Minggu, 21 Juni 2026

Seimbang dan Berdaya, Sehat Holistik & bermanfaat, Sukses dan Berkelimpahan | Ust. Muhammad Msykur AG | Kajian Subuh Online #302

Pilar Keseimbangan dalam Islam


1. Tawasuth (Berada di Tengah),  menghindari ekstremisme dan mengambil jalan tengah dalam segala aspek kehidupan, sebagaimana surat Al baqarah [2]: 143: "Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu".  Sehingga dalam doanya Nabi selalu mengharapkan Allah membrikan kebaikan  dunia dan di akherat serta terlindung dari azab neraka (QS Al Baqarah [2]: 201).  

2. Keseimbangan Dunia dan Akhirat,  mengakui pentingnya kedua aspek kehidupan  untuk menggapai pribadi yang bahagia atau sukses untuk bahagia dan berkelimpahan. Dunia adalah sarana untuk mencapai akhirat, dan keduanya harus dikejar secara seimbang. Pada QS Al Qashas [22]:77 : "Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".
Bagaimana ciri2 orang yang sukses ? mengacu pada QS Al Mukminun [23] :1-9, yaitu orang-orang yang :
a) khusuk dalam sholatnya (2) , banyak diantara kita sholat hanya sekedar mengugurkan syariah saja, tidak dalam rangka ingin bertemu dengan Allah atau hanya ingin dilihat Allah (Ihsan), 
b) meninggalkan perbuatan yang sia2 (3), melakukan aktifitas yang tidak produktif hanya sekedar bincang-bincang yang tidak bermanfaat bahkan cenderung mengarah ke ghibah,
c) menunaikan zakat/ sedekah (4), banyak yang tidak paham bahwa sedekah adalah salah satu terapi untuk menyembuhkan berbagai penyakit,
d) menjaga kemaluannya (5), menjaga libido eksualitas yang dapat mengurangi keberkahan hidup,
e) menjaga amanat & menepati janji (8), merupakan bukti tanggungjawan, kejujuran dan integritas seseorang
f) memelihara shalatnya (9), maknanya selalu memelihara dan memperhatikan salat lima waktu secara sempurna, tepat waktu, dan memenuhi persyaratan dan rukun-rukun.

Dalam prinsip psikologi modern juga disebutkan bahwa sukses itu terletak pada pikiran dan perasaan seseorang. Karena itu adalah entitas yang tidak nampak tapi pengaruhnya luar biasa. Di bidang neurologi atau neuroscience, otak setiap hari memproduksi 60 ribu pikiran. Sehingga jika kita berpikir gagal atau berpikir jelek maka logikanya kita terduplikasi menjadi 60 ribu kegagalan dalam pikiran kita. 
Makanya dalam agama Islam kita tidak boleh bersuudzon. Kenapa? Karena akan merusak diri kita sendiri. Sesuai firman Allah swt pada QS Hujurat [49]: 12, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa" diperkuat dengan QS Fussilat [41]: 46,  "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya" .



3. Mengelola Entitas Manusia
Pada diri manusia terdapat 5(lima) entitas yang berbeda karakteristiknya, yaitu :

a) Fisik (al jazad), berasal dari unsur bumi sesuai firman Allah swt pada QS Al Mukminun [23]:12, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari pati tanah". Eksistensinya adalah membutuhkan asupan makanan yang bergizi seimbang dan istirahat yang cukup.
b) Akal (al aql), organ tubuh untuk berpikir sehingga yang dibutuhkan adalah knowledge, ilmu pengetahuan. "Apakah mereka tidak menggunakan akal?" (QS. Yasin [36]: 68)
c) Nafsu (al hawa), eksistensi adalah untuk dikelola dan diperintah, kalau tidak cenderung berbuat kerusakan ."Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan" (QS. Yusuf [12]: 53).
d) Hati (al Qulb), pusat spiritual manusia sehingga selalu ingin melakukan kebaikan-kebaikan, amal saleh. "Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim). 
Ibnul Qoyyim dalam kitab Tibbun Nabawi, menjelaskan bahwa kebanyakan penyakit fisik disebabkan karena hatinya sakit dan dosa-dosa yang dilakukan.
e) Ruh (ar Ruh), sifatnya ghaib sebagaimana firman Allah swt, "Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku"(QS. Al-Isra': 85). Karakteriktiknya  berasal dari Allah, suci , benar, memberikan kehidupan, membawa fitrah dan menjadi sumber kesadaran spiritual serta menjadi penghubung antara Tuhan dengan makhluknya.   

Menjadi pribadi yang utuh dan seimbang adalah mengelola kelima entitas tersebut berjalan bersinergi. Ingat ! Dominasi hawa nafsu terhadap keburuhan  tanpa diimbangi kekuatan hati dalam mengarahkan akal & pikiran akan menyebabkan ketidakseimbangan. Ketidak seimbangan pada salah satu entitas dapat berujung pada kegagalan, penyakit, dan ketidak bahagiaan. Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian

4. Membangun Kualitas Ibadah,  menekankan pentingnya ikhsan dalam beribadah, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah, atau menyadari bahwa Allah melihat kita. Salat yang khusyuk dan tumaninah menjadi indikator utama kesuksesan.

5. Mewujudkan Konsep Diri Positif,   memiliki pandangan diri yang positif dan menyadari bahwa segala sesuatu adalah anugerah Allah.

6. Menjaga Kesehatan Holistik,  definisi sehat menurut Islam dan WHO mencakup sehat fisik, psikis, sosial, dan spiritual. 
⦁ Secara fisik sehat, tetapi hati merasa gelisah, was-was, resah berarti sedang sakit. Seringkali sakit fisik berakar dari penyakit hati dan dosa.
⦁ Secara fisik dan pikiran sehat, tetapi bermasalah dengan entitas sosial, misalnya secara psikis bermasalah dengan pasangan, dengan keluarga , dengan lingkungan. Ini juga sedang sakit.
⦁ Secara fisik, sosial, psikis sehat tetapi secara spiritual bermasalah, misalnya abai terhadap kewajiban-kewajiban syariah, tidak peduli dengan keluarga/ tetangga yang kekurangan, Ini juga sakit.

Dalam pendekatan neuro psikologi, sehat dan sakit itu selalu terkait mekanisme kerja syaraf di otak, perilaku, asupan dan istirahat badan/pikiran serta kekebalan tubuh.

Dengan pendekatan teori Masllow, hierarki kebutuhan fisik menduduki posisi terendah dan kebutuhan rohani (aktualisasi diri) yang tertinggi. Orang yang seimbang dan berdaya disebut dengan humanist.
Dalam ilmu Neuroscience yaitu yang seimbang Intelegency + Emotional  dan Spiritual Question-nya bagus.
Dalam Islam menjadi berdaya karena adanya keseimbangan antara al-jizm, al-hawa, al-aql, al-qulb dan ar-ruh.


Tiga hal yang Merusak Pribadi Seseorang:
1. Kikir/ pelit, tidak mau sedekah apalagi zakat (QS Al Isra [17]:29)
2. Kekaguman pada diri sendiri (QS Lukman [31]:18)
3. Hawa Nafsu yang selalu diikuti (QS Al An'am [6]:56)

Ajaran agama membebaskan melakukan apapun, bebas, tidak ada yang melarang dalam hidup. Tapi ingat ! Kematian yang tidak diketahui waktunya, segala sesuatu yang diperbuat akan diminta pertanggungjawabannya, 

Indikator Pribadi yang Seimbang dan Berdaya

1. Produktivitas: Meninggalkan hal-hal yang sia-sia dan fokus pada hal yang bermanfaat.
2. Kedermawanan: Rajin bersedekah dan membayar zakat.
3. Menjaga Diri: Menjaga kehormatan diri, kejujuran, amanah, dan integritas.
4. Kesehatan Jiwa dan Raga: Memiliki hati yang sehat, yang akan mendorong kesehatan badan dan akal.
5. Kecerdasan Multidimensi: Seimbang dalam IQ, EQ, dan SQ.


Rekomendasi:

1 Evaluasi Diri : Lakukan introspeksi mendalam untuk mengidentifikasi area ketidak seimbangan dalam kehidupan.
2. Fokus pada Keseimbangan: Prioritaskan upaya untuk menyeimbangkan kelima entitas diri (fisik, akal, hawa nafsu, hati, ruh).
3. Tingkatkan Kualitas Ibadah: Berusahalah untuk mencapai level ikhsan dalam setiap ibadah.
4. Kelola Hawa Nafsu: Latih diri untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu yang negatif.
5. Jaga Kesehatan Holistik: Perhatikan kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual secara bersamaan.
6. Terapkan Nilai-Nilai Islam: Jadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai panduan utama dalam setiap tindakan.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip keseimbangan ini, individu dapat mencapai kebahagiaan, kesuksesan, dan keberlimpahan baik di dunia maupun di akhirat.

Tidak ada komentar: