Minggu, 19 April 2026

Bapak Munggah Kaji #3

9 Mekkah

Sore hari direncanakan untuk melaksanakan umrah thawaf  mengelilingi Ka'bah dan serangkaian ibadah-ibadah yang lain.  Ini merupakan moment yang luar biasa dan yang ditungu-tunggu semua jamaah.

Dengan menggunakan pakaian ihrom warna putih bersih, selembar kain yang tidak berjahit, kami berjalan bersama-sama menuju Masjidil Haram yang berjarak 1 Km.

Labaik Allhuma labaik, labaika la syarikala labaik, innal hamda wani'mata lasari kala......

Megah dan indah bangunan masjid, banyak pintu masuk yang disediakan, konon ada sebanyak 99 buah pintu dan masing-masing mempunyai nama sendiri-sendiri. Di dalam bangunan masjid berdiri megah Ka'bah. Bangunan berbentuk kotak kubus yang dilapisi kain berwarna hitam dan dilengkapai dengan berbagai tulisan ayat2-ayat yang ada di Al Qur’an. 


Thawaf

Sholat jamaah Magrib dilakukan berjamaah, tidak beranjak dari tempat duduk karena akan diteruskan dengan sholat Isya'.

Selanjutnya kami bersama-sama melaksanakan tawaf, yaitu mengelilingi Ka'bah  sebanyak tujuh kali, dimulai dari Hajar Aswad, batu hitam sebesar buah semangka yang terletak di salah satu ujung Ka'bah, melewati Maqam Ibrahim dan Rukun Yamani. Pelataran sekitar Ka’bah penuh dengan jamaah, manusia dari seluruh penjuru dunia dapat dijumpai disini, kulit hitam, coklat, putih, mata sipit, rambut keriting ada semua.

Untuk ber-tawaf memutari Ka’bah butuh stamina dan tenaga dan kewapadaan karena harus berdesak-desakan dengan jamaah yang lain. Apalagi jika berdesak-desak dengan jamaah dari negara-negara Afrika yang badannya relatif besar.  

Saking terlalu sernangat, selesai tawaf ibu minta melaksanakan tawaf lagi. Tetapi bapak mencegahnya, untuk istirahat dulu sambil menunggu jamaah yang lain yang belum selesai. Beberapa orang tua yang sakit ditandu oleh beberapa orang kulit hitam. Juga terlihat beberapa mayat dibungkus kain kafan putih tergeletak, menunggu untuk disholatkan. 

Ka'bah berupa bangunan kotak persegi tertutup kain warna hitam yang bertuliskan ayat-ayat Al Qur'an dengan warna kuning emas. Atap bangunan masjid terbuka dan lantainya beralaskan marmer putih. Pada salah satu ujung Ka'bah dinamakan Hajar Aswad dan pojok yang lain dinamakan Rukun Yamani, sedangkan dua ujung yang lain tidak diberi nama. Bersebelahan dengan Ka'bah berdiri maqam Ibrahim, yaitu tempat berpijak Nabi ibrahim ketika membangun Ka’bah.

Terlihat beberapa jamaah menangis meraung secara berlebihan tetapi petugas masjid segera mengusirnya. Agak jauh sedikit terdapat sumur Zam-Zam yang sudah ada sebelum bangunan ini berdiri.

Kran-kran untuk berwudhu tersedia cukup banyak disekeliling dalam bangunan, sehingga apabila jamaah ingin wudhu atau sekedar minum dapat dilakukan dengan mudah.

Kiblat sholat menuju Ka'bah, disinilah arah umat Islam menghadap Tuhan, mohon apa saja yang kita inginkan.  Bapak bersujud kehadirat Tuhan seraya berdoa, " Ya Allah, ampunilah kesalahan yang telah saya lakukan, mohon dilindungi kesehatan saya, mohon diberi rezeki yang berkah, demikian juga untuk  istri saya tercinta, Sri Rusmiyatin, untuk anak-anak dan mantu serta cucu-cucu, Hari, Yani, Rini dan Rian,  Edi, Linda, Ludi dan Fara,  Endri, Ratih, Yoma dan Usi; Ana, Bambang, Bala dan Bani,  Henri dan Berti”

“ Demikran Juga untuk saudara-saudara, almarhum mBak Har dan anak-anaknya, adik Samsi dan anak-anaknya, ani dan Dina segera menemukan jodohnya, dik Broto dan anak-anaknya, dik Tini dan anak-anaknya, dik Surono dan anak-anaknya, dik Rustini dan anak-anaknya”

“ Dan juga kepada pak Erwan, teman Ana, saya sampaikan doa kepadanya dan semoga anak-anaknya yang perempuan segera menemukan jodohnya”

Kepada istri tercinta bapak saya sampaikan: "Saya sebagai suamimu minta maaf segala segala kesalahan, yang sengaja maupun tidak ". Ibupun mengucapkan sebaliknya : "mudah-mudahan saya dapat menyertaimu sampai akhir hayat. Aamiin ya Rabbal alamin”.

Bapak mencoba untuk mendekati maqam Ibrahim dan mencoba untuk meraba dengan kedua tangan, tetapi kesulitan karena jamaah begitu banyak dan berjubel dan mempunyai keiningna yang sama.

Demikian juga dengan sumur Zam-Zam dan Hajar Aswad, hanya dapat memandang dan berharap mudah-mudahan bisa menghampiri.

Sa'i
Selanjutnya dilanjutkan dengan sa'i,  yaitu berjalan dan Sofa ke Marwah dan berlari-lari kecil ke arah sebaliknya.

Lokasinya berada di selebelah barat Ka’bah, yaitu berupa lorong lebar tedapat tiga lintasan, lintasan pinggir untuk jamaah yang berjalan dari Sofa ke Warwah dengan lebar 8 meter-an dan panjangnya 400 meter-an dengan juga untuk arah sebaliknya dari Mawah ke Sofa.

Sedangkan lintasan tengah selebar 2,5 meter-an digunakan untuk jamaah yang menggunakan kursi roda atau di tandu. Sepanjang lintasan yang atapnya tertutup dipasang kipas angin. Walaupun penuh dengan jamaah tetapi rasanya tidak terlalu panas.

Sepanjang samping lintasan tertutup tembok berlapis marmer dan ada penghubung ke ruangan terbuka sisi dalam masjid dan pada sisi yang lain ke arah luar masjid.

Pada ujung lintasan, masing-masing diberi nama Sofa dan Marwah, didesain sedemikian rupa sehingga apabila kita berdiri di Sofa atau Marwa selalu dapat melihat Ka'bah. Kondisi lintasan cukup datar dan pada ujung Sofa dan Marwah jalannya agak menaik sedikit. Jarak kedua bukit itu 405 meter. Jamaah berjubel  yang sedang  melakukan sa'i, seperti saat thawaah bapak selalu  menggandeng ibu untuk menghindari terpisah dari rombongan. Demikiah juga dengan pasangan-pasangan yang lain.

Walapun demikian ada saja kejadian pisah rombongan, termasuk ibu dan beberapa jemaah lain. Bapak merasa ibu selalu berada di belakangnya, karena salah satu ujung pakaian ihrom terasa dipegang seseorang. Belakangan baru tahu bahwa yang memegang ternyata orang lain. Ibu bingung pisah dari rombongan dan berada diantara manusia yang masih asing. Untungnya ketemu beberapa teman yang juga pisah dari rombongan.

Mendapat laporan ada jamaah yang lepas, ketua rombongan langsung memerintahkan kepada rombongan yang lain untuk berkumpul di suatu tempat dan dia sendiri segera mencari jamaah yang terpisah tersebut. Tak berapa lama semua rombongan jamaah sudah dapat ditemukan.       

Sa'i merupakan salah satu rukun haji, kegiatan ini merupakan kegiatan napak tilas nabi Ibrahim. Secara singkat, kisahnya sebagai berikut :

Nabi Ibrahim yang beristrikan Sarah, tidak juga mendapatkan keturunan walaupun sudah lama menikah. Atas persetujuan sang istri, Ibrahim diperkenankan untuk menikahi seorang hamba, yang bernama Hajar,  yang diberikan Raja Mesir kepada Sarah.           Menikahlah Ibrahim dan Hajar.  Dalam selanga waktu yang tidak terlalu lama,  Tuhan mengabulkan do’a Ibrahim dan memberikan anak yang diberi nama Ismail.

Tuhan meminta seandainya anaknya sudah besar harus diberikan lagi kepada Tuhan. Hajar dan Ismail dibawa Ibrahim dari negeri Palestina ke lembah Mekah atas perintah Tuhan.

Tidak berapa hidup di Mekkah, Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam keadaan yang seadanya, Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail begitu saja di padang Mekah yang tandus.

Hajar kebingungan menghadapi situasi seperti itu, bagaimana dan dimana mencari minuman untuk dia dan menghidupi anaknya. Hajar berlari-lari dari bukit Sofa ke bukit Marwah. Demikran seterusnya sampai tujuh kali dilakukan bolak-balik di kedua bukit tersebut untuk mencari air. Hampir putus asa Hajar melakukan hal demikian dan datanglah malaikat dan mengatakan padanya : " Bukalah batu disitu, kamu akan mendapatkan air". Memancarlah air di balik batu yang ditunjuk oleh malaikat yang kemudian dinamakan dengan sumur Zam-Zam.  


Sumur Zam2

Salah satu keajaiban dari sumur ini adalah tidak pernah habis walaupun sudah diminum bahkan dibawa sebagai oleh-oleh bagi berjuta-juta jamaah kenegaranya masing-masing.  Di tempat ini dapat ditarik suatu pelajaran bahwa hakikat dari rukun haji ialah bagaimana Hajar dapat mempertahankan hidup bagi dirinya dan untuk menghidupi anaknya. Karena keimanannya sangat kuat, dia memohon kepada Tuhan dan Tuhan memberi jalan. Disini merupakan tempat yang paling tepat untuk memohon kepada Allah, apa keinginan kita. 

Sa’i berakhir di bukit Mawah dilanjutkan tahalul, yaitu memotong sebagian rambut.  Secara hukum, jamaah diperbolehkan untuk melepaskan ihrom yang dipakai sejak pagi hari di bandara Jeddah (sebagai tempat miqat bagi jamaah yang menggunakan pesawat udara, sebelum ke Mekkah)

Jam 02.00 dini hari rangkaian ibadah umrah yang dimulai dari waktu magrib,  selesai. Semua rombongan kembali ke maktab.  Sesampai di maktab kami semua langsung tidur, karena besok pagi-pagi sekali kami harus bangun pagi lagi untuk melaksanakan sholat shubuh di masjid.

Karena terlalu capai, mengingat kondisi fisik ibu yang kurang mendukung, kaki ibu terasa kram. Bapak mengatakan: "Kram itu akibat terlalu capai, obatnya hanya satu, istirahat".

Ibadah haji merupakan ibadah yang cukup berat, selain bekal agama yang cukup, juga persiapan fisik dan mental benar-benar diuji. Fisik harus kuat karena banyak sekali kegiatan-kegiatan yang memerlukan tenaga ekstra yang harus dijalani, sedangkan mental diuji karena keikhlasan dan kesungguhan mempengaruhi pelaksanaan ibadah itu sendiri. Karena bapak memang sudah berniat jauh-jauh hari sebelumnya, semua rangkaian kegiatan kami kerjakan dengan senang hati.   

Kamis tanggal 14 Februari 2002. Seharian kami istirahat penuh, makan dan tidur. Demikian juga dengan ibu, terus tidur untuk memulihkan stamina yang sehari sebelumnya telah terkuras. Kami serombongan pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Magrib dan Isya'. Secara tidak sengaja dan kebetulan penjaga masjid memeriksa tas ransel yang kami bawa dan menemukan tustel di dalamnya. Alhasil kami ditolak masuk dan terpaksa sholat di halaman luar masjid. Selepas sholat kami pulang ke maktab, selama berjalan bertemu dengan pedagang kaki lima yang ternyata orang Checknya, salah satu negara bagian di Rusia. Bapak membeli teropong jauh made in Rusia seharga R30 dan pedang hiasan seharga SAR30 (Saudi Arab Real) untuk souvenir.

Semakin malam jamaah yang datang ke masjid semakin ramai dan berjubel.  Saat pulang dari masjid, di pintu-pintu masjid banyak dijumpai sandal-sandal yang ditinggalkan jamaah  yang berserakan, dari jamaah  sayang sekali sandal tersebut tidak ada yang berpasangan. 


Pintu 79 King Abdul Aziz

Hari Jum'at tanggal 15 Februari 2002, sholat Jum'at pertama di Masjidil Haram. Jamaah demikian berjubelnya, jangan membayangkan sholat duduk manis seperti di masjid Al Jihad, masjid  belakang rumah di Malang.

Sholat di depan Ka'bah dengan posisi berdiri berdempetan sangat rapat sekali, merupakan pengalaman yang tidak terlupakan dan sekaligus yang pertama kali. Sholat Dhuhur dimulai jam 13.00, walaupun matahari cukup terik tetapi t1dak terasa keluar keringat setetespun. Hal ini bisa terjadi karena kelembaban udara di kota Mekah cukup rendah.

Rangkaian kegiatan rukun di atas yang dimulai dari Jeddah dengan mengenakan pakaian ihrom ke Mekah, tawaf mengitari Ka'bah, Sa'i dan bukit Sofa ke Marwah yang diakhiri dengan tahalul yang dilaksanakan sebelum tanggal 8 Dzulhijrah dinamakan Haji Tamatu, artinya mengerjakan umroh dahulu sebelum melaksanakan haji. Untuk itu kita dikenakan dam atau denda, yaitu menyembelih kambing atau membayar R350.

10 Menunggu Tanggal 8 Dzulhijjah 

Hari ini, empat hari sebelum hari H yang sudah ditunggu-tunggu, tepatnya hari Sabtu tanggal 16 Februari 2002 bertepatan dengan 4 Dzulhijjah 1422 H, rombongan jamaah Miftahul Jannah mengadakan daily tour  ber-ziarah ke tempat-tempat bersejarah. Ketua rombongan mengingatkan, jamaah putra supaya membawa baju ihrom, karena sore akan miqat dan dilanjutkan dengan umrah. 



Padan Arofah, Jabal Nur/ Rahmah

Jadwal kunjungan antara lain di Jabal Tsur, terdapat gua Tsur yaitu tempat Nabi Muhammad bersembunyi dari kejaran kaum musyrikin Quraish  yang akan membunuhnya saat hendah hijrah ke Yatsrib (selanjutnya berganti menjadi Madinah).

Tempat ini berupa sebuah bukit batu yang gersang dan tandus. Di puncak bukit terdapat lorong gua. Disinilah Nabi Muhammad menyembunyikan diri dari kejaran musuhnya. Hanya karena pertolongan Tuhan-lah musuh-musuhnya dibutakan matanya, melihat adanya sarang laba-laba di sekitar mulut gua, musuhnyapun berpikir, mustahil ada orang bersembunyi di dalamnya. Pencarianpun dibatalkan. Dari peristiwa tersebut terlihat bahwa dalam keadaan darurat seorang Muhammad seperti bukan manusia biasa, semuanya itu hanya dapat terjadi karena kehendak-Nya.

Bapak sendiri sebenarnya ingin sampai ke mulut gua, tetapi mereka ber-rombongan dan tidak semua mau dan mampu untuk ke sana, maka cukup melihat dari kejauhan saja.   Menggunakan teropong binokuler yang dibeli dari pedagang kaki lima, bapak melihat barisan orang-orang yang menuju ke puncak seperti barisan semut yang tertib dan berjalan perlahan-lahan menuju puncak bukit.

Jam 11.00 perjalanan dilanjutkan ke padang Arafah.  Di sini sudah tersedia beribu-ribu tenda-tenda besar berwarna putih bersih yang nantinya akan digunakan untuk wukuf (menginap) bagi para kafilah-kafilah.

Perjalanan terus berlanjut menuju ke puncak Jabal Rahmah. Bukit ini tidak terlalu tinggi dan sudah dipasang tangga dari batu yang cukup nyaman bagi pejalan kaki, semua rombongan dapat naik sampai ke puncak. Di puncak berdiri kokoh tugu yang lancip pada ujung atasnya yang terbuat dari batu utuh. Konon disini tempat Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu setelah seratus tahun berpisah dari surga.  Hawa dibuang dan berada di sekitar daratan Mesopotamia atau tepatnya kalau sekarang yaitu di negara Irak, sedangkan Adam dibuang di daerah  India. 


Papan Indonesia dalam bahasa Melayu

Salah satu yang menarik yang ada di sekitar komplek Jabal Rahmah yaitu papan petunjuk yang dipasang oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dalam tiga bahasa yaitu bahasa Arab, Inggris dan Melayu/ Indonesia. Dapat dimengerti mengingat jamaah haji dari Indonesia yang terbesar dari negara-negara lain. Tentunya suatu kebanggaan tersendiri bagi jamaah kita.

Banyak onta beserta pemiliknya yang bertebaran di sekitar parkir mobil. Dengan SAR10 kita dapat berfoto dengan onta-onta tersebut bersama sebagai kenang-kenangan.    

Ibu masih lemah fisiknya, sehingga tidak mampu untuk turun dari bus.  Sedangkan bapak dengan menggunakan teropong cukup menyaksikan beribu-ribu orang mendatanginya.

Padang Arafah dinamakan juga sebagai kota setan, karena kota ini tidak berpenduduk, apalagi pada hari-hari biasa. Pada tanggal 8 Dzulhijjah nanti akan datang berjuta-juta jamaah dan seluruh dunia berbondong-bondong datang ke kota ini. Di tempat itu pula merupa an tempat yang afdol untuk memanjatkan doa supaya suami istri hidup rukun sampai akhir zaman.

Di sekitar padang Arafah, juga terdapat bukit yang dinamakan Jabal Nur, yaitu tempat Muhammad menerima wahyu yang pertama dari Tuhan. Di tempat ini pula Muhammad mengadakan pidato perpisahan dengan pengikut-pengikutnya dan setelah itu beliau menderita sakit dan kemudian meninggal.

Kunjungan dilanjutkan ke masjid Tan'im, yaitu tempat miqat (perbatasan) untuk haji/ umroh. Sholat sunnah dan niat umroh kami laksanakan dan selanjutnya berpakaian ihrom dan berangkat ke Mekah. Jam menunjuukan angka dua.

Kembali ke maktab untuk makan siang, sholat Dhuhur dan istirahat sebentar. Sholat Asar dilakukan di Masjidil Haram dilanjutkan dengan tawaf umrah. Selanjutnya sholat Magrib dan Isya tanpa beranjak dari tempat semula. Sa'i dilakukan seperti hari sebelumnya dan diakhiri dengan tahalul. Rangkaian kegiatan berakhir disini pada jam 21.00.

Rombongan kembali ke maktab, mampir ke kedai makan untuk beli barbeque untuk mengganjal perut malam hari. Baju ihrom bisa dilepas dan acara selanjutnya bebas.

Hari Senin tanggal 18 Februari 2002 pakaian ihrom dicuci, karena sudah agak bau dan tidak nyaman untuk terus menerus dipakai.

Hari Sabtu tanggal 19 Februari 2002 Ketua Rombongan mengingatkan kembali jadwal yang telah disusun sebelumnya, yaitu :

Tanggal 20 Februari 2002 atau 8 Dzulhijjah rombongan akan berangkat ke padang Arofah dan wukuf (mukim sebentar). Jamaah supaya menggunakan pakaian ihrom.

Tanggal 22 Februari 2002 atau tanggal 10 Dzulhijjah kembali ke Musdalifah-Mina untuk melaksanakan jumroh Aqoba.

Tanggal 23 Februari 2002 kembali ke Mekah. Dalam jadwal tersebut disarankan untuk membawa bekal secukupnya saja, cukup SAR200, bekal yang lain supaya dititipkan ke suami bu Hayati untuk disimpan di lemari di maktab. Kami titipkan uang SAR4000.

 

11 Padang Arofah

Hari Rabu tanggal 7 Dzulhijjah 1422 H atau bertepatan dengan tanggal 20 Februari 2002 jam 14.00. Dengan berpakaian ihrom seluruh rombongan jamaah berangkat naik bus yang sudah tersedia ke padang Arofah. Barang yang dibawa hanya tas jinjing saja, sedangkan tas/ koper besar ditinggal di kamar masing-masing dimaktab.


Padang Arofah 

Perjalanan cukup padat, karena semua jamaah berbondong-bondong menuju ke padang ini, sehingga perjalanan yang pada hari biasa bisa ditempuh dalam watu tidak sampai satu jam, tetapi kali ditempah dalam waktu tiga jam. Jam 17.00 tiba di Arofah,jamaah masuk ke tenda yang terseia sesuai dengan kloter masing-masing. Sembari menunggu keesok harinya (8 Dzulhijjah)  para jamaah memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan tilawah, dzikir.  

Seperti biasa, kebiasaan bapak apabila datang di tempat yang baru mengamati apapun yang ada di sekitarnya, apalagi jika ada yang aneh atau pengalaman pertama. Tenda  terbuat dari bahan yang anti terbakar berwarna putih berlantai karpet. Tendanya cukup besar bisa untuk sekitar seratus jamaah. Hawanya cukup panas, jamaah lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu. Walaupun kami sempat membawa bekal ternyata makanan yang disediakan maktab, cukup. Daging yang dimasak dengan resep makanan Arab, terlihat seperti rendang, buah-buahan, supermie dan minuman juice tersedia cukup banyak. Air panas disediakan untuk kopi/teh juga tersedia.

Kamar mandi, dalam bentuk tenda, tersedia cukup banyak, juga cukup baik kondisinya, air panas juga mengalir melimpah.

Dalam sehari disediakan makan empat kali, bahkan kadang-kadang membingungkan bagaimana cara menghabiskannya.

Malam harinya tertidur pulas dan dalam tidur itu bapak sempat mimpi cukup indah yakni berada di sebuah taman yang penuh dengan bunga yang berwarna-warni indah sekali.  Entah apa makna dari mimpi ini.

Suasana di Tenda Arofah

Inti dari rukun haji disinilah tempatnya, yaitu wakuf (bermalam) di Arofah. Padang Arofah terhampar diantara bukit-bukit yang mengelilingi, bukit yang terdiri dari batu-batu tandus tidak ada satu pohon tinggi yang tumbuh. Bapak mencoba naik ke salah satu bukit dan ternyata banyak sekali dijumpai jamaah, dari  Arab sedang tidur dan berkemah disitu. Ini merupakan jamaah mandiri yang ikut maktab, sehingga fasilitas untuk tidur dan keperluan sehari-hari dilakukan secara mandiri.

Tumbuhan kerdil dijumpai disekitarnya, ciri tumbuhan yang kurang mendapatkan air, lebih tepat mungkin berupa rumput dengan bunga-bunga warna kuning. Terlihat indah diantara bebatuan yang warnanya monoton. Ada juga burung merpati. Apakah diluar musim haji burung-bururng tersebut juga ada di sini ?  

Rasa keinginan tahu-an terus berlanjut, bapak survai lokasi, sebagai pengenalan daerah baru. Banyak dijumpai truk-truk kontainer yang membagi-bagikan makanan kepada siapa saja yang mau. Salah satu cara jamaah membagikan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.


Ibu Bertemu Anak Menantu

Hari ini, mas Hari dan mbak Yani berjanji untuk bertemu dengan bapak dan ibu, setelah sebelumnya ber-SMS dengan  pak Erwan. Tetapi hanya ketemu ibu dt tenda, karena bapak sedang survai.

Seperti sudah diterangkan di depan, bahwa kawasan  padang Arofah terdapat bukit-bukit kecil, diantaranya Jabal Rahmah yaitu tempat bertemunya nabi Adam as dan ibunda Siti Hawa as setelah berpisah selama ratus-an tahun dan juga tempat Nabi Muhamad mengucapkan pesan-pesan terakhir kepada para sahabat-sahabatnya sebelum beliau wafat.  

Terdapat Jabal Nur yaitu tempat berupa gua dimana Nabi Muhamad mendapat wahyu untuk pertama kali. Ditempat ini nabi Muhammad merenung, berkontemplasi, instrospeksi diri tentang jati diri yang hidup di kalangan masyarakat Quraish yang saat itu disebut dengan masa jahiliyah. Siapa sebenarnya diri kita ini.  Seperti halnya Adam dan Hawa yang merupakan manusia pertama tercipta sehingga kita semua menjadi ada. Bapak dan ibu melahirkan anak, berkeluarga selanjutnya memperoleh keturunan dan memulai kehidupan baru dan seterusnya.

Disini juga tempat suami istri bersimpuh memohon kehadapan Tuhan untuk selalu dikarunia hidup aman dan damai dalam mencapai tujuan hidup.

Kegiatan rutin dimulai dari sholat Dhuhur, sambil menunggu Asar mendengarkan ceramah dari Ketua Rombongan, berdzikir, membaca Al Qur'an dan beberapa jamaah membaca sampai qatam. Walau dirasakan memang agak membosankan, tetapi karena niat yang kuat untuk beribadah, semua dapat dilalui dengan senang dan gembira.

Dengan berhaji diharapkan akan menjadi contoh, bagaimana menjadi orang yang berderma untuk orang lain dan tentu berbuat lebih baik dari sebelumnya.

Jam 24.00 kami meninggalkan Arofah menuju Mina dan masih dalam keadaan menggunakan baju ihram.


12 Mina

Rangkaian perjalanan ibadah selanjutnya yaitu ke Mına dalam rangka melempar jumrah. Perjalanan menggunakan bus yang sama, mampir dulu dı Muzdalifah mencari batu kerikil untuk melakukan jumroh. Bus berjalan merambat seperti jalannya siput, karana semua jamaah juga sedang menuju ke arah yang sama. Seandainya tidak dengan rombongan berjalan kaki mungkin waktunya jauh lebih singkat.  Berangkat dari Arofah jam 00.30 dan baru tiba di Mina jam 5.30 keesokaan harinya. Cukup lama untuk jarak yang tidak tarîalu jauh.

Kondisi geografi di Muzdalifah tidak terlalu berbeda dengan kondisi di Arofah. Walaupun pada malam hari, terlihat gunung-gunung batu dan sebagian dataran. Banyak di jumpai jamaah  haji yang sedang tidur terlelap dan beberapa tampak duduk-duduk beralaskan tikar seadanya.


Peta Perjalanan Haji

Sesampai di Mina juga telah disediakan tenda dalam bentuk yang lebih kecil dan hanya memuat untuk ± 60 jamaah. Seperti halnya di Arofah, jamaah berbaur menjadi satu. Walau hawa di luar tenda amat panas, di dalam terasa sejuk karena ada AC.  Air panas untuk minum tersedia di meja2, kamar mandi dilengkapai dengan water heater dan toilet cukup memenuhi kebutuhan jamaah.  Jamaah dipersilahkan istirahat sebentar dan dilanjutkan dengan sarapan.

Masih memakai pakaian ihrom, rombongan berangkat ke tempat Aqobah untuk melempar jumroh. Jaraknya ± 5 km dari Mina.  Jumroh, secara bahasa artinya batu kecil,  secara fisik berupa tugu yang menjulang setinggi ± 10 meter. Terdapat tiga jumroh, yatu Aqobah, Wustho dan Ula. Untuk kenyamanan dan antisipasi banyaknya jamaah, jalur yang menghubungkan ketiga jumroh tersebut dibangun bertingkat sehingga jamaah dapat melaksanakan dari atas atau dari bawah.

Di sekelilingnya telah dipasang tenda-tenda yang digunakan sebagai tempat menginap kafilah haji. Sedangkan bangunan-bangunan maktab terletak di seberang gunung lain. Untuk manghubungkan kedua tempat  tersebut  telah dibangun  jalan panghubunq  berupa tarowongan  yang menembus gunung-gunung.       Infrastruktur yang dibangun Pemerintah Saudi cuku bagus. Di saberang beraspal mulus, fasilitas umum berupa tempat minum cukup memadai dan memenuhi sesuai dengan kapasitas jamaah haji.

Terlihat di seberang bukit nun agak jauh di seberang sana, tampak bangunan yang tempat pernukiman, atau mungkin istana orang-orang kaya Arab.                                        

Kegiatan ritual di Mina masih berkaitan sekali dengan kisah perjalanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as di tanah Mekkah. Keinginan nabi Ibrahim yang menginginkan keturunan untuk meneruskan dakwa taukhid, di-ijabah Allah dengan menganugerahkan seorang anak, yang diberi nama Ismail. Berasal dari bahasa Arab dan Ibrani  yaitu isma yang artinya mendengar dan eel yang artinya Allah. Maknanya anak yang diberikan setelah mendengar doa hambaNya (nabi Ibrahim).   Ada ulama yang menambahkan bahwa pemberian anak tersebut, kelak akan diserahkan kembali kepada yang memberi, Allah. Wallahulalam.


Penyembelihan Nabi Ismail


Seiring dengan berjalannya waktu, Ismail tumbuh yang semakin tumbuh besar menjadi seorang remaja (ada yang megatakan berumur 14 tahun-an).  Allah menagih janji Ibrahim, melalui mimpi yang selalu datang selama tiga berturut-turut, untuk menyembelih anaknya. Dalam kaidah kenabian, mimpi seorang nabi adalah perintah. Dalam suasana kebimbangan yang sangat mendalam, wajar sebagai seoran ayah, perintah tersebut tidak langsung dilaksanakan tetapi diinformasikan kepada calon korban, Ismail, tentang mimpinya. 


Dan apa jawaban Ismail, tidak menolak, dapat dibayangkan jika itu terjadi di masa kini. Ismail dengan jawaban yang menyejukkan hati dan mendukung perintah tersebut, “Laksanakan perintah Allah, wahai Ayah, InsyaAllah engkau dapati aku sebagai orang yang sabar”.

Dalam menjalani perintah tersebut, selama perjalanan di padang Mina,  mereka berdua mendapat banyak godaan iblis berupa bisikan-bisikan dan rayuan yang intinya untuk menggagalkan perintah dengan berbagai macam dalih, misalnya itu bukan perintah Tuhan dan lain-lain.

Ibrahim sangat marah kepada suara-suara bisikan dan melempar dengan batu ke arah suara-suara itu. Demikian dilakukan terus menerus sampai tiga kali.

Peristiwa ini diabadikan sebagai bagian dari ritual ibadah haji dan ini merupakan penghargaan yang sangat mulia terhadap pengorbanan seorang nabi dalam menjalani ketaatan terhadap perintah Allah.

Atas kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah, atas Kekuasaan dan Kebesaran Allah, tubuh Ismail yang tergeletak pasrah untuk disembelih, diganti dengan seekor domba, yang (konon) dikirm langsung dari surga. 


Melempar Jumrah
Setan-setan pengganggu diibaratkan dalam bentuk bangunan tugu yang dijadikan sasaran lemparan batu oleh para jamaah. Terdapat tiga tugu yang digunakan sebagai lempar batu yaitu Jumrah Ula, Wustha dan Aqoba tempat setan itu dan melempari balik kearah suara itu sebanyak tujuh kali di tiga taan yang selanjutnya dinamakan sebagai Ula, Wustha clan Aqoba. Sedangkan peristiwa penyembelihan, disimbilsasikan dengan penyembelihan hewan kurban bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji.    

Jumat tanggal 22 Februari 2002 atau bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1422 jam 07.00.  Setelah melempar jumrah, kesehatan ibu menurun sehingga harus  istirahat di tenda maktab. Rombongan jamaah  lain berangkat menuju Aqoba untuk melempar jumrah.

Berjuta-juta jamaah dari berbgai negara berbondong-bondong dan masing-masing membawa identitas berupa bendera negara atau identitas lain yang mudah dikenal. Antisipasi apabila ada jamaah yang lepas dari rombongan.

Ada yang tampak diantara jamaah berebutan untuk berbaris rapi, atau ada juga yang berjalan santai melewati terowongan yang menembus gunung batu sebagai jalan pintas akses dari Mina ke lokasi jumrah. 


Terowongan ke Mina

Terdapat dua terowongan yang masing-masing dibuat searah untuk jamaah yang akan melempar jumrah dan satunya untuk arah sebaliknya. Untuk menghindari bentrokan jamaah seperti yang terjadi pada tahun 1980-an dan menyebabkan ratusan jamaah meninggal karena terdesak di dalam  terowongan. Keadaan di dalam terowongan sendiri cukup terang, karena dipasang lampu-lampu yang cukup dan sirkulasi udara yang terlihat sudah diperhitungkan dalam pembangunanya.

Di sepanjang jalan banyak pengemis, yang umumnya berkulit hitam, orang Afrika. Ada yang tangannya cacat, baik yang kiri atau kanan atau keduanya. Berdasarkan informasi yang bapak dapatkan, mereka adalah mantan penjahat yang telah mendapat hukuman potong tangan atau kaki. Tidak jelas apa kesalahannya sehingga tangannya harus dipotong.  Saudi Arab merupakan salah negara yang menerapkan syariah Islam, diantaranya hukum potong tangan, penggal kepala sesuai tingkat kesalahannya.

Bapak mendapat informasi, entah dari mana,  Pemerintah KeraJaan Arab Saudi menyadari bahwa sistem pengadilan  demikian tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang.

Banyak sekali jamaah yang berdiri d sekitar Aqaba. Masing-masing berusaha sekuat tenaga untuk mendekati tugu jumrah. Perjuangan yang cukup berat, beruntung bagi orang-orang Afrika atau Turki yang fisik badannya besar dan tegap, sekali melangkah dapat menyingkirkan orang-orang yang postur tubuhnya relatif kecil, seperti orang-orang Asia (Selatan, Timur).    Dalam posisi berdiri yang cukup jarak terdekat dengan batu jumrah, jamaah melempar kerikil-kerikil Jumrah  Aqaba dengan sekuat-kuatnya dengan niat untuk menjauhkan gangguan setan.

Ada yang sampai kena batu ada yang tidak sampai atau bahkan kena kepala jamaah lain yang ada di depan jamaah lain. Dan juga bapak terkena lemparan kerikil yang dilempar oleh jamaah yang berada di belakang kita.  Tragis dan nasib malang ada seorang jamaah yang kepala nya berdarah, bisa jadi kena lempat kerikil sebesa buah jeruk purut.

Jam 11.00 prosesi melempar 3 jumrah selesai, ketua rombongan memberi aba-aba untuk kembali ke maktab  Menjelang tiba di tenda maktab kloter 52, tidak terduga ketemu mbak Utari, putri kedua bapak Tarso, dan suaminya, mas Yusuf.

Setiba di tenda terbayang mandi dengan air panas akan menyegarkan badan kembali, setelah berjalan cukup jauh menggunakan baju ihram.   

Sesama jamaah saling bersalaman menunjukkan suka cita karena telah melaksanakan sebagian rukun haji, alhamdulillah.

Dilanjutkan dengan makan siang yang sudah tersedia,dan berlebihan dan­ melimpah ruah bahkan melebihi apa yang biasa tersed1a di rumah. Dalam sehari  disediakan empat kali makan. Padahal kebiasaan kita makan di tanah air hanya tiga kali. Hanya... menunya yang belum/ tidak familiar dengan lidah malayu.

Seandainya jika tidak mengingat bahwa kami membutuhkan tenaga untuk keesokan/ malam harinya  mungkin  segan  untuk  menyentuh  makanan  tersebut.

Walaupun makanan yang disediakan cukup, hampir  semua rombongan menderita batuk pilek. Di dalam tenda selalu terdengar batuk jamaah layaknya koor yang  saling sahut menyahut, ibarat paduan suara yang tidak dipimpin oleh seorang dirigen.

Berpakaian ihrom merupakan beban yang cukup berat bagi kami yang tidak terbiasa. Hakikat dari penggunaan baju ihrom adalah adanya persamaan diantara semua kafilah. Ada sedikit berita yang kurang menggembirakan, diantara teman serombongan, pak Iskandar, sewaktu di padang Arofah terserang penyakit, kemungkinan terserang penyakit ginjal dan dibawa menggunakan ambulance ke rumah sakit di Mekah.

Sabtu tanggal 23 Ferbuari 2002 atau 11 Dzulhijjah 1422 aktifitas harian dimulai dengan melaksanakan sholat shubuh berjamaah di tenda. Bapak, pak Jafar dan istri, bu Hayati dan suami mencoba mencari tahu keadaan pak Jafar di rumah sakit Mekah. Bu Hayati dan suami tetap di rumah sakit sedangkan yang lain menuju maktab di jalan Jawarhal. Petugas maktab membukakan pintu dan ternyata pintu sudah dibongkar oleh tamu yang tak diundang. Koper-koper berserakan. Entah karena kebetulan atau apa, penghuni kamar yang dibongkar ada semua, kecuali bu Heni. Kecurigaan muncul ketika melihat amplop yang tertulis angka SAR1000 dan Rp.200.000,- berserakan. Sempat terlontar pikiran uang sudah diambil oleh pencuri itu. Tetapi setelah diinformasikan ke yang bersangkutan, uang itu dibawa ke Mina.

Seketika itu juga pintu diperbaiki oleh petugas dari maktab."Siapa gerangan yang begitu tega mencuri dalam situasi ibadah yang suci ini?", terucap dalam hati.

Jam 14.00  sudah sampai kembali ke Mina, istirahat, tidur siang sebentar. Jam 18.00 rombongan bersiap-siap berangkat untuk melempar jumroh di Ula , Wustha dan Aqaba. Jalan menuju lokasi jumroh seperti hari-hari sebelumnya, penuh. Berbaris dan berebut tempat mulai saat di terowongan dan terlebih-lebih di tempat jumroh. Dorong mendorong, saling mendahului untuk mendekati tempat yang paling dekat. Bagi yang kuat dan gesit akan dapat mencapai tugu, sebaliknya bagi yang fisiknya pas-pasan yah cukup dari kejauhan melempar dan kembali lagi.

Jumroh berakhir jam 21.30, makan malam, sholat Isa dan persiapan untuk tidur malam. Terdengar suara batuk bersahut-sahutan, lomba batuk dimulai lagi. Ada batuk ingus, batuk kering dan ada juga yang batu  basah.

Minggu tanggal 24 Februan 2002 atau 12 Dzulhijjah 1422 tidak ada acara yang khusus pada hari ini. Kegiatan rutin biasa dan makanan tambahan mulai sholat Shubuh, sarapan pagi, istirahat, sholat dan seterusnya. Sarapan dengan menu supermie rebus, telur matang dan juice jeruk. Buah yang tersedia ada buah apel dan jeruk.

Hari Senin keesokan· harinya adalah hari terakhir di Mina. Hari ini dipersiapkan untuk jumroh terakhir.

Jam 07.00 kami sudah sampai di tempat jumroh, jamaah sudah jauh berkurang, sehingga cukup nyaman dan dengan mudah untuk mendekati ketiga tugu Ula, Ustah dan Aqoba. Jamaah berkurang dari hari-hari sebelumnya.

Di sepanjang jalan menuju Mina banyak dijumpai pedagang musiman dari berbagai negara dengan berbagai barang dagangan yang di tawarkan.

Pedagang dari Afrika berjualan kain-kain, dari Ukraina/ Cheknya berjualanan peralatan teknik misal mesin bor, obeng, kuci pas, teropong, cincin dan lain-lain.

Jam 09.30 sudah berada di tenda kembali dan mempersiapkan kepulangan ke Mekah. Makan siang masih disediakan dan jam 12.30 berangkatlah rombongan meninggalkan Mina. 

Ibu Sakit

Dalam perjalanan ke Mekah ibu terserang jantung, sesak napas dan mengeluh putus asa: "Apakah ibu sempat sampai ke rumah?". Bapak hanya menjawab: "Saat ini bukan waktunya untuk berkata demikian. lbu supaya istigfar diberi kesembuhan dan kekuatan untuk menyelesaikan ibadah sampai selesai".

Sampai di maktab sudah menjelang sore, jam 16.00. Ibu langsung istirahat di lantai 3 di tempat dokter untuk memperoleh penanganan yang lebih serius. Sampai jam 18.00 dokter masih memonitor kesehatan ibu dan terus tidur sampai pagi hari

Tidak ada komentar: