Minggu, 19 April 2026

Bapak Munggah Kaji #1


Bapak Munggah Kaji

 

Sebuah perjalanan ritual ibadah haji Bapak/Ibu Sutopo

 

1. Medio Maret 2002/ Dzulhijjah 1422 H [hardcopy]
2. Medio April 2026 / Dzulhijjah 1447 H [Hardcopy + Softcopy + Flipbook)

 


Bapak Sutopo (alm)  bin Sargiman (alm)
Lahir : Gundih, 11 Nopember 1931
Wafat : Malang, 2 Desember 2007


Ibu Sri Rusmiyatin (almh)
binti Martosuwarno (Alm)
Lahir : Gombong, 2 Agustus 1937
Wafat: Jakarta, 11 Januari 2007



 

1 Kata Pengantar

Tulisan ini merupakan edisi kedua dengan beberapa revisi dan tambahan ilustrasi gambar dengan bantuan AI serta publikasi dalam bentuk dijital. Termasuk perubahan judul dari Bapak Naik Haji menjadi Bapak Munggah Kaji 

Dalam bukunya Religion of Java, Clifton Heartz rnenjelaskan  bahwa ada tiga macam kategori penganut agama Islam bagi masyarakat Jawa yaitu santri, priyayi dan abangan. Santri yang menekankan pada aspek-aspek syariat Islam, Priyayi yang menekankan aspek-aspek pra Islam dan Abangan yang menekankan pentingnya aspek-aspek animistik.

Dari trikotomi kategori tersebut, bapak dalam ketegori yang terakhir. Latar belakang pendidikan dan lingkungan yang kurang rnendukung dalam pendalaman agama Islam, menjadikan beliau terkesan sebagai seorang yang rasionalis abangan atau Islam KTP.

Qodarullah, sebagai seorang yang rasionalis  yang diberi kesempatan dan untuk menunaikan ibadah haji, ada hal yang unik dan menarik untuk pembelajaran. Dalam beberapa bab terakhir Bapak telah berhasil menemukan kerasionalannya mengapa seorang penganut Islam harus menunaikan rukum Islam secara konsekuen.

Ditengah-tengah perjalanan dan kesibukan menunaikan ibadah haji, bapak masih sempat menuliskan beberapa goresan tulisan, suatu kebiasaan yang beliau sempatkan kalau bepergian ke suatu tempat yang baru, selalu mernbuat goresan lukisan/ sketsa. Sebagai apresiasi dan legacy bagi anak cucu, penulis, anak ke-3, seijin bapak mencoba untuk menyalin kembali sekaligus mengedit tanpa mengurangi inti dari isi keseluruhan tulisan aslinya.

Salah satu hal yang menarik dalam tulisan Bapak adalah terlihat kesan sangat enjoy sekali dalam perjalanan ini, semua fasilitas dan pelayanan yang disediakan dianggap perfect semua. Anehnya ketika penulis membaca salah satu harian Kompas edisi bulan April 2002 tentang pelaksanaan ibadah haji terjadi sebaliknya.

 

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Wassalam, Endri Diyanto.

2 Daftar Isi

#1 Kata Pengantar | Daftar Isi | Persiapan Haji | Informasi Haji | Berangkat Ke Jakarta | Banjir di Jakarta 

#2 Terbang ke Tanah Suci | Perjalanan Mekkah - Jeddah

#3 Mekkah | Menunggu Tanggal 8 Dulhijjah | Minna

#4 Kembali ke Mekkah | Tata Kota Mekkah | Ibadah | Ka'bah | Ikhlas 

#5 Madinnah | Ziarah dan Ibadah | Disiplin | Kepribadian 

#6 Rumah Sakit Haji Indonesia | Jeddah | Pulang ke Jakarta | Penutup 

 

  

3 Persiapan Haji

 

Bulan Mei tahun 2001, tak dinyana pada saat inilah menjadi titik awal akan terjadi suatu perubahan yang cukup berarti bagi kehidupan kami. Dalam suasana kesunyian sebuah rumah sederhana di salah satu kawasan sejuk di kota Malang yang hanya berhuni sepasang yangkung dan oma, karena kelima anak dan delapan cucu sudah menjalani kehidupan sendiri-sendiri di kota lain, Ana, satu-satunya anak perempuan kami dan biasa dipanggil jidhok (siji wedhok = satu perempuan), bertanya sekaligus menawarkan sesuatu hal: " Apakah Ibu, Bapak (bersama Pak Nyoto Surabaya, besan bapak) mau pergi haji tahun 2002 nanti ? ". Dalam ketermanguan atas pertanyaan tersebut, bapak/ ibu langsung manjawab : ''Tentu saja bersedia".  


Tawaran Berhaji

Kegundahan dan sejuta pertanyaan tersimpan dalam hati, apakah berhaji itu ?. Sholat sebagai bagian Rukun Islam saja jarang-jarang dilakukan, membaca surat-surat dalam bacaan sholat nggak hafal dan sering salah, apalagi mengerti ... koq mau berhaji ?. Sholat saja masih susah sujudnya koq mau berhaji ?. Bagaimana dengan bacaan-bacaan selama prosesi ibadah haji nantinya ?. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang  tergiang-ngiang dalam pikiran yang kadang-kadang susah diterangkan dalam kata-kata.

Nantilah dipikirkan yang penting niat.

 

Dalam beberapa waktu kemudian disiapkan semua perlengkapan administrasi untuk persyaratan haji, foto, KTP dan perlengkapan lainnya. Belajar membaca surat-surat yang diperlukan untuk keperluan sholat dimulai dengan pengenalan yang paling dasar. Alif, ba, ta, tsa ...  dan seterusnya merupakan huruf-huruf Arab yang mulai dikenalkan, untuk lebih lanjut digunakan membaca surat-surat dalam Al Qur'an. Sholat lima waktu juga mulai dikerjakan secara rutin. Walaupun kadang-kadang lupa atau melupakan diri, berkat peringatan dan himbuan dari oma & anak-anak tercinta. Kalau oma  tekun dan rutin belajar tahsin dan terjemahan Al Qur’an dan Hadist dalam suatu keompok kecil di rumah. Sholat lima waktu dengan kondsi yang seadanya tetap dilakukan, dalam arti bacaan dalam sholat masih belum bisa apalagi lancar.

 

Bulan Agustus, keluarga bapak Sutarso, teman sekaligus sahabat bapak, mengundang beliau berdua untuk menghadiri pesta pernikahan emas yang akan diselenggarakan di pantal Anyer, Propinsi Banten, Jawa Barat.

 

Sebelum ke Anyer, beliau berdua berdua singgah dulu beberapa hari untuk mengunjungi anak cucu yang berdomisili di Jabodetabek. Kegemberiaan yang luar biasa anak & cucu bisa dikunjungi  eyang dan oma, apalagi, alhamdulillah  eyang kakung bisa sholat. Kalau duduk iftirasy masih canggung, belum bisa santai, apalagi duduk tawaruk, tidak bisa. Kalau bangun juga teras berat, selain karena usia juga belum terbiasa. Kadang-kadang kami mengajak sholat berjamaah.


Pengajian di Rumah Jl. Mayang

 

Pun demikian pula, sekembali dari Jakarta,  bapak  bergabung dengan pengajian rutin dari ibu-ibu yang diadakan di rumah dengan ustadz Zamhuri, sebagai pembimbing dan guru mengaji mereka.

Sholat fardu secara berjamaah kadang-kandang bergabung dengan jamaah masjid Al Jihad yang letaknya di jalan Bondoyudo, persis di belakang (sebelah timur) kediaman beliau, jl Mayang 10 Malang.

Walaupun agak canggung, karena selama puluhan tahun tinggal di Sanansari, nama kampung kami, baru kali ini sholat berjamaah dengan tetangga – tetangga se RW, sehingga tidak heran jika seandaianya dalam pikiran terbesit pikiran, “ Alhamdulilah bapak RW bisa sholat bersama warganya”. Kebetulan bapak dipercaya sebagai ketua RW 05 Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

 

Setelah sekian sholat berjamaah di masjid, intensitas dikurangi dengan alasan tidak bisa memperlancar bacaan dalam sholat, karena sebagai makmum hanya mendengar dan harus mengikuti gerakan dan ucapan imam saja. Kepinginnya banyak praktek dan itu dilakukan dengan sholat sendiri.

 

 

4 Informasi Haji

Bapak-ibu berdomisili di kota Malang, beliau menikmati masa pensiun berdua saja seperti layaknya pengantin, karena kelima anak-anaknya hidup dengan keluarga masing di Jabodatek. Yang sulung, Hari dengan istri, Yani, dikaruniai sepasang anak, Rini & Ryan, berdomisili di Depok. Anak kedua, Edi dan istri, Linda, dikarunia sepasang anak, Ludy dan Fara, berdomisili di Kalimantan, tepatnya di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Sedangkan yang nomor 3, Endri dengan istri, Ratih, dan sepasang anak, Yoma dan Yusi, berdomisili di Jakarta, tepatnya di Cipulir Permai, Jakarta Selatan. Yang nomor 4, Ana dan suaminya, Bambang, dengan sepasang anak, Bala dan Bani, berdomisili di Jakarta Barat, tepatnya di daerah Kalideres. Dan, yang terakhir, Henri dan istrinya, Berti, sedang mengandung anak pertama, berdomisili di kota Tangerang, tepatnya perumahan Pinang Griya, Cileduk.

 

Waktu-waktu sebelum keberangkatan haji, kegiatan rutin dan keseharian di Malang dalam rumah tangga di laksanakan seperti biasa dan normal, mengantar oma belanja di pasar Klojen atau ke pasar Bunul, arisan. Atau menyalurkan hobi main tenis seminggu dua kali di lapangan tenis PJKA Embong Brantas.

Walaupun ada yu’ Tum, pembantu yang tinggalnya di daerah Klampisan, kadang-kadang Bapak juga membantu ibu membersihkan rumah. Kegiatan rutin yang lain,  mengunjungi Yang Uti, bulik-nya bapak, yang rumahnya tidak jauh, di jalan  Mayang 17.  Untuk mengajak teman dengan teman se profesi, guru SMA 1 Malang, saling kunjung mengunjungi pak Pardjono yang sampai saat ini masih aktif mengajar dan domisilinya juga tidak jauh dari rumah.

Untuk perawatan kendaraan untuk mobilitas, kadang-kadang ke bengkel untuk servis maintenance mobil Peogeot 323  atau Vespa

 

Peristiwa tahunan yang selalu ditunggu dalam setiap keluarga besar  adalah lebaran, anak/mantu/ cucu bertemu dalam momen yang bermakna, saling bersilaturahmi dan memaafkan. Tahun ini, 2001, tampaknya tidak seperti biasanya, agak sepi dari tahun-tahun sebelumnya. Dari kelima anak hanya penulis, Endri, dan keluarga yang sudah rnernastikan akan mudik. Sedang dik Ana dan keluarga belum bisa memastikan untuk mudik ke Malang.  Keluarga mas  Hari tidak bisa mudik, karena juga sedang persiapan untuk berangkat haji juga. Keluarga Edi juga tidak cuti karena jarak sehingga membutuhkan waktu yang cukup (dan juga biaya). Sedangkan si bungsu, keluarga Henri sebagai seorang suami sekaligus pengantin muda harus siaga penuh karena istrinya, Berti, sedang hamil menunggu kelahiran anak pertamanya.

Sebenarnya bapak menyarankan keluarga tidak usah mudik, toh nanti awal tahun depan akan ketemu juga, sebelum kerangkatan haji. Catatan embarkasi haji ikut jamaah dari Jakarta.

Tetapi karena sudah acara rutin & tradisi tahunan, sekaligus mudik ke keluarga besar Bapak Hadjid Mutohar, besan bapak, yang tinggal di Kotagede, Yogyakarta. Bahkan belakangan keluarga Ana-Bambang-pun juga rnernutuskan untuk mudik juga ke Malang dan sekaligus beranjangsana  Bapak Sunyoto(mertuanya) dan adik-adik iparnya yang semuanya berdomisili di Surabaya.


Pengumuman Nama Jamaah Haji


Pada bulan  Desember 2001, dik Ana mengabarkan bahwa nama Bapak Sutopo bin Sargiman  dan ibu Sri Rumiyatin binti Martosuwarno sudah tercatat sebagai calon jamaah haji Embarkasi DKI Jakarta  melalui Yayasan Miftahul Jannah, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) di Jakarta Barat. Dik Ana merupakan salah satu jamaah pengajian di yayasan ini. 


Untuk itu Bapak dan Ibu harus menghadiri pertemuan dalam rangka manasik haji, persiapan yang biasa dilakukan setiap calon jamaah haji sebelum berangkat ke tanah suci.

Sebenarnya Kantor Departeman Agama setempat juga mengadakan kegiatan serupa, tetapi biasanya KBIH menyelenggarakan sendiri secara khusus bagi calaon jamaah haji yang tergabung dalam KBIH tersebut.


Pertemuan di KBIH Miftahul Jannah
 

Karena pemberitahuan cukup mendadak, bapak yang akan berangkat sendiri ke Jakarta, tanpa didampingi ibu. Kendala yang dihadapi bagaiman cara untuk mendapatkan tiket ke Jakarta, karena akhir tahun banyak tranportasi umum di booking jauh-jauh hari sebelumnya. Termasuk Bus Safari Dharma Raya, langganan bapak-ibu kalau ke Jakarta.

Tidak direncanakan dan tidak di duga, kalau Allah berkehendak, apapun bisa terjadi. Mas Tutuk, temannya Mas Hari saat bekerja di PT Indra Karya, akan ke Jakarta menggunakan mobil sendiri. Mas Tutuk berdomisili di jalan Bango, tidak jauh dari kediaman Bapak, sehingga sudah akrab dan sering bertemu dan berbincang-bincang bersama.

Rencanya Mas Tutuk bersama temanya, berdua menggunakan mobil Taft dan masih tempat yang kosong, Bapak memutuskan untuk nunut dan bergabung dengan rombongan kecil itu. Alhamdulillah, dengan senang hati mempersilahkan.

 

Pagi hari setelah subuh, rombongan bertiga berangkat lewat jalur utara, Jakarta – Solo – Semarang – Cirebon Jakarta. Teman mas Tutuk hanya sampai di Solo, setelahnya perjalangn hanya berdua saja.

Singkat cerita mereka tiba di Jakarta hari sudah cukup malam. Bapak minta tolong mas Hari untuk menjemput di tempat tinggal mas Tutuk di daerah Tebet.

Keesok harinya, kami kaget ketika ditelpon kalau bapak sampai di Jakarta, karena memang tidak rencana.   

Bahkan saat bertemu lebaran di Malang juga tidak ada rencana dalam waktu dekat untuk ke Jakarta.

 

Pertemuan dengan jamaah sesama KBIH Yayasan Miftahul Jannah akan diadakan pada Hari Ahad tanggal 30 Desember 2001 jam 14.00 wib di jalan Peta Kalideres, Jakarta Barat.

Pertemuan seperti sebenarnya sudah dilaksanakan bebrapa kali, tetapi Bapak baru mengikuti karena faktor jarak domisili yang tidak mungkin bisa mengikuti terus menerus.

Adapun tujuan pertemuan  untuk saling mengenal satu sama lain karena kami akan menjalani hidup bersama dalam waktu yang cukup lama, lebih sekiran selama 40 hari (program haji regular). Dalam pertemuan sudah ditetapkan ketua regu kami yaitu pak Legimin, dilihat dari namanya mungkin berasal dari Jawa Tengah.

Untuk membantu semua informasi yang diperoleh dari Yayasan, bapak dibantu dengan Pak Erwan Sutrina, teman dekat mas Bambang, suami dik Ana,  mereka bertetangga satu komplek di perumahan Citra Garden I, Kalideres, jakarta Barat.

Pada hari ini pada pagi harinya, mas Hari dan mengadakan halal bil halal keluarga besar dari pihak bapak (mbah Gundih) di rumahnya sekaligus ratiban haji. Mas Hari dan istri, mbak Yani, menunaikan haji pada musim haji yang sama tetapi berbeda program dan embarkasinya.  Sengaja yang diundang hanya keluarga dari pihak Bapak saja, karena keluarga dari Ibu (mbah Gombong) sudah diadakan di rumah Dik Tuty Setiadi, jl. Kenari Larangan, Ciledug.

 

Banyak yang hadir yang pertemua tersebut, antara mbah Soekarno (Pondok Gede, Bekasi) dan keluarga, Bu Lik Samsi (Cipinang) dan keluarga, Oom Widagdo (Bekasi) dan istri, keluarga almh bude Kastari (Purwodadi) yang berdomisili di Jakarta.

Bapak diminta memberi sambutan sekaligus doa untuk keberangkatan haji.

Sayang pertemuan tidak sempat diikuti sampai selesai, setelah sholat dhuhur  Bapak harus segera meninggalkan acara, karena harus menghadiri pertemuan dengan jamaah haji dari KBIH Yayasan Miftahul Jannah. Dengan diantar diantar pak Parno, sopirnya mas Bambang.

 

5 Berangkat ke Jakarta

Kebiasaan bapak-ibu , kalau akan bepergian untuk waktu yang cukup lama, biasanya nengok cucu-cucu di Jakarta, menitipakan sebagian barang & benda-benda berharga kepada saudara/ tetangga yang amanah.

Keamanan rumah dititipkan ke Tiarto, suami yu’ Toem. Mobil dititipkan ke mas Hedi, jalan Mayang 6, untuk dipanasi mesinnya, setidaknya 2-3 hari sekali, sekaligus memeriksa air radioator. Maklum mobil sudah butut.

Surat­ surat penting dititipkan ke bu Djahwoto, tetangga jalan Mayang no 9, depan rumah.

Perhiasan-perhiasan yang cukup berharga dititipkan ke Bude Sup, istrinya alm mas Sutejo di Klojen.

Dengan perasan pasrah, kami sampaikan barang-barang tersebut untuk dititipkan.

Untuk anak cucu ibu membelikan oleh-oleh kesukaan yaitu keripik singkong Miroso dan keripik tempe Serayu.

 

Hari Senin tanggal 14 Januari  2002 jam 12.30 wib, bapak ibu  berangkat dari rumah dengan menumpang dua becak menuju agen bus Safari Dharma Raya di jalan Dr. Cipto, dekat pasar Klojen. Jaraknya lebih kurang 3 km.


Naik Becak ke Pool Bus Safari Dharma

Jam 14.00 wib bus berangkat meninggalkan kota Malang tercinta menuju Jakata, kota demontrasi karena sering terjadi demo. Alhamdulillah perjalan berjalan lancar, seetelah singgah di beberap tempat untuk makan dan buang air kecil, ke-esok harinya jam 09:00 wib  bus Safari sudah sampai di pool di jalan Kebayoran Lama.

 




Komunikasi terus dilakukan dengan bapak Erwan Sutrisna yang menjadi penghubung bapak dengan KBIH, sekaligus mengabarkan posisi sudah di Jakarta dan siap untuk acara-acara lain yang terakit dengan kepentingan jamaah.

Diperoleh informasi bahwa pertemuan jamaah dalam satu kloter, bapak tergabung  kloter 52 DKI Jakarta, akan diselenggarakan pada hari Jum'at tanggal 25 Januari 2002 jam 12.00 di Wisma Dharmais JI. Jend. Sudirman.

 

Pada hari yang sudah disepakati bersama, bapak bersama pak Erwan, dan juga rombongan calon jamaah yang lain berkumpul di rumah bu Hayati, pimpinan KBIH.

Kebetulan hari Jum’at, jamaah pria sholat Jum’at  di masjid jami Miftahul Jannah, Kalideres dan dilanjutkan dengan makan siang dirumah ibu Hayati, yang letaknya di dalam kompleh pondok pesantren.

Setelah makan siang, rombongan berjumlah 61 bersiap menuju Wisma Dharmais. Rombogan dipimpin langsung oleh Ibu Hayati, atau lebih akrab dikenal dengan sebutan ibu Amoy.

 

Sampai di Wisma, jamaah lain dari Kloter 52 sudah banyak berdatangan. Jumlah semua nya 359 jamaah.

Ketua kloter  yaitu Bapak Masruri Haris yang beralamat di JI. Masjid Al Mubarak II/16 Rt/Rw 008/02 Joglo Kembangan, Jakarta Barat, telpon 5854494.

Tim kesehatan dipimpin  oleh Dr. Noorwati.

Beberapa catatan yang perlu diketahui oleh semua rombongan yaitu:

a.      Rombongan Kloter 52 DKI Jakarta harus sudah berkumpul di Asrama Haji Pondok gede pada  Senin tanggal 11 Februari 2002 jam 17.00.

b.      Keberangkat jamaah pada Hari Selasa tanggal 12 Februari 2002 jam 13.00  dari  ke Airport Cengkareng

c.      Keberangkatan dengan bus full AC berjumlah 10 buah.

d.      Perlengkapan yang perlu dibawa yaitu tas jinjing saja, karena koper barang sudah dibawa tersendiri oleh petugas khusus.

e.      Pemeriksaan keimigrasian dilakukan oleh petugas doane jam 17.30. Pesawat yang digunakan adalah Garuda Indonesia Boeing 747-4-700" dengan rute Jakarta-Jeddah.

 

6 Banjir Jakarta

Langit berawan keabu-abuan menyelimuti kota Jakarta dan sekitarnya. Hari itu tanggal 28 Januari 2002 sejak pagi hari awan tebal menggelantung di semua kawasan langit ibukota, dapat dipastikan akan terjadi hujan. Qodarullah,  siang hari sampai malam hari Jakarta diguyur hujan dalam intensitas waktu yang cukup panjang dan lama.

Tanda bahaya di beberapa tempat diumumkan, baik melalui beberapa radio swasta yang peduli akan kondisi ibukota dan juga beberapa stasion teve swasta. Beberapa daerah baik di ibukota maupun di Botabek sudah terendam air, terutama di wilayah-wilayah yang merupakan daerah resapan air atau  daerah aliran sungai (DAS). Dan yang menyedihkan wilayah-wilayah sudah beralaih fungsinya menjadi  wilayah pemukiman.

Salah satu diantaranya yaitu di komplek Pinang Griya Permai, Cileduk, Kota Tangerang, rumahnya mas Bambang-Ana yang saat itu ditempati Henri dan Berti.  Hampir setiap tahun komplek warga yang terdiri dari  dua RW menjadi langganan banjir karena luapan Kali Pinang, cabang kali Angke, yang bersebelahan dengan rumah warga.  

 

Tibalah pada hari yang kelam dan tidak diinginkan,  Selasa tanggal 29 Januari 2002 hampir sebagian besar wilayah Jabodetabek terendam banjir.  Hujan belum menunjukkan akan reda, sedikit demi sedikit air mulai naik.

Info dari Henri , komplek Pinang Griya ketinggian air sudah mencapai dada orang dewasa, arus air cukup deras. Warga sekitar komplek membuat gethek/rakit dari batang bambu atau ban dalam mobil yang dipompa diatasnya dipasang papan, untuk mengungsikan warga yang terjebak banjir ke luar komplek yang wilayah relatif tinggi.

 

Bapak, ibu dan dik Ana dianter  pak Parno melihat kondisi banjir di  rumah Henri. Tidak seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, benajir yang terjadi pada tahun memang tidak terbayangkan sampai bisa separah itu.   Pada saat yang bersamaan Pak Kamal, besan bapak, bapak Berti,  juga datang ke mencari tahu keadaan Henri dan Berti.

Untungnya rumah  yang ditempat sebagian  bertingkat, sehingga menjadi tempat aman untuk terbebas dari genang air dan sekaligus tempat barang-barang berharga. Bahkan beberapa tetangga menitipkan barang-barang mereka kesini.   


Banjir di Pinang Griya

Beberapa tetangga mengumpul di lantai atas, karena tidak ada tempat lain yang lebih aman. Tidur, istirahat, memasak  dan aktifitas harian lainnya.

Harapan kondisi air banjir akan segera surut, terjadi sebaliknya. Air bertambah naik, bahkan di beberapa stinggi dada orang dewasa. 

Beberapa warga  memutuskan untuk mengungsi  ke tempat yang lebih aman di luar komplek.

Termasuk Kel Henri, kel Pak Chaidir, tetangga sebelah rumah.

 

Tanggal 3o Januari 2022 jam 14.00 pak Parno  & Bapak menjemput Henri di Posko Pengungsian yang ada di depan komplek perumahan. Berti diungsikan kerumah orangtuanya di komplek Halim Perdana Kusuma, sedangkan Henri diungsikan ke rumah dik Ana, dengan pertimbangan untuk memonitor kondisi rumah.Rumah ditinggalkan dan tidak ada yang menunggu.

 

Hari Kamis tanggal, 31 Januari 2002 cakupan  bencana banjir yang melanda wilayah Jakarta bertambah luas. Hujan belum berhenti. Kondisi jalan macet di mana-mana, selain genang air, lampu lalu lintas di titik-titik tertentu tidak berfungsi, karena gangguan listrik.

 

Jam 15.00 hujan berhenti,  Bapak, lbu, Henri dan diantar pak Parno meluncur dengan Daihatsu Rocky-nya melihat kondisi rumah di Ciledug.

Dapat di bayangkan bagaimana kondisi rumah pasca kemasukan banjir, selain air yang tidak bersih, akan ada lumpur, berbagai macam sampah, bahkan mungkin binatang-binatang yangmasih hidup atau sudah jadi bangkai dan lain-lain.Pak Kamal membantu menyediakan tenaga, pak Zainudin,  yang dapat membantu Henri membersihkan rumah.

Sebelum ke Cileduk, menjemput paka Zainudin ke rumah pak Kamal di Halim, Cawang. Selama perjalanan, lalu lintas macet baik yang lewat jalan biasa maupun jalab tol (Grogol – Halim).  Jam 18.00 wib rombongan sampai Pos Penampungan Banjir. Kondisi air berangsur-angsur surut, tapi masih belum aman.  Setelah beristirahat sejenak dan waktu mendekati malam dan untuk masuk rumah cukup jauh, +/- 300 meter, listrik juga bisa dinyalakan karena belum terlalu aman, rencana melihat rumah secara langsung apalagi bersih-bersih ditunda besok harinya.

 

Henri dan pak Zainudin kembali ke rumah dik Ana, sedang bapak dan ibu ke rumah penulis (Endri) di Cipulir.

Bapak dan ibu sampai di depan rumah cukup mengejutkan kami, karena tidak secepat itu, karena kondisi cuaca yang belum kondisif, hujan belum benar-berhenti, air banjir masih menggenang di banyak tempat.  Walau tidak membawa perlengkapan apa-apa (baju & perlengkapan pribadi), karena memang jatah nginep-nya bapak-ibu di Cipulir belum waktunya, tentu kami sangat senang sekali.  Semantara Yoma sedang melihat kondisi sekitar-nya, karena Pasar Cipulir yang secara geografi berada di belakang (selatan) komplek perumahan kami, salah satu daerah yang rutin selalu daerah terendam banjir. Selain karena daerah rendah dan bersebelah dengan kali Pesanggarahan yang terhubung dengan wilayah Bogor yang curah hujannya sangat tinggi.

 

Hari Jumat, 1 Februari 2002 pada pagi hari setelah melakukan kewajiban rutin, mandi, sholat subuh, sembari sarapan sambil ngobrol-ngobrol tentang kondisi terkini di Jakarta saat ini.  Dan.. tentu juga persiapan yang sudah dilakukan untuk melaksanakan ibadah ibadah haji.

Hari Sabtu 2 Februari jam 08.00 cuaca masih mendung  saya mengantar bapak-ibu untuk menjemput Henri & pak Zainudin untuk melanjutkan ke lokasi banjir di Pinang Griya, Cileduk.  Rupanya pak Parno & Henri sudah meluncur ke Cipulir sebelum ke Pinang Griya.

 

Cuaca walau mulai agak cerah tetapi belum atau jauh dari normal, jalan-jalan masih macet. Akses menuju lokasi dapat melalui beberapa jalur, lewat Joglo, lewat Cipulir atau lewat jalan tol Kebun Jeruk dan semuanya masih tergenang air banjir, sehingga rencana untuk bersih-bersih dampak rumah banjir. Secara keseluruhan kondisi Jakarta masih lumpuh total.

 

Hari Minggu tanggal 3 Februari 2002,mas Bambang kebetulan tidak sedang tugas terbang,  Henri dan pak Zainudin mencoba lagi untuk ke Pinang Griya dengan  menggunakan mobil off road, Land Rover, sekaligus test drive. Pada jam 10.00 pagi rombongan kecil berangkat dengan berbekal nasi bungkus sejumlah 15 buah dan Åqua secukupnya. Bapak tidak ikut karena pertemuan dengan calon jemaah haji dengan KBIH  Miftahul Jannah.

Honda Dibawa ke Bengkel


Ketinggian air masih setengah lutut, bahkan dibeberapa tempat bisa sampai selutut. Tanpa mengalami kesulitan yang berarti, karena kondisi mobil memang mendukung untuk jalan melewati berbagai rintangan, mobil sudah sampai di depan rumah di blok C 629. Beberapa peralatan rumah tangga dan barang-barang berharga diselamatkan dan dibawa  ke rumah mas Bambang di Citra. Kendaraan Honda C70 tahun 1978, yang legendaris, dipakai mas Hari kuliah ITS sampai lulus (1983), diteruskan oleh penulis di UGM juga sampai lulus (1986), dan lanjut dipakai Henri kuliah di UPN Yogya juga sampai lulus (1990) dan diteruskan sampai kerja di Jakarta, yang sudah terendam beberapa hari.

 

Pak Zainudin menuntun di bawa ke bengkel di jalan raya Pinang karena mesin mati. Henri dan pak Zainudin tetap tinggal di Ciledug untuk membersihkanrumah  sedangkan bapak dan Bambang kembali ke Citra Garden, Kalideres.

 

Rabu tanggal 6 Februari 2002 cuaca cukup cerah tetapi ramalan cuaca masih ada potensi turun hujan lagi.

Hari ini tidak ada rencana khusus yang berhubungan dengan kegiatan KBIH Miftahul Jannah yang terkait dengan persiapan ibadah haji. Bapak dan ibu akan belanja keperluan untuk persiapan selama ibadah haji di Mekkah dan Madinah misalnya  kopi, susu instan, teh, supermie, piring makan dan lain-lain. Belanja direncanakan ke Tangerang saja, sekaligus akan mampir ke Ciledug melihat kondisi terakhir rumah Henri.

Keadaan rumah masih belum begitu normal, pemulihan mungkin belum bisa dilaksanakan secara keseluruhan. Sedikit-sedikit Henri dan pak Zainudin mulai membenahi rumah yang porak poranda karena banjir.


Bersih-bersih Pasca Banjir
 Hari Jum'at tanggal 8 Februari 2002, bapak, ibu dan pak Parno sekali lagi mengunjungi Henri dan membawa beberapa peralatan pembersih yang mungkin bisa berguna. Ibu bersemangat sekali mencuci pakaian, dan beberapa peralatan rumah tangga lain. Bapak membantu mengeluarkan barang-barang, meja kursi dikeluarkan dan diletakkan di teras. Pompa dilepas dibersihkan dan diperbaiki, dan untungnya masih bisa berfungsi. Lantai digosok dan disikat serta di pel menggunakan karbol supaya nggak bau.

 

Tidak ada komentar: