Minggu, 19 April 2026

Bapak Munggah Kaji #1


Bapak Munggah Kaji

 

Sebuah perjalanan ritual ibadah haji Bapak/Ibu Sutopo

 

1. Medio Maret 2002/ Dzulhijjah 1422 H [hardcopy]
2. Medio April 2026 / Dzulhijjah 1447 H [Hardcopy + Softcopy + Flipbook)

 


Bapak Sutopo (alm)  bin Sargiman (alm)
Lahir : Gundih, 11 Nopember 1931
Wafat : Malang, 2 Desember 2007


Ibu Sri Rusmiyatin (almh)
binti Martosuwarno (Alm)
Lahir : Gombong, 2 Agustus 1937
Wafat: Jakarta, 11 Januari 2007



 

1 Kata Pengantar

Tulisan ini merupakan edisi kedua dengan beberapa revisi dan tambahan ilustrasi gambar dengan bantuan AI serta publikasi dalam bentuk dijital. Termasuk perubahan judul dari Bapak Naik Haji menjadi Bapak Munggah Kaji 

Dalam bukunya Religion of Java, Clifton Heartz rnenjelaskan  bahwa ada tiga macam kategori penganut agama Islam bagi masyarakat Jawa yaitu santri, priyayi dan abangan. Santri yang menekankan pada aspek-aspek syariat Islam, Priyayi yang menekankan aspek-aspek pra Islam dan Abangan yang menekankan pentingnya aspek-aspek animistik.

Dari trikotomi kategori tersebut, bapak dalam ketegori yang terakhir. Latar belakang pendidikan dan lingkungan yang kurang rnendukung dalam pendalaman agama Islam, menjadikan beliau terkesan sebagai seorang yang rasionalis abangan atau Islam KTP.

Qodarullah, sebagai seorang yang rasionalis  yang diberi kesempatan dan untuk menunaikan ibadah haji, ada hal yang unik dan menarik untuk pembelajaran. Dalam beberapa bab terakhir Bapak telah berhasil menemukan kerasionalannya mengapa seorang penganut Islam harus menunaikan rukum Islam secara konsekuen.

Ditengah-tengah perjalanan dan kesibukan menunaikan ibadah haji, bapak masih sempat menuliskan beberapa goresan tulisan, suatu kebiasaan yang beliau sempatkan kalau bepergian ke suatu tempat yang baru, selalu mernbuat goresan lukisan/ sketsa. Sebagai apresiasi dan legacy bagi anak cucu, penulis, anak ke-3, seijin bapak mencoba untuk menyalin kembali sekaligus mengedit tanpa mengurangi inti dari isi keseluruhan tulisan aslinya.

Salah satu hal yang menarik dalam tulisan Bapak adalah terlihat kesan sangat enjoy sekali dalam perjalanan ini, semua fasilitas dan pelayanan yang disediakan dianggap perfect semua. Anehnya ketika penulis membaca salah satu harian Kompas edisi bulan April 2002 tentang pelaksanaan ibadah haji terjadi sebaliknya.

 

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Wassalam, Endri Diyanto.

2 Daftar Isi

#1 Kata Pengantar | Daftar Isi | Persiapan Haji | Informasi Haji | Berangkat Ke Jakarta | Banjir di Jakarta 

#2 Terbang ke Tanah Suci | Perjalanan Mekkah - Jeddah

#3 Mekkah | Menunggu Tanggal 8 Dulhijjah | Minna

#4 Kembali ke Mekkah | Tata Kota Mekkah | Ibadah | Ka'bah | Ikhlas 

#5 Madinnah | Ziarah dan Ibadah | Disiplin | Kepribadian 

#6 Rumah Sakit Haji Indonesia | Jeddah | Pulang ke Jakarta | Penutup 

 

  

3 Persiapan Haji

 

Bulan Mei tahun 2001, tak dinyana pada saat inilah menjadi titik awal akan terjadi suatu perubahan yang cukup berarti bagi kehidupan kami. Dalam suasana kesunyian sebuah rumah sederhana di salah satu kawasan sejuk di kota Malang yang hanya berhuni sepasang yangkung dan oma, karena kelima anak dan delapan cucu sudah menjalani kehidupan sendiri-sendiri di kota lain, Ana, satu-satunya anak perempuan kami dan biasa dipanggil jidhok (siji wedhok = satu perempuan), bertanya sekaligus menawarkan sesuatu hal: " Apakah Ibu, Bapak (bersama Pak Nyoto Surabaya, besan bapak) mau pergi haji tahun 2002 nanti ? ". Dalam ketermanguan atas pertanyaan tersebut, bapak/ ibu langsung manjawab : ''Tentu saja bersedia".  


Tawaran Berhaji

Kegundahan dan sejuta pertanyaan tersimpan dalam hati, apakah berhaji itu ?. Sholat sebagai bagian Rukun Islam saja jarang-jarang dilakukan, membaca surat-surat dalam bacaan sholat nggak hafal dan sering salah, apalagi mengerti ... koq mau berhaji ?. Sholat saja masih susah sujudnya koq mau berhaji ?. Bagaimana dengan bacaan-bacaan selama prosesi ibadah haji nantinya ?. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang  tergiang-ngiang dalam pikiran yang kadang-kadang susah diterangkan dalam kata-kata.

Nantilah dipikirkan yang penting niat.

 

Dalam beberapa waktu kemudian disiapkan semua perlengkapan administrasi untuk persyaratan haji, foto, KTP dan perlengkapan lainnya. Belajar membaca surat-surat yang diperlukan untuk keperluan sholat dimulai dengan pengenalan yang paling dasar. Alif, ba, ta, tsa ...  dan seterusnya merupakan huruf-huruf Arab yang mulai dikenalkan, untuk lebih lanjut digunakan membaca surat-surat dalam Al Qur'an. Sholat lima waktu juga mulai dikerjakan secara rutin. Walaupun kadang-kadang lupa atau melupakan diri, berkat peringatan dan himbuan dari oma & anak-anak tercinta. Kalau oma  tekun dan rutin belajar tahsin dan terjemahan Al Qur’an dan Hadist dalam suatu keompok kecil di rumah. Sholat lima waktu dengan kondsi yang seadanya tetap dilakukan, dalam arti bacaan dalam sholat masih belum bisa apalagi lancar.

 

Bulan Agustus, keluarga bapak Sutarso, teman sekaligus sahabat bapak, mengundang beliau berdua untuk menghadiri pesta pernikahan emas yang akan diselenggarakan di pantal Anyer, Propinsi Banten, Jawa Barat.

 

Sebelum ke Anyer, beliau berdua berdua singgah dulu beberapa hari untuk mengunjungi anak cucu yang berdomisili di Jabodetabek. Kegemberiaan yang luar biasa anak & cucu bisa dikunjungi  eyang dan oma, apalagi, alhamdulillah  eyang kakung bisa sholat. Kalau duduk iftirasy masih canggung, belum bisa santai, apalagi duduk tawaruk, tidak bisa. Kalau bangun juga teras berat, selain karena usia juga belum terbiasa. Kadang-kadang kami mengajak sholat berjamaah.


Pengajian di Rumah Jl. Mayang

 

Pun demikian pula, sekembali dari Jakarta,  bapak  bergabung dengan pengajian rutin dari ibu-ibu yang diadakan di rumah dengan ustadz Zamhuri, sebagai pembimbing dan guru mengaji mereka.

Sholat fardu secara berjamaah kadang-kandang bergabung dengan jamaah masjid Al Jihad yang letaknya di jalan Bondoyudo, persis di belakang (sebelah timur) kediaman beliau, jl Mayang 10 Malang.

Walaupun agak canggung, karena selama puluhan tahun tinggal di Sanansari, nama kampung kami, baru kali ini sholat berjamaah dengan tetangga – tetangga se RW, sehingga tidak heran jika seandaianya dalam pikiran terbesit pikiran, “ Alhamdulilah bapak RW bisa sholat bersama warganya”. Kebetulan bapak dipercaya sebagai ketua RW 05 Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

 

Setelah sekian sholat berjamaah di masjid, intensitas dikurangi dengan alasan tidak bisa memperlancar bacaan dalam sholat, karena sebagai makmum hanya mendengar dan harus mengikuti gerakan dan ucapan imam saja. Kepinginnya banyak praktek dan itu dilakukan dengan sholat sendiri.

