipto, dekat pasar Klojen.
Jaraknya lebih kurang 3 km.
Jam 14.00 wib bus berangkat meninggalkan kota
Malang tercinta menuju Jakata, kota demontrasi karena sering terjadi demo.
Alhamdulillah perjalan berjalan lancar, seetelah singgah di beberap tempat
untuk makan dan buang air kecil, ke-esok harinya jam 09:00 wib bus Safari sudah sampai di pool di jalan Kebayoran
Lama.
Komunikasi terus dilakukan dengan bapak Erwan
Sutrisna yang menjadi penghubung bapak dengan KBIH, sekaligus mengabarkan
posisi sudah di Jakarta dan siap untuk acara-acara lain yang terakit dengan
kepentingan jamaah. Diperoleh informasi bahwa pertemuan jamaah dalam
satu kloter, bapak tergabung kloter 52
DKI Jakarta, akan diselenggarakan pada hari Jum'at tanggal 25 Januari 2002
jam 12.00 di Wisma Dharmais JI. Jend. Sudirman.
Pada hari yang sudah disepakati bersama, bapak
bersama pak Erwan, dan juga rombongan calon jamaah yang lain berkumpul di rumah
bu Hayati, pimpinan KBIH. Kebetulan hari Jum’at, jamaah pria sholat Jum’at di masjid jami Miftahul Jannah, Kalideres
dan dilanjutkan dengan makan siang dirumah ibu Hayati, yang letaknya di dalam
kompleh pondok pesantren. Setelah makan siang, rombongan berjumlah 61
bersiap menuju Wisma Dharmais. Rombogan dipimpin langsung oleh Ibu Hayati,
atau lebih akrab dikenal dengan sebutan ibu Amoy.
Sampai di Wisma, jamaah lain dari Kloter 52 sudah
banyak berdatangan. Jumlah semua nya 359 jamaah. Ketua kloter
yaitu Bapak Masruri Haris yang beralamat di JI. Masjid Al Mubarak
II/16 Rt/Rw 008/02 Joglo Kembangan, Jakarta Barat, telpon 5854494. Tim kesehatan dipimpin oleh Dr. Noorwati. Beberapa catatan yang perlu
diketahui oleh semua rombongan yaitu: a. Rombongan Kloter 52 DKI Jakarta harus sudah berkumpul di Asrama Haji
Pondok gede pada Senin tanggal 11
Februari 2002 jam 17.00. b. Keberangkat jamaah pada Hari Selasa tanggal 12 Februari 2002 jam 13.00 dari ke Airport Cengkareng c. Keberangkatan dengan bus full AC berjumlah 10 buah. d. Perlengkapan yang perlu dibawa yaitu tas jinjing saja, karena koper
barang sudah dibawa tersendiri oleh petugas khusus. e. Pemeriksaan keimigrasian dilakukan oleh petugas doane jam 17.30.
Pesawat yang digunakan adalah Garuda Indonesia Boeing 747-4-700" dengan
rute Jakarta-Jeddah. |
|
6 Banjir Jakarta Langit berawan keabu-abuan menyelimuti kota Jakarta dan
sekitarnya. Hari itu tanggal 28 Januari 2002 sejak pagi hari awan tebal
menggelantung di semua kawasan langit ibukota, dapat dipastikan akan terjadi
hujan. Qodarullah, siang hari sampai
malam hari Jakarta diguyur hujan dalam intensitas waktu yang cukup panjang
dan lama. Tanda
bahaya di beberapa tempat diumumkan, baik melalui beberapa radio swasta yang
peduli akan kondisi ibukota dan juga beberapa stasion teve swasta. Beberapa
daerah baik di ibukota maupun di Botabek sudah terendam air, terutama di wilayah-wilayah
yang merupakan daerah resapan air atau daerah aliran sungai (DAS). Dan yang
menyedihkan wilayah-wilayah sudah beralaih fungsinya menjadi wilayah pemukiman. Salah
satu diantaranya yaitu di komplek Pinang Griya Permai, Cileduk, Kota
Tangerang, rumahnya mas Bambang-Ana yang saat itu ditempati Henri dan Berti. Hampir setiap tahun komplek warga yang
terdiri dari dua RW menjadi langganan
banjir karena luapan Kali Pinang, cabang kali Angke, yang bersebelahan dengan
rumah warga.
Tibalah
pada hari yang kelam dan tidak diinginkan, Selasa tanggal 29 Januari 2002 hampir sebagian
besar wilayah Jabodetabek terendam banjir. Hujan belum menunjukkan akan reda, sedikit
demi sedikit air mulai naik. Info dari
Henri , komplek Pinang Griya ketinggian air sudah mencapai dada orang dewasa,
arus air cukup deras. Warga sekitar komplek membuat gethek/rakit dari batang
bambu atau ban dalam mobil yang dipompa diatasnya dipasang papan, untuk
mengungsikan warga yang terjebak banjir ke luar komplek yang wilayah relatif
tinggi.
Bapak,
ibu dan dik Ana dianter pak Parno melihat
kondisi banjir di rumah Henri. Tidak
seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, benajir yang terjadi pada
tahun memang tidak terbayangkan sampai bisa separah itu. Pada saat yang bersamaan Pak Kamal, besan
bapak, bapak Berti, juga datang ke mencari
tahu keadaan Henri dan Berti. Untungnya rumah yang ditempat sebagian bertingkat, sehingga menjadi tempat aman untuk terbebas dari genang air dan sekaligus tempat barang-barang berharga. Bahkan beberapa tetangga menitipkan barang-barang mereka kesini.
Beberapa
tetangga mengumpul di lantai atas, karena tidak ada tempat lain yang lebih
aman. Tidur, istirahat, memasak dan
aktifitas harian lainnya. Harapan
kondisi air banjir akan segera surut, terjadi sebaliknya. Air bertambah naik,
bahkan di beberapa stinggi dada orang dewasa.
Beberapa
warga memutuskan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman di luar komplek. Termasuk
Kel Henri, kel Pak Chaidir, tetangga sebelah rumah.
Tanggal
3o Januari 2022 jam 14.00 pak Parno
& Bapak menjemput Henri di Posko Pengungsian yang ada di depan
komplek perumahan. Berti diungsikan kerumah orangtuanya di komplek Halim
Perdana Kusuma, sedangkan Henri diungsikan ke rumah dik Ana, dengan
pertimbangan untuk memonitor kondisi rumah.Rumah ditinggalkan dan tidak ada
yang menunggu.
Hari
Kamis tanggal, 31 Januari 2002 cakupan bencana banjir yang melanda wilayah Jakarta
bertambah luas. Hujan belum berhenti. Kondisi jalan macet di mana-mana,
selain genang air, lampu lalu lintas di titik-titik tertentu tidak berfungsi,
karena gangguan listrik.
Jam 15.00
hujan berhenti, Bapak, lbu, Henri dan diantar
pak Parno meluncur dengan Daihatsu Rocky-nya melihat kondisi rumah di Ciledug. Dapat di
bayangkan bagaimana kondisi rumah pasca kemasukan banjir, selain air yang
tidak bersih, akan ada lumpur, berbagai macam sampah, bahkan mungkin
binatang-binatang yangmasih hidup atau sudah jadi bangkai dan lain-lain.Pak
Kamal membantu menyediakan tenaga, pak Zainudin, yang dapat membantu Henri membersihkan
rumah. Sebelum
ke Cileduk, menjemput paka Zainudin ke rumah pak Kamal di Halim, Cawang. Selama
perjalanan, lalu lintas macet baik yang lewat jalan biasa maupun jalab tol
(Grogol – Halim). Jam 18.00 wib rombongan
sampai Pos Penampungan Banjir. Kondisi air berangsur-angsur surut, tapi masih
belum aman. Setelah beristirahat
sejenak dan waktu mendekati malam dan untuk masuk rumah cukup jauh, +/- 300
meter, listrik juga bisa dinyalakan karena belum terlalu aman, rencana
melihat rumah secara langsung apalagi bersih-bersih ditunda besok harinya.
Henri dan
pak Zainudin kembali ke rumah dik Ana, sedang bapak dan ibu ke rumah penulis
(Endri) di Cipulir. Bapak dan
ibu sampai di depan rumah cukup mengejutkan kami, karena tidak secepat itu,
karena kondisi cuaca yang belum kondisif, hujan belum benar-berhenti, air
banjir masih menggenang di banyak tempat.
Walau tidak membawa perlengkapan apa-apa (baju & perlengkapan
pribadi), karena memang jatah nginep-nya bapak-ibu di Cipulir belum waktunya,
tentu kami sangat senang sekali. Semantara
Yoma sedang melihat kondisi sekitar-nya, karena Pasar Cipulir yang secara
geografi berada di belakang (selatan) komplek perumahan kami, salah satu
daerah yang rutin selalu daerah terendam banjir. Selain karena daerah rendah
dan bersebelah dengan kali Pesanggarahan yang terhubung dengan wilayah Bogor
yang curah hujannya sangat tinggi.
Hari
Jumat, 1 Februari 2002 pada pagi hari setelah melakukan kewajiban rutin,
mandi, sholat subuh, sembari sarapan sambil ngobrol-ngobrol tentang kondisi
terkini di Jakarta saat ini. Dan..
tentu juga persiapan yang sudah dilakukan untuk melaksanakan ibadah ibadah
haji. Hari
Sabtu 2 Februari jam 08.00 cuaca masih mendung saya mengantar bapak-ibu untuk menjemput
Henri & pak Zainudin untuk melanjutkan ke lokasi banjir di Pinang Griya,
Cileduk. Rupanya pak Parno & Henri
sudah meluncur ke Cipulir sebelum ke Pinang Griya.
Cuaca
walau mulai agak cerah tetapi belum atau jauh dari normal, jalan-jalan masih
macet. Akses menuju lokasi dapat melalui beberapa jalur, lewat Joglo, lewat
Cipulir atau lewat jalan tol Kebun Jeruk dan semuanya masih tergenang air
banjir, sehingga rencana untuk bersih-bersih dampak rumah banjir. Secara
keseluruhan kondisi Jakarta masih lumpuh total.
Hari
Minggu tanggal 3 Februari 2002,mas Bambang kebetulan tidak sedang tugas
terbang, Henri dan pak Zainudin
mencoba lagi untuk ke Pinang Griya dengan menggunakan mobil off road, Land Rover,
sekaligus test drive. Pada jam 10.00 pagi rombongan kecil berangkat dengan
berbekal nasi bungkus sejumlah 15 buah dan Åqua secukupnya. Bapak tidak ikut
karena pertemuan dengan calon jemaah haji dengan KBIH Miftahul Jannah.
Ketinggian
air masih setengah lutut, bahkan dibeberapa tempat bisa sampai selutut. Tanpa
mengalami kesulitan yang berarti, karena kondisi mobil memang mendukung untuk
jalan melewati berbagai rintangan, mobil sudah sampai di depan rumah di blok
C 629. Beberapa peralatan rumah tangga dan barang-barang berharga diselamatkan
dan dibawa ke rumah mas Bambang di Citra.
Kendaraan Honda C70 tahun 1978, yang legendaris, dipakai mas Hari kuliah ITS
sampai lulus (1983), diteruskan oleh penulis di UGM juga sampai lulus (1986),
dan lanjut dipakai Henri kuliah di UPN Yogya juga sampai lulus (1990) dan
diteruskan sampai kerja di Jakarta, yang sudah terendam beberapa hari.
Pak
Zainudin menuntun di bawa ke bengkel di jalan raya Pinang karena mesin mati. Henri
dan pak Zainudin tetap tinggal di Ciledug untuk membersihkanrumah sedangkan bapak dan Bambang kembali ke
Citra Garden, Kalideres.
Rabu
tanggal 6 Februari 2002 cuaca cukup cerah tetapi ramalan cuaca masih ada
potensi turun hujan lagi. Hari ini
tidak ada rencana khusus yang berhubungan dengan kegiatan KBIH Miftahul
Jannah yang terkait dengan persiapan ibadah haji. Bapak dan ibu akan belanja
keperluan untuk persiapan selama ibadah haji di Mekkah dan Madinah
misalnya kopi, susu instan, teh, supermie,
piring makan dan lain-lain. Belanja direncanakan ke Tangerang saja, sekaligus
akan mampir ke Ciledug melihat kondisi terakhir rumah Henri. Keadaan
rumah masih belum begitu normal, pemulihan mungkin belum bisa dilaksanakan
secara keseluruhan. Sedikit-sedikit Henri dan pak Zainudin mulai membenahi
rumah yang porak poranda karena banjir.
|


















