|
3 Persiapan
Haji
Bulan
Mei tahun 2001, tak dinyana pada saat inilah menjadi titik awal akan terjadi
suatu perubahan yang cukup berarti bagi kehidupan kami. Dalam suasana
kesunyian sebuah rumah sederhana di salah satu kawasan sejuk di kota Malang
yang hanya berhuni sepasang yangkung dan oma, karena kelima anak dan delapan
cucu sudah menjalani kehidupan sendiri-sendiri di kota lain, Ana,
satu-satunya anak perempuan kami dan biasa dipanggil jidhok (siji
wedhok = satu perempuan), bertanya sekaligus menawarkan sesuatu hal: "
Apakah Ibu, Bapak (bersama Pak Nyoto Surabaya, besan bapak) mau pergi haji
tahun 2002 nanti ? ". Dalam ketermanguan atas pertanyaan tersebut,
bapak/ ibu langsung manjawab : ''Tentu saja bersedia".
 | | Tawaran Berhaji |
Kegundahan
dan sejuta pertanyaan tersimpan dalam hati, apakah berhaji itu ?. Sholat
sebagai bagian Rukun Islam saja jarang-jarang dilakukan, membaca surat-surat
dalam bacaan sholat nggak hafal dan sering salah, apalagi mengerti ... koq
mau berhaji ?. Sholat saja masih susah sujudnya koq mau berhaji ?. Bagaimana
dengan bacaan-bacaan selama prosesi ibadah haji nantinya ?. Dan masih banyak
pertanyaan-pertanyaan lain yang tergiang-ngiang dalam pikiran yang
kadang-kadang susah diterangkan dalam kata-kata.
Nantilah
dipikirkan yang penting niat.
Dalam
beberapa waktu kemudian disiapkan semua perlengkapan administrasi untuk
persyaratan haji, foto, KTP dan perlengkapan lainnya. Belajar membaca
surat-surat yang diperlukan untuk keperluan sholat dimulai dengan pengenalan
yang paling dasar. Alif, ba, ta, tsa ...
dan seterusnya merupakan huruf-huruf Arab yang mulai dikenalkan, untuk
lebih lanjut digunakan membaca surat-surat dalam Al Qur'an. Sholat lima waktu
juga mulai dikerjakan secara rutin. Walaupun kadang-kadang lupa atau
melupakan diri, berkat peringatan dan himbuan dari oma & anak-anak
tercinta. Kalau oma tekun dan rutin belajar
tahsin dan terjemahan Al Qur’an dan Hadist dalam suatu keompok kecil di rumah.
Sholat lima waktu dengan kondsi yang seadanya tetap dilakukan, dalam arti
bacaan dalam sholat masih belum bisa apalagi lancar.
Bulan
Agustus, keluarga bapak Sutarso, teman sekaligus sahabat bapak, mengundang beliau
berdua untuk menghadiri pesta pernikahan emas yang akan diselenggarakan di
pantal Anyer, Propinsi Banten, Jawa Barat.
Sebelum
ke Anyer, beliau berdua berdua singgah dulu beberapa hari untuk mengunjungi
anak cucu yang berdomisili di Jabodetabek. Kegemberiaan yang luar biasa anak
& cucu bisa dikunjungi eyang dan
oma, apalagi, alhamdulillah eyang
kakung bisa sholat. Kalau duduk iftirasy masih canggung, belum bisa santai,
apalagi duduk tawaruk, tidak bisa. Kalau bangun juga teras berat, selain
karena usia juga belum terbiasa. Kadang-kadang kami mengajak sholat
berjamaah.
 | | Pengajian di Rumah Jl. Mayang |
Pun
demikian pula, sekembali dari Jakarta,
bapak bergabung dengan pengajian
rutin dari ibu-ibu yang diadakan di rumah dengan ustadz Zamhuri, sebagai
pembimbing dan guru mengaji mereka.
Sholat
fardu secara berjamaah kadang-kandang bergabung dengan jamaah masjid Al Jihad
yang letaknya di jalan Bondoyudo, persis di belakang (sebelah timur) kediaman
beliau, jl Mayang 10 Malang.
Walaupun
agak canggung, karena selama puluhan tahun tinggal di Sanansari, nama kampung
kami, baru kali ini sholat berjamaah dengan tetangga – tetangga se RW,
sehingga tidak heran jika seandaianya dalam pikiran terbesit pikiran, “ Alhamdulilah
bapak RW bisa sholat bersama warganya”. Kebetulan bapak dipercaya sebagai
ketua RW 05 Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Setelah
sekian sholat berjamaah di masjid, intensitas dikurangi dengan alasan tidak
bisa memperlancar bacaan dalam sholat, karena sebagai makmum hanya mendengar
dan harus mengikuti gerakan dan ucapan imam saja. Kepinginnya banyak praktek
dan itu dilakukan dengan sholat sendiri.
4 Informasi Haji
|
|
Bapak-ibu
berdomisili di kota Malang, beliau menikmati masa pensiun berdua saja seperti
layaknya pengantin, karena kelima anak-anaknya hidup dengan keluarga masing
di Jabodatek. Yang sulung, Hari dengan istri, Yani, dikaruniai sepasang anak,
Rini & Ryan, berdomisili di Depok. Anak kedua, Edi dan istri, Linda,
dikarunia sepasang anak, Ludy dan Fara, berdomisili di Kalimantan, tepatnya
di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Sedangkan yang nomor 3, Endri dengan
istri, Ratih, dan sepasang anak, Yoma dan Yusi, berdomisili di Jakarta,
tepatnya di Cipulir Permai, Jakarta Selatan. Yang nomor 4, Ana dan suaminya,
Bambang, dengan sepasang anak, Bala dan Bani, berdomisili di Jakarta Barat,
tepatnya di daerah Kalideres. Dan, yang terakhir, Henri dan istrinya, Berti,
sedang mengandung anak pertama, berdomisili di kota Tangerang, tepatnya
perumahan Pinang Griya, Cileduk.
Waktu-waktu
sebelum keberangkatan haji, kegiatan rutin dan keseharian di Malang dalam
rumah tangga di laksanakan seperti biasa dan normal, mengantar oma belanja di
pasar Klojen atau ke pasar Bunul, arisan. Atau menyalurkan hobi main tenis
seminggu dua kali di lapangan tenis PJKA Embong Brantas.
Walaupun
ada yu’ Tum, pembantu yang tinggalnya di daerah Klampisan,
kadang-kadang Bapak juga membantu ibu membersihkan rumah. Kegiatan rutin yang
lain, mengunjungi Yang Uti, bulik-nya
bapak, yang rumahnya tidak jauh, di jalan
Mayang 17. Untuk mengajak teman
dengan teman se profesi, guru SMA 1 Malang, saling kunjung mengunjungi pak
Pardjono yang sampai saat ini masih aktif mengajar dan domisilinya juga tidak
jauh dari rumah.
Untuk perawatan kendaraan untuk
mobilitas, kadang-kadang ke bengkel untuk servis maintenance mobil Peogeot
323 atau Vespa
Peristiwa tahunan yang selalu ditunggu dalam setiap keluarga besar adalah lebaran, anak/mantu/ cucu bertemu
dalam momen yang bermakna, saling bersilaturahmi dan memaafkan. Tahun ini, 2001,
tampaknya tidak seperti biasanya, agak sepi dari tahun-tahun sebelumnya. Dari
kelima anak hanya penulis, Endri, dan keluarga yang sudah rnernastikan akan
mudik. Sedang dik Ana dan keluarga belum bisa memastikan untuk mudik ke
Malang. Keluarga mas Hari tidak bisa mudik, karena juga sedang
persiapan untuk berangkat haji juga. Keluarga Edi juga tidak cuti karena
jarak sehingga membutuhkan waktu yang cukup (dan juga biaya). Sedangkan si
bungsu, keluarga Henri sebagai seorang suami sekaligus pengantin muda harus
siaga penuh karena istrinya, Berti, sedang hamil menunggu kelahiran anak
pertamanya.
Sebenarnya bapak menyarankan keluarga tidak usah mudik, toh nanti awal
tahun depan akan ketemu juga, sebelum kerangkatan haji. Catatan embarkasi
haji ikut jamaah dari Jakarta.
Tetapi karena sudah acara rutin & tradisi tahunan, sekaligus mudik ke
keluarga besar Bapak Hadjid Mutohar, besan bapak, yang tinggal di Kotagede,
Yogyakarta. Bahkan belakangan keluarga Ana-Bambang-pun juga rnernutuskan
untuk mudik juga ke Malang dan sekaligus beranjangsana Bapak Sunyoto(mertuanya) dan adik-adik
iparnya yang semuanya berdomisili di Surabaya.
 | | Pengumuman Nama Jamaah Haji |
Pada bulan Desember 2001, dik Ana
mengabarkan bahwa nama Bapak Sutopo bin Sargiman dan ibu Sri Rumiyatin binti Martosuwarno
sudah tercatat sebagai calon jamaah haji Embarkasi DKI Jakarta melalui Yayasan Miftahul Jannah, Kelompok
Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) di Jakarta Barat. Dik Ana merupakan salah satu
jamaah pengajian di yayasan ini.
Untuk itu Bapak dan Ibu harus menghadiri pertemuan dalam rangka manasik
haji, persiapan yang biasa dilakukan setiap calon jamaah haji sebelum
berangkat ke tanah suci.
Sebenarnya Kantor Departeman Agama setempat juga mengadakan kegiatan
serupa, tetapi biasanya KBIH menyelenggarakan sendiri secara khusus bagi
calaon jamaah haji yang tergabung dalam KBIH tersebut.
 | | Pertemuan di KBIH Miftahul Jannah |
Karena pemberitahuan cukup mendadak, bapak yang akan berangkat sendiri ke
Jakarta, tanpa didampingi ibu. Kendala yang dihadapi bagaiman cara untuk
mendapatkan tiket ke Jakarta, karena akhir tahun banyak tranportasi umum di
booking jauh-jauh hari sebelumnya. Termasuk Bus Safari Dharma Raya, langganan
bapak-ibu kalau ke Jakarta.
Tidak direncanakan dan tidak di duga, kalau Allah berkehendak, apapun
bisa terjadi. Mas Tutuk, temannya Mas Hari saat bekerja di PT Indra Karya,
akan ke Jakarta menggunakan mobil sendiri. Mas Tutuk berdomisili di jalan
Bango, tidak jauh dari kediaman Bapak, sehingga sudah akrab dan sering
bertemu dan berbincang-bincang bersama.
Rencanya Mas Tutuk bersama temanya, berdua menggunakan mobil Taft dan
masih tempat yang kosong, Bapak memutuskan untuk nunut dan bergabung dengan
rombongan kecil itu. Alhamdulillah, dengan senang hati mempersilahkan.
Pagi hari setelah subuh, rombongan bertiga berangkat lewat jalur utara,
Jakarta – Solo – Semarang – Cirebon Jakarta. Teman mas Tutuk hanya sampai di
Solo, setelahnya perjalangn hanya berdua saja.
Singkat cerita mereka tiba di Jakarta hari sudah cukup malam. Bapak minta
tolong mas Hari untuk menjemput di tempat tinggal mas Tutuk di daerah Tebet.
Keesok harinya, kami kaget ketika ditelpon kalau bapak sampai di Jakarta,
karena memang tidak rencana.
Bahkan saat bertemu lebaran di Malang juga tidak ada rencana dalam waktu
dekat untuk ke Jakarta.
Pertemuan dengan jamaah sesama KBIH Yayasan Miftahul Jannah akan diadakan
pada Hari Ahad tanggal 30 Desember 2001 jam 14.00 wib di jalan Peta
Kalideres, Jakarta Barat.
Pertemuan seperti sebenarnya sudah dilaksanakan bebrapa kali, tetapi
Bapak baru mengikuti karena faktor jarak domisili yang tidak mungkin bisa
mengikuti terus menerus.
Adapun tujuan pertemuan untuk
saling mengenal satu sama lain karena kami akan menjalani hidup bersama dalam
waktu yang cukup lama, lebih sekiran selama 40 hari (program haji regular).
Dalam pertemuan sudah ditetapkan ketua regu kami yaitu pak Legimin, dilihat
dari namanya mungkin berasal dari Jawa Tengah.
Untuk membantu semua informasi yang diperoleh dari Yayasan, bapak dibantu
dengan Pak Erwan Sutrina, teman dekat mas Bambang, suami dik Ana, mereka bertetangga satu komplek di perumahan
Citra Garden I, Kalideres, jakarta Barat.
Pada hari ini pada pagi harinya, mas Hari dan mengadakan halal bil halal
keluarga besar dari pihak bapak (mbah Gundih) di rumahnya sekaligus ratiban
haji. Mas Hari dan istri, mbak Yani, menunaikan haji pada musim haji yang
sama tetapi berbeda program dan embarkasinya.
Sengaja yang diundang hanya keluarga dari pihak Bapak saja, karena
keluarga dari Ibu (mbah Gombong) sudah diadakan di rumah Dik Tuty Setiadi,
jl. Kenari Larangan, Ciledug.
Banyak yang hadir yang pertemua tersebut, antara mbah Soekarno (Pondok Gede,
Bekasi) dan keluarga, Bu Lik Samsi (Cipinang) dan keluarga, Oom Widagdo
(Bekasi) dan istri, keluarga almh bude Kastari (Purwodadi) yang berdomisili
di Jakarta.
Bapak diminta memberi sambutan sekaligus doa untuk keberangkatan haji.
Sayang pertemuan tidak sempat diikuti sampai selesai, setelah sholat
dhuhur Bapak harus segera meninggalkan
acara, karena harus menghadiri pertemuan dengan jamaah haji dari KBIH Yayasan
Miftahul Jannah. Dengan diantar diantar pak Parno, sopirnya mas Bambang.
|