 

 

4 Informasi Haji

Bapak-ibu berdomisili di kota Malang, beliau menikmati masa pensiun berdua saja seperti layaknya pengantin, karena kelima anak-anaknya hidup dengan keluarga masing di Jabodatek. Yang sulung, Hari dengan istri, Yani, dikaruniai sepasang anak, Rini & Ryan, berdomisili di Depok. Anak kedua, Edi dan istri, Linda, dikarunia sepasang anak, Ludy dan Fara, berdomisili di Kalimantan, tepatnya di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Sedangkan yang nomor 3, Endri dengan istri, Ratih, dan sepasang anak, Yoma dan Yusi, berdomisili di Jakarta, tepatnya di Cipulir Permai, Jakarta Selatan. Yang nomor 4, Ana dan suaminya, Bambang, dengan sepasang anak, Bala dan Bani, berdomisili di Jakarta Barat, tepatnya di daerah Kalideres. Dan, yang terakhir, Henri dan istrinya, Berti, sedang mengandung anak pertama, berdomisili di kota Tangerang, tepatnya perumahan Pinang Griya, Cileduk.

 

Waktu-waktu sebelum keberangkatan haji, kegiatan rutin dan keseharian di Malang dalam rumah tangga di laksanakan seperti biasa dan normal, mengantar oma belanja di pasar Klojen atau ke pasar Bunul, arisan. Atau menyalurkan hobi main tenis seminggu dua kali di lapangan tenis PJKA Embong Brantas.

Walaupun ada yu’ Tum, pembantu yang tinggalnya di daerah Klampisan, kadang-kadang Bapak juga membantu ibu membersihkan rumah. Kegiatan rutin yang lain,  mengunjungi Yang Uti, bulik-nya bapak, yang rumahnya tidak jauh, di jalan  Mayang 17.  Untuk mengajak teman dengan teman se profesi, guru SMA 1 Malang, saling kunjung mengunjungi pak Pardjono yang sampai saat ini masih aktif mengajar dan domisilinya juga tidak jauh dari rumah.

Untuk perawatan kendaraan untuk mobilitas, kadang-kadang ke bengkel untuk servis maintenance mobil Peogeot 323  atau Vespa

 

Peristiwa tahunan yang selalu ditunggu dalam setiap keluarga besar  adalah lebaran, anak/mantu/ cucu bertemu dalam momen yang bermakna, saling bersilaturahmi dan memaafkan. Tahun ini, 2001, tampaknya tidak seperti biasanya, agak sepi dari tahun-tahun sebelumnya. Dari kelima anak hanya penulis, Endri, dan keluarga yang sudah rnernastikan akan mudik. Sedang dik Ana dan keluarga belum bisa memastikan untuk mudik ke Malang.  Keluarga mas  Hari tidak bisa mudik, karena juga sedang persiapan untuk berangkat haji juga. Keluarga Edi juga tidak cuti karena jarak sehingga membutuhkan waktu yang cukup (dan juga biaya). Sedangkan si bungsu, keluarga Henri sebagai seorang suami sekaligus pengantin muda harus siaga penuh karena istrinya, Berti, sedang hamil menunggu kelahiran anak pertamanya.

Sebenarnya bapak menyarankan keluarga tidak usah mudik, toh nanti awal tahun depan akan ketemu juga, sebelum kerangkatan haji. Catatan embarkasi haji ikut jamaah dari Jakarta.

Tetapi karena sudah acara rutin & tradisi tahunan, sekaligus mudik ke keluarga besar Bapak Hadjid Mutohar, besan bapak, yang tinggal di Kotagede, Yogyakarta. Bahkan belakangan keluarga Ana-Bambang-pun juga rnernutuskan untuk mudik juga ke Malang dan sekaligus beranjangsana  Bapak Sunyoto(mertuanya) dan adik-adik iparnya yang semuanya berdomisili di Surabaya.


Pengumuman Nama Jamaah Haji


Pada bulan  Desember 2001, dik Ana mengabarkan bahwa nama Bapak Sutopo bin Sargiman  dan ibu Sri Rumiyatin binti Martosuwarno sudah tercatat sebagai calon jamaah haji Embarkasi DKI Jakarta  melalui Yayasan Miftahul Jannah, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) di Jakarta Barat. Dik Ana merupakan salah satu jamaah pengajian di yayasan ini. 


Untuk itu Bapak dan Ibu harus menghadiri pertemuan dalam rangka manasik haji, persiapan yang biasa dilakukan setiap calon jamaah haji sebelum berangkat ke tanah suci.

Sebenarnya Kantor Departeman Agama setempat juga mengadakan kegiatan serupa, tetapi biasanya KBIH menyelenggarakan sendiri secara khusus bagi calaon jamaah haji yang tergabung dalam KBIH tersebut.


Pertemuan di KBIH Miftahul Jannah
 

Karena pemberitahuan cukup mendadak, bapak yang akan berangkat sendiri ke Jakarta, tanpa didampingi ibu. Kendala yang dihadapi bagaiman cara untuk mendapatkan tiket ke Jakarta, karena akhir tahun banyak tranportasi umum di booking jauh-jauh hari sebelumnya. Termasuk Bus Safari Dharma Raya, langganan bapak-ibu kalau ke Jakarta.

Tidak direncanakan dan tidak di duga, kalau Allah berkehendak, apapun bisa terjadi. Mas Tutuk, temannya Mas Hari saat bekerja di PT Indra Karya, akan ke Jakarta menggunakan mobil sendiri. Mas Tutuk berdomisili di jalan Bango, tidak jauh dari kediaman Bapak, sehingga sudah akrab dan sering bertemu dan berbincang-bincang bersama.

Rencanya Mas Tutuk bersama temanya, berdua menggunakan mobil Taft dan masih tempat yang kosong, Bapak memutuskan untuk nunut dan bergabung dengan rombongan kecil itu. Alhamdulillah, dengan senang hati mempersilahkan.

 

Pagi hari setelah subuh, rombongan bertiga berangkat lewat jalur utara, Jakarta – Solo – Semarang – Cirebon Jakarta. Teman mas Tutuk hanya sampai di Solo, setelahnya perjalangn hanya berdua saja.

Singkat cerita mereka tiba di Jakarta hari sudah cukup malam. Bapak minta tolong mas Hari untuk menjemput di tempat tinggal mas Tutuk di daerah Tebet.

Keesok harinya, kami kaget ketika ditelpon kalau bapak sampai di Jakarta, karena memang tidak rencana.   

Bahkan saat bertemu lebaran di Malang juga tidak ada rencana dalam waktu dekat untuk ke Jakarta.

 

Pertemuan dengan jamaah sesama KBIH Yayasan Miftahul Jannah akan diadakan pada Hari Ahad tanggal 30 Desember 2001 jam 14.00 wib di jalan Peta Kalideres, Jakarta Barat.

Pertemuan seperti sebenarnya sudah dilaksanakan bebrapa kali, tetapi Bapak baru mengikuti karena faktor jarak domisili yang tidak mungkin bisa mengikuti terus menerus.

Adapun tujuan pertemuan  untuk saling mengenal satu sama lain karena kami akan menjalani hidup bersama dalam waktu yang cukup lama, lebih sekiran selama 40 hari (program haji regular). Dalam pertemuan sudah ditetapkan ketua regu kami yaitu pak Legimin, dilihat dari namanya mungkin berasal dari Jawa Tengah.

Untuk membantu semua informasi yang diperoleh dari Yayasan, bapak dibantu dengan Pak Erwan Sutrina, teman dekat mas Bambang, suami dik Ana,  mereka bertetangga satu komplek di perumahan Citra Garden I, Kalideres, jakarta Barat.

Pada hari ini pada pagi harinya, mas Hari dan mengadakan halal bil halal keluarga besar dari pihak bapak (mbah Gundih) di rumahnya sekaligus ratiban haji. Mas Hari dan istri, mbak Yani, menunaikan haji pada musim haji yang sama tetapi berbeda program dan embarkasinya.  Sengaja yang diundang hanya keluarga dari pihak Bapak saja, karena keluarga dari Ibu (mbah Gombong) sudah diadakan di rumah Dik Tuty Setiadi, jl. Kenari Larangan, Ciledug.

 

Banyak yang hadir yang pertemua tersebut, antara mbah Soekarno (Pondok Gede, Bekasi) dan keluarga, Bu Lik Samsi (Cipinang) dan keluarga, Oom Widagdo (Bekasi) dan istri, keluarga almh bude Kastari (Purwodadi) yang berdomisili di Jakarta.

Bapak diminta memberi sambutan sekaligus doa untuk keberangkatan haji.

Sayang pertemuan tidak sempat diikuti sampai selesai, setelah sholat dhuhur  Bapak harus segera meninggalkan acara, karena harus menghadiri pertemuan dengan jamaah haji dari KBIH Yayasan Miftahul Jannah. Dengan diantar diantar pak Parno, sopirnya mas Bambang.

 

5 Berangkat ke Jakarta

Kebiasaan bapak-ibu , kalau akan bepergian untuk waktu yang cukup lama, biasanya nengok cucu-cucu di Jakarta, menitipakan sebagian barang & benda-benda berharga kepada saudara/ tetangga yang amanah.

Keamanan rumah dititipkan ke Tiarto, suami yu’ Toem. Mobil dititipkan ke mas Hedi, jalan Mayang 6, untuk dipanasi mesinnya, setidaknya 2-3 hari sekali, sekaligus memeriksa air radioator. Maklum mobil sudah butut.

Surat­ surat penting dititipkan ke bu Djahwoto, tetangga jalan Mayang no 9, depan rumah.

Perhiasan-perhiasan yang cukup berharga dititipkan ke Bude Sup, istrinya alm mas Sutejo di Klojen.

Dengan perasan pasrah, kami sampaikan barang-barang tersebut untuk dititipkan.

Untuk anak cucu ibu membelikan oleh-oleh kesukaan yaitu keripik singkong Miroso dan keripik tempe Serayu.

 

Hari Senin tanggal 14 Januari  2002 jam 12.30 wib, bapak ibu  berangkat dari rumah dengan menumpang dua becak menuju agen bus Safari Dharma Raya di jalan Dr. Cipto, dekat pasar Klojen. Jaraknya lebih kurang 3 km.


Naik Becak ke Pool Bus Safari Dharma

Jam 14.00 wib bus berangkat meninggalkan kota Malang tercinta menuju Jakata, kota demontrasi karena sering terjadi demo. Alhamdulillah perjalan berjalan lancar, seetelah singgah di beberap tempat untuk makan dan buang air kecil, ke-esok harinya jam 09:00 wib  bus Safari sudah sampai di pool di jalan Kebayoran Lama.

 




Komunikasi terus dilakukan dengan bapak Erwan Sutrisna yang menjadi penghubung bapak dengan KBIH, sekaligus mengabarkan posisi sudah di Jakarta dan siap untuk acara-acara lain yang terakit dengan kepentingan jamaah.

Diperoleh informasi bahwa pertemuan jamaah dalam satu kloter, bapak tergabung  kloter 52 DKI Jakarta, akan diselenggarakan pada hari Jum'at tanggal 25 Januari 2002 jam 12.00 di Wisma Dharmais JI. Jend. Sudirman.

 

Pada hari yang sudah disepakati bersama, bapak bersama pak Erwan, dan juga rombongan calon jamaah yang lain berkumpul di rumah bu Hayati, pimpinan KBIH.

Kebetulan hari Jum’at, jamaah pria sholat Jum’at  di masjid jami Miftahul Jannah, Kalideres dan dilanjutkan dengan makan siang dirumah ibu Hayati, yang letaknya di dalam kompleh pondok pesantren.

Setelah makan siang, rombongan berjumlah 61 bersiap menuju Wisma Dharmais. Rombogan dipimpin langsung oleh Ibu Hayati, atau lebih akrab dikenal dengan sebutan ibu Amoy.

 

Sampai di Wisma, jamaah lain dari Kloter 52 sudah banyak berdatangan. Jumlah semua nya 359 jamaah.

Ketua kloter  yaitu Bapak Masruri Haris yang beralamat di JI. Masjid Al Mubarak II/16 Rt/Rw 008/02 Joglo Kembangan, Jakarta Barat, telpon 5854494.

Tim kesehatan dipimpin  oleh Dr. Noorwati.

Beberapa catatan yang perlu diketahui oleh semua rombongan yaitu:

a.      Rombongan Kloter 52 DKI Jakarta harus sudah berkumpul di Asrama Haji Pondok gede pada  Senin tanggal 11 Februari 2002 jam 17.00.

b.      Keberangkat jamaah pada Hari Selasa tanggal 12 Februari 2002 jam 13.00  dari  ke Airport Cengkareng

c.      Keberangkatan dengan bus full AC berjumlah 10 buah.

d.      Perlengkapan yang perlu dibawa yaitu tas jinjing saja, karena koper barang sudah dibawa tersendiri oleh petugas khusus.

e.      Pemeriksaan keimigrasian dilakukan oleh petugas doane jam 17.30. Pesawat yang digunakan adalah Garuda Indonesia Boeing 747-4-700" dengan rute Jakarta-Jeddah.

 

6 Banjir Jakarta

Langit berawan keabu-abuan menyelimuti kota Jakarta dan sekitarnya. Hari itu tanggal 28 Januari 2002 sejak pagi hari awan tebal menggelantung di semua kawasan langit ibukota, dapat dipastikan akan terjadi hujan. Qodarullah,  siang hari sampai malam hari Jakarta diguyur hujan dalam intensitas waktu yang cukup panjang dan lama.

Tanda bahaya di beberapa tempat diumumkan, baik melalui beberapa radio swasta yang peduli akan kondisi ibukota dan juga beberapa stasion teve swasta. Beberapa daerah baik di ibukota maupun di Botabek sudah terendam air, terutama di wilayah-wilayah yang merupakan daerah resapan air atau  daerah aliran sungai (DAS). Dan yang menyedihkan wilayah-wilayah sudah beralaih fungsinya menjadi  wilayah pemukiman.

Salah satu diantaranya yaitu di komplek Pinang Griya Permai, Cileduk, Kota Tangerang, rumahnya mas Bambang-Ana yang saat itu ditempati Henri dan Berti.  Hampir setiap tahun komplek warga yang terdiri dari  dua RW menjadi langganan banjir karena luapan Kali Pinang, cabang kali Angke, yang bersebelahan dengan rumah warga.  

 

Tibalah pada hari yang kelam dan tidak diinginkan,  Selasa tanggal 29 Januari 2002 hampir sebagian besar wilayah Jabodetabek terendam banjir.  Hujan belum menunjukkan akan reda, sedikit demi sedikit air mulai naik.

Info dari Henri , komplek Pinang Griya ketinggian air sudah mencapai dada orang dewasa, arus air cukup deras. Warga sekitar komplek membuat gethek/rakit dari batang bambu atau ban dalam mobil yang dipompa diatasnya dipasang papan, untuk mengungsikan warga yang terjebak banjir ke luar komplek yang wilayah relatif tinggi.

 

Bapak, ibu dan dik Ana dianter  pak Parno melihat kondisi banjir di  rumah Henri. Tidak seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, benajir yang terjadi pada tahun memang tidak terbayangkan sampai bisa separah itu.   Pada saat yang bersamaan Pak Kamal, besan bapak, bapak Berti,  juga datang ke mencari tahu keadaan Henri dan Berti.

Untungnya rumah  yang ditempat sebagian  bertingkat, sehingga menjadi tempat aman untuk terbebas dari genang air dan sekaligus tempat barang-barang berharga. Bahkan beberapa tetangga menitipkan barang-barang mereka kesini.   


Banjir di Pinang Griya

Beberapa tetangga mengumpul di lantai atas, karena tidak ada tempat lain yang lebih aman. Tidur, istirahat, memasak  dan aktifitas harian lainnya.

Harapan kondisi air banjir akan segera surut, terjadi sebaliknya. Air bertambah naik, bahkan di beberapa stinggi dada orang dewasa. 

Beberapa warga  memutuskan untuk mengungsi  ke tempat yang lebih aman di luar komplek.

Termasuk Kel Henri, kel Pak Chaidir, tetangga sebelah rumah.

 

Tanggal 3o Januari 2022 jam 14.00 pak Parno  & Bapak menjemput Henri di Posko Pengungsian yang ada di depan komplek perumahan. Berti diungsikan kerumah orangtuanya di komplek Halim Perdana Kusuma, sedangkan Henri diungsikan ke rumah dik Ana, dengan pertimbangan untuk memonitor kondisi rumah.Rumah ditinggalkan dan tidak ada yang menunggu.

 

Hari Kamis tanggal, 31 Januari 2002 cakupan  bencana banjir yang melanda wilayah Jakarta bertambah luas. Hujan belum berhenti. Kondisi jalan macet di mana-mana, selain genang air, lampu lalu lintas di titik-titik tertentu tidak berfungsi, karena gangguan listrik.

 

Jam 15.00 hujan berhenti,  Bapak, lbu, Henri dan diantar pak Parno meluncur dengan Daihatsu Rocky-nya melihat kondisi rumah di Ciledug.

Dapat di bayangkan bagaimana kondisi rumah pasca kemasukan banjir, selain air yang tidak bersih, akan ada lumpur, berbagai macam sampah, bahkan mungkin binatang-binatang yangmasih hidup atau sudah jadi bangkai dan lain-lain.Pak Kamal membantu menyediakan tenaga, pak Zainudin,  yang dapat membantu Henri membersihkan rumah.

Sebelum ke Cileduk, menjemput paka Zainudin ke rumah pak Kamal di Halim, Cawang. Selama perjalanan, lalu lintas macet baik yang lewat jalan biasa maupun jalab tol (Grogol – Halim).  Jam 18.00 wib rombongan sampai Pos Penampungan Banjir. Kondisi air berangsur-angsur surut, tapi masih belum aman.  Setelah beristirahat sejenak dan waktu mendekati malam dan untuk masuk rumah cukup jauh, +/- 300 meter, listrik juga bisa dinyalakan karena belum terlalu aman, rencana melihat rumah secara langsung apalagi bersih-bersih ditunda besok harinya.

 

Henri dan pak Zainudin kembali ke rumah dik Ana, sedang bapak dan ibu ke rumah penulis (Endri) di Cipulir.

Bapak dan ibu sampai di depan rumah cukup mengejutkan kami, karena tidak secepat itu, karena kondisi cuaca yang belum kondisif, hujan belum benar-berhenti, air banjir masih menggenang di banyak tempat.  Walau tidak membawa perlengkapan apa-apa (baju & perlengkapan pribadi), karena memang jatah nginep-nya bapak-ibu di Cipulir belum waktunya, tentu kami sangat senang sekali.  Semantara Yoma sedang melihat kondisi sekitar-nya, karena Pasar Cipulir yang secara geografi berada di belakang (selatan) komplek perumahan kami, salah satu daerah yang rutin selalu daerah terendam banjir. Selain karena daerah rendah dan bersebelah dengan kali Pesanggarahan yang terhubung dengan wilayah Bogor yang curah hujannya sangat tinggi.

 

Hari Jumat, 1 Februari 2002 pada pagi hari setelah melakukan kewajiban rutin, mandi, sholat subuh, sembari sarapan sambil ngobrol-ngobrol tentang kondisi terkini di Jakarta saat ini.  Dan.. tentu juga persiapan yang sudah dilakukan untuk melaksanakan ibadah ibadah haji.

Hari Sabtu 2 Februari jam 08.00 cuaca masih mendung  saya mengantar bapak-ibu untuk menjemput Henri & pak Zainudin untuk melanjutkan ke lokasi banjir di Pinang Griya, Cileduk.  Rupanya pak Parno & Henri sudah meluncur ke Cipulir sebelum ke Pinang Griya.

 

Cuaca walau mulai agak cerah tetapi belum atau jauh dari normal, jalan-jalan masih macet. Akses menuju lokasi dapat melalui beberapa jalur, lewat Joglo, lewat Cipulir atau lewat jalan tol Kebun Jeruk dan semuanya masih tergenang air banjir, sehingga rencana untuk bersih-bersih dampak rumah banjir. Secara keseluruhan kondisi Jakarta masih lumpuh total.

 

Hari Minggu tanggal 3 Februari 2002,mas Bambang kebetulan tidak sedang tugas terbang,  Henri dan pak Zainudin mencoba lagi untuk ke Pinang Griya dengan  menggunakan mobil off road, Land Rover, sekaligus test drive. Pada jam 10.00 pagi rombongan kecil berangkat dengan berbekal nasi bungkus sejumlah 15 buah dan Åqua secukupnya. Bapak tidak ikut karena pertemuan dengan calon jemaah haji dengan KBIH  Miftahul Jannah.

Honda Dibawa ke Bengkel


Ketinggian air masih setengah lutut, bahkan dibeberapa tempat bisa sampai selutut. Tanpa mengalami kesulitan yang berarti, karena kondisi mobil memang mendukung untuk jalan melewati berbagai rintangan, mobil sudah sampai di depan rumah di blok C 629. Beberapa peralatan rumah tangga dan barang-barang berharga diselamatkan dan dibawa  ke rumah mas Bambang di Citra. Kendaraan Honda C70 tahun 1978, yang legendaris, dipakai mas Hari kuliah ITS sampai lulus (1983), diteruskan oleh penulis di UGM juga sampai lulus (1986), dan lanjut dipakai Henri kuliah di UPN Yogya juga sampai lulus (1990) dan diteruskan sampai kerja di Jakarta, yang sudah terendam beberapa hari.

 

Pak Zainudin menuntun di bawa ke bengkel di jalan raya Pinang karena mesin mati. Henri dan pak Zainudin tetap tinggal di Ciledug untuk membersihkanrumah  sedangkan bapak dan Bambang kembali ke Citra Garden, Kalideres.

 

Rabu tanggal 6 Februari 2002 cuaca cukup cerah tetapi ramalan cuaca masih ada potensi turun hujan lagi.

Hari ini tidak ada rencana khusus yang berhubungan dengan kegiatan KBIH Miftahul Jannah yang terkait dengan persiapan ibadah haji. Bapak dan ibu akan belanja keperluan untuk persiapan selama ibadah haji di Mekkah dan Madinah misalnya  kopi, susu instan, teh, supermie, piring makan dan lain-lain. Belanja direncanakan ke Tangerang saja, sekaligus akan mampir ke Ciledug melihat kondisi terakhir rumah Henri.

Keadaan rumah masih belum begitu normal, pemulihan mungkin belum bisa dilaksanakan secara keseluruhan. Sedikit-sedikit Henri dan pak Zainudin mulai membenahi rumah yang porak poranda karena banjir.


Bersih-bersih Pasca Banjir
 Hari Jum'at tanggal 8 Februari 2002, bapak, ibu dan pak Parno sekali lagi mengunjungi Henri dan membawa beberapa peralatan pembersih yang mungkin bisa berguna. Ibu bersemangat sekali mencuci pakaian, dan beberapa peralatan rumah tangga lain. Bapak membantu mengeluarkan barang-barang, meja kursi dikeluarkan dan diletakkan di teras. Pompa dilepas dibersihkan dan diperbaiki, dan untungnya masih bisa berfungsi. Lantai digosok dan disikat serta di pel menggunakan karbol supaya nggak bau.

 

Bapak Munggah Kaji #2

7 Terbang Ke Tanah Suci

Seperti biasa, setiap hari ahad, hari ini, tanggal 3 Februari 2002 diadakan pertemuan dengan sesama anggota calon jamaah haji dari KBIH Miftahul Jannah.

Beberapa hal yang yang perlu menjadi para caloan jemaah haji yaitu antara lain :

1. Dibagikan Buku Kesehatan Haji kepada setiap calon jamaah.

2. Supaya mengisi daftar obat-obat yang harus/ biasa diminum setiap hari seperti yang tercantum pada halaman 47 dan akan ditandatangani oleh dokter pendamping Kloter 52 DKI Jakarta saat bertemu di Asrama Haji di  Pondok Gede, menjelang keberangkatan ke Mekkah.

3. Diajarkan tata cara membaca doa’ selama proses ibadah lengkap, mulai menggunakan pakaian ihram dimulai dengan niat, bacaan selama perjalanan, bacaan doa masuk ke kota suci Mekkah Harramian, masuk ke Masjidil Maharam, Thawaf, Sa’i dan lain-lain.  

Untuk keperluan loading koper, koper besar (bagasi pesawat) akan ditangani petugas khusus , sedangkan untuk transit semalam di Asrama Haji Pondok Gede, jamaah supaya membawa koper / tas kecil berisi peralatan pribadi dan akan di bawa di kabin.

