|
7 Terbang Ke Tanah
Suci
Seperti
biasa, setiap hari ahad, hari ini, tanggal 3 Februari 2002 diadakan pertemuan dengan sesama anggota calon
jamaah haji dari KBIH Miftahul Jannah.
Beberapa
hal yang yang perlu menjadi para caloan jemaah haji yaitu antara lain :
1. Dibagikan Buku Kesehatan Haji kepada
setiap calon jamaah.
2. Supaya mengisi daftar obat-obat yang harus/
biasa diminum setiap hari seperti yang tercantum pada halaman 47 dan akan
ditandatangani oleh dokter pendamping Kloter 52 DKI Jakarta saat bertemu di
Asrama Haji di Pondok Gede, menjelang
keberangkatan ke Mekkah.
3. Diajarkan tata cara membaca doa’ selama
proses ibadah lengkap, mulai menggunakan pakaian ihram dimulai dengan niat,
bacaan selama perjalanan, bacaan doa masuk ke kota suci Mekkah Harramian,
masuk ke Masjidil Maharam, Thawaf, Sa’i dan lain-lain.
Untuk
keperluan loading koper, koper besar (bagasi pesawat) akan ditangani petugas
khusus , sedangkan untuk transit semalam di Asrama Haji Pondok Gede, jamaah
supaya membawa koper / tas kecil berisi peralatan pribadi dan akan di bawa di
kabin.
Hari
Senin tanggal 4 Februari 2002 mas Hari dan mbak Yani berangkat terbang ke tanah
suci menggunakan fasilitas ONH plus. Bapak, Ibu mad Bambang & dik Anak ikut
mengantar sampai ke airport Bandara Sukarno Hatta. Keberangkatan menggunakan
pesawat Royal Jordan Air dengan tujuan Aman, menginap semalam dilanjutkan
dengan ke Jeddah keesokan harinya.  | | Mas Hari Berangkat Haji |
Tiga hari
menjelang keberangkatan, cukup banyak tamu-tamu yang datang bergiliran untuk silaturahmi dan mengucapkan selamat
jalan.
Hari
Jum'at tanggal 8 Februari 2002 teman-teman pengajian Ana sebanyak delapan
orang datang, cukup ramai suasana di rumah.
Malam
harinya, Dondi dan istri juga datang. Ngobrol cukup lama diantara kami.
Kepulangan Dondi sempat membuat ibu agak bimbang sedikit sehubungan dengan
adanya perbedaan persepsi tentang adanya dam yang harus dibayar sehubungan
dengan prosesi rangkaian ibadah haji. Seperti sudah diterangkan pada saat
manasik haji ada 3(tiga) jenis ibadah
haji.
1. Haji ifrad, yaitu sesampai di Mekkah
melaksanakan ibadah haji dan setelah usai, melakukan ibadah umrah. Jenis
ibadah ini tidak dikenakan dam/ denda.
2. Haji qiran, yaitu melaksnakan ibadah haji
dan umrah diniatkan bersama-an, dengan catatan melakukan thawaf (lagi)
setelah waktu wukuf.
3. Haji tamattu, ibadah umrah dilaksanakan
terlebih dulu sebelum melaksanakan ibadah haji (dengan beberapa persyaratan
tertentu) dan jamaah darus membayar dam.
Keesokan
malam harinya, Sabtu, giliran kami dan keluarga, Ratih, Yoma, Usi dan mbaknya
datang dan sekaligus bermalam di Citra Garden.
Sebelum
kedatangan kami, dik Banitampak gelisah nggak sabar segera bertemu dengan
sohibnya, Usi, beberapa kali menelpon ke Cipulir untuk menanyakan apakah
sudah berangkat atau belum.
Tampak
kegembiraan yang amat, ketika mendengar kami sekeluarga akan menginap di
rumahnya.
Sayang,
karena berangkatnya dari Cipulir agak malarn, bada sholat Isak, si cewek
prencil, Usi, matanya suam-suam mendekati 5 watt, bahkan selama di mobil,
tertidu pulas. Pun yang sulung, Yoma.
Sehingga
pertemuan cewek-cewek kecil Bani & Us yang diharapkan heboh, tidak
terjadi, bahkan agak korsleting. Mereka berdua langsung masuk ke kamar
masing-masing (adiknya), Bala dan Bani.
Kami
berlima, Bapak, ibu, Endri, Ratih dan Ana, Bambang sedang terbang,
berbindang, ngobrol ngalor ngidul seputar rencana perjalanan haji, banjir
yang belum 100% pulih dan yang lain-lain.
Sempat
muncul diskusi tentang perbedaan pendapat tentang pembayaran dam. Kami berpendapat sebaiknya dilihat situasi di
sana nantinya dan tentu saja berkonsultasi ketua kloter, jenis haji yang mana
akan diikuti, supaya tidak terhindar dam.
Pengalaman
yang belum ada, apapbila tidak mengikuti sesama romobongan jamaah juga
menjadi pertimbangan yang utama. Jangan sampai malahan akan merepotkan diri
sendiri dan ketua kloter, sebagai penanggung jawab keberadaan jamaah, dan
tentu saja sesam jamaah dalam satu rombongan.
Berdasarkan
pengalaman melaksanakan umroh, kami hanya berpesan bahwa ibadah haji adalah
ibadah yang penuh ujian untuk menata hatinya, menahan nafsu untuk mudah
marah. Tidak boleh ada niat tidak baik, pikiran negatif apalagi kalau
disertai tindakan dan perilaku ataupun lesan.
Rasa
sombong, ceroboh, percaya diri yang sangta tinggi akan dibalas, bahkan
seketika, dengan berbagi kondisi. Hal itu sangat mudah bagi Allah Yang
Berkehendak. Contoh, merasa sudah
percaya diri biasa berjalan-jalan tempat yang baru, Allah memberi peringatan
dengan menjadikan tersesat. Dalam kondisi seperti kita harus sadar, telah
melakukan kesalahan dan segera istigfar, kalau perlu sholat tobat dua rakaa.
Sekali
lagi, keikhlasan dan spenuhnya menyerahkan diri dan menggantungkan segalan
urusan hanya kepada Allah swt.
Tidak
terasa jarum jam menunJukkan 11.30 bapak sudah beberapa kali menguap dan
minta mundur. Kamipun pamit mundur untuk istirahat.
 | | Ngobrol Menjelang Keberangkatan |
Ahad ,tanggal
10 Februari 2002, Henri dan pak Zainudin datang dengan motor Honda C70
yang sudah di bersihkan dari kotoran airdan lumpur banjir.
Tidak
berselang lama, besan,bapak Kamal dan ibu, Berti, yang sedang hamil, dan
cucunya, Sasa, juga datang dari Halim.
Hari
menjelang sore, pak Kamal dan ibu mohon diri. Demikian juga dengan kami dan
keluarga, karena Usi dan Yoma harus latihan Taekwondo di komplek rumah.
Sebelum pamitan kami akan sempatkan waktu mengantar ke KBIH, karena sudah ijin
kantor untuk masuk kantor.
Hari
Senin, 11 Februari 2002, mas Bambang dan dik Ana t1dak ada jadwal terbang. Oh
ya...mas Bambang bekerja sebagai pilot di Maskapai Penerbangan Garuda
Indonesia, sedangkan dik Ana sebagai pramugari di maskapai yang sama.
Aktifitas
di rumah seperti biasa. Pak Parno sudah datang sejak pagi dan diajak ngobrol
ringan-ringan dengan Bapak sambil ngopi, sambil nunggu tugas harian seperti
biasa, yaitu mengantar Bala dan Bani sekolah. Ipah dan Nur sejak pagi-pagi sudah datang dan sibuk dengan
tugas harian. Ipah bersik-bersih rumah dan Nur bertugas memasak harian.
Setelah mengantar
ke sekolah, pak Parno mengantar mas Bambang dan dik Ana untuk suatu
keperluan.
Kami datang
sekitar jam 10.00. Tidak beberapa lama kemudian pak Lubis dan istri,
tetangganya di Komplek Citra Garden, datang ke rumah. Selain hendak mengucapkan
selamat jalan untuk rencana keberangkatan ke tanah suci , beliau memberikan bingkisan untuk ibu dan bapak.
Ibu diberi bingkisan baju daster dan untuk bapak baju koko warna abu-abu
muda. Alhamdulillah.
Seusai
mengantar mas Bambang, pak Parno dan Bapak mengantarkan dua koper besar ke
kantor KBIH Yayasan untuk handling oleh petugas dari Yayasan.
Jam 13 .30,
setelah makan siang dan sholat dhuhur kami berangkat ke Kantor KBIH yang
terletak di Jalan Peta, tidak jauh dari Komplek Citra Garden.
Kantor Yayasan
Miftahul Jannah berada di dalan Darussalam( masuk dari jalan Peta Selatan)
lokasi dekat perkampungan dekat dengan pasar. Jalan agak sempit, sehingga
tidak masuk sampai ke kantor.
Ada
petugas tugas yang mengatur lalau lintas kendaraan yang lewat sempit. Mobil
tidak masuk ke dalam dan berhenti menurunkan penumpang dan selanjutnya parkir
di pasar.
Dengan
berjalan kaki yang berjarak ± 50 meter kami menuju bangunan madrasah sederhana,
milik yayasan, yang digunakan sebagai titik kumpul menuju Asrama Haji Pondok
Gede.
 | | Transit Dulu di KBIH |
Sebagian
besar jamaah sudah berdatangan diserta pengantar yang cakup banyak, bahka
lebih banyak dari jamaah itu sendiri. Calon
jamaah haji pria berpeci menggunakan seragam jas warna ungu sedangkan untuk
perempuan menggunakan seragam warna biru.
Bapak dan
beberapa anggota rombongan tidak menggunakan seragam, mungkin dipakai untuk
keberangkatan dari Asrama Haji, esok harinya.
Bapak
menyaksikan fenomena yang luar biasa melihat antusias pengantar yang banyak
dengan semangat yang tinggi mengantarkan keluarga, sanak saudara bahkan tetangga
se kampung, bahkan dengan meninggalkan waktu dan tenaga. Fenomena apa ini ?
Apa
bedanya dengan bepergian yang tidak rangka ibadah, misalnya pergi melancong
ke Eropa, Amerika dan tempat yang lebih jauh lagi.
Pertanyaan
yang sangat mendasar dan bisa dimaklumi, karena di keluarga belum pernah
mengalami peristiwa seperti ini. Walaupun
di kampung-kampung hal seperti hampir setiap tahun selalu ada. Betul-betul pengalaman pertama yang
mengesankan sebelum berada di tempat suci di jazirah Arab sana.
Calon jemaah
disediakan di suatu ruangan yang sederhana, berkarpet dengan kipas angin
menggantung di atas atas berputar
kencang. Bapak & ibu dan juga jamaah yang lain dipersilahkan duduk
bersila sambil menunggu jamaah yang lain. Beberapa pengantar ikut duduk dan
bergabung dengan jamaah lain atau sekedar bersalaman dengan jamaah lain dan
memilih menunngu di serambi ruangan. Walau udara di dalam ruang agak pengap,
suasan ceria tampak diantara para jamaah.
Beberapa
saat kemudian, bapak Legimin, ketua rombongan, mengabsen satu persatu rombongan yang sudah
hadir.
“Bapak
Sutopo ?”, “Ada..”, Bapak menyahut dengan mengangkat tangan kanannya, “ Ibu
Sutopo ?” ...dan seterusnya.
Sampai
panggilan yang terakhir terdapat satu jamaah yang belum hadir. Setelah dirundingkan dengan ketua
rombongan, ibu hayati, yang bersangkutan terjebak macet di jalan, sehingga
diputuskan untuk ditunggal dan yang bersangkutan supaya langsung menuju ke
Asrama Haji Pondok Gede.
Sebelum
berangkat , perwakilan dari Kantor Agama setempat memberi bekal rohani,
ucapan selamat jalan dan berdoa semua semua jamaah diberikan kesehatan,
kekuatan dan kalancaran dalam menjalankan ibadah sampai sampai kembali ke
tanah air.
Lafaz Labaik
Allohuma labaik.....berkumandang diantara lisan-lisan jamaah mengiringi keberangkatan jamaah dan
bersalam-salam dengan petugas.
Pengantar
berbaris sepanjang halaman madrasah, ibarat mengiring calon pengantin. Beberapa pengantar berkerumun di pinggir
jalan, beberapa petugas membawa koper besar seragam bentuk dan warnanya milik
para jamaah, dibawa menuju bus-bus yang parkir di dekat pasar.
Jalan
raya Peta, Kalideres yang sempit dan macet menjadi tambah macet, pada siang
menjelang sore pada hari ini. Di kanan kiri jalan di pertigaan jalan yang ke
arah kantor KBIH parkir mobil=mobil pengantar
calon jamaah dan bus besar yang
mengantar ke Asrama Haji Pondok Gede. Sepintas terlihat wajah beberapa penumpang
mobil yang terhenti karena macet, ada yang pasrah seakan-akan memaklumi
melihat kemacetan ini, ada juga yang bermuka masam, terlihat kesal.
Walau
sudah di-informasikan tentang pembangian bus bagi jamaah, beberapa jamaah
tampak bingung mencari bus-nya.
Tepat jam
14.30 dua buah bus Hiba yang sengaja dicarter untuk membawa rombongan,
berangkat. Perjalanan cukup lancar, cuaca cerah agak mendung di langit
sebelah utara. Melewati jalan tol Cengkareng perlu waktu dua jam untuk sampai
di asrama haji Pendok Gede.
Asrama Haji
Pondok Gede berlokasi di Jalan Raya Pondok Gede, Pinang Ranti, Kecamatan
Makasar, Kota Jakarta Timur. Diresmikan tahun 1997 dengan luas tanah +/- 16.2
hektar, di atasnya berdiri lebih dari delapan bangunan tower dan mampu
menampung +/- 3000 tamu. Dibanguna khusun untuk penampung calon jamaah haji
yang berangkat ke tanah suci.
Bus
berhenti di depan bangunan utama, beberapa petugas dari gedung asrama siap
untuk menunggu kedatangan jamaah. Gedung asrama cukup besar dan megah,
petugas mengarahkan transit dulu di
aula.
Seorang
petugas asrama memberi sambutan dan memberi arahan tantang apa yang yang akan
dilakukan selama di Asrama Haji dalam dua hari sebelum berangkat ke tanah
suci.
Di depan
aula sudah beberapa petugas yang akan
membagikan kunci-kunci kamar dan gelang identitas jamaah haji Indonesia yang
terbuat dari plat kuningan dengan warna chroom.
 | | Gelang Haji |
Gelang
identitas ini penting, selain pasport, untuk mengetahui indentitas jamaah
selama berada di tanah suci. Karena, sebagian jamaah (terutama jamaah reguler)
belum pernah melakukan perjalanan di luar negeri, apalagi dalam waktu lama
(+/- 40 hari), tidak bisa berbahasa Arab atau Inggris dan selama di tanah
suci akan melakukan aktifitas yang bercampur dengan jutaan jamaah haji dari
negara-negara lain. Sehingga apabila seseorang jamaah mengalami hal-hal yang
tidak diinginkan, misalnya tersesat, dengan mudah diketahui identitas yang
bersangkutan.
 | | Informasi di Gelang Haji |
Selanjutnya
petugas memberikan informasi tentang kamar-kamar. Satu kamar dihuni untuk
empat orang, blok jamaah lelaki dan perempuan berbeda blok.
Oh..ya,
Aktifitas resmi tidak ada, setelah mandi dan bersiap untuk sholat magrib di
Masjid Jami Al Mabrur yang terletak tidak jauh dari kamar menginap.
Setelah
sholat magrib, sambil menunggu sholat Isa, ada kajian. Beberapa jamaah
meninggalkan masjid dan sebagian tetap untuk mendengar dan mnyimak kajian.
Materi kajian biasanya seputar ibadah haji dan sangat penting untuk
pengetahuan untuk keabsahan dan khusukan ibadah.
Ba’da
sholat Isa, bapak dan jamaah lelaki lain balik ke gedung penginapan untuk
makan malam. Sementara ibu dan jamaah perempuan melakukan hal yang sama.
Waktu ini
banyak untuk mengobrol santai sambil berkenalan lebih dalam dengan jamaah lain.
Bapak merasa sebagai orang baru dan komunitas baru, karena sebagian jamaah
berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Selasa
tanggal 12 Februari 2002, cuaca cerah tampak awan tersebar di beberapa titik
di langit. Acara pagi ini pagi manasik haji terakhir sebelum
melaksanakan ibadah yang sebenarnya, malam hari berangkat, take-off, ke
Jeddah.
Jamaah
dikumpulkan kembali ke aula dan petugas haji siap untuk memberikan informasi
untuk pembagian paspor dan living cost selama di tanah suci sebesar 1500 SAR,
atau lebih kurang setara dengan Rp. 5.000.000,-. Untuk makan harian (tiga
kali) selama ditanah suci disediakan maktab dan merupakan bagian bagian ONH
(ongkos naik haji) yang harus dibayar oleh setiap jamaah, sedangkan living
cost digunakan untuk keperluan sehari-hari jamaah selain makan.
 | | Manasik Haji |
Acara
selanjutnya manasik yang terakhir sebelum ke tanah suci. Di halaman utama
Asrama Haji dibangun replika miniatur Ka’bah, tiga jumroh, jalur untuk sa’i
Saofa-Marwa.
Semua
jamaah dipersilahkan menuju halaman dan mengikuti arahan petugas untuk
melakukan simluasi urutan prosesi ibadah haji. Walaupun selama pembekalan di
KBIH kami mendapatkan simulasi tersebut. Dimulai dari rangkain thawaf, Sai
dan lempar jumroh.
Menjelang
sholat dhuhur pelaksanaan simulai selesai, jamaah kembali ke masing-masing
dan persiapan untuk sholat dhuhur dan makan siang. Sesuai arahan petugas
disarankan untuk melaksanakan sholat jamaah dhuhur dan asar, karena
persyaratan safar terpenuhi.
Tidak
lama sholat dhuhur selesai ada pengumuman dari patugas asrama, bahwa semua jamaah
Kloter 52 DKI Jakarta supaya bersiap-siap berkemas-kemas untuk berangkat ke
airport.
Ketua
rombongan dan petugas dari KBIH mengingatkan kepada para jamaah supaya :
a.
Memakai seragam KBIH yang sudah disiapkan
dan penutup kepala.
b.
Tas jinjing berisi baju ihram, baju
pribadi dan lain-lain
c.
Tas kalung (berisi pasport, dompet dan
lain-lain)
d.
Gelang identitas jamaah terpakai di pakai
tangan
Di
halaman asrama berdiri 10 bus stand by siap mengantar jamaah kloter 52 untuk
mengantar ke airport Soekarno Hatta, Cengkareng. Di sepanjang jalan raya
berdiri warung-warung dadakan, selama musim haji. Ini sangat membantu,
misalnya yang terkait dengan barang-barang keperluan harian selama safar yang
terlupakan belum terbeli. Misalnya sikat gigi, tusuk gigi, tensoplast dan
lain-lain.
Satu kloter terdiri dari sekitar 400 jamaah
sesuai dengan kapasitas pesawat yang terdiri dari ketua kloter, dokter
pendamping dan petugas pendamping.
Banyak
pengantar jamaah yang berdiri berjejer-jejer mengantar kepergian jamaah. Ada
sebagian jamaah yang berpelukan dengan kerabat-saudara yang mengantar. Kami
sengaja mengantar hanya sampai ke kantor KBIH, tidak sampai ke Asrama Pondok
Haji, karena bukan hari libur.
Petugas
haji dan dibantu ketua grup/ rombongan mengarahkan anggota menuju bus yang
sudah ditentukan. Seperti biasa, prosedur standar dalam melakukan safar
ber-rombongan ketua grup/ rombongan akan meng-absen satu-satu anggota
jamaahnya. Kurang satu harus dicari sampai ketemu.
 | | Bus Menuju Airport |
Tepat jam
13.00 bus pengantar paling depan bergerak, ketua rombongan bersama-sama
mengajak anggotanya untuk berdoa bersama. Bismillahi-arrahmanirrohim.
Lalu
lintas cukup padat, beberapa angkut nge-tem
di sembarang tempat menunggu penumpang. Suasana pasca banjir masih
tampak, aktifitas yang berhenti saat banjir, kembali berjalan pelan-pelan
menuju kondisi normal. Kegiatan ekonomi, perdagangan, jual-beli, sekolah,
pekerjaan menjadi aktifitas harian dan memenuhi jalan-jalan sempit di daerah
kawasan sekitar Pondek Gede- Taman Mini dan sekitarnya. Beda dengan kota
Malang, Jakarta menjadi tampak aslinya sebagai kota macet. Memasuki jalan tol
Jagorawi jalanan lengang dan lancar.
Menjelang
exit tol gate bandara, bus berjalan lambat untuk antri bayar tol. Rombongan
bus mengarah ke terminal 2 khusus terminal haji. Di depan pintu terminal bus
berhenti, penumpang jamaah bersiap-siap turun dengan membawa tas jinjing masing-masing.
Lodging
untuk koper besar diurus oleh petugas dari KBIH, setelah melewati pemeriksaan
oleh petugas bandara, satu-satu pasport jamaah diperiksa dan dicocokan dengan
wajah pemilik pasport. Jika lolos diarahkan menuju pintu kotak untuk deteksi
sinar X, dengan melepaskan barang-barang yang terbuat dari logam yang
menempel di badan supaya di lepas, misalnya jam tangan, handphone, cincin,
gelang dll dan barang-barang yang
dilarang dibawa di cabin pesawat, misalnya cairan yang berlebihan,
benda-benda tajam dan lain-lain.
Selanjutnya
petugas mengarahkan jamaah menuju counter-counter chek-in yang berderet
panjang. Setelah memeriksa pasport calon penumpang, petugas maskapai mencetak
boarding pass sebagai nomor tempat
duduk di pesawat.
Tahap
selanjutnya pemeriksaan imigrasi. Khusus
di untuk bandara untuk internasional
terdapat counter untuk pemeriksaan imigrasi. Ruangan nya bersebelahan dengan ruangan
chek-in.
Bergegas
calon penumpang menuju ke deretan meja-meja counter imigrasi melakukan
pemeriksaan keabsahan dokumentasi imigrasi, visa negara tujuan dan lain-lain. Petugas
imigrasi berseragam coklat tua minta pasport calon penumpang untuk mencocokan
data dengan data yang ada pada database di Dirjen Imigrasi Departemen
Kehakiman RI. Beberapa jamaah tampak canggung dan sedikit takut menuju
counter.
Lolos
verifikasi data imigrasi petugas men-stempel pada salah satu lembar
pasport dan menyerahkan kembali kepada
pemilik. Walaupun antri cukup lama dan
sedikit melelahkan, tapi kami tetap menjalani dengan gembira.
Sebelum
masuk ke pesawat, penumpang menunggu sebentar ruang tunggu sampai semua
penumpang lolos verifikasi data ke-imigrasian-nya.
Jam 17.15
pesawat Garuda B747-4-700 petugas bandar mengumumkan bahwa pintu masuk
pesawat sudah siap dan semua penumpang dipersilahkan boarding/ masuk.
Satu-persatu penumpang jamaah antri dengan rapi masuk pesawat. Beberapa petugas
maskapai Garuda melakukan pemeriksaan boarding pass dan mencocokan dengan
pasport.
Jamaah
diarahkan untuk pintu garba rata yang menghubungan bangunan bandara dengan
pesawat terbang.
Dua-tiga
pramugari Garuda dengan berjilbab warna terang sekali lagi melakukan
pemeriksaan boarding pass untuk mengarahkan ke tempat duduk masing-masing penumpang.
Boing
Jumbo 747-700 adalah pesawat dengan
kapasitas besar/ jumbo, lebih kurang 400 penumpang, dengan dua tingkat dan
masing susunan-nya tiga deret memanjang dan masing-masing deret terdapat 8 tempat duduk, dengan komposisi 3-4-3 (windows-middle-windows).
Di dalam
pesawat beberapa pramugari dan pramugara berdiri bersiap untuk membantu
penumpang untuk mencari tempat duduk dan memasukkan tas jinjing ke bagasi
yang ada di atas kursi.
Seorang
pramugari berjalan mondar ke depan dan ke belakang menge-cek jumlah penumpang
dengan menekan counter yang ada di tangan, sementara yang lain ada yang
menawarkan permen dan ada juga mengecek apakah setiap penumpang sudah
memasang seat-belt . Sementara ada pesan suara yang mengingat untuk mematikan
alat komunikasi. Tak berapa lama pintu pesawat ditutup, menunjukkan semua
penumpang sudah berada di pesawat.
Mengikuti
Standar Operasi Penerbangan TV monitor yang di depan setiap penumpang dan
beberapa yang menggantung di atap pesawat menyala dan menayangkan prosedur penggunaan
peralatan apabila terjadi keadaan bahaya. Peragaan secara manual tetap dilakukan oleh
para pramugari dengan mengikuti suara audio yang ada di layar monitor.
 | | Peragaan Alat Keselamatan |
Tidak
berapa lama, terdengar suara captain pesawat dan menyapa kepada penumpang dan
menyampaikan informasi tentang penerbangan, Jakarta- Jeddah , dengan kondisi
awan cerah dan mengucapkan selamat mengikuti penerbangan. Good a nice flight.
Jam 16.15
pesawat bergerak pelan menuju run-way untuk bersiap-siap take-off, walaupun
berbeda dengan waktu yang tercantum pada boarding pass. Bagi jamaah yang tidak pernah bepergian
menggunakan pesawat, ini merupakan pengalaman pertama, sehingga wajar kalau
tampak cemas. Sekali lagi, awak
pesawat mengingatkan untuk mengikat seat-belt.
Sampai di
ujung run-way, moncong pesawat ke utara, pelan dan pasti captaint pilot
menambah power jet, perlahan pesawat bergerak maju. Di kursi beberapa penumpang
membuka mushaf dan membaca dengan suara yang lirih.
Sampai
batas jarak tertentu dan kecepatan yang cukup untuk lepas landas, moncong
pesawat sedikit demi mulai naik, body pesawat sedikit condong ke atas. Pada
batas tertentu kecepatan stabil body pesawat
normal. Lampu tanda seal-belt mati, menunjukkan penumpang bisa
melepaskan sabuk pengaman.
Dalam
waktu tidak berapa lama pramugari-pramugari dengan cekatan dan terlatih
segera membagikan sajian-sajian makanan dan minuman. Selama perjalanan hampir
10 (sepuluh) jam penumpang mendapat
jatah makan dua kali.
Sempat
terpikir dalam hati seandainya salah satu diantara, captain pilot atau awak
pesawat adalah mas Bambang atau dik Ana, merupakan kebanggan yang tersendiri
dan pengalaman yang langka. Ibu tampak gembira walau sebenarnya lelah.
Jakarta –
Jeddah sesuai jadwal ditempuh dalam waktu 10 jam, duduk di kursi pesawat yang
sempat merupakan aktifitas yang menjemukan.
Ibu dan beberapa jamaah lain khusuk membaca Al Qur’an yang dibawah
dari rumah. Menjelang waktu maghrib, awak memberitahu kan kalau waktu sholat sudah masuk. Sesuai saran pak ustadz, sholat untuk
sedang safar/ bepergian bisa di jamak atau jamak qasar (sholat Magrib dan Isa
di kerjakan berurutan, Maghrib tetap 3 rakaat sedangkat Isak dapat ringkas
menjadi 2 rakaat saja). Untuk wudhu
bisa bertayamum .
Selanjutnya
...zzzzzz ... sampai..
Menjelang
fajar hari setempat atau bertepatan dengan 08.00 WIB hari Rabu , awak pesawat
memberi tahu kalau pesawat akan segera mendapat Bandara King Abdul Aziz
Jeddah.
Sepuluh
jam waktu tahap awal perjalanan serangkaian ibadah haji si tanah suci
dimulai.
Pesawat
berhenti di apron awak pesawat memberi tahu penumpang untuk melepaskan seat-belt
dan bersiap-siap untuk keluar pesawat.
Penumpang
diarahkan ke loket-loket doane/ imigrasi yang berderet-deret yang jumlahnya
cukup banyak.
Alhamdulillah
semua jamaah lolos dari pemeriksaan administrasi di loket imigrasi. Jamaah
menuju ruang bagasi. Koper-koper para jamaah sudah di-tangani oleh petugas
khusus sampai nanti di hotel maktab di Mekkah. Aneh-nya kami semua nggak ada
yang menanyakan.
Dengan
membawa tas jinjing masing-masing, jamaah menuju bus yang siap mengantar ke
Mekkah. Terlihat ibu agak lelah dan masih ngantuk.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar