Selasa, 17 Maret 2026

Ikhlas

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata khalaṣa yang berarti bersih, jernih, murni, tidak bercampur dengan sesuatu yang lain. Dalam istilah syariat, ikhlas adalah membersihkan niat dari segala tujuan selain Allah SWT dalam setiap amal ibadah atau ketaatan. Ikhlas berarti menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beramal, bukan karena ingin dilihat manusia (riya'), ingin dipuji (sum'ah), atau mengharapkan imbalan duniawi.

Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata, "Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya yang tidak diketahui oleh malaikat untuk ditulis, tidak diketahui oleh setan untuk dirusak, dan tidak diketahui oleh hawa nafsu untuk diperdaya."


Dalil-Dalil tentang Ikhlas

1. Dalil dari Al-Qur'an

a. Perintah untuk Beribadah dengan Ikhlas

وَمَ آ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَوَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ 

"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (QS. Al-Bayyinah: 5) 

 

b. Ikhlas adalah Kunci Diterimanya Amal

 فَادْعُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

"Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya."
(QS. Ghafir: 14)

c. Ancaman bagi yang Tidak Ikhlas

 وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا 

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya." (QS. An-Nisa: 125)

d. Ikhlas dalam Berinfak

 وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

"Dan mereka tidak memberi nafkah (di jalan Allah) melainkan dengan mengharapkan keridhaan Allah..."  (QS. Al-Baqarah: 272)

2. Dalil dari Hadits

a. Hadits tentang Niat (Pembuka Riyadhus Shalihin)
Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diperolehnya atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang diniatkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Golongan yang Pertama Dihukum di Neraka
Rasulullah SAW bersabda tentang tiga orang yang akan dimasukkan ke neraka pada hari kiamat: seorang yang mati syahid, seorang qari' (ahli baca Al-Qur'an), dan seorang dermawan. Mereka diazab karena amal mereka tidak ikhlas karena Allah, melainkan ingin disebut pemberani, alim, dan dermawan. (HR. Muslim)

c. Ikhlas Menyelamatkan dari Fitnah
Dalam hadits tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari akhir, disebutkan "seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya." Ini menggambarkan tingginya derajat ikhlas. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaidah-Kaidah tentang Ikhlas

Para ulama merumuskan beberapa kaidah terkait ikhlas:

  1. Ikhlas adalah Ruh Amal: Sebagaimana jasad tanpa ruh akan mati, amal tanpa ikhlas adalah sia-sia. Amal yang lahiriahnya baik namun tanpa ikhlas bagaikan debu yang berterbangan.

  2. Amal Tergantung Niatnya: Kualitas suatu amal di sisi Allah sangat bergantung pada niat pelakunya. Bisa jadi amal yang kecil menjadi besar pahalanya karena keikhlasannya, dan sebaliknya amal yang besar bisa menjadi sia-sia karena niat yang salah.

  3. Ikhlas Bukan Berarti Tanpa Usaha: Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa berusaha, melainkan melakukan usaha maksimal namun tetap menggantungkan hasil hanya kepada Allah.

  4. Hati-hati dengan Riya': Riya' adalah lawan dari ikhlas. Riya' sekecil apapun dapat merusak amal. Ulama mengatakan, "Riya' adalah syirik kecil."


Manfaat Ikhlas

  1. Amal Diterima oleh Allah: Syarat utama diterimanya amal adalah ikhlas dan ittiba' (sesuai sunnah). Tanpa ikhlas, amal hanya akan menjadi gerakan fisik tanpa nilai.

  2. Ketenangan Hati: Orang yang ikhlas tidak tergantung pada pujian atau celaan manusia. Hatinya tenang karena hanya mengharap ridha Allah.

  3. Pertolongan Allah: Allah akan menolong hamba-Nya yang ikhlas dalam menghadapi kesulitan, sebagaimana dalam perang Badar dan berbagai peristiwa lainnya.

  4. Pahala yang Berlipat: Allah menjanjikan pahala yang besar dan berlipat ganda bagi mereka yang ikhlas. Bahkan amalan kecil bisa menjadi besar nilainya.

  5. Terhindar dari Godaan Setan: Iblis telah bersumpah akan menyesatkan manusia, kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas (QS. Shad: 82-83). Ikhlas menjadi tameng yang ampuh dari bisikan setan.