 

Hari Senin tanggal 4 Februari 2002 mas Hari  dan mbak Yani berangkat terbang ke tanah suci menggunakan fasilitas ONH plus. Bapak, Ibu mad Bambang & dik Anak ikut mengantar sampai ke airport Bandara Sukarno Hatta. Keberangkatan menggunakan pesawat Royal Jordan Air dengan tujuan Aman, menginap semalam dilanjutkan dengan ke Jeddah keesokan harinya. 

Mas Hari Berangkat Haji

 

Tiga hari menjelang keberangkatan, cukup banyak tamu-tamu yang datang bergiliran  untuk silaturahmi dan mengucapkan selamat jalan.

Hari Jum'at tanggal 8 Februari 2002 teman-teman pengajian Ana sebanyak delapan orang datang, cukup ramai suasana di rumah.

Malam harinya, Dondi dan istri juga datang. Ngobrol cukup lama diantara kami. Kepulangan Dondi sempat membuat ibu agak bimbang sedikit sehubungan dengan adanya perbedaan persepsi tentang adanya dam yang harus dibayar sehubungan dengan prosesi rangkaian ibadah haji. Seperti sudah diterangkan pada saat manasik haji ada 3(tiga)  jenis ibadah haji.

1. Haji ifrad, yaitu sesampai di Mekkah melaksanakan ibadah haji dan setelah usai, melakukan ibadah umrah. Jenis ibadah ini tidak dikenakan dam/ denda.

2. Haji qiran, yaitu melaksnakan ibadah haji dan umrah diniatkan bersama-an, dengan catatan melakukan thawaf (lagi) setelah waktu wukuf.

3. Haji tamattu, ibadah umrah dilaksanakan terlebih dulu sebelum melaksanakan ibadah haji (dengan beberapa persyaratan tertentu) dan jamaah darus membayar dam.

 

Keesokan malam harinya, Sabtu, giliran kami dan keluarga, Ratih, Yoma, Usi dan mbaknya datang dan sekaligus bermalam di Citra Garden.

Sebelum kedatangan kami, dik Banitampak gelisah nggak sabar segera bertemu dengan sohibnya, Usi, beberapa kali menelpon ke Cipulir untuk menanyakan apakah sudah berangkat atau belum.

Tampak kegembiraan yang amat, ketika mendengar kami sekeluarga akan menginap di rumahnya.

Sayang, karena berangkatnya dari Cipulir agak malarn, bada sholat Isak, si cewek prencil, Usi, matanya suam-suam mendekati 5 watt, bahkan selama di mobil, tertidu pulas. Pun yang sulung, Yoma.

Sehingga pertemuan cewek-cewek kecil Bani & Us yang diharapkan heboh, tidak terjadi, bahkan agak korsleting. Mereka berdua langsung masuk ke kamar masing-masing (adiknya), Bala dan Bani.

Kami berlima, Bapak, ibu, Endri, Ratih dan Ana, Bambang sedang terbang, berbindang, ngobrol ngalor ngidul seputar rencana perjalanan haji, banjir yang belum 100% pulih dan yang lain-lain.

 

Sempat muncul diskusi tentang perbedaan pendapat tentang pembayaran dam. Kami  berpendapat sebaiknya dilihat situasi di sana nantinya dan tentu saja berkonsultasi ketua kloter, jenis haji yang mana akan diikuti, supaya tidak terhindar dam.

 

Pengalaman yang belum ada, apapbila tidak mengikuti sesama romobongan jamaah juga menjadi pertimbangan yang utama. Jangan sampai malahan akan merepotkan diri sendiri dan ketua kloter, sebagai penanggung jawab keberadaan jamaah, dan tentu saja sesam jamaah dalam satu rombongan.

Berdasarkan pengalaman melaksanakan umroh, kami hanya berpesan bahwa ibadah haji adalah ibadah yang penuh ujian untuk menata hatinya, menahan nafsu untuk mudah marah. Tidak boleh ada niat tidak baik, pikiran negatif apalagi kalau disertai tindakan dan perilaku ataupun lesan.

Rasa sombong, ceroboh, percaya diri yang sangta tinggi akan dibalas, bahkan seketika, dengan berbagi kondisi. Hal itu sangat mudah bagi Allah Yang Berkehendak. Contoh,  merasa sudah percaya diri biasa berjalan-jalan tempat yang baru, Allah memberi peringatan dengan menjadikan tersesat. Dalam kondisi seperti kita harus sadar, telah melakukan kesalahan dan segera istigfar, kalau perlu sholat tobat dua rakaa.

Sekali lagi, keikhlasan dan spenuhnya menyerahkan diri dan menggantungkan segalan urusan hanya kepada Allah swt.

Tidak terasa jarum jam menunJukkan 11.30 bapak sudah beberapa kali menguap dan minta mundur. Kamipun pamit mundur untuk istirahat.


Ngobrol Menjelang Keberangkatan

Ahad ,tanggal 10  Februari 2002, Henri dan  pak Zainudin datang dengan motor Honda C70 yang sudah di bersihkan dari kotoran airdan lumpur banjir.


Tidak berselang lama, besan,bapak Kamal dan ibu, Berti, yang sedang hamil, dan cucunya, Sasa,  juga datang dari Halim.

Hari menjelang sore, pak Kamal dan ibu mohon diri. Demikian juga dengan kami dan keluarga, karena Usi dan Yoma harus latihan Taekwondo di komplek rumah. Sebelum pamitan kami akan sempatkan waktu mengantar ke KBIH, karena sudah ijin kantor untuk masuk kantor.

 

Hari Senin, 11 Februari 2002, mas Bambang dan dik Ana t1dak ada jadwal terbang. Oh ya...mas Bambang bekerja sebagai pilot di Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia, sedangkan dik Ana sebagai pramugari di maskapai yang sama.

Aktifitas di rumah seperti biasa. Pak Parno sudah datang sejak pagi dan diajak ngobrol ringan-ringan dengan Bapak sambil ngopi, sambil nunggu tugas harian seperti biasa, yaitu mengantar Bala dan Bani sekolah. Ipah dan Nur  sejak pagi-pagi sudah datang dan sibuk dengan tugas harian. Ipah bersik-bersih rumah dan Nur bertugas memasak harian.

Setelah mengantar ke sekolah, pak Parno mengantar mas Bambang dan dik Ana untuk suatu keperluan.

Kami datang sekitar jam 10.00. Tidak beberapa lama kemudian pak Lubis dan istri, tetangganya di Komplek Citra Garden, datang ke rumah. Selain hendak mengucapkan selamat jalan untuk rencana keberangkatan ke tanah suci , beliau  memberikan bingkisan untuk ibu dan bapak. Ibu diberi bingkisan baju daster dan untuk bapak baju koko warna abu-abu muda. Alhamdulillah.

Seusai mengantar mas Bambang, pak Parno dan Bapak mengantarkan dua koper besar ke kantor KBIH Yayasan untuk handling oleh petugas dari Yayasan.

Jam 13 .30, setelah makan siang dan sholat dhuhur kami berangkat ke Kantor KBIH yang terletak di Jalan Peta, tidak jauh dari Komplek Citra Garden.

Kantor Yayasan Miftahul Jannah berada di dalan Darussalam( masuk dari jalan Peta Selatan) lokasi dekat perkampungan dekat dengan pasar. Jalan agak sempit, sehingga tidak masuk sampai ke kantor.

Ada petugas tugas yang mengatur lalau lintas kendaraan yang lewat sempit. Mobil tidak masuk ke dalam dan berhenti menurunkan penumpang dan selanjutnya parkir di pasar.

Dengan berjalan kaki yang berjarak ± 50 meter kami menuju bangunan madrasah sederhana, milik yayasan, yang digunakan sebagai titik kumpul menuju Asrama Haji Pondok Gede.


Transit Dulu di KBIH

Sebagian besar jamaah sudah berdatangan diserta pengantar yang cakup banyak, bahka lebih banyak dari jamaah itu sendiri.  Calon jamaah haji pria berpeci menggunakan seragam jas warna ungu sedangkan untuk perempuan menggunakan seragam warna biru.

Bapak dan beberapa anggota rombongan tidak menggunakan seragam, mungkin dipakai untuk keberangkatan dari Asrama Haji, esok harinya.

 

Bapak menyaksikan fenomena yang luar biasa melihat antusias pengantar yang banyak dengan semangat yang tinggi mengantarkan keluarga, sanak saudara bahkan tetangga se kampung, bahkan dengan meninggalkan waktu dan tenaga. Fenomena apa ini ?

Apa bedanya dengan bepergian yang tidak rangka ibadah, misalnya pergi melancong ke Eropa, Amerika dan tempat yang lebih jauh lagi.

Pertanyaan yang sangat mendasar dan bisa dimaklumi, karena di keluarga belum pernah mengalami peristiwa seperti ini. Walaupun  di kampung-kampung hal seperti hampir setiap tahun selalu ada.  Betul-betul pengalaman pertama yang mengesankan sebelum berada di tempat suci di jazirah Arab sana.

 

Calon jemaah disediakan di suatu ruangan yang sederhana, berkarpet dengan kipas angin menggantung di atas atas  berputar kencang. Bapak & ibu dan juga jamaah yang lain dipersilahkan duduk bersila sambil menunggu jamaah yang lain. Beberapa pengantar ikut duduk dan bergabung dengan jamaah lain atau sekedar bersalaman dengan jamaah lain dan memilih menunngu di serambi ruangan. Walau udara di dalam ruang agak pengap, suasan ceria tampak diantara para jamaah.

 

Beberapa saat kemudian, bapak Legimin, ketua rombongan, mengabsen satu persatu rombongan yang sudah hadir.

“Bapak Sutopo ?”, “Ada..”, Bapak menyahut dengan mengangkat tangan kanannya, “ Ibu Sutopo ?” ...dan seterusnya.

Sampai panggilan yang terakhir terdapat satu jamaah yang belum hadir.  Setelah dirundingkan dengan ketua rombongan, ibu hayati, yang bersangkutan terjebak macet di jalan, sehingga diputuskan untuk ditunggal dan yang bersangkutan supaya langsung menuju ke Asrama Haji Pondok Gede.

Sebelum berangkat , perwakilan dari Kantor Agama setempat memberi bekal rohani, ucapan selamat jalan dan berdoa semua semua jamaah diberikan kesehatan, kekuatan dan kalancaran dalam menjalankan ibadah sampai sampai kembali ke tanah air.

Lafaz Labaik Allohuma labaik.....berkumandang diantara lisan-lisan jamaah  mengiringi keberangkatan jamaah dan bersalam-salam dengan petugas.

 

Pengantar berbaris sepanjang halaman madrasah, ibarat mengiring calon pengantin.  Beberapa pengantar berkerumun di pinggir jalan, beberapa petugas membawa koper besar seragam bentuk dan warnanya milik para jamaah, dibawa menuju bus-bus yang parkir di dekat pasar.

Jalan raya Peta, Kalideres yang sempit dan  macet menjadi tambah macet, pada siang menjelang sore pada hari ini. Di kanan kiri jalan di pertigaan jalan yang ke arah kantor KBIH parkir mobil=mobil pengantar  calon  jamaah dan bus besar yang mengantar ke Asrama Haji Pondok Gede.  Sepintas terlihat wajah beberapa penumpang mobil yang terhenti karena macet, ada yang pasrah seakan-akan memaklumi melihat kemacetan ini, ada juga yang bermuka masam, terlihat kesal.

 

Walau sudah di-informasikan tentang pembangian bus bagi jamaah, beberapa jamaah tampak bingung mencari bus-nya.

Tepat jam 14.30 dua buah bus Hiba yang sengaja dicarter untuk membawa rombongan, berangkat. Perjalanan cukup lancar, cuaca cerah agak mendung di langit sebelah utara. Melewati jalan tol Cengkareng perlu waktu dua jam untuk sampai di asrama haji Pendok Gede.

Asrama Haji Pondok Gede berlokasi di Jalan Raya Pondok Gede, Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur. Diresmikan tahun 1997 dengan luas tanah +/- 16.2 hektar, di atasnya berdiri lebih dari delapan bangunan tower dan mampu menampung +/- 3000 tamu. Dibanguna khusun untuk penampung calon jamaah haji yang berangkat ke tanah suci.

 

Bus berhenti di depan bangunan utama, beberapa petugas dari gedung asrama siap untuk menunggu kedatangan jamaah. Gedung asrama cukup besar dan megah, petugas  mengarahkan transit dulu di aula.

Seorang petugas asrama memberi sambutan dan memberi arahan tantang apa yang yang akan dilakukan selama di Asrama Haji dalam dua hari sebelum berangkat ke tanah suci.

Di depan aula sudah beberapa  petugas yang akan membagikan kunci-kunci kamar dan gelang identitas jamaah haji Indonesia yang terbuat dari plat kuningan dengan warna chroom.


Gelang Haji

Gelang identitas ini penting, selain pasport, untuk mengetahui indentitas jamaah selama berada di tanah suci.   Karena, sebagian jamaah (terutama jamaah reguler) belum pernah melakukan perjalanan di luar negeri, apalagi dalam waktu lama (+/- 40 hari), tidak bisa berbahasa Arab atau Inggris dan selama di tanah suci akan melakukan aktifitas yang bercampur dengan jutaan jamaah haji dari negara-negara lain. Sehingga apabila seseorang jamaah mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tersesat, dengan mudah diketahui identitas yang bersangkutan.


Informasi di Gelang Haji

Selanjutnya petugas memberikan informasi tentang kamar-kamar. Satu kamar dihuni untuk empat orang, blok jamaah lelaki dan perempuan berbeda blok.

Oh..ya, Aktifitas resmi tidak ada, setelah mandi dan bersiap untuk sholat magrib di Masjid Jami Al Mabrur yang terletak tidak jauh dari kamar menginap.

Setelah sholat magrib, sambil menunggu sholat Isa, ada kajian. Beberapa jamaah meninggalkan masjid dan sebagian tetap untuk mendengar dan mnyimak kajian. Materi kajian biasanya seputar ibadah haji dan sangat penting untuk pengetahuan untuk keabsahan dan khusukan ibadah.

Ba’da sholat Isa, bapak dan jamaah lelaki lain balik ke gedung penginapan untuk makan malam. Sementara ibu dan jamaah perempuan melakukan hal yang sama.

Waktu ini banyak untuk mengobrol santai sambil berkenalan lebih dalam dengan jamaah lain. Bapak merasa sebagai orang baru dan komunitas baru, karena sebagian jamaah berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.

 

Selasa tanggal 12 Februari 2002, cuaca cerah tampak awan tersebar di beberapa titik di  langit. Acara pagi ini  pagi manasik haji terakhir sebelum melaksanakan ibadah yang sebenarnya, malam hari berangkat, take-off, ke Jeddah.

Jamaah dikumpulkan kembali ke aula dan petugas haji siap untuk memberikan informasi untuk pembagian paspor dan living cost selama di tanah suci sebesar 1500 SAR, atau lebih kurang setara dengan Rp. 5.000.000,-. Untuk makan harian (tiga kali) selama ditanah suci disediakan maktab dan merupakan bagian bagian ONH (ongkos naik haji) yang harus dibayar oleh setiap jamaah, sedangkan living cost digunakan untuk keperluan sehari-hari jamaah selain makan.


Manasik Haji

Acara selanjutnya manasik yang terakhir sebelum ke tanah suci. Di halaman utama Asrama Haji dibangun replika miniatur Ka’bah, tiga jumroh, jalur untuk sa’i Saofa-Marwa.

Semua jamaah dipersilahkan menuju halaman dan mengikuti arahan petugas untuk melakukan simluasi urutan prosesi ibadah haji. Walaupun selama pembekalan di KBIH kami mendapatkan simulasi tersebut. Dimulai dari rangkain thawaf, Sai dan lempar jumroh.

 

Menjelang sholat dhuhur pelaksanaan simulai selesai, jamaah kembali ke masing-masing dan persiapan untuk sholat dhuhur dan makan siang. Sesuai arahan petugas disarankan untuk melaksanakan sholat jamaah dhuhur dan asar, karena persyaratan safar terpenuhi.

Tidak lama sholat dhuhur selesai ada pengumuman dari patugas asrama, bahwa semua jamaah Kloter 52 DKI Jakarta supaya bersiap-siap berkemas-kemas untuk berangkat ke airport.

Ketua rombongan dan petugas dari KBIH mengingatkan kepada para jamaah supaya :

a.      Memakai seragam KBIH yang sudah disiapkan dan penutup kepala.

b.     Tas jinjing berisi baju ihram, baju pribadi dan lain-lain

c.      Tas kalung (berisi pasport, dompet dan lain-lain)

d.     Gelang identitas jamaah terpakai di pakai tangan

 

Di halaman asrama berdiri 10 bus stand by siap mengantar jamaah kloter 52 untuk mengantar ke airport Soekarno Hatta, Cengkareng. Di sepanjang jalan raya berdiri warung-warung dadakan, selama musim haji. Ini sangat membantu, misalnya yang terkait dengan barang-barang keperluan harian selama safar yang terlupakan belum terbeli. Misalnya sikat gigi, tusuk gigi, tensoplast dan lain-lain.

Satu  kloter terdiri dari sekitar 400 jamaah sesuai dengan kapasitas pesawat yang terdiri dari ketua kloter, dokter pendamping dan petugas pendamping.

Banyak pengantar jamaah yang berdiri berjejer-jejer mengantar kepergian jamaah. Ada sebagian jamaah yang berpelukan dengan kerabat-saudara yang mengantar. Kami sengaja mengantar hanya sampai ke kantor KBIH, tidak sampai ke Asrama Pondok Haji, karena bukan hari libur. 

Petugas haji dan dibantu ketua grup/ rombongan mengarahkan anggota menuju bus yang sudah ditentukan. Seperti biasa, prosedur standar dalam melakukan safar ber-rombongan ketua grup/ rombongan akan meng-absen satu-satu anggota jamaahnya. Kurang satu harus dicari sampai ketemu.

 

Bus Menuju Airport

Tepat jam 13.00 bus pengantar paling depan bergerak, ketua rombongan bersama-sama mengajak anggotanya untuk berdoa bersama. Bismillahi-arrahmanirrohim.

Lalu lintas cukup padat, beberapa angkut nge-tem  di sembarang tempat menunggu penumpang. Suasana pasca banjir masih tampak, aktifitas yang berhenti saat banjir, kembali berjalan pelan-pelan menuju kondisi normal. Kegiatan ekonomi, perdagangan, jual-beli, sekolah, pekerjaan menjadi aktifitas harian dan memenuhi jalan-jalan sempit di daerah kawasan sekitar Pondek Gede- Taman Mini dan sekitarnya. Beda dengan kota Malang, Jakarta menjadi tampak aslinya sebagai kota macet. Memasuki jalan tol Jagorawi jalanan lengang dan lancar.

 

Menjelang exit tol gate bandara, bus berjalan lambat untuk antri bayar tol. Rombongan bus mengarah ke terminal 2 khusus terminal haji. Di depan pintu terminal bus berhenti, penumpang jamaah bersiap-siap turun dengan membawa tas jinjing masing-masing.

Lodging untuk koper besar diurus oleh petugas dari KBIH, setelah melewati pemeriksaan oleh petugas bandara, satu-satu pasport jamaah diperiksa dan dicocokan dengan wajah pemilik pasport. Jika lolos diarahkan menuju pintu kotak untuk deteksi sinar X, dengan melepaskan barang-barang yang terbuat dari logam yang menempel di badan supaya di lepas, misalnya jam tangan, handphone, cincin, gelang dll  dan barang-barang yang dilarang dibawa di cabin pesawat, misalnya cairan yang berlebihan, benda-benda tajam dan lain-lain.

Selanjutnya petugas mengarahkan jamaah menuju counter-counter chek-in yang berderet panjang. Setelah memeriksa pasport calon penumpang, petugas maskapai mencetak boarding pass sebagai nomor  tempat duduk di pesawat.

 

Tahap selanjutnya pemeriksaan imigrasi.   Khusus di untuk bandara untuk  internasional terdapat counter untuk pemeriksaan imigrasi. Ruangan nya bersebelahan dengan ruangan chek-in.

Bergegas calon penumpang menuju ke deretan meja-meja counter imigrasi melakukan pemeriksaan keabsahan dokumentasi imigrasi, visa negara tujuan dan lain-lain.    Petugas imigrasi berseragam coklat tua minta pasport calon penumpang untuk mencocokan data dengan data yang ada pada database di Dirjen Imigrasi Departemen Kehakiman RI. Beberapa jamaah tampak canggung dan sedikit takut menuju counter.

Lolos verifikasi data imigrasi petugas men-stempel pada salah satu lembar pasport  dan menyerahkan kembali kepada pemilik.  Walaupun antri cukup lama dan sedikit melelahkan, tapi kami tetap menjalani dengan gembira.

 

Sebelum masuk ke pesawat, penumpang menunggu sebentar ruang tunggu sampai semua penumpang lolos verifikasi data ke-imigrasian-nya.

Jam 17.15 pesawat Garuda B747-4-700 petugas bandar mengumumkan bahwa pintu masuk pesawat sudah siap dan semua penumpang dipersilahkan boarding/ masuk. Satu-persatu penumpang jamaah antri dengan rapi masuk pesawat. Beberapa petugas maskapai Garuda melakukan pemeriksaan boarding pass dan mencocokan dengan pasport.

Jamaah diarahkan untuk pintu garba rata yang menghubungan bangunan bandara dengan pesawat terbang.

Dua-tiga pramugari Garuda dengan berjilbab warna terang sekali lagi melakukan pemeriksaan boarding pass untuk mengarahkan ke tempat duduk masing-masing penumpang.

Boing Jumbo 747-700  adalah pesawat dengan kapasitas besar/ jumbo, lebih kurang 400 penumpang, dengan dua tingkat dan masing susunan-nya tiga deret memanjang dan masing-masing deret terdapat 8  tempat duduk, dengan komposisi 3-4-3 (windows-middle-windows).

Di dalam pesawat beberapa pramugari dan pramugara berdiri bersiap untuk membantu penumpang untuk mencari tempat duduk dan memasukkan tas jinjing ke bagasi yang ada di atas kursi.

Seorang pramugari berjalan mondar ke depan dan ke belakang menge-cek jumlah penumpang dengan menekan counter yang ada di tangan, sementara yang lain ada yang menawarkan permen dan ada juga mengecek apakah setiap penumpang sudah memasang seat-belt . Sementara ada pesan suara yang mengingat untuk mematikan alat komunikasi. Tak berapa lama pintu pesawat ditutup, menunjukkan semua penumpang sudah berada di pesawat.

 

Mengikuti Standar Operasi Penerbangan TV monitor yang di depan setiap penumpang dan beberapa yang menggantung di atap pesawat menyala dan menayangkan prosedur penggunaan peralatan apabila terjadi keadaan bahaya.  Peragaan secara manual tetap dilakukan oleh para pramugari dengan mengikuti suara audio yang ada di layar monitor.

Peragaan Alat Keselamatan

Tidak berapa lama, terdengar suara captain pesawat dan menyapa kepada penumpang dan menyampaikan informasi tentang penerbangan, Jakarta- Jeddah , dengan kondisi awan cerah dan mengucapkan selamat mengikuti penerbangan. Good a nice flight.

Jam 16.15 pesawat bergerak pelan menuju run-way untuk bersiap-siap take-off, walaupun berbeda dengan waktu yang tercantum pada boarding pass.  Bagi jamaah yang tidak pernah bepergian menggunakan pesawat, ini merupakan pengalaman pertama, sehingga wajar kalau tampak cemas.  Sekali lagi, awak pesawat mengingatkan untuk mengikat seat-belt.

Sampai di ujung run-way, moncong pesawat ke utara, pelan dan pasti captaint pilot menambah power jet, perlahan pesawat bergerak maju. Di kursi beberapa penumpang membuka mushaf dan membaca dengan suara yang lirih.

Sampai batas jarak tertentu dan kecepatan yang cukup untuk lepas landas, moncong pesawat sedikit demi mulai naik, body pesawat sedikit condong ke atas. Pada batas tertentu kecepatan stabil body pesawat  normal. Lampu tanda seal-belt mati, menunjukkan penumpang bisa melepaskan sabuk pengaman.

Dalam waktu tidak berapa lama pramugari-pramugari dengan cekatan dan terlatih segera membagikan sajian-sajian makanan dan minuman. Selama perjalanan hampir 10 (sepuluh) jam  penumpang mendapat jatah makan dua kali.

Sempat terpikir dalam hati seandainya salah satu diantara, captain pilot atau awak pesawat adalah mas Bambang atau dik Ana, merupakan kebanggan yang tersendiri dan pengalaman yang langka. Ibu tampak gembira walau sebenarnya lelah.

 

Jakarta – Jeddah sesuai jadwal ditempuh dalam waktu 10 jam, duduk di kursi pesawat yang sempat merupakan aktifitas yang menjemukan.  Ibu dan beberapa jamaah lain khusuk membaca Al Qur’an yang dibawah dari rumah. Menjelang waktu maghrib, awak memberitahu kan kalau waktu sholat  sudah masuk.  Sesuai saran pak ustadz, sholat untuk sedang safar/ bepergian bisa di jamak atau jamak qasar (sholat Magrib dan Isa di kerjakan berurutan, Maghrib tetap 3 rakaat sedangkat Isak dapat ringkas menjadi 2 rakaat saja).  Untuk wudhu bisa bertayamum .

Selanjutnya ...zzzzzz  ... sampai..

 

Menjelang fajar hari setempat atau bertepatan dengan 08.00 WIB hari Rabu , awak pesawat memberi tahu kalau pesawat akan segera mendapat Bandara King Abdul Aziz Jeddah.

Sepuluh jam waktu tahap awal perjalanan serangkaian ibadah haji si tanah suci dimulai.

 

Pesawat berhenti di apron awak pesawat memberi tahu penumpang untuk melepaskan seat-belt dan bersiap-siap untuk keluar pesawat. 

 

Penumpang diarahkan ke loket-loket doane/ imigrasi yang berderet-deret yang jumlahnya cukup banyak.

Alhamdulillah semua jamaah lolos dari pemeriksaan administrasi di loket imigrasi. Jamaah menuju ruang bagasi. Koper-koper para jamaah sudah di-tangani oleh petugas khusus sampai nanti di hotel maktab di Mekkah. Aneh-nya kami semua nggak ada yang menanyakan.

Dengan membawa tas jinjing masing-masing, jamaah menuju bus yang siap mengantar ke Mekkah. Terlihat ibu agak lelah dan masih ngantuk.

 

8 Perjalanan Mekkah - Mekkah

Alhamdulillah ... urusan imigrasi dan bagasi sudah selesai , rombongan jamaah menuju hall dalam pintu kedatangan bandara, tim panitia penjemputan sudah siap menerima kedatangan para  jamaah.

Petugas mempersilahkan istirahat di tempat-tempat yang luas terbuka dengan fasilitas lengkap deretan kamar mandi dan tempat wudhu, tempat duduk , karpet yang bisa dignakan untuk rebahan atau sholat dan mushola yang lebih besar yang disediakan untuk sholat berjamaah. Bahkan pada hari Jum’at juga digunakan untuk sholat Jum’at. Sarapan pagi dibagikan kepada masing-masing jamaah, walaupun terasa masih terlalu pagi.

Bangunan bandara Jeddah cukup besar dan desainnya cukup indah, menyerupai tenda raksasa dengan warna putih. Bangunan yang dipersiapkan khusus untuk jamaah haji, terutama untuk persiapan transit sebelum ke tanah haram, Mekkah al Mukarommah. Setiap tahun menerima ratusan ribu bahkan jutaan jaamaah dari seluruh mancanegara, baik untuk ibadah haji (yang waktunya terbatas) maupun ibadah umrah (di luar waktu ibadah haji).

 

Selesai sarapan  dan istirahat, jamaah dipersilahkan mandi ditempat yang tersedia dan memakai pakaian ihrom diawali dengan niat ber-ihrom.

Bandara Jeddah sebelum Ke Mekkah

Kamar mandi dan WC cukup banyak dan bisa menampung semua jamaah, tidak perlu antri, dan bersih dengan fasilitas air hangat. Hanya sayangnya untuk WC yang tersedia untuk jongkok, sehingga bagi jamaah manula bisa menjadi kendala tersendiri.



Dalam hati ada pengharapan, mudah-mudahan ibu bisa mandi di kamar mandi umum seperti ini. Seperti diketahui ibu termasuk orang yang peduli dengan kebersihan di kamar mandi, kalau tidak bersih biasanya membatalkan untuk ke kamar mandi.

 

Tidak jelas komando dari mana, para jamaah dipersilahkan untuk berbaris rapi menuju serambi luar bandara. Jamaah lelaki dan perempuan dalam baris tersendiri, untuk selanjutnya dipersilahkan memasuki bus-bus yang siap meluncur ke Mekah.

Entah apa nama busnya karena tertulis dalam bahasa Arab, huruf Arab gundul lagi. Sebelum masuk bus, pasport diserahkan oleh seorang petugas khusus.  Entah bagaimana manajemen pengelolaannya, mengumpulkan sebegitu banyak pasport yang merupakan identitas utama seorang perantau di luar negeri.  Pertanyaan  yang lain, bagaimana kalau keselip salah satu pasport dan lain-lain. Setelah dicerna dalam-dalam, ada benarnya juga. Sebagian besar jamaah adalah lansia, potensi kehilangan nya lebih besar jika di pegang masing-masing jamaah. Sedangkan untuk identitas jamaah, karena musim haji, bisa digunakan gelang identitas dan kartu jamaah.

 

Hari Rabu jam 06.00 tanggal 13 Februari 2002 , dengan di awali doa dan dilanjutkan alunan bacaan talbiyah, Labaik Allohuma labaik. Labaik Allohuma labaik. .., rombongan bus yang membawa jamaah haji Kloter 52 asal DKI Jakarta meningggalkan bandara King Badul Aziz Jeddah menuju Mekkah. Jarak Jeddah – Mekkah ± 98 km. Perjalanan melewati jalan tol yang cukup lebar dan masih sepi.

Di beberapa ruas jalan, sepanjang kiri kanan jalan dipasang pagar pembatas , kira-kira apa ya fungsi pagar tersebut.  Karena di sepanjang jalan tersebut, kondisinya terdiri dari gunung batu, tidak ada bangunan sama sekali, apalagi kehidupan. Pertanyaan terus berlanjut, kalaupun ada kehidupan di area tersebut, bagaimana mereka bisa hidup yang begitu gersang dan tandus. 


Gapura Kota Mekkah

 

Bus melewati gapura Kota Mekkah yang khas, menggambarkan mushaff Al Qur’an yang terbuka menghadap ke langit di topang dengan meja yang menjulang ke atas setinggi ± 6 meter.

Sampai, di Mekah sudah hampir jam 10.00, bus langsung menuju ke maktab (tempat penginapan) di jalan Jawarhal, yang terletak di sbelah barat Masjidil Haram dengan jarak  2 km.

 

Maktab banyak dibangun di banyak titik-titik wilayah di Kota Mekkah untuk menampung jamaah haji reguler. Bentuknya berupa bangunan tower dengan 10-20 lantai. Biasanya diisi satu-dua kloter jamaah.

Jamaah dipersilahkan istirahat di lobby yang tidak luas, petugas memberikan informasi kamar dan menyerahkan kunci kamar kepada ketua grup.Satu kamar terdiri 5-6 jamaah, jamaah putra dan putri dipisahkan.

Dengan menjinjing masing-masing bawaan masing-masing jamaah setiap jmaah memilih kamar yang disiapkan. Bapak sekamar bapak Fajar Panjaitan, mantan Lurah Kalideres, saat itu menjabat Sekda di Kabupaten Kepulauan Seribu. Dan dengan pak Agus, tetangga mas Bambang di Perumahan Citra Garden.

Waktu menjelang sholat dhuhur, bagi yang lapar, makan   siang sudah siap, disiapkan oleh catering dari maktab. Bagi yang mau sholat  bisa dilakukan sendiri-sendiri.

Pemberitahuan dari ketua rombongan bahwa koper- koper besar jamaah bisa diambil di lobby maktab, bisa diambil sendiri-sendiri. Atau kalau ,mau bantuan office boy memberi tip.  

Tidak ada satupun jamaah yang melaporkan kehilangan kopernya.  Kesan yang bagus untuk  menilai bahwa manajemen pengelolaan kedatangan jamaah. Petugasnya memuaskan dan juJur. Berbeda dengan keadaan dengan kondisi di negara kita.