Selasa, 24 Maret 2026

MUASABAH AKHIR RAMADHAN | Ustadz IMRON ROIS SPd.I | Kajian Subuh Online #292 | 19 Maret 2026 | 20 Ramadhan 1447 H

           Melanjutkan amalan-amalan selama bulan  Ramadan, penting untuk muhasabah diri dan mengingatkan bahwa amal yang istiqomah, walaupun sedikit merupakan amalan yang lebih dicintai di sisi Allah, Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Sa'd bin Sa'id telah mengabarkan kepadaku Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit." (HR Bukhari Muslim no.6465).

           Setelah Ramadan, harapannya tetap menjaga amal dan terus bersyukur serta berdoa agar Allah memberi istiqomah

Tujuan Puasa

            Dalam Al Qur’an, ayat-ayat yang menjelaskan tentang paket-paket ibadah dan amalan-amalan Ramadan tercantum pada Surat Al Baqarah dari ayat 183 sampai dengan 186, dan berisi tujuan dari diperintahkan orang beriman untuk berpuasa, yaitu . menjadikan pribadi muttaqin (QS 2: 183), syakirin (QS 2:185) dan rasidin (QS 2: 186).

            Terdapat dua diksi yang menarik untuk menjadi perenungan, yaitu

a.  Aamanu, puasa hanya diperuntukan untuk orang-orang yang beriman saja. Bagi       orang-orang yangmerasanya dirinya tidak beriman, tidak ada keweajibana baginya       untuk berpuasa.

b.  La'allakum, berisi tentang harapan, artinya tidak banyak yang orang-orang berimana yang mampumeraih tujuan berpuasa itu,  tergantung usaha dan kesungguhan masing-masing.

 Mengapa untuk mencapai takwa harus berpuasa  lebih dulu ?

            Manusia terdiri dari jasad dan rohani yang keduanya memerlukan nutrisi. Jasad digerakkan oleh nafsu sedangkan rohani digerakkan oleh qolbu/ hati.

a.   Jenis-jenis nafsu yang selalu hadir di jasa manusia

1.  Nafsu Ammarah (النفس الأمارة بالسوء), yang selalu mendorong manusia kepada keburukan,    merasa besas tanpa aturan, mengikuti syahwat, mengikuti bisikan dalam kemaksiatan, mencela  dan sebagimanya . Allah mengabadikan sifat ini dalam firman-Nya :

 وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53)

     2.   Nafsu Lawwamah (النفس اللوامة), adalah jiwa yang suka mencela, baik diri sendiri (lalai dari kewajiban) maupun mencela orang lain saat berbuat ketaatan.

             Allah  berfirman:

 لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ ۝ وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

 “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan Aku bersumpah demi jiwa yang suka mencela.” (QS. Al-Qiyāmah: 1–2)

      3.   Nafsu Mutmainnah (النفس المطمئنة) , adalah  jiwa yang tenang, damai, dan tenteram dengan ketaatan.

             Allah memujinya dalam firman-Nya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(QS. Al-Fajr: 27–30)

 b.    Jenis-jenis kondisi qolbu :

 1.      Qolbun mayyit atau hati yang mati, yaitu orang yang jahatnya lebih jahat dari                  binatang sebab jahatnya menggunakan akal. Kondisi hati ini juga tidak memiliki              kehidupan dan tidak mengenal Tuhannya. Orang dengan hati ini maka akan                    memuaskan apa yang disukainya.

 2.      Qolbun maridh atau hati yang sakit, yaitu walau dia bisa saja beriman, tapi          penyakit hatinya banyak. Ciri khasnya tidak pernah tentram, galau, was-was,  cemas, tidak menikmati hidup. Orang dengan hati yang sakit memiliki perasaan iri hati, arogan, sombong, ujub, takabbur dan penyakit hati yang lain (QS Al Baqarah [2]:10)


 3.     Qobun salim, yaitu  orang yang hatinya bersih dan mulia. Orang yang bahagia     hidupnya karena tidak ada penyakit di hatinya. Hati yang sehat dan memiliki     kesempurnaan serta kekuatan sesuai dengan fungsi yang sebagaimana         ditetapkan-Nya (QS Soffat [37]:10)

             Untuk mengendalikan keduanya, jasad dan rohani, haru diberikan nutrisi yang seimbang. Hanya saja, banyak kebanyakan kita dominan dan fokus pada nutrisi jasmani, dampaknya jasadnya dipenuhi dengan nafsu amarah dan hatinya bagaikan mayit, mati dan tidak ada kehidupan apalagi menggunakan akal dalam menggunakan fungsi- fungsi jasad dalam bersikap dalam kehidupan atau mengendalikan hawa nafsu.

            Puasa adalah aktifitas untuk mengendalikan jasad, dengan mengharamkan suatu yang dihalalkan (pada waktu-waktu tertentu).  Sekaligus memberi nutrisi hati dengan bersifat sabar, menahan nafsu amarah, bersifat jujur dan menimbulakan rasa kepedulian kepada sesama dan rasa empati.

Muttaqin

            Memandang khitaban dari surat Al-Baqarah ayat 3-4, yaitu ciri-ciri orang muttaqin yaitu yang melaksanakan a) shalat, b) berinfaq dan c) meyakini turunnya Al-Quran sebagai petunjuk.

1.  Melaksanakan shalat, dalam bulan Ramadhan, segala keistimewaannya,  kita tidak hanya diminta oleh Allah untuk memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan shalat fardu saja, tapi kita diharapkan untuk bisa juga mempertimbangkan dan memperhatikan shalat-shalat sunnah. Kenapa orang muttaqin adalah orang yang yuqimu nassalah. Orang yang tidak pernah memperhatikan tidak hanya hal-hal yang fardu, tapi juga diharapkan hal-hal yang sunnah. Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

 2 .   Berinfaq, wa mimma razaqnahum yunfikun. Sebagai bagian dari introspeksi diri adalalah sudahkah kita menyadari ketika kita diberikan rezeki oleh Allah SWT? Ketika kita sudah diberikan limpahan rezeki oleh Allah, Sudahkah kita yunfikun? Sudahkah kita berinfak kepada saudara kita, kepada saudara-saudara yang membutuhkan ?

Dalam satu hadist Rasulullah SAW bersabda, dikatakan oleh sahabat Ibnu Abas, Nabi Muhammad itu adalah orang yang paling dermawan. Di bulan Ramadhan kedermawanan itu bertambah, ibaratnya hembusan angin (HR Muslim no. 2308).

 3.  Mengimani turunnya al-Quranul Karim kepada Rasulullah, mendekati al-Quranul Karim. Dengan Al Qur’an kita akan dibimbing, diberi petunjuk, dalam beraktifitas, ibadah, beramal, bermuamalah dan lain-lain.

             Mutaqin adalah orang yang tidak hanya memiliki hubungan baik dengan Allah, tapi mutaqin adalah orang yang juga memiliki hubungan baik dengan orang lain. Berupa apa? Kepada Allah berupa sholat, kepada orang lain berupa infaq. Bukankah orang yang hatinya lembut yang baru bisa berinfaq pada orang lain? Kalau hatinya keras, tidak bisa dia berinfaq, membantu, bersedekah pada orang lain.

       Makanya yang kita latih selama Ramadan itu ini. Kita ingin mendapat predikat mutatin dengan cara apa? Melembutkan hati kita. Dengan cara apa? Memberikan upaya agar kita mendengarkan kembali keinginan hati kita.

Karena orang yang terus mendengarkan hati dia adalah pribadi yang akan mencapai derajat ketakwaan kepada Allah SWT.

 Syakirin

            Ucapan terima kasih atau alhamdulillah karena ada sesuatu yang diterima dalam bntuk hadiah atau kenikmatan dunia. Puasa Ramadhan menjanjikan hadiah, yaitu kegembiraan berupa :

a.    saat berbuka puasa dan 

b.    turunnya Al Qur’an, sebagai heart to heart advice, nasehat (mau’idah) dari hati ke hati, yaitu tutun karunia dan rahmat Allah yaitu  memberi pelajaran, penyembuh  penyakit yang ada di dada (hati), dan petunjuk & rahmat (QS Yunus [10]:57-58)

c.     mengumandangkan takbir, sebagaimana Rasul & para sahabat bertakbir saat fatkul Mekkah, sebagai ekspresi rasa syukur menerima hadiah dari Allah.

     Takbir dalam bentuk lisan & yg lebih penting takbir hati, karena sembuhnya hati, nafsu amarah sebelum ramadhan berubah menjadi nafsu mutmainah.

d.    memaknai takdir, sampai pasca Ramadhan kondisi masih sehat, Maknanya masih nutrisi jasad yang kita dikosumsi yang notabene adalah makanan dari bumi.

 Rasyidin

            Rasid yaitu yang lurus, fokus pada jalan yang lurus. Ciri yang utama adalah banyka meminta, maknanya orang yang paling dekat akan sering & selalu minta karena tidak ada lagi sekat diantaranya. Sehingga bulan Ramadhan disebut sebagai syahrud du’a (bulan penuh doa)

Contoh : Rasul dalam kesehariannya tidak lepas dari permintaan dalam doanya.


Istikomah

                Namun, ada pesan Rasul yang menyeramkan sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Abu Bakar RA berkata, 'Wahai Rasulullah! Engkau telah beruban'. Beliau SAW menjawab:  'Telah membuatku beruban (surat) Huud, Al-Waaqiah, Al-Mursalaat, Amma yatasaa aluun, dan Idzasy Syamsu kuwwirat'",  (HR At-Tirmidzi, Al-Hakim, Abu'aim).

 فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

 Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan

 (QS Hud [11]:112)

Inti dari ayat ini adalah istikomah dalam setiap amalan. Rasul mengerti betul bahwa aktifitas yang dilakukan terus menerus dan bersinambungan tidak mudah. Namun demikian, walau ini pekerjaan yang berat Allah memberikan tips  untuk mampu melakukan.

a.         Berdoa seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw   :

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

 “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (QS Ali Imran [3]:8)

b.  Melakukan amalan seperti istighfar 70-100 kali setiap hari dapat membantu menjaga istikomah

c.     Konsistensi memohon perlindungan Allah dari tergelincir, latihan selama 20-60 hari,    serta menanamkan kebiasaan adalah kunci keberhasilan.

d.    Hati manusia seperti bulu yang gampang tertiup angin, membutuhkan latihan dan   usaha terus-menerus, bahkan sampai 20-60 hari agar menjadi bagian dari diri.

e.   Berdoa dengan penuh kesungguhan dan yakin bahwa Allah adalah pemberi nikmat             dan anugerah khusus yang melebihi layak mendapatkan, serta terus meminta agar             hati tetap lurus dan tidak tergelincir.


Tidak ada komentar: