|
12 Mina Rangkaian perjalanan ibadah selanjutnya yaitu ke Mına dalam rangka melempar jumrah. Perjalanan menggunakan bus yang sama, mampir dulu dı Muzdalifah mencari batu kerikil untuk melakukan jumroh. Bus berjalan merambat seperti jalannya siput, karana semua jamaah juga sedang menuju ke arah yang sama. Seandainya tidak dengan rombongan berjalan kaki mungkin waktunya jauh lebih singkat. Berangkat dari Arofah jam 00.30 dan baru tiba di Mina jam 5.30 keesokaan harinya. Cukup lama untuk jarak yang tidak tarîalu jauh. Kondisi geografi di Muzdalifah tidak terlalu berbeda dengan kondisi di Arofah. Walaupun pada malam hari, terlihat gunung-gunung batu dan sebagian dataran. Banyak di jumpai jamaah haji yang sedang tidur terlelap dan beberapa tampak duduk-duduk beralaskan tikar seadanya.
Sesampai di Mina juga telah disediakan tenda dalam bentuk yang lebih kecil dan hanya memuat untuk ± 60 jamaah. Seperti halnya di Arofah, jamaah berbaur menjadi satu. Walau hawa di luar tenda amat panas, di dalam terasa sejuk karena ada AC. Air panas untuk minum tersedia di meja2, kamar mandi dilengkapai dengan water heater dan toilet cukup memenuhi kebutuhan jamaah. Jamaah dipersilahkan istirahat sebentar dan dilanjutkan dengan sarapan. Masih memakai pakaian ihrom, rombongan berangkat ke tempat Aqobah untuk melempar jumroh. Jaraknya ± 5 km dari Mina. Jumroh, secara bahasa artinya batu kecil, secara fisik berupa tugu yang menjulang setinggi ± 10 meter. Terdapat tiga jumroh, yatu Aqobah, Wustho dan Ula. Untuk kenyamanan dan antisipasi banyaknya jamaah, jalur yang menghubungkan ketiga jumroh tersebut dibangun bertingkat sehingga jamaah dapat melaksanakan dari atas atau dari bawah. Di
sekelilingnya telah dipasang tenda-tenda yang digunakan sebagai tempat
menginap kafilah haji. Sedangkan bangunan-bangunan maktab terletak di
seberang gunung lain. Untuk manghubungkan kedua tempat tersebut
telah dibangun jalan panghubunq berupa tarowongan yang menembus gunung-gunung. Infrastruktur yang dibangun Pemerintah
Saudi cuku bagus. Di saberang beraspal mulus, fasilitas umum berupa tempat
minum cukup memadai dan memenuhi sesuai dengan kapasitas jamaah haji. Terlihat di seberang bukit nun agak jauh di seberang sana, tampak bangunan yang tempat pernukiman, atau mungkin istana orang-orang kaya Arab. Kegiatan
ritual di Mina masih berkaitan sekali dengan kisah perjalanan Nabi Ibrahim as
dan Nabi Ismail as di tanah Mekkah. Keinginan nabi Ibrahim yang menginginkan
keturunan untuk meneruskan dakwa taukhid, di-ijabah Allah dengan menganugerahkan
seorang anak, yang diberi nama Ismail. Berasal dari bahasa Arab dan
Ibrani yaitu isma yang artinya
mendengar dan eel yang artinya Allah. Maknanya anak yang diberikan setelah
mendengar doa hambaNya (nabi Ibrahim). Ada
ulama yang menambahkan bahwa pemberian anak tersebut, kelak akan diserahkan
kembali kepada yang memberi, Allah. Wallahulalam.
Seiring dengan berjalannya waktu, Ismail tumbuh yang semakin tumbuh besar menjadi seorang remaja (ada yang megatakan berumur 14 tahun-an). Allah menagih janji Ibrahim, melalui mimpi yang selalu datang selama tiga berturut-turut, untuk menyembelih anaknya. Dalam kaidah kenabian, mimpi seorang nabi adalah perintah. Dalam suasana kebimbangan yang sangat mendalam, wajar sebagai seoran ayah, perintah tersebut tidak langsung dilaksanakan tetapi diinformasikan kepada calon korban, Ismail, tentang mimpinya. Dan apa jawaban Ismail, tidak menolak,
dapat dibayangkan jika itu terjadi di masa kini. Ismail dengan jawaban yang
menyejukkan hati dan mendukung perintah tersebut, “Laksanakan perintah Allah,
wahai Ayah, InsyaAllah engkau dapati aku sebagai orang yang sabar”. Dalam
menjalani perintah tersebut, selama perjalanan di padang Mina, mereka berdua mendapat banyak godaan iblis
berupa bisikan-bisikan dan rayuan yang intinya untuk menggagalkan perintah
dengan berbagai macam dalih, misalnya itu bukan perintah Tuhan dan lain-lain. Ibrahim
sangat marah kepada suara-suara bisikan dan melempar dengan batu ke arah
suara-suara itu. Demikian dilakukan terus menerus sampai tiga kali. Peristiwa
ini diabadikan sebagai bagian dari ritual ibadah haji dan ini merupakan
penghargaan yang sangat mulia terhadap pengorbanan seorang nabi dalam
menjalani ketaatan terhadap perintah Allah. Atas kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah, atas Kekuasaan dan Kebesaran Allah, tubuh Ismail yang tergeletak pasrah untuk disembelih, diganti dengan seekor domba, yang (konon) dikirm langsung dari surga.
Jumat
tanggal 22 Februari 2002 atau bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1422 jam
07.00. Setelah melempar jumrah,
kesehatan ibu menurun sehingga harus istirahat di tenda maktab. Rombongan jamaah lain berangkat menuju Aqoba untuk melempar
jumrah. Berjuta-juta
jamaah dari berbgai negara berbondong-bondong dan masing-masing membawa
identitas berupa bendera negara atau identitas lain yang mudah dikenal.
Antisipasi apabila ada jamaah yang lepas dari rombongan. Ada yang tampak diantara jamaah berebutan untuk berbaris rapi, atau ada juga yang berjalan santai melewati terowongan yang menembus gunung batu sebagai jalan pintas akses dari Mina ke lokasi jumrah.
Terdapat dua terowongan yang masing-masing dibuat searah untuk jamaah yang akan melempar jumrah dan satunya untuk arah sebaliknya. Untuk menghindari bentrokan jamaah seperti yang terjadi pada tahun 1980-an dan menyebabkan ratusan jamaah meninggal karena terdesak di dalam terowongan. Keadaan di dalam terowongan sendiri cukup terang, karena dipasang lampu-lampu yang cukup dan sirkulasi udara yang terlihat sudah diperhitungkan dalam pembangunanya. Di
sepanjang jalan banyak pengemis, yang umumnya berkulit hitam, orang Afrika.
Ada yang tangannya cacat, baik yang kiri atau kanan atau keduanya.
Berdasarkan informasi yang bapak dapatkan, mereka adalah mantan penjahat yang
telah mendapat hukuman potong tangan atau kaki. Tidak jelas apa kesalahannya
sehingga tangannya harus dipotong. Saudi
Arab merupakan salah negara yang menerapkan syariah Islam, diantaranya hukum
potong tangan, penggal kepala sesuai tingkat kesalahannya. Bapak mendapat informasi, entah dari mana, Pemerintah KeraJaan Arab Saudi menyadari bahwa sistem pengadilan demikian tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang. Banyak
sekali jamaah yang berdiri d sekitar Aqaba. Masing-masing berusaha sekuat
tenaga untuk mendekati tugu jumrah. Perjuangan yang cukup berat, beruntung
bagi orang-orang Afrika atau Turki yang fisik badannya besar dan tegap,
sekali melangkah dapat menyingkirkan orang-orang yang postur tubuhnya relatif
kecil, seperti orang-orang Asia (Selatan, Timur). Dalam posisi berdiri yang cukup jarak
terdekat dengan batu jumrah, jamaah melempar kerikil-kerikil Jumrah Aqaba dengan sekuat-kuatnya dengan niat
untuk menjauhkan gangguan setan. Ada yang sampai kena batu ada yang tidak sampai atau bahkan kena kepala jamaah lain yang ada di depan jamaah lain. Dan juga bapak terkena lemparan kerikil yang dilempar oleh jamaah yang berada di belakang kita. Tragis dan nasib malang ada seorang jamaah yang kepala nya berdarah, bisa jadi kena lempat kerikil sebesa buah jeruk purut. Jam
11.00 prosesi melempar 3 jumrah selesai, ketua rombongan memberi aba-aba
untuk kembali ke maktab Menjelang tiba
di tenda maktab kloter 52, tidak terduga ketemu mbak Utari, putri kedua bapak
Tarso, dan suaminya, mas Yusuf. Setiba
di tenda terbayang mandi dengan air panas akan menyegarkan badan kembali,
setelah berjalan cukup jauh menggunakan baju ihram. Sesama
jamaah saling bersalaman menunjukkan suka cita karena telah melaksanakan
sebagian rukun haji, alhamdulillah. Dilanjutkan
dengan makan siang yang sudah tersedia,dan berlebihan dan melimpah ruah
bahkan melebihi apa yang biasa tersed1a di rumah. Dalam sehari disediakan empat kali makan. Padahal
kebiasaan kita makan di tanah air hanya tiga kali. Hanya... menunya yang
belum/ tidak familiar dengan lidah malayu. Seandainya jika tidak mengingat bahwa kami membutuhkan tenaga untuk keesokan/ malam harinya mungkin segan untuk menyentuh makanan tersebut. Walaupun makanan yang disediakan cukup, hampir semua rombongan menderita batuk pilek. Di dalam tenda selalu terdengar batuk jamaah layaknya koor yang saling sahut menyahut, ibarat paduan suara yang tidak dipimpin oleh seorang dirigen. Berpakaian ihrom merupakan beban yang cukup berat bagi kami yang tidak terbiasa. Hakikat dari penggunaan baju ihrom adalah adanya persamaan diantara semua kafilah. Ada sedikit berita yang kurang menggembirakan, diantara teman serombongan, pak Iskandar, sewaktu di padang Arofah terserang penyakit, kemungkinan terserang penyakit ginjal dan dibawa menggunakan ambulance ke rumah sakit di Mekah. Sabtu tanggal 23 Ferbuari 2002 atau 11 Dzulhijjah 1422 aktifitas harian dimulai dengan melaksanakan sholat shubuh berjamaah di tenda. Bapak, pak Jafar dan istri, bu Hayati dan suami mencoba mencari tahu keadaan pak Jafar di rumah sakit Mekah. Bu Hayati dan suami tetap di rumah sakit sedangkan yang lain menuju maktab di jalan Jawarhal. Petugas maktab membukakan pintu dan ternyata pintu sudah dibongkar oleh tamu yang tak diundang. Koper-koper berserakan. Entah karena kebetulan atau apa, penghuni kamar yang dibongkar ada semua, kecuali bu Heni. Kecurigaan muncul ketika melihat amplop yang tertulis angka SAR1000 dan Rp.200.000,- berserakan. Sempat terlontar pikiran uang sudah diambil oleh pencuri itu. Tetapi setelah diinformasikan ke yang bersangkutan, uang itu dibawa ke Mina. Seketika itu juga pintu diperbaiki oleh petugas dari maktab."Siapa gerangan yang begitu tega mencuri dalam situasi ibadah yang suci ini?", terucap dalam hati. Jam
14.00 sudah sampai kembali ke Mina,
istirahat, tidur siang sebentar. Jam 18.00 rombongan bersiap-siap berangkat
untuk melempar jumroh di Ula , Wustha dan Aqaba. Jalan menuju lokasi jumroh
seperti hari-hari sebelumnya, penuh. Berbaris dan berebut tempat mulai saat
di terowongan dan terlebih-lebih di tempat jumroh. Dorong mendorong, saling
mendahului untuk mendekati tempat yang paling dekat. Bagi yang kuat dan gesit
akan dapat mencapai tugu, sebaliknya bagi yang fisiknya pas-pasan yah cukup
dari kejauhan melempar dan kembali lagi. Jumroh berakhir jam 21.30, makan malam, sholat Isa dan persiapan untuk tidur malam. Terdengar suara batuk bersahut-sahutan, lomba batuk dimulai lagi. Ada batuk ingus, batuk kering dan ada juga yang batu basah. Minggu tanggal 24 Februan 2002 atau 12 Dzulhijjah 1422 tidak ada acara yang khusus pada hari ini. Kegiatan rutin biasa dan makanan tambahan mulai sholat Shubuh, sarapan pagi, istirahat, sholat dan seterusnya. Sarapan dengan menu supermie rebus, telur matang dan juice jeruk. Buah yang tersedia ada buah apel dan jeruk. Hari
Senin keesokan· harinya adalah hari terakhir di Mina. Hari ini dipersiapkan
untuk jumroh terakhir. Jam
07.00 kami sudah sampai di tempat jumroh, jamaah sudah jauh berkurang, sehingga
cukup nyaman dan dengan mudah untuk mendekati ketiga tugu Ula, Ustah dan Aqoba.
Jamaah berkurang dari hari-hari sebelumnya. Di
sepanjang jalan menuju Mina banyak dijumpai pedagang musiman dari berbagai
negara dengan berbagai barang dagangan yang di tawarkan. Pedagang dari Afrika berjualan kain-kain, dari Ukraina/ Cheknya berjualanan peralatan teknik misal mesin bor, obeng, kuci pas, teropong, cincin dan lain-lain. Jam
09.30 sudah berada di tenda kembali dan mempersiapkan kepulangan ke Mekah.
Makan siang masih disediakan dan jam 12.30 berangkatlah rombongan
meninggalkan Mina.
Dalam
perjalanan ke Mekah ibu terserang jantung, sesak napas dan mengeluh putus
asa: "Apakah ibu sempat sampai ke rumah?". Bapak hanya menjawab: "Saat
ini bukan waktunya untuk berkata demikian. lbu supaya istigfar diberi
kesembuhan dan kekuatan untuk menyelesaikan ibadah sampai selesai". Sampai
di maktab sudah menjelang sore, jam 16.00. Ibu langsung istirahat di lantai 3
di tempat dokter untuk memperoleh penanganan yang lebih serius. Sampai jam
18.00 dokter masih memonitor kesehatan ibu dan terus tidur sampai pagi hari |
Saat-saat bahagia adalah saat berbagi. Berbagi dengan segala bentuk dan aneka rupa, baik yang berwujud maupun yang tidak, materi atau immateri, seketika atau bertahap. Yang diharapkan adalah dapat memberi manfaat, walaupun hanya sebiji atom.
Minggu, 19 April 2026
Bapak Munggah Kaji #3
Langganan:
Posting Komentar (Atom)














Tidak ada komentar:
Posting Komentar