Stagnasi
Pasca Kebaikan
Salah satu tantangan terbesar setelah menjalankan ibadah Ramadan adalah kecenderungan manusia untuk merasa sudah cukup baik. Ketika seseorang telah berbuat baik dan merasa "pundi-pundi amalnya" sudah banyak, ia bisa menjadi stagnan. Ibarat seorang pendaki yang merasa nyaman di tempat yang bagus dan tidak melanjutkan pendakian ke puncak yang lebih tinggi, banyak orang berhenti meningkatkan diri setelah Ramadan. Padahal, Allah SWT telah menciptakan sebuah "ekosistem" dan "rekayasa" agar hamba-Nya terus menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kebaikan pada diri hamba adalah kehendak Allah, sementara keburukan adalah pilihan hamba itu sendiri, dibantu oleh godaan setan.
Siklus Keagamaan sebagai Sarana Peningkatan Diri
Pembicara
menguraikan siklus bulan Hijriyah sebagai sebuah sistem yang dirancang untuk
pembentukan karakter:
1. Bulan
Syakban: Diangkatnya catatan amal hamba selama setahun.
2. Bulan
Ramadan: Diberikan bekal dan penyegaran melalui "syahru siam" (bulan
menahan diri). Ini adalah fase tahalli (menghiasi diri) dan tazkiyatun nafas/pembersihan
jiwa (Imam Ghozali) dari hal-hal yang tidak disukai Allah. Melalui puasa, kita
belajar membedakan baik dan buruk, menyadari konsekuensi pilihan moral,
bertaubat, melakukan evaluasi diri (muhasabah), dan memperkuat diri dari
godaan. Puasa bukan sekadar lapar dan haus, melainkan media pembersihan diri
dari "kerak dosa". Ramadan juga merupakan bulan syahru tarbiyah
(bulan pendidikan) untuk menjadi pribadi yang bertakwa dan syahru Qur'an untuk
mendapatkan inspirasi dan ketenangan.
Tujuan Puasa, tujuan
puasa dapat dikategorikan menjadi dua:
§ Tujuan
Personal, yaitu :
;
Menjadi Pribadi yang Bertakwa (La'allakum
tattaqun): Digambarkan seperti pohon yang memiliki akar (iman kuat),
batang/dahan/ranting (syariat, ibadah), serta bunga/buah (amal saleh, akhlak
mulia). Keimanan yang kokoh adalah fondasi yang tak terlihat namun menentukan
kekuatan hidup.
;
Menjadi Pribadi yang Bersyukur (La'allakum
tasykurun): Menghargai, menghormati, dan memanfaatkan segala pemberian
Allah (kesehatan, pikiran, rezeki, jabatan). Orang yang bersyukur adalah orang
yang progresif, selalu menjadi lebih baik, dan tidak suka mengeluh. Syukur
adalah kunci kemajuan; tanpa syukur, seseorang cenderung stagnan dan terjerumus
dalam kehancuran. Orang bersyukur diberi hikmah, yang melampaui sekadar ilmu.
§ Tujuan
Kolektif, yaitu :
;
Memberikan Petunjuk (Liyarsudun):
Orang yang tercerahkan memiliki tanggung jawab sosial untuk membimbing
keluarga, bawahan, dan kerabat agar tidak tersesat. Kekuasaan dan ketakwaan
harus disertai tanggung jawab sosial.
;
Meningkatkan Ketakwaan Orang Lain (Liyatakun):
Ketakwaan diri akan bertambah ketika kita mengajak orang lain untuk bertakwa.
3. Bulan
Syawal: Momentum Berkelanjutan dan Peningkatan
Bulan
Syawal memiliki peran krusial sebagai:
§ Sahrul
Istimror (Bulan Keberlanjutan): Melanjutkan praktik-praktik baik (best
practices) dari Ramadan seperti puasa sunnah, tadarus, sedekah, kesabaran,
dan kelembutan. Penting untuk tidak kembali ke kebiasaan lama atau merasa cukup
setelah berbuat baik.
§ Sahrul
Istiqomah (Bulan Keteguhan): Mengabadikan dan melembagakan kebiasaan baik
menjadi kepribadian yang melekat. Jika sehari tidak mengaji terasa ada yang
kurang, itulah istiqomah.
§ Sahrul
Ibtidak Bilkhair (Bulan Memulai Kebaikan Baru): Memulai hal-hal baik, tradisi
baru, ide-ide cerdas, atau program-program baru. Banyak pesantren memulai tahun
ajaran baru di bulan Syawal karena bulan ini adalah momentum untuk inovasi dan
peningkatan kualitas, baik dalam usaha, kepemimpinan, maupun metode mengajar.
§ Sahrul
Irtifa' (Bulan Peningkatan): Peningkatan kualitas spiritualitas, akhlak,
silaturahmi, kinerja, dan ketaatan. Peningkatan ini harus terukur, baik secara tangible
(misalnya peningkatan infak) maupun intangible, misalnya peningkatan
kesabaran, kedekatan dengan Allah).
Kunci
Peningkatan:
Ketaatan, Ampunan, dan Kebaikan Berkelanjutan
Surat
Ali Imran ayat 132-136 memberikan panduan kunci untuk peningkatan diri:
a. Ketaatan
kepada Allah dan Rasul-Nya ( Wa atiullaha warrosula): Meningkatkan
ketakwaan adalah kunci untuk mendapatkan rahmat, perlindungan, dan kebahagiaan.
Ikhtiar (ketaatan) tidak mengkhianati hasil (rahmat).
b. Bersegera
Menuju Ampunan Tuhan (Wa sari'u ila magfiratin mirrabbikum): Allah Maha
Responsif. Segera memohon ampunan ketika berbuat salah. Orang baik bukanlah
yang tidak pernah salah, tetapi yang segera bertaubat. Istighfar adalah wasilah
kedekatan dengan Allah.
c. Menuju
Surga yang Luas (Wa jannatin 'ardhuha): Surga disediakan bagi
orang-orang bertakwa yang senantiasa berinfak, baik dalam kondisi lapang maupun
sempit.
d. Menahan
Amarah dan Memaafkan (Wal'afina 'anan-nas): Mengelola konflik dan
memaafkan orang lain tanpa menunggu permintaan maaf adalah tanda kemuliaan dan
kebaikan yang memancar dari diri sendiri (from in out).
e. Allah
Mencintai Orang yang Berbuat Kebajikan (Wa Allahu yuhibbul muhsinin):
Allah mencintai orang yang istiqomah dalam kebaikan.
f. Segera
Bertaubat Setelah Berbuat Buruk (Waladziina idzaa fa'alu faahisyatan aw
dholamuu anfusahum): Ketika berbuat salah atau zalim, segera ingat Allah,
memohon ampunan, dan tidak meneruskan perbuatan buruk tersebut. Ampunan Allah
adalah anugerah terbesar.
Kesimpulan