Kiat-Kiat Mencapai Ikhlas

Mencapai ikhlas adalah perjalanan seumur hidup. Berikut beberapa kiat yang bisa dilakukan:

  1. Memperkuat Ilmu dan Ma'rifatullah: Semakin mengenal Allah, mengetahui nama dan sifat-Nya, serta hak-hak-Nya, maka akan semakin besar rasa takut dan harap hanya kepada-Nya, sehingga ikhlas akan lebih mudah tumbuh.

  2. Selalu Memperbaharui Niat Sebelum Beramal: Biasakan untuk bertanya pada diri sendiri sebelum beramal, "Untuk siapa aku melakukan ini?" Latih diri agar setiap gerakan, baik ibadah maupun aktivitas duniawi, diniatkan untuk ibadah dan mencari ridha Allah.

  3. Menyembunyikan Amal Kebaikan: Sebagaimana sedekah lebih utama jika tidak diketahui orang lain, begitu pula amal-amal lain. Usahakan untuk tidak menceritakan kebaikan diri sendiri jika tidak ada kebutuhan syar'i.

  4. Bergaul dengan Orang-Orang Shalih: Lingkungan yang baik akan saling mengingatkan tentang pentingnya ikhlas dan menjauhkan dari riya'. Teman yang shalih akan menasihati jika mulai terlihat riya'.
  5. Memperbanyak Doa Mohon Ikhlas: Ini adalah senjata utama seorang muslim. Di antaranya doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an:

    "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (QS. Ali Imran: 8)

    Rasulullah SAW juga sering berdoa: "Allahumma inni as'aluka al-huda wat-tuqa wal-'afafa wal-ghina" (Ya Allah, aku memohon petunjuk, ketakwaan, keterjagaan diri (dari dosa), dan kekayaan hati/kecukupan).

  6. Merenungkan Bahaya Riya' dan Pujian Manusia: Ingatlah bahwa pujian manusia tidak akan menambah sedikitpun timbangan amal di akhirat, justru bisa melenyapkannya. Riya' adalah pintu menuju kebinasaan.

  7. Memperbanyak Istighfar: Memohon ampun atas kekurangan dalam keikhlasan. Setiap selesai beramal, seorang mukmin khawatir amalnya tidak diterima karena kurang ikhlas, sehingga ia beristighfar.

Senin, 16 Maret 2026

Istiqomah Pasca Ramadhan

Setelah bulan Ramadhan yang penuh berkah berlalu, tantangan sesungguhnya bagi seorang muslim adalah menjaga konsistensi (istiqomah) dalam beribadah. Istiqomah berarti teguh pendirian dalam jalan ketaatan kepada Allah Swt. Berikut ini adalah kiat-kiat untuk menjaga istiqomah pasca Ramadhan beserta dalil-dalilnya dari Al-Qur'an dan Hadis.

Landasan Istiqomah

Sebelum membahas kiatnya, penting untuk memahami kedudukan istiqomah dalam Islam. Allah Swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka tetap istiqomah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'" (QS. Fushshilat: 30) 

Rasulullah Saw juga bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim) 

Kiat-Kiat Menjaga Istiqomah

Berikut adalah 10 kiat praktis yang dapat dilakukan untuk menjaga istiqomah pasca Ramadhan, disertai dalil pendukungnya:

1. Memperkuat Niat dan Ikhas Karena Allah Swt

Segala sesuatu bergantung pada niat. Keinginan untuk istiqomah harus murni karena Allah, bukan karena kebiasaan di bulan Ramadhan atau sekadar ikut-ikutan. Niat yang kuat akan menjadi bahan bakar saat rasa malas datang .

Dalil: Allah Swt berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." (QS. Al-Bayyinah: 5) 

2. Memperbanyak Doa Memohon Keistiqomahan

Istiqomah adalah hidayah dari Allah. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon keteguhan hati kepada-Nya, sebagaimana kita baca minimal 17 kali sehari dalam surat Al-Fatihah.

Dalil: Doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi, hasan) 

Doa lainnya dalam Al-Qur'an:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami." (QS. Ali Imran: 8) 

3. Melanjutkan Ibadah Wajib (Shalat Berjamaah)

Ramadhan telah melatih kita untuk disiplin shalat tepat waktu dan berjamaah. Kebiasaan emas ini harus dilanjutkan, karena shalat adalah tiang agama dan pondasi utama keistiqomahan .

Dalil: Perintah untuk shalat berjamaah:

وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

"...dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah: 43) 

4. Melakukan Amalan Sunnah Secara Bertahap dan Konsisten

Jangan memaksakan diri dengan amalan sunnah sebanyak saat Ramadhan jika dirasa berat. Lakukan secara bertahap, misalnya membaca Al-Qur'an satu halaman sehari atau puasa Senin-Kamis. Konsistensi lebih utama daripada kuantitas .

Dalil: Hadits yang diriwayatkan dari 'Aisyah Ra, Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

"Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit." (HR. Al-Bukhari No. 6099 dan Muslim No. 783) 

5. Melanjutkan Puasa Sunnah, Khususnya Puasa Syawal

Salah satu cara menjaga semangat ibadah adalah dengan melanjutkan puasa sunnah. Puasa enam hari di bulan Syawal adalah kelanjutan langsung dari Ramadhan yang pahalanya seperti puasa setahun penuh. Selain itu, ada puasa Senin-Kamis atau puasa Daud .

Dalil: Keutamaan puasa Syawal disebutkan dalam hadits:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh." (HR. Muslim) 

6. Membaca Al-Qur'an Setiap Hari

Jangan biarkan Al-Qur'an hanya menjadi hiasan di rumah atau hanya dibaca di bulan Ramadhan. Tetapkan target harian yang realistis, meskipun hanya beberapa ayat, agar hati tetap terpaut dengan kalamullah .

Dalil: Al-Qur'an akan menjadi syafaat di hari kiamat:

اِقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

"Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya." (HR. Muslim) 

7. Memperbanyak Dzikir

Dzikir adalah amalan ringan namun sangat besar pahalanya. Basahi lisan dengan dzikir pagi dan petang, dzikir setelah shalat, dan dzikir di waktu luang. Dzikir akan menenangkan hati dan menjauhkan kita dari godaan setan .

Dalil: Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) 

8. Memilih Lingkungan dan Teman yang Shalih

Lingkungan sangat memengaruhi semangat beribadah. Carilah teman-teman yang bisa saling mengingatkan dan memotivasi dalam kebaikan. Bergabunglah dengan komunitas atau majelis ilmu yang dapat menjaga semangat kita tetap menyala .

Dalil: Nabi Muhammad Saw mengibaratkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

"Sesungguhnya perumpamaan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api tukang besi..." (HR. Bukhari dan Muslim) 

9. Melakukan Muhasabah (Evaluasi Diri)

Luangkan waktu sejenak setiap hari, misalnya sebelum tidur, untuk mengevaluasi ibadah yang telah dilakukan. Apa yang kurang bisa diperbaiki esok hari. Muhasabah membuat kita sadar akan kekurangan dan terus termotivasi untuk menjadi lebih baik .

Dalil: Allah Swt memerintahkan kita untuk introspeksi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)..." (QS. Al-Hasyr: 18) 

10. Bersabar dan Bersemangat dalam Ketaatan

Menjaga istiqomah pasti ada hambatannya, seperti rasa malas, lelah, atau godaan dunia. Kuncinya adalah sabar. Yakinlah bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Anggap ibadah sebagai kebutuhan, bukan beban .

Dalil: Tentang keutamaan sabar, Rasulullah Saw bersabda:

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

"Dan tidaklah seseorang dianugerahi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Bukhari) 

Dengan menerapkan kiat-kiat di atas secara perlahan dan konsisten, semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqomah dan meraih predikat takwa yang hakiki. Wallahu a'lam bish-shawab.

Mengatasi Lupa dan Malas dalam Beribadah | Ustadz Faishal bin Imam Zuhri | Kajian Subuh Online #291 | 23 Ramadhan 1447 - 12 Maret 2026

Lupa adalah disebabkan karena faktor pikiran sehingga lepas dari ingatan atau tidak sadar akan keadaan sekitar dan lalai terhadap kewajiban karena memori menurun.


Malas sisebabkan faktor fisik & hati, lemah semangat beribadah (futur) dan segan beramal, walau ada kesempatan dan kemampuan.

Dalam satu hadist yang diriwiyatkan oleh at Tirmidzi : Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah (termasuk lupa & futur) & sebaik2 nya adalah yg mau bertaubat & memperbaiki diri.  Lupa yang disertai dengan rasa malas, merupakan yang biasa dilakukan oleh setiap kita semua. Kenapa ? Bisa jadi karena faktor usia, Tetapi ini adalah dampak dari ketidakpatuhan dalam mentaati syariat Allah, yaitu selalu mengingat Allah.

1.     Doa dan Ayat Kunci untuk Mengingat Allah

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada sahabat Mu'az bin Jabal, "Ya Allah, tolonglah aku, bantulah aku agar senang berpikir kepada-Mu, agar tidak lupa kepada-Mu, agar bisa terus bersyukur kepada-Mu, dan agar bisa beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu"

Doa ini menekankan kebutuhan manusia akan pertolongan Allah untuk mengatasi sifat lupa dan tidak bersyukur, serta pentingnya belajar (ilmu) untuk beribadah dengan baik.

 Pada surat Al-Baqarah ayat 152 :

 فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ

Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku)

Ayat ini merupakan pengingat singkat namun kuat untuk senantiasa mengingat dan bersyukur kepada Allah. Dapat diamalkan dalam sholat setelah membaca Al-Fatihah.

2.      Penyebab dan Bentuk Lupa serta Malas

a.    Faktor Duniawi, kecenderungan untuk lebih mengingat urusan duniawi (misalnya, saat sedang masak dan gas habis, yang diingat adalah  toko gas,  saat bahan bahan kendaraan menipis  yang diingat adalah SPBU terdekat. Dan saterusnya.

b.    Pengaruh Seta, berperan membuat manusia lupa kepada Allah, seperti yang disebutkan dalam Surat Al-Mujadalah [58]:19,

 

اِسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطٰنُ فَاَنْسٰىهُمْ ذِكْرَ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ الشَّيْطٰنِۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ الشَّيْطٰنِ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikannya lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah sesungguhnya golongan setan itulah orang-orang yang rugi

 c.    Melupakan untuk bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW saat nama beliau disebut, padahal Allah dan malaikat-Nya senantiasa bershalawat. Ini adalah kerugian besar.

  اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya

3.    Cara Mengatasi Lupa dan Malas.

a.    Prioritaskan Allah dalam setiap urusan, misalnya doa minta kepada Allah walaupun hal yang remeh-remeh , sebagai mana Hadist dari Abu Ya’la  : hendahlah kalian mintalah seluruh, walaupun hanya sandal putus. Sampai dengan hal-hal yangyang besa  selalu ingat dan berdoa kepada Allah terlebih dahulu.

b.    Perbanyak Zikir dan Doa, sebagaimana  :

  •  HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal harami wal bukhli, wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.Artinya: “Ya Artinya : Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.

  •   Surat Al Baqarah [2]: 286 :

 رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”

§  Dzikir mudah diucapkan dan sering muncul dalam berbagai situasi

 لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّه

Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah

 


c.    Istiqamah dalam Beramal

Melakukan amal sedikit demi sedikit namun konsisten lebih dicintai Allah daripada amal banyak yang hanya di awal saja (HR Bukari Muslim). 

Menetapkan target ibadah yang realistis dan ringan, lalu menjaganya.

d.    Memahami Hakikat Kehidupan dan Kematian.

Kelak di akherat akan ditanyakan tentang amalan-amalan dunia yang telakan dilakukan, yaitu 

mengenai umur, ilmu, harta, dan fisik (HR At Tairmidzi)

e.    Manfaatkan  lima hal sebelum lima hal datang, yaitu masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sibuk, hidup sebelum mati (HR Al Hakim).

f .   Memanfaatkan Al-Qur'an sebagai akitiftas rutin, membaca, mentadabburi, dan mempelajari Al Qur'andan menghambat lupa.  Membaca terjemahan Al-Qur'an agar memahami maknanya, karena setan berusaha agar manusia tidak mentadabburi Al-Qur'an