|
23 Jeddah Keadaan ibu
masih belum pulih betul. Walaupun demikian ibu masih kuat untuk sholat di
Masjid Nabawi. Minggu tanggal 17 Maret 2002 ibu mencoba untuk sholat Magrib ke Masjid Nabawi. Walaupun antara sholat Maghrib dan Isya' ada selang waktu sekitar satu jam, tetapi sayang kalau harus meninggalkan masjid untuk nantinya datang lagi. Biasanya sholat Magrib akan diteruskan dengan sholat Isya' tanpa harus meninggalkan tempat. Dalam prakteknya memerlukan waktu sekitar tiga jam untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Akibatnya kesehatan ibu terganggu lagi.
Hari Selasa tanggal 19 Maret 2002 merupakan hari terakhir di Madinah, perjalanan masih berlanjut menuju kota terakhir sebelum meninggal kan tanah suci, yaitu kota Jeddah. Jam 23.00 seluruh rombongan meninggalkan hotel Taiba dengan menggunakan bus. Yaa.. bus merupakan kendaraan yang ada untuk perjalanan antar kota, selain pesawat udara. Jangan membayangkan naik kereta api melewati padang-padang bukit batu di Jasirah Arab. Sama halnya seperti pada saat kedatangan ke Madinah, pemeriksaan pasport dilakukan di check point. Tidak jelas siapa membawa pasport-paspot kami, yang jelas tidak beberapa lama kemudian bus kami sudah berangkat lagi. Keberangkatan pada malam hari tidak memberi kesempatan untuk melihat-lihat pemandangan selama dalam perjalanan, banyak waktu dihabiskan untuk tidur. Di suatu tempat yang tidak diketahui namanya, diberikan makan malam, walaupun sudah makan di Madinah. Rombongan tiba di maktab Jeddah pada jam 08.00 keesokan harinya. Maktab haji
serupa dengan asrama haji Pondok Gede. Sesampai di kamar, setiap jamaah
diberikan kupon makan sebanyak empat lembar untuk empat kali makan yaitu
pagi, siang, malam dan pagi keesokan harinya. Atau sama dengan sehari semalam
menginap disini. Selama di Jeddah ibu mempergunakan untuk istirahat, memulihkan tenaga untuk persiapan perjalanan pulang ke tanah air yang memerlukan waktu 6-10 jam. Sore harinya kami ditawari untuk sightseeing di sekitar kota Jeddah, obyek utamanya adalah Laut Merah. Dikenakan biaya SAR10 per orang untuk mengikuti acara itu dengan lama waktu dua jam, mulai jam 16.00 sampai dengan jam 18.00. Ibu tertarik untuk ikut. Dalam perjalanan ini kami dapat melihat-lihat kota Jeddah dari dekat. Jeddah adalah kota yang modern, bagus dan mewah. Bangunan-bangunan bercirikan kota metropolitan, jalannya lebar-lebar, lalu lintas sangat sibuk tetapi cukup teratur, tidak semrawut. Jika dibandingkan dengan Jakarta, jauh sekali perbedaanya.
Laut Merah
merupakan obyek wisata yang pertama disinggahi. Pantainya bukan tempat yang
nyaman untuk berenang, karena sepanjang pantai telah dibangun tembok-tembok
batu untuk meredam ombak yang menghantam pantai. Tembok batu merupakan
pilihan yang tepat untuk mendirikan bangunan penahan ombak tersebut, karena
batu banyak terdapat dimana-mana dan tentu saja memperkecil biaya pembuatan.
Laut Merah merupakan bentangan laut yang membujur dari arah utara ke selatan
yang memisahkan benua Asia dan benua Afrika. Di sebalah timur laut Merah
berbatasan dengan negara Arab Saudi sedangkan di seberangnya terletak negara
Ethiopia. Monumen perahu Nabi Nuh berdiri kokoh sebagai kenangan atau
gambaran tentang perjuangan Nabi Nuh yang berada di kapal setelah Tuhan
mengkutuk umatnya dengan menciptakan badai banjir, seperti yang dikisahkan dalam
Al Qur'an. Selanjutnya
oleh pak sopir ditunjukkan masjid Qishass yang pada hari-hari tertentu (Catatan:
biasanya setelah sholat Jum'at) digunakan untuk melaksanak an hukum pancung.
Ternyata hukum pancung masih diterapkan sampai sekarang. Istana raja yang terletak di Laut Merah cukup indah, terdapat air mancur di halamanya. Juga terdapat monumen sepeda yang mempunyai ketingian hampir sepuluh meter. Endri secara berkelakar pernah mengatakan bahwa ini adalah bekas sepeda Nabi Sulaiman. Terbetik sedikit pertanyaan dalam hati, kenapa monumen-monumen yang dibangun tidak ada satupun yang menggambarkan seorang pahlawan. |
|
24 Pulang ke Jakarta Kamis
tanggal 21 Maret 2002 semua jamaah haji dari rombongan kloter 52 sudah
bersiap-siap untuk meninggalkan jasirah Arab. Semua barang-barang sudah ada
yang mengurusi mulai dari hotel sampai boarding di bagasi pesawat. Jarak
maktab di Jeddah ke Airport King Abdul Azis cukup jauh 20 km, hampir sama
dengan jarak antara rumah Endri ke rumah Henri. Jam 07.00
bus sudah meninggalkan maktab menuju airport. Penyelesaian pasport memerlukan waktu yang relatip agak lama. Tetapi panitia sudah mengantisipasi dan makan pagi sudah disediakan juga. Kesehatan ibu agak terganggu lagi, sehingga dokter menyarankan untuk menggunakan kursi roda.
Tepat jam
13.00 pesawat Garuda Indonesia meninggalkan landasan airport International
King Abdul Azis, Jeddah. Perlahan dan pasti pilot mengarahkan pesawatnya
dengan kekuatan penuh mendongak ke atas. Udara cukup
cerah dan mungkin ini memudahkan pilot dalam mengendalikan pesawatnya.
Setelah mencapai ketinggian yang sudah ditentukan posisi pesawat sudah
maintain. Pemandangan di bawah di balik awan-awan kecil terbentang padang
pasir yang luas, geografi yang bergunung-gunung batu. Posisi berada kira-kira
di atas negara Yaman. Sepanjang mata memandang hanya tampak padang pasir
terlihat berombak seperti air, dalam pelajaran fisika dinamakan fatamorgana. Selama satu
jam kami melewati pemandangan yang monoton seperti itu. Dalam kondisi sedikit
terkantuk-kantuk timbul pertanyaan bagaimana manusia dapat hidup di daerah
segersang ini? Pantesan orang-orang Yaman banyak yang berkeliaran di Arab
sebagai pengemis. |
|
25 Penutup Rukun Islam
yang kelima adalah kegiatan yang wajib bagi yang mampu. Artinya, semua
rangkaian kegiatan mulai dari tanah air suci sampai kembali ke tanah air lagi
memerlukan persiapan tenaga yang prima dan biaya yang tidak sedikit. Tidak
semua orang mampu untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Ada biaya tetapi
kondisi fisik dan mental tidak siap dan sebaliknya kondisi fisik siap tetapi
biaya kurang mendukung. Hal ini merupakan salah satu kendala yang paling sering kita dialami. Umat muslim
yang menunaikan haji merupakan manusia pilihan yang benar-benar mampu dan mau
untuk bersusah payah mengeluarkan biaya dan menguras tenaganya semata-mata
untuk keperluan ibadah. Haji mabrur merupakan imbalan yang patut diberikan
kepada jamaah yang dengan ikhlas dan pasrah melaksanakannya dan memberi nilai
tambah bagi kehidupan bermasyarakat setelah menunaikan ibadah haji. Nabi
Muhammad sebagai nabi penutup umat manusia memberikan gambaran kepada kita
semua bahwa beliau bukanlah orang yang egoisme. Rangkaian kegiatan yang juga
dilakukan oleh beliau merupakan pengalaman spiritual yang dilakukan oleh
nenek moyang kita, Nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Ibadah haji
menggambarkan sejarah perjalanan Nabi Ibrahim sebagai umat pilihan Tuhan yang
patuh dan taat dalam menjalankan amanatNya. Akhirnya
melalui sepenggal tulisan ini semoga kita dapat memetik tauladan yang
diberikan kepada pendahulu-pendahulu kita. Untuk anak-anak, dan juga
cucu-cucu, yang belum menunaikan haji, Bapak Ibu hanya bisa berdoa semoga
kita semua dapat melaksanakan haji suatu hari kelak. |






Tidak ada komentar:
Posting Komentar