Minggu, 14 Juni 2026

Aku dan DosaKu | Ust. Teguh Zudhan Fathoni | Kajian Subuh Online #301


Tidak ada manusia yang luput dari dosa, sebagaimana HR Tirmidzi : "Setiap anak Adam adalah penghuni tempat salah dan dosa"
Imam Hasan al Basri berkata : “Hari-hari dimana engkau tidak bermaksiat pada Allah, maka itulah hari rayamu”. Karena siapa yang tidak bermaksiat maka dia akan bahagia, kebahagiaannya keluar dari hati yang Allah berikan sinar cahaya. Sementara kemaksiatan itu mendatangkan kebencian di sisi makhluk, dan kemudian membuat suram. Membuat redup wajahnya. Karena tertutupi oleh dosa dan maksiat.


Kebersihan Hati Orang Saleh
Bagi ulama terdahulu, dosa adalah sesuatu yang menghantui. walau sudah bertaubat berkali-kali tapi masih menjadi perhatian. Ini salah satu ciri-ciri bersihnya hati. Jadi bersihnya hati seseorang itu, itu yang menjelaskan, walaupun dia sudah bertaubat, tapi dia masih terbayang-bayang. Dia masih khawatir Allah swt belum betul-betul mengampuni dirinya. Tapi bukan ketakutan fisik, tidak. Namun mereka gunakan sebagai bentuk kehati-hatian.

Kisah Fudail bin Iyad, seorang perampok kejam yang ditakuti masyarakat. Suatu ketika hendak merampok,  Allah memberikan hidayah dengan memperdengarkan surat Al Hadid 
ayat 16, apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an).  Kemudian Fudail terlemas dan tidak jadi merampok, bertaubat. Setelah tawabat beliau, beliau jarang senyum. Kenapa ? Karena selalu memikirkan dosa-dosa yang telah dia lakukan dengan mengatakan "Wa saw'atahu min ka wain afauta. Sungguh aku malu dihadapanmu, meskipun engkau telah mengampuni-mengampuniku".
Namun, pemikiran seperti ini tidak harus menjadikan rasa putus asa, karena dalam ibadah terdapat 3 rukun yang harus dilaksanakan secara bersinergi & seimbang yaitu rasa takut (khauf) & malu harus diimbangi dengan rasa cinta (mahabah) dan berharap (roja) kepada Allah swt.
⦁ Jika khauf berlebihan, bisa menimbulkan putus asa.
⦁ Jika roja' berlebihan, bisa menimbulkan rasa aman yang salah saat bermaksiat.
⦁ Saat ingin bertaubat, raja' harus dibesarkan agar tidak putus asa.
⦁ Saat bermaksiat, khawaf harus ditinggikan agar segera berhenti.


Muhasabah Diri
Pentingnya banyak bermuhasabah sebelum dihisab di akhirat. Orang yang sering bermuhasabah di dunia akan dimudahkan hisabnya di akhirat. Tidak ada manusia yang luput dari dosa; sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah yang bertaubat.

Usia 40 Tahun, dianggap sebagai usia penting di mana separuh kaki sudah menuju alam kubur. Ketaatan di usia ini berpotensi menjadi penutup hidup yang baik (khusnul khatimah), sementara kemaksiatan berisiko menjadi akhir hidup yang buruk (su'ul khatimah).

Flashback Dosa-dosa Masa Lalu,  apakah akan ditampakkan di hari kiamat ?
Pendapat 1, tidak akan diperlihatkan lagi sebagai konsekuensi dari nama Allah العفو  Al Afwu  (Yang Maha Pemaaf) yang maknanya menghilangkan jejak. 
Pendapat 2, ya akan diperlihatkan sebagai bentuk kasih sayang Allah, agar semakin bersyukur dan  mengingatkan dosa2 yg pernah dilakukan walau telah diampuni

Empat Hikmah Mengingat Dosa
a. Mencegah Kesombongan, menyadari bahwa semua ketaatan adalah taufik dari Allah sehingga kita mampu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan (Imam Tulkai Ibrahim).  Kemampuan sholat fardhu berjamaah, puasa sunnah, sedekah semata-mata karena taufik dari Allah, bukan kemampuan pribadi.
b. Mengingat Kematian, mendorong untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri. Nabi Muhammad saw, "Hiduplah sesukamu, fa'innaka mayitun, seumurnya kamu akan menjadi mayit". Kita melakukan itu, supaya kita mengingat kematian
c. Melakukan Muhasabah, untuk mempermudah hisab di akhirat dan bisa menurunkan ego, penyakit hati. Pada kitab Adda  Wad Dawa , dosa yang dilakukan seorang suami akan berdampak pada kuda  tungganggannya, ada saja ganggunan dalam aktifitas sehari-hari.
d. Meningkatkan Rasa Takut kepada Allah, takut diwafatkan dalam keadaan su'ul khatimah.


Renungan Saat Sedang ber-Maksiat 

1. Allah sedang Mengawasi.
Rasulullah selalu memerintahkan dalam ketakwaan dimanapun berada (HR At Tirmidzi) diantaranya dengan cara malu yang sebenar2nya, yaitu  menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, menjaga perut dan apa yang dimasukkan ke dalamnya, serta mengingat kematian dan kehancuran (HR At-Tirmidzi no.2458). Ingat pesan ulama : Jangan menjadikan Allah sebagai yang paling ringan pengawasan atas dirimu.

2. Kita adalah orang Bodoh sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nisa [4]:17 : "Sesungguhnya taubat (diterima) di sisi Allah diperuntukkan bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan dengan kebodohan, kemudian mereka bertaubat dalam waktu dekat".
Imam Ibnul Qayyim berkata: "Ahli ilmu dan dia melakukan maksiat maka  dia bodoh di atas ilmunya, karena ilmunya tidak berfungsi". 
Makna Bodoh :
Mendahulukan kenikmatan dunia dengan mengorbankan kenikmatan akherat.
Mengambil sedikit sesaat mengorbankan banyak sermpurna dan abadi
Kenikmatan tersebut berujung pada kesengsaraan.

3. Gugur pahala2 yang pernah diperoleh, yaitu :
⦁ Sirik, seperti dalam firman Allah swt pada surat Az Zumar ayat 65 : "Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: Jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya akan hapus amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi”.
⦁ Suka Mengungkit Sedekah, seperti dalam QS Al Baqarah [2]:264 : "Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).
⦁ Riba, jual beli yang mengandung unsur riba, seperti kisah Zaid bin Arqam dalam hadist yang diriwatakan Aisyah : "Amalan jihadnya bersama Rasulullah saw telah batal, kecuali jika dia bertaubat".

4. Awal Perubahan Kehidupan yang Lebih Buruk, seperti firman Allah swt dalam surat Al An'am [6]:110 : "Kamu pun tidak akan mengira bahwa) Kami akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) serta Kami membiarkan mereka bingung dalam kesesatan".
Syadda bin Aus  berkata " Jika kamu melihat seseorang mengerjakan maksiat kepada Allah, maka ketahuilah maksiat tersebut mendatangkan maksiat2 lain baginya"

5. Berdampak Buruk, seperti sabda Rasulullah saw : "Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong)” 
  Imam Ibnul Qoyyim dampak bermaksiat adalah menyerang hati, hati ternoda karena hitam dan mati perlahan-lahan  sehingga menyebabkan malas beribadah, tidak khusyuk dan tidak peka terhadap dosa.

6. Akan dihisab di hari kiamat, seperti firman Allah swt pada surat Yasiin [55]:65 : "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin: 65).

Tidak ada komentar: