Minggu, 19 April 2026

Bapak Munggah Kaji #2

7 Terbang Ke Tanah Suci

Seperti biasa, setiap hari ahad, hari ini, tanggal 3 Februari 2002 diadakan pertemuan dengan sesama anggota calon jamaah haji dari KBIH Miftahul Jannah.

Beberapa hal yang yang perlu menjadi para caloan jemaah haji yaitu antara lain :

1. Dibagikan Buku Kesehatan Haji kepada setiap calon jamaah.

2. Supaya mengisi daftar obat-obat yang harus/ biasa diminum setiap hari seperti yang tercantum pada halaman 47 dan akan ditandatangani oleh dokter pendamping Kloter 52 DKI Jakarta saat bertemu di Asrama Haji di  Pondok Gede, menjelang keberangkatan ke Mekkah.

3. Diajarkan tata cara membaca doa’ selama proses ibadah lengkap, mulai menggunakan pakaian ihram dimulai dengan niat, bacaan selama perjalanan, bacaan doa masuk ke kota suci Mekkah Harramian, masuk ke Masjidil Maharam, Thawaf, Sa’i dan lain-lain.  

Untuk keperluan loading koper, koper besar (bagasi pesawat) akan ditangani petugas khusus , sedangkan untuk transit semalam di Asrama Haji Pondok Gede, jamaah supaya membawa koper / tas kecil berisi peralatan pribadi dan akan di bawa di kabin.

 

Hari Senin tanggal 4 Februari 2002 mas Hari  dan mbak Yani berangkat terbang ke tanah suci menggunakan fasilitas ONH plus. Bapak, Ibu mad Bambang & dik Anak ikut mengantar sampai ke airport Bandara Sukarno Hatta. Keberangkatan menggunakan pesawat Royal Jordan Air dengan tujuan Aman, menginap semalam dilanjutkan dengan ke Jeddah keesokan harinya. 

Mas Hari Berangkat Haji

 

Tiga hari menjelang keberangkatan, cukup banyak tamu-tamu yang datang bergiliran  untuk silaturahmi dan mengucapkan selamat jalan.

Hari Jum'at tanggal 8 Februari 2002 teman-teman pengajian Ana sebanyak delapan orang datang, cukup ramai suasana di rumah.

Malam harinya, Dondi dan istri juga datang. Ngobrol cukup lama diantara kami. Kepulangan Dondi sempat membuat ibu agak bimbang sedikit sehubungan dengan adanya perbedaan persepsi tentang adanya dam yang harus dibayar sehubungan dengan prosesi rangkaian ibadah haji. Seperti sudah diterangkan pada saat manasik haji ada 3(tiga)  jenis ibadah haji.

1. Haji ifrad, yaitu sesampai di Mekkah melaksanakan ibadah haji dan setelah usai, melakukan ibadah umrah. Jenis ibadah ini tidak dikenakan dam/ denda.

2. Haji qiran, yaitu melaksnakan ibadah haji dan umrah diniatkan bersama-an, dengan catatan melakukan thawaf (lagi) setelah waktu wukuf.

3. Haji tamattu, ibadah umrah dilaksanakan terlebih dulu sebelum melaksanakan ibadah haji (dengan beberapa persyaratan tertentu) dan jamaah darus membayar dam.

 

Keesokan malam harinya, Sabtu, giliran kami dan keluarga, Ratih, Yoma, Usi dan mbaknya datang dan sekaligus bermalam di Citra Garden.

Sebelum kedatangan kami, dik Banitampak gelisah nggak sabar segera bertemu dengan sohibnya, Usi, beberapa kali menelpon ke Cipulir untuk menanyakan apakah sudah berangkat atau belum.

Tampak kegembiraan yang amat, ketika mendengar kami sekeluarga akan menginap di rumahnya.

Sayang, karena berangkatnya dari Cipulir agak malarn, bada sholat Isak, si cewek prencil, Usi, matanya suam-suam mendekati 5 watt, bahkan selama di mobil, tertidu pulas. Pun yang sulung, Yoma.

Sehingga pertemuan cewek-cewek kecil Bani & Us yang diharapkan heboh, tidak terjadi, bahkan agak korsleting. Mereka berdua langsung masuk ke kamar masing-masing (adiknya), Bala dan Bani.

Kami berlima, Bapak, ibu, Endri, Ratih dan Ana, Bambang sedang terbang, berbindang, ngobrol ngalor ngidul seputar rencana perjalanan haji, banjir yang belum 100% pulih dan yang lain-lain.

 

Sempat muncul diskusi tentang perbedaan pendapat tentang pembayaran dam. Kami  berpendapat sebaiknya dilihat situasi di sana nantinya dan tentu saja berkonsultasi ketua kloter, jenis haji yang mana akan diikuti, supaya tidak terhindar dam.

 

Pengalaman yang belum ada, apapbila tidak mengikuti sesama romobongan jamaah juga menjadi pertimbangan yang utama. Jangan sampai malahan akan merepotkan diri sendiri dan ketua kloter, sebagai penanggung jawab keberadaan jamaah, dan tentu saja sesam jamaah dalam satu rombongan.

Berdasarkan pengalaman melaksanakan umroh, kami hanya berpesan bahwa ibadah haji adalah ibadah yang penuh ujian untuk menata hatinya, menahan nafsu untuk mudah marah. Tidak boleh ada niat tidak baik, pikiran negatif apalagi kalau disertai tindakan dan perilaku ataupun lesan.

Rasa sombong, ceroboh, percaya diri yang sangta tinggi akan dibalas, bahkan seketika, dengan berbagi kondisi. Hal itu sangat mudah bagi Allah Yang Berkehendak. Contoh,  merasa sudah percaya diri biasa berjalan-jalan tempat yang baru, Allah memberi peringatan dengan menjadikan tersesat. Dalam kondisi seperti kita harus sadar, telah melakukan kesalahan dan segera istigfar, kalau perlu sholat tobat dua rakaa.

Sekali lagi, keikhlasan dan spenuhnya menyerahkan diri dan menggantungkan segalan urusan hanya kepada Allah swt.

Tidak terasa jarum jam menunJukkan 11.30 bapak sudah beberapa kali menguap dan minta mundur. Kamipun pamit mundur untuk istirahat.


Ngobrol Menjelang Keberangkatan

Ahad ,tanggal 10  Februari 2002, Henri dan  pak Zainudin datang dengan motor Honda C70 yang sudah di bersihkan dari kotoran airdan lumpur banjir.


Tidak berselang lama, besan,bapak Kamal dan ibu, Berti, yang sedang hamil, dan cucunya, Sasa,  juga datang dari Halim.

Hari menjelang sore, pak Kamal dan ibu mohon diri. Demikian juga dengan kami dan keluarga, karena Usi dan Yoma harus latihan Taekwondo di komplek rumah. Sebelum pamitan kami akan sempatkan waktu mengantar ke KBIH, karena sudah ijin kantor untuk masuk kantor.

 

Hari Senin, 11 Februari 2002, mas Bambang dan dik Ana t1dak ada jadwal terbang. Oh ya...mas Bambang bekerja sebagai pilot di Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia, sedangkan dik Ana sebagai pramugari di maskapai yang sama.

Aktifitas di rumah seperti biasa. Pak Parno sudah datang sejak pagi dan diajak ngobrol ringan-ringan dengan Bapak sambil ngopi, sambil nunggu tugas harian seperti biasa, yaitu mengantar Bala dan Bani sekolah. Ipah dan Nur  sejak pagi-pagi sudah datang dan sibuk dengan tugas harian. Ipah bersik-bersih rumah dan Nur bertugas memasak harian.

Setelah mengantar ke sekolah, pak Parno mengantar mas Bambang dan dik Ana untuk suatu keperluan.

Kami datang sekitar jam 10.00. Tidak beberapa lama kemudian pak Lubis dan istri, tetangganya di Komplek Citra Garden, datang ke rumah. Selain hendak mengucapkan selamat jalan untuk rencana keberangkatan ke tanah suci , beliau  memberikan bingkisan untuk ibu dan bapak. Ibu diberi bingkisan baju daster dan untuk bapak baju koko warna abu-abu muda. Alhamdulillah.

Seusai mengantar mas Bambang, pak Parno dan Bapak mengantarkan dua koper besar ke kantor KBIH Yayasan untuk handling oleh petugas dari Yayasan.

Jam 13 .30, setelah makan siang dan sholat dhuhur kami berangkat ke Kantor KBIH yang terletak di Jalan Peta, tidak jauh dari Komplek Citra Garden.

Kantor Yayasan Miftahul Jannah berada di dalan Darussalam( masuk dari jalan Peta Selatan) lokasi dekat perkampungan dekat dengan pasar. Jalan agak sempit, sehingga tidak masuk sampai ke kantor.

Ada petugas tugas yang mengatur lalau lintas kendaraan yang lewat sempit. Mobil tidak masuk ke dalam dan berhenti menurunkan penumpang dan selanjutnya parkir di pasar.

Dengan berjalan kaki yang berjarak ± 50 meter kami menuju bangunan madrasah sederhana, milik yayasan, yang digunakan sebagai titik kumpul menuju Asrama Haji Pondok Gede.


Transit Dulu di KBIH

Sebagian besar jamaah sudah berdatangan diserta pengantar yang cakup banyak, bahka lebih banyak dari jamaah itu sendiri.  Calon jamaah haji pria berpeci menggunakan seragam jas warna ungu sedangkan untuk perempuan menggunakan seragam warna biru.

Bapak dan beberapa anggota rombongan tidak menggunakan seragam, mungkin dipakai untuk keberangkatan dari Asrama Haji, esok harinya.

 

Bapak menyaksikan fenomena yang luar biasa melihat antusias pengantar yang banyak dengan semangat yang tinggi mengantarkan keluarga, sanak saudara bahkan tetangga se kampung, bahkan dengan meninggalkan waktu dan tenaga. Fenomena apa ini ?

Apa bedanya dengan bepergian yang tidak rangka ibadah, misalnya pergi melancong ke Eropa, Amerika dan tempat yang lebih jauh lagi.

Pertanyaan yang sangat mendasar dan bisa dimaklumi, karena di keluarga belum pernah mengalami peristiwa seperti ini. Walaupun  di kampung-kampung hal seperti hampir setiap tahun selalu ada.  Betul-betul pengalaman pertama yang mengesankan sebelum berada di tempat suci di jazirah Arab sana.

 

Calon jemaah disediakan di suatu ruangan yang sederhana, berkarpet dengan kipas angin menggantung di atas atas  berputar kencang. Bapak & ibu dan juga jamaah yang lain dipersilahkan duduk bersila sambil menunggu jamaah yang lain. Beberapa pengantar ikut duduk dan bergabung dengan jamaah lain atau sekedar bersalaman dengan jamaah lain dan memilih menunngu di serambi ruangan. Walau udara di dalam ruang agak pengap, suasan ceria tampak diantara para jamaah.

 

Beberapa saat kemudian, bapak Legimin, ketua rombongan, mengabsen satu persatu rombongan yang sudah hadir.

“Bapak Sutopo ?”, “Ada..”, Bapak menyahut dengan mengangkat tangan kanannya, “ Ibu Sutopo ?” ...dan seterusnya.

Sampai panggilan yang terakhir terdapat satu jamaah yang belum hadir.  Setelah dirundingkan dengan ketua rombongan, ibu hayati, yang bersangkutan terjebak macet di jalan, sehingga diputuskan untuk ditunggal dan yang bersangkutan supaya langsung menuju ke Asrama Haji Pondok Gede.

Sebelum berangkat , perwakilan dari Kantor Agama setempat memberi bekal rohani, ucapan selamat jalan dan berdoa semua semua jamaah diberikan kesehatan, kekuatan dan kalancaran dalam menjalankan ibadah sampai sampai kembali ke tanah air.

Lafaz Labaik Allohuma labaik.....berkumandang diantara lisan-lisan jamaah  mengiringi keberangkatan jamaah dan bersalam-salam dengan petugas.

 

Pengantar berbaris sepanjang halaman madrasah, ibarat mengiring calon pengantin.  Beberapa pengantar berkerumun di pinggir jalan, beberapa petugas membawa koper besar seragam bentuk dan warnanya milik para jamaah, dibawa menuju bus-bus yang parkir di dekat pasar.

Jalan raya Peta, Kalideres yang sempit dan  macet menjadi tambah macet, pada siang menjelang sore pada hari ini. Di kanan kiri jalan di pertigaan jalan yang ke arah kantor KBIH parkir mobil=mobil pengantar  calon  jamaah dan bus besar yang mengantar ke Asrama Haji Pondok Gede.  Sepintas terlihat wajah beberapa penumpang mobil yang terhenti karena macet, ada yang pasrah seakan-akan memaklumi melihat kemacetan ini, ada juga yang bermuka masam, terlihat kesal.

 

Walau sudah di-informasikan tentang pembangian bus bagi jamaah, beberapa jamaah tampak bingung mencari bus-nya.

Tepat jam 14.30 dua buah bus Hiba yang sengaja dicarter untuk membawa rombongan, berangkat. Perjalanan cukup lancar, cuaca cerah agak mendung di langit sebelah utara. Melewati jalan tol Cengkareng perlu waktu dua jam untuk sampai di asrama haji Pendok Gede.

Asrama Haji Pondok Gede berlokasi di Jalan Raya Pondok Gede, Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur. Diresmikan tahun 1997 dengan luas tanah +/- 16.2 hektar, di atasnya berdiri lebih dari delapan bangunan tower dan mampu menampung +/- 3000 tamu. Dibanguna khusun untuk penampung calon jamaah haji yang berangkat ke tanah suci.

 

Bus berhenti di depan bangunan utama, beberapa petugas dari gedung asrama siap untuk menunggu kedatangan jamaah. Gedung asrama cukup besar dan megah, petugas  mengarahkan transit dulu di aula.

Seorang petugas asrama memberi sambutan dan memberi arahan tantang apa yang yang akan dilakukan selama di Asrama Haji dalam dua hari sebelum berangkat ke tanah suci.

Di depan aula sudah beberapa  petugas yang akan membagikan kunci-kunci kamar dan gelang identitas jamaah haji Indonesia yang terbuat dari plat kuningan dengan warna chroom.


Gelang Haji

Gelang identitas ini penting, selain pasport, untuk mengetahui indentitas jamaah selama berada di tanah suci.   Karena, sebagian jamaah (terutama jamaah reguler) belum pernah melakukan perjalanan di luar negeri, apalagi dalam waktu lama (+/- 40 hari), tidak bisa berbahasa Arab atau Inggris dan selama di tanah suci akan melakukan aktifitas yang bercampur dengan jutaan jamaah haji dari negara-negara lain. Sehingga apabila seseorang jamaah mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tersesat, dengan mudah diketahui identitas yang bersangkutan.


Informasi di Gelang Haji

Selanjutnya petugas memberikan informasi tentang kamar-kamar. Satu kamar dihuni untuk empat orang, blok jamaah lelaki dan perempuan berbeda blok.

Oh..ya, Aktifitas resmi tidak ada, setelah mandi dan bersiap untuk sholat magrib di Masjid Jami Al Mabrur yang terletak tidak jauh dari kamar menginap.

Setelah sholat magrib, sambil menunggu sholat Isa, ada kajian. Beberapa jamaah meninggalkan masjid dan sebagian tetap untuk mendengar dan mnyimak kajian. Materi kajian biasanya seputar ibadah haji dan sangat penting untuk pengetahuan untuk keabsahan dan khusukan ibadah.

Ba’da sholat Isa, bapak dan jamaah lelaki lain balik ke gedung penginapan untuk makan malam. Sementara ibu dan jamaah perempuan melakukan hal yang sama.

Waktu ini banyak untuk mengobrol santai sambil berkenalan lebih dalam dengan jamaah lain. Bapak merasa sebagai orang baru dan komunitas baru, karena sebagian jamaah berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.

 

Selasa tanggal 12 Februari 2002, cuaca cerah tampak awan tersebar di beberapa titik di  langit. Acara pagi ini  pagi manasik haji terakhir sebelum melaksanakan ibadah yang sebenarnya, malam hari berangkat, take-off, ke Jeddah.

Jamaah dikumpulkan kembali ke aula dan petugas haji siap untuk memberikan informasi untuk pembagian paspor dan living cost selama di tanah suci sebesar 1500 SAR, atau lebih kurang setara dengan Rp. 5.000.000,-. Untuk makan harian (tiga kali) selama ditanah suci disediakan maktab dan merupakan bagian bagian ONH (ongkos naik haji) yang harus dibayar oleh setiap jamaah, sedangkan living cost digunakan untuk keperluan sehari-hari jamaah selain makan.


Manasik Haji

Acara selanjutnya manasik yang terakhir sebelum ke tanah suci. Di halaman utama Asrama Haji dibangun replika miniatur Ka’bah, tiga jumroh, jalur untuk sa’i Saofa-Marwa.

Semua jamaah dipersilahkan menuju halaman dan mengikuti arahan petugas untuk melakukan simluasi urutan prosesi ibadah haji. Walaupun selama pembekalan di KBIH kami mendapatkan simulasi tersebut. Dimulai dari rangkain thawaf, Sai dan lempar jumroh.

 

Menjelang sholat dhuhur pelaksanaan simulai selesai, jamaah kembali ke masing-masing dan persiapan untuk sholat dhuhur dan makan siang. Sesuai arahan petugas disarankan untuk melaksanakan sholat jamaah dhuhur dan asar, karena persyaratan safar terpenuhi.

Tidak lama sholat dhuhur selesai ada pengumuman dari patugas asrama, bahwa semua jamaah Kloter 52 DKI Jakarta supaya bersiap-siap berkemas-kemas untuk berangkat ke airport.

Ketua rombongan dan petugas dari KBIH mengingatkan kepada para jamaah supaya :

a.      Memakai seragam KBIH yang sudah disiapkan dan penutup kepala.

b.     Tas jinjing berisi baju ihram, baju pribadi dan lain-lain

c.      Tas kalung (berisi pasport, dompet dan lain-lain)

d.     Gelang identitas jamaah terpakai di pakai tangan

 

Di halaman asrama berdiri 10 bus stand by siap mengantar jamaah kloter 52 untuk mengantar ke airport Soekarno Hatta, Cengkareng. Di sepanjang jalan raya berdiri warung-warung dadakan, selama musim haji. Ini sangat membantu, misalnya yang terkait dengan barang-barang keperluan harian selama safar yang terlupakan belum terbeli. Misalnya sikat gigi, tusuk gigi, tensoplast dan lain-lain.

Satu  kloter terdiri dari sekitar 400 jamaah sesuai dengan kapasitas pesawat yang terdiri dari ketua kloter, dokter pendamping dan petugas pendamping.

Banyak pengantar jamaah yang berdiri berjejer-jejer mengantar kepergian jamaah. Ada sebagian jamaah yang berpelukan dengan kerabat-saudara yang mengantar. Kami sengaja mengantar hanya sampai ke kantor KBIH, tidak sampai ke Asrama Pondok Haji, karena bukan hari libur. 

Petugas haji dan dibantu ketua grup/ rombongan mengarahkan anggota menuju bus yang sudah ditentukan. Seperti biasa, prosedur standar dalam melakukan safar ber-rombongan ketua grup/ rombongan akan meng-absen satu-satu anggota jamaahnya. Kurang satu harus dicari sampai ketemu.

 

Bus Menuju Airport

Tepat jam 13.00 bus pengantar paling depan bergerak, ketua rombongan bersama-sama mengajak anggotanya untuk berdoa bersama. Bismillahi-arrahmanirrohim.

Lalu lintas cukup padat, beberapa angkut nge-tem  di sembarang tempat menunggu penumpang. Suasana pasca banjir masih tampak, aktifitas yang berhenti saat banjir, kembali berjalan pelan-pelan menuju kondisi normal. Kegiatan ekonomi, perdagangan, jual-beli, sekolah, pekerjaan menjadi aktifitas harian dan memenuhi jalan-jalan sempit di daerah kawasan sekitar Pondek Gede- Taman Mini dan sekitarnya. Beda dengan kota Malang, Jakarta menjadi tampak aslinya sebagai kota macet. Memasuki jalan tol Jagorawi jalanan lengang dan lancar.

 

Menjelang exit tol gate bandara, bus berjalan lambat untuk antri bayar tol. Rombongan bus mengarah ke terminal 2 khusus terminal haji. Di depan pintu terminal bus berhenti, penumpang jamaah bersiap-siap turun dengan membawa tas jinjing masing-masing.

Lodging untuk koper besar diurus oleh petugas dari KBIH, setelah melewati pemeriksaan oleh petugas bandara, satu-satu pasport jamaah diperiksa dan dicocokan dengan wajah pemilik pasport. Jika lolos diarahkan menuju pintu kotak untuk deteksi sinar X, dengan melepaskan barang-barang yang terbuat dari logam yang menempel di badan supaya di lepas, misalnya jam tangan, handphone, cincin, gelang dll  dan barang-barang yang dilarang dibawa di cabin pesawat, misalnya cairan yang berlebihan, benda-benda tajam dan lain-lain.

Selanjutnya petugas mengarahkan jamaah menuju counter-counter chek-in yang berderet panjang. Setelah memeriksa pasport calon penumpang, petugas maskapai mencetak boarding pass sebagai nomor  tempat duduk di pesawat.

 

Tahap selanjutnya pemeriksaan imigrasi.   Khusus di untuk bandara untuk  internasional terdapat counter untuk pemeriksaan imigrasi. Ruangan nya bersebelahan dengan ruangan chek-in.

Bergegas calon penumpang menuju ke deretan meja-meja counter imigrasi melakukan pemeriksaan keabsahan dokumentasi imigrasi, visa negara tujuan dan lain-lain.    Petugas imigrasi berseragam coklat tua minta pasport calon penumpang untuk mencocokan data dengan data yang ada pada database di Dirjen Imigrasi Departemen Kehakiman RI. Beberapa jamaah tampak canggung dan sedikit takut menuju counter.

Lolos verifikasi data imigrasi petugas men-stempel pada salah satu lembar pasport  dan menyerahkan kembali kepada pemilik.  Walaupun antri cukup lama dan sedikit melelahkan, tapi kami tetap menjalani dengan gembira.

 

Sebelum masuk ke pesawat, penumpang menunggu sebentar ruang tunggu sampai semua penumpang lolos verifikasi data ke-imigrasian-nya.

Jam 17.15 pesawat Garuda B747-4-700 petugas bandar mengumumkan bahwa pintu masuk pesawat sudah siap dan semua penumpang dipersilahkan boarding/ masuk. Satu-persatu penumpang jamaah antri dengan rapi masuk pesawat. Beberapa petugas maskapai Garuda melakukan pemeriksaan boarding pass dan mencocokan dengan pasport.

Jamaah diarahkan untuk pintu garba rata yang menghubungan bangunan bandara dengan pesawat terbang.

Dua-tiga pramugari Garuda dengan berjilbab warna terang sekali lagi melakukan pemeriksaan boarding pass untuk mengarahkan ke tempat duduk masing-masing penumpang.

Boing Jumbo 747-700  adalah pesawat dengan kapasitas besar/ jumbo, lebih kurang 400 penumpang, dengan dua tingkat dan masing susunan-nya tiga deret memanjang dan masing-masing deret terdapat 8  tempat duduk, dengan komposisi 3-4-3 (windows-middle-windows).

Di dalam pesawat beberapa pramugari dan pramugara berdiri bersiap untuk membantu penumpang untuk mencari tempat duduk dan memasukkan tas jinjing ke bagasi yang ada di atas kursi.

Seorang pramugari berjalan mondar ke depan dan ke belakang menge-cek jumlah penumpang dengan menekan counter yang ada di tangan, sementara yang lain ada yang menawarkan permen dan ada juga mengecek apakah setiap penumpang sudah memasang seat-belt . Sementara ada pesan suara yang mengingat untuk mematikan alat komunikasi. Tak berapa lama pintu pesawat ditutup, menunjukkan semua penumpang sudah berada di pesawat.

 

Mengikuti Standar Operasi Penerbangan TV monitor yang di depan setiap penumpang dan beberapa yang menggantung di atap pesawat menyala dan menayangkan prosedur penggunaan peralatan apabila terjadi keadaan bahaya.  Peragaan secara manual tetap dilakukan oleh para pramugari dengan mengikuti suara audio yang ada di layar monitor.

Peragaan Alat Keselamatan

Tidak berapa lama, terdengar suara captain pesawat dan menyapa kepada penumpang dan menyampaikan informasi tentang penerbangan, Jakarta- Jeddah , dengan kondisi awan cerah dan mengucapkan selamat mengikuti penerbangan. Good a nice flight.

Jam 16.15 pesawat bergerak pelan menuju run-way untuk bersiap-siap take-off, walaupun berbeda dengan waktu yang tercantum pada boarding pass.  Bagi jamaah yang tidak pernah bepergian menggunakan pesawat, ini merupakan pengalaman pertama, sehingga wajar kalau tampak cemas.  Sekali lagi, awak pesawat mengingatkan untuk mengikat seat-belt.

Sampai di ujung run-way, moncong pesawat ke utara, pelan dan pasti captaint pilot menambah power jet, perlahan pesawat bergerak maju. Di kursi beberapa penumpang membuka mushaf dan membaca dengan suara yang lirih.

Sampai batas jarak tertentu dan kecepatan yang cukup untuk lepas landas, moncong pesawat sedikit demi mulai naik, body pesawat sedikit condong ke atas. Pada batas tertentu kecepatan stabil body pesawat  normal. Lampu tanda seal-belt mati, menunjukkan penumpang bisa melepaskan sabuk pengaman.

Dalam waktu tidak berapa lama pramugari-pramugari dengan cekatan dan terlatih segera membagikan sajian-sajian makanan dan minuman. Selama perjalanan hampir 10 (sepuluh) jam  penumpang mendapat jatah makan dua kali.

Sempat terpikir dalam hati seandainya salah satu diantara, captain pilot atau awak pesawat adalah mas Bambang atau dik Ana, merupakan kebanggan yang tersendiri dan pengalaman yang langka. Ibu tampak gembira walau sebenarnya lelah.

 

Jakarta – Jeddah sesuai jadwal ditempuh dalam waktu 10 jam, duduk di kursi pesawat yang sempat merupakan aktifitas yang menjemukan.  Ibu dan beberapa jamaah lain khusuk membaca Al Qur’an yang dibawah dari rumah. Menjelang waktu maghrib, awak memberitahu kan kalau waktu sholat  sudah masuk.  Sesuai saran pak ustadz, sholat untuk sedang safar/ bepergian bisa di jamak atau jamak qasar (sholat Magrib dan Isa di kerjakan berurutan, Maghrib tetap 3 rakaat sedangkat Isak dapat ringkas menjadi 2 rakaat saja).  Untuk wudhu bisa bertayamum .

Selanjutnya ...zzzzzz  ... sampai..

 

Menjelang fajar hari setempat atau bertepatan dengan 08.00 WIB hari Rabu , awak pesawat memberi tahu kalau pesawat akan segera mendapat Bandara King Abdul Aziz Jeddah.

Sepuluh jam waktu tahap awal perjalanan serangkaian ibadah haji si tanah suci dimulai.

 

Pesawat berhenti di apron awak pesawat memberi tahu penumpang untuk melepaskan seat-belt dan bersiap-siap untuk keluar pesawat. 

 

Penumpang diarahkan ke loket-loket doane/ imigrasi yang berderet-deret yang jumlahnya cukup banyak.

Alhamdulillah semua jamaah lolos dari pemeriksaan administrasi di loket imigrasi. Jamaah menuju ruang bagasi. Koper-koper para jamaah sudah di-tangani oleh petugas khusus sampai nanti di hotel maktab di Mekkah. Aneh-nya kami semua nggak ada yang menanyakan.

Dengan membawa tas jinjing masing-masing, jamaah menuju bus yang siap mengantar ke Mekkah. Terlihat ibu agak lelah dan masih ngantuk.

 

8 Perjalanan Mekkah - Mekkah

Alhamdulillah ... urusan imigrasi dan bagasi sudah selesai , rombongan jamaah menuju hall dalam pintu kedatangan bandara, tim panitia penjemputan sudah siap menerima kedatangan para  jamaah.

Petugas mempersilahkan istirahat di tempat-tempat yang luas terbuka dengan fasilitas lengkap deretan kamar mandi dan tempat wudhu, tempat duduk , karpet yang bisa dignakan untuk rebahan atau sholat dan mushola yang lebih besar yang disediakan untuk sholat berjamaah. Bahkan pada hari Jum’at juga digunakan untuk sholat Jum’at. Sarapan pagi dibagikan kepada masing-masing jamaah, walaupun terasa masih terlalu pagi.

Bangunan bandara Jeddah cukup besar dan desainnya cukup indah, menyerupai tenda raksasa dengan warna putih. Bangunan yang dipersiapkan khusus untuk jamaah haji, terutama untuk persiapan transit sebelum ke tanah haram, Mekkah al Mukarommah. Setiap tahun menerima ratusan ribu bahkan jutaan jaamaah dari seluruh mancanegara, baik untuk ibadah haji (yang waktunya terbatas) maupun ibadah umrah (di luar waktu ibadah haji).

 

Selesai sarapan  dan istirahat, jamaah dipersilahkan mandi ditempat yang tersedia dan memakai pakaian ihrom diawali dengan niat ber-ihrom.

Bandara Jeddah sebelum Ke Mekkah

Kamar mandi dan WC cukup banyak dan bisa menampung semua jamaah, tidak perlu antri, dan bersih dengan fasilitas air hangat. Hanya sayangnya untuk WC yang tersedia untuk jongkok, sehingga bagi jamaah manula bisa menjadi kendala tersendiri.



Dalam hati ada pengharapan, mudah-mudahan ibu bisa mandi di kamar mandi umum seperti ini. Seperti diketahui ibu termasuk orang yang peduli dengan kebersihan di kamar mandi, kalau tidak bersih biasanya membatalkan untuk ke kamar mandi.

 

Tidak jelas komando dari mana, para jamaah dipersilahkan untuk berbaris rapi menuju serambi luar bandara. Jamaah lelaki dan perempuan dalam baris tersendiri, untuk selanjutnya dipersilahkan memasuki bus-bus yang siap meluncur ke Mekah.

Entah apa nama busnya karena tertulis dalam bahasa Arab, huruf Arab gundul lagi. Sebelum masuk bus, pasport diserahkan oleh seorang petugas khusus.  Entah bagaimana manajemen pengelolaannya, mengumpulkan sebegitu banyak pasport yang merupakan identitas utama seorang perantau di luar negeri.  Pertanyaan  yang lain, bagaimana kalau keselip salah satu pasport dan lain-lain. Setelah dicerna dalam-dalam, ada benarnya juga. Sebagian besar jamaah adalah lansia, potensi kehilangan nya lebih besar jika di pegang masing-masing jamaah. Sedangkan untuk identitas jamaah, karena musim haji, bisa digunakan gelang identitas dan kartu jamaah.

 

Hari Rabu jam 06.00 tanggal 13 Februari 2002 , dengan di awali doa dan dilanjutkan alunan bacaan talbiyah, Labaik Allohuma labaik. Labaik Allohuma labaik. .., rombongan bus yang membawa jamaah haji Kloter 52 asal DKI Jakarta meningggalkan bandara King Badul Aziz Jeddah menuju Mekkah. Jarak Jeddah – Mekkah ± 98 km. Perjalanan melewati jalan tol yang cukup lebar dan masih sepi.

Di beberapa ruas jalan, sepanjang kiri kanan jalan dipasang pagar pembatas , kira-kira apa ya fungsi pagar tersebut.  Karena di sepanjang jalan tersebut, kondisinya terdiri dari gunung batu, tidak ada bangunan sama sekali, apalagi kehidupan. Pertanyaan terus berlanjut, kalaupun ada kehidupan di area tersebut, bagaimana mereka bisa hidup yang begitu gersang dan tandus. 


Gapura Kota Mekkah

 

Bus melewati gapura Kota Mekkah yang khas, menggambarkan mushaff Al Qur’an yang terbuka menghadap ke langit di topang dengan meja yang menjulang ke atas setinggi ± 6 meter.

Sampai, di Mekah sudah hampir jam 10.00, bus langsung menuju ke maktab (tempat penginapan) di jalan Jawarhal, yang terletak di sbelah barat Masjidil Haram dengan jarak  2 km.

 

Maktab banyak dibangun di banyak titik-titik wilayah di Kota Mekkah untuk menampung jamaah haji reguler. Bentuknya berupa bangunan tower dengan 10-20 lantai. Biasanya diisi satu-dua kloter jamaah.

Jamaah dipersilahkan istirahat di lobby yang tidak luas, petugas memberikan informasi kamar dan menyerahkan kunci kamar kepada ketua grup.Satu kamar terdiri 5-6 jamaah, jamaah putra dan putri dipisahkan.

Dengan menjinjing masing-masing bawaan masing-masing jamaah setiap jmaah memilih kamar yang disiapkan. Bapak sekamar bapak Fajar Panjaitan, mantan Lurah Kalideres, saat itu menjabat Sekda di Kabupaten Kepulauan Seribu. Dan dengan pak Agus, tetangga mas Bambang di Perumahan Citra Garden.

Waktu menjelang sholat dhuhur, bagi yang lapar, makan   siang sudah siap, disiapkan oleh catering dari maktab. Bagi yang mau sholat  bisa dilakukan sendiri-sendiri.

Pemberitahuan dari ketua rombongan bahwa koper- koper besar jamaah bisa diambil di lobby maktab, bisa diambil sendiri-sendiri. Atau kalau ,mau bantuan office boy memberi tip.  

Tidak ada satupun jamaah yang melaporkan kehilangan kopernya.  Kesan yang bagus untuk  menilai bahwa manajemen pengelolaan kedatangan jamaah. Petugasnya memuaskan dan juJur. Berbeda dengan keadaan dengan kondisi di negara kita.

Tidak ada komentar: