Minggu, 31 Mei 2026

Berkurban Jangan Menjadi Korban | Ustadz Hamdan Arief Hanif | Kajian Subuh Online #299



Esensi sejati dari konsep "kurban" adalah  pentingnya niat yang tulus dan tindakan yang selaras dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT,  Dengan demikian setiap individu menjadi pelaku kurban yang bermakna, bukan sekadar menjadi korban dari ritual atau ekspektasi semata.


Tafakur

Sebuah kisah Imam Al-Ghazali pernah menuliskan dalam kitabnya Ayyuh al-Walad.  Dikisahkan Syahul Islam Imam Hasan al-Basri itu sedang minum ketika sedang minum, gelas air yang beliau minum itu gemeter. Kemudian beliau pingsan.  Ketika beliau sadar ditanya, "Ya, Imam Hasan al-Basri kenapa engkau pingsan ?".
Beliau menjawab : "Ketika aku hendak minum air ini, aku teringat bahwasannya ternyata air minum ini adalah harapan bagi penghuni neraka " Artinya beliau sedangan mentafakuri apa yang dijalankana dalam kehidupan sehari-hari.
Maknanya  kita dalam menjalankan aktivitas perlu setelah kita menghadirkan sikap tafakur 

Idul Fitri sebagai bagian rangkaian ibadah dimulai niat karena Allah, berpuasa (mengharamkan) terhadap hal-hal yang biasa dihalalkan, membayar fidyah (karena ada udzur), membayar dzakat, diakhir dengan saling memaafakan dan sebagai ganjarannya Allah memberi pengampunan. Tafakurnya adalah ada makna mengaktuliasasi dan mengimplementasikan habluminallah dan habluminnallah sehingga mendapatkan amalan yang yang berpahala sempurna.

Konsep Idul Adha
Terdapat tiga tasmiah (nama) yang berbeda yaitu 1) Idul Hajj  artinya wukuf di Arafah sebagai pelaksanaan rukun haji, 2) Idhul Adha artinya penyembelihan hewan kurban, 3) Idhul Qurban artinya kembali mendekatkan diri kepada Allah (qoriba=dekat).
Apabila ketiga tasmiah tersebut direlasikan maknanya adalah ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub). Kurban yang sesungguhnya adalah tentang menyerahkan sesuatu yang dicintai kepada Zat yang lebih dicintai, yang dicontohkan oleh keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam kesediaannya mengorbankan putranya, Ismail AS.
Sebab pada dasarnya setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah,  Kemudian, kedua orang tuanya-lah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi "(HR Bukhari).

Rasulullah saw sebagai pemimpin di Madinah itu pernah beliau itu kurban 60 kambing & dibagikan kepada orang-orang miskin kala itu. Tetapi dalam keseharian sangat sederhana sekali. Ada suatu riwayat beliau pernah makan dengan lauk seadanya selama tiga bulan, bahkan menjelang wafat beliau masih menanggungkan baju perangnya di sebuah warung. Makanya beliau memprioritaskan harta beliau bukan untuk kecukupan beliau, tapi untuk keumatan. 

Maka, sesungguhnya jika setiap tahun selalu menyisihkan sebagian rejekinya untuk menyembelih hewan kurban, tetapi masih melakukan amalan-amalan yang dilarang Allah, tidak akan menjadikan kedekatan kepada Allah artinya tidak bernilai amalan yang berpahala alias sia-sia, walaupun mungkin secara jasmani bermanfaat.



Pelajaran dari Tokoh Teladan

Nabi Ibrahim AS, kesediaannya untuk mengorbankan hal yang paling dicintainya (Ismail AS) demi perintah Allah menunjukkan tingkat ketakwaan dan kedekatan tertinggi.
Nabi Muhammad SAW,  meskipun telah menjadi pemimpin dan memiliki banyak harta, beliau hidup sederhana dan memprioritaskan umatnya, menunjukkan bahwa kekayaan sejati adalah dalam pengorbanan untuk kebaikan yang lebih luas.
Sahabat Nabi (Abu Bakar RA), menangis ketika menerima amanah kekhalifahan, berbeda dengan banyak orang di era modern yang berlomba-lomba mencari kekuasaan, menunjukkan beratnya menata niat yang tulus.

Niat
Pentingnya Niat (Intention) dan keikhlasan adalah hal yang sangat krusial yang ditekankan  bahwa nilai setiap amal perbuatan, termasuk kurban, sangat bergantung pada niat pelakunya. Hadis “Innamal a‘mālu binniyyāt, wa innamā likullimri’in mā nawā, Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan”(HR. Bukhari dan Muslim) menjadi landasan utama. Tindakan yang dilakukan bukan karena niat ikhlas untuk Allah SWT, melainkan karena riya' (pamer), ujub (sombong), atau sekadar mengikuti tren, berisiko menjadikan pelakunya sebagai "korban" dari amalannya sendiri, bukan penerima manfaat spiritualnya.


Distingsi ,  pelaku kurban vs  menjadi korban adalah pada  motivasi dan hasil akhir.

Pelaku Kurban,  bertindak dengan niat ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengendalikan hawa nafsu, dan mengutamakan perintah-Nya. Hasilnya adalah kedekatan spiritual dan penerimaan amal.

Menjadi Korban,  melakukan ritual kurban tanpa niat yang benar, hanya untuk status sosial, pujian, atau kewajiban semata. Hal ini dapat menyebabkan kekecewaan, kegagalan mencapai tujuan spiritual, atau bahkan menjadi korban dari kesalahpahaman makna kurban itu sendiri.


Implikasi dan Rekomendasi

1. Fokus pada Niat, setiap tindakan, baik ibadah ritual maupun aktivitas sehari-hari, harus diawali dengan niat yang murni untuk mencari keridhaan Allah SWT.

2. Evaluasi Motivasi, lakukan introspeksi berkala terhadap motivasi di balik setiap pengorbanan (harta, waktu, tenaga) untuk memastikan keselarasan dengan tujuan spiritual

3. Prioritaskan Tanggung Jawab, utamakan kewajiban (seperti membayar utang) sebelum melakukan amalan sunnah (seperti kurban), kecuali jika kemampuan finansial memungkinkan keduanya tanpa mengabaikan kewajiban.

4. Transformasi Spiritual, jadikan momen kurban sebagai sarana untuk mentransformasi diri, bukan sekadar ritual tahunan. Ini berarti mengorbankan ego, keinginan duniawi yang berlebihan, dan hal-hal yang menjauhkan dari Allah.

5. Pengelolaan Dana/Aset,  penggunaan dana atau aset, terutama yang berasal dari sumber kolektif atau publik (seperti APBN), harus dilakukan dengan transparan dan sesuai peruntukannya, serta tidak diklaim sebagai kurban pribadi untuk menghindari kesalahpahaman etika dan syariat.

Esensi kurban adalah tentang kedekatan dengan Allah melalui pengorbanan yang tulus dan ikhlas. Dengan memahami dan menginternalisasi makna ini, individu dan organisasi dapat memastikan bahwa setiap tindakan pengorbanan mereka bernilai ibadah yang diterima, bukan sekadar menjadi ritual kosong atau bahkan menjadi korban dari kesalahpahaman makna.

Tidak ada komentar: