Minggu, 19 April 2026

Bapak Munggah Kaji #6

22 Rumah Sakit Haji Indonesia

 

Selama menunaikan ibadah haji, bapak dan ibu telah melaksanakan rangkaian kegiatan haji berupa Haji Tamatu (dengan membayar dam SAR350), Haji Umroh, dan Haji Besar (dimulai dari wuquf di Arofah, jumroh di Mina dan diakhiri dengan tawaf dan sa'i).

Cek Kesehatan

 

Perjalanan ritual ini membutuhkan fisik dan mental yang cukup menguras tenaga. Kondisi kesehatan dan fisik ibu yang memang bermasalah sejak sebelum berangkat haji, menyebabkan sedikit kesulitan bagi ibu sendiri, apalagi ibu juga menderita jantung. Hal ini menyebabkan kesehatannya dalam kondisi tertentu menjadi benar-benar drop. Serangan jantung yang pernah datang dapat ditangani dokter kloter dengan baik.

 

Tertantang dan terpacu dengan teman lain serombongan, ibu berkeinginan untuk melaksanakan umroh yang kedua. Walaupun dengan kondisi fisik yang belum pulih sekali, ibu memaksakan untuk menjalankannya dengan bantuan kursi roda. Walaupun dengan bantuan kursi roda, karena pelaksanaan jaraknya menjadi lebih panjang (tawaf di lantai dua yang mempunyai lingkar keliling lebih jauh), benar-benar sangat menguras tenaga dan kesehatan ibu semakin menurun. Hal ini diperburuk lagi dengan situasi di maktab yang kurang mendukung, seolah-olah berada di rumah RSS tipe 21, ibu tidak dapat istirahat dengan tenang dan nyaman. Malahan sempat terucap keputusasaan ibu: "Apakah ibu sempat pulang ke rumah?".

 

Dalam kondisi yang belum belum pulih betul, rombongan harus melanjutkan perjalan ke Madinah. Tuhan Maha Penolong, dengan sisa-sisa tenaga yang pas-pasan tiba juga di Madinah dan mendapatkan hotel Taiba yang kondisinya nyaman dan letaknya berdampingan dengan Masjid Nabawi.

Suasana kamar yang tenang, lebih bersih dan nyaman setidak-tidaknya memberi kontribusi pemulihan kesehatan. Berangsur-angsur kesehatan ibu mulai membaik. Makan masih havermout, pisang dan jeruk. Kadang-kadang makan nasi atau hamburger. Cukup kalori untuk memulihkan tenaga.

 

Sholat jamaah lima waktu cukup dilaksanakan di kamar hotel, makmum dari Masjid Nabawi yang memang suara imam terdengar cukup jelas dari dalam kamar.

 

Interview Dokter 

Minggu tanggal 17 Maret 2002 kesehatan ibu belum begitu menggembirakan. Pada jam 08.30 bersama-sama dengan jamaah lain, juga seorang ibu yang juga menderita sakit yang hampir sama dengan ibu, bersama-sama dibawa ke Rumah Sakit Haji Indonesia oleh dokter kloter, Dr.Noorwati. Keberangkat an menggunak an ambulance, setelah dihubungi terlebih dahulu. Sesampai di rumah sakit dokter lain segera menangani untuk mendiagnosa lebih dalam tentang kondisi ibu. Dokter tersebut berkata: "Penyakit bawaan tanah air menyerang".

 

Kondisi rumah sakit sederhana dan lumayan baik. Berbeda dengan pelayanan rumah sakit di tanah air, di Rumah Sakit Haji Indonesia menyediakan konsumsi secara self service. Jika ingin minum sudah tersedia air panas, gula, kopi atau susu. Demikian juga makan. Semua tersedia dengan gratis.

 

Beberapa jam kemudian dokter mengijinkan untuk kembali ke hotel, dan kami diantar dengan ambulance dan semuanya tidak dikenakan biaya alias gratis.

Sempat terbetik dalam hati: "Begitu bagus bentuk pelayanan yang dapat diberikan kepada para pasien dan peangantarnya. Kapan pelayanan seperti itu dapat kita rasakan di tanah air?".

 

23 Jeddah

 

Keadaan ibu masih belum pulih betul. Walaupun demikian ibu masih kuat untuk sholat di Masjid Nabawi.

 

Minggu tanggal 17 Maret 2002 ibu mencoba untuk sholat Magrib ke Masjid Nabawi. Walaupun antara sholat Maghrib dan Isya' ada selang waktu sekitar satu jam, tetapi sayang kalau harus meninggalkan masjid untuk nantinya datang lagi. Biasanya sholat Magrib akan diteruskan dengan sholat Isya' tanpa harus meninggalkan tempat. Dalam prakteknya memerlukan waktu sekitar tiga jam untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Akibatnya kesehatan ibu terganggu lagi. 

Berangkat ke Jeddah

Hari Selasa tanggal 19 Maret 2002 merupakan hari terakhir di Madinah, perjalanan masih berlanjut menuju kota terakhir sebelum meninggal kan tanah suci, yaitu kota Jeddah. Jam 23.00 seluruh rombongan meninggalkan hotel Taiba dengan menggunakan bus. Yaa.. bus merupakan kendaraan yang ada untuk perjalanan antar kota, selain pesawat udara. Jangan membayangkan naik kereta api melewati padang-padang bukit batu di Jasirah Arab.

Sama halnya seperti pada saat kedatangan ke Madinah, pemeriksaan pasport dilakukan di check point. Tidak jelas siapa membawa pasport-paspot kami, yang jelas tidak beberapa lama kemudian bus kami sudah berangkat lagi. Keberangkatan pada malam hari tidak memberi kesempatan untuk melihat-lihat pemandangan selama dalam perjalanan, banyak waktu dihabiskan untuk tidur. Di suatu tempat yang tidak diketahui namanya, diberikan makan malam, walaupun sudah makan di Madinah.

Rombongan tiba di maktab Jeddah pada jam 08.00 keesokan harinya.

Maktab haji serupa dengan asrama haji Pondok Gede. Sesampai di kamar, setiap jamaah diberikan kupon makan sebanyak empat lembar untuk empat kali makan yaitu pagi, siang, malam dan pagi keesokan harinya. Atau sama dengan sehari semalam menginap disini.

Selama di Jeddah ibu mempergunakan untuk istirahat, memulihkan tenaga untuk persiapan perjalanan pulang ke tanah air yang memerlukan waktu 6-10 jam. Sore harinya kami ditawari untuk sightseeing di sekitar kota Jeddah, obyek utamanya adalah Laut Merah. Dikenakan biaya SAR10 per orang untuk mengikuti acara itu dengan lama waktu dua jam, mulai jam 16.00 sampai dengan jam 18.00. Ibu tertarik untuk ikut.

 

Dalam perjalanan ini kami dapat melihat-lihat kota Jeddah dari dekat. Jeddah adalah kota yang modern, bagus dan mewah. Bangunan-bangunan bercirikan kota metropolitan, jalannya lebar-lebar, lalu lintas sangat sibuk tetapi cukup teratur, tidak semrawut. Jika dibandingkan dengan Jakarta, jauh sekali perbedaanya.


 Jeddah & Laut Merah


Laut Merah merupakan obyek wisata yang pertama disinggahi. Pantainya bukan tempat yang nyaman untuk berenang, karena sepanjang pantai telah dibangun tembok-tembok batu untuk meredam ombak yang menghantam pantai. Tembok batu merupakan pilihan yang tepat untuk mendirikan bangunan penahan ombak tersebut, karena batu banyak terdapat dimana-mana dan tentu saja memperkecil biaya pembuatan. Laut Merah merupakan bentangan laut yang membujur dari arah utara ke selatan yang memisahkan benua Asia dan benua Afrika. Di sebalah timur laut Merah berbatasan dengan negara Arab Saudi sedangkan di seberangnya terletak negara Ethiopia. Monumen perahu Nabi Nuh berdiri kokoh sebagai kenangan atau gambaran tentang perjuangan Nabi Nuh yang berada di kapal setelah Tuhan mengkutuk umatnya dengan menciptakan badai banjir, seperti yang dikisahkan dalam Al Qur'an.

 

Selanjutnya oleh pak sopir ditunjukkan masjid Qishass  yang pada hari-hari tertentu (Catatan: biasanya setelah sholat Jum'at) digunakan untuk melaksanak an hukum pancung. Ternyata hukum pancung masih diterapkan sampai sekarang.

 

Istana raja yang terletak di Laut Merah cukup indah, terdapat air mancur di halamanya. Juga terdapat monumen sepeda yang mempunyai ketingian hampir sepuluh meter. Endri secara berkelakar pernah mengatakan bahwa ini adalah bekas sepeda Nabi Sulaiman. Terbetik sedikit pertanyaan dalam hati, kenapa monumen-monumen yang dibangun tidak ada satupun yang menggambarkan seorang pahlawan.

 

24 Pulang ke Jakarta

 

Kamis tanggal 21 Maret 2002 semua jamaah haji dari rombongan kloter 52 sudah bersiap-siap untuk meninggalkan jasirah Arab. Semua barang-barang sudah ada yang mengurusi mulai dari hotel sampai boarding di bagasi pesawat.

 

Jarak maktab di Jeddah ke Airport King Abdul Azis cukup jauh 20 km, hampir sama dengan jarak antara rumah Endri ke rumah Henri.

Jam 07.00 bus sudah meninggalkan maktab menuju airport.

 

Penyelesaian pasport memerlukan waktu yang relatip agak lama. Tetapi panitia sudah mengantisipasi dan makan pagi sudah disediakan juga. Kesehatan ibu agak terganggu lagi, sehingga dokter menyarankan untuk menggunakan kursi roda.


Siap2 Take Off ke Jakarta
Bersama-sama dengan ibu ada empat jamaah lain yang juga menggunakan kursi roda. Untuk menuju ke pesawat harus menggunakan fasilitas tersendiri, yaitu mobil khusus yang mampu membawa kursi roda. Dokter dan pendamping pasien juga ikut dalam mobil tersebut. Sedangkan masuk ke pesawat menggunakan lift khusus juga, biasanya ini digunakan untuk menaikan dan menurunkan peralatan catering selama perjalanan. Seperti biasa masing-masing penumpang akan mencari nomor tempat duduknya, khusus untuk penumpang yang sakit ditempatkan pada kelas VIP yang berada di belakang cockpit pesawat. Secara tak terduga kami bertemu dengan Fitri, teman Ana yang pernah tinggal di Pinang Griya.

 

Tepat jam 13.00 pesawat Garuda Indonesia meninggalkan landasan airport International King Abdul Azis, Jeddah. Perlahan dan pasti pilot mengarahkan pesawatnya dengan kekuatan penuh mendongak ke atas.

 

Udara cukup cerah dan mungkin ini memudahkan pilot dalam mengendalikan pesawatnya. Setelah mencapai ketinggian yang sudah ditentukan posisi pesawat sudah maintain. Pemandangan di bawah di balik awan-awan kecil terbentang padang pasir yang luas, geografi yang bergunung-gunung batu. Posisi berada kira-kira di atas negara Yaman. Sepanjang mata memandang hanya tampak padang pasir terlihat berombak seperti air, dalam pelajaran fisika dinamakan fatamorgana.

 

Selama satu jam kami melewati pemandangan yang monoton seperti itu. Dalam kondisi sedikit terkantuk-kantuk timbul pertanyaan bagaimana manusia dapat hidup di daerah segersang ini? Pantesan orang-orang Yaman banyak yang berkeliaran di Arab sebagai pengemis.

  

25 Penutup 

Rukun Islam yang kelima adalah kegiatan yang wajib bagi yang mampu. Artinya, semua rangkaian kegiatan mulai dari tanah air suci sampai kembali ke tanah air lagi memerlukan persiapan tenaga yang prima dan biaya yang tidak sedikit. Tidak semua orang mampu untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Ada biaya tetapi kondisi fisik dan mental tidak siap dan sebaliknya kondisi fisik siap tetapi biaya kurang mendukung.

 

Hal ini merupakan salah satu kendala yang paling sering kita dialami. 



Umat muslim yang menunaikan haji merupakan manusia pilihan yang benar-benar mampu dan mau untuk bersusah payah mengeluarkan biaya dan menguras tenaganya semata-mata untuk keperluan ibadah. Haji mabrur merupakan imbalan yang patut diberikan kepada jamaah yang dengan ikhlas dan pasrah melaksanakannya dan memberi nilai tambah bagi kehidupan bermasyarakat setelah menunaikan ibadah haji.

 

Nabi Muhammad sebagai nabi penutup umat manusia memberikan gambaran kepada kita semua bahwa beliau bukanlah orang yang egoisme. Rangkaian kegiatan yang juga dilakukan oleh beliau merupakan pengalaman spiritual yang dilakukan oleh nenek moyang kita, Nabi Ibrahim dan nabi Ismail.

 

Ibadah haji menggambarkan sejarah perjalanan Nabi Ibrahim sebagai umat pilihan Tuhan yang patuh dan taat dalam menjalankan amanatNya.

 

Akhirnya melalui sepenggal tulisan ini semoga kita dapat memetik tauladan yang diberikan kepada pendahulu-pendahulu kita. Untuk anak-anak, dan juga cucu-cucu, yang belum menunaikan haji, Bapak Ibu hanya bisa berdoa semoga kita semua dapat melaksanakan haji suatu hari kelak.

 


Tidak ada komentar: