....

Senin, 01 Oktober 2012

Negeri Paman Ho

Bandara Internasional Ho Chi Minh

Dalam dua kesempatan yang berbeda, kunjungan ke negeri Paman Ho, plesetan dari Uncle Sam, negeri yang menaklukan negeri Paman Sam, terkesan tidak pergi ke  luar negeri. Perawakan dan bentuk muka yang melayu faces, tidak jauh berbeda kecuali setelah berbicara langsung atau mendengar pembicaraan masyarakat lokal. Jejak-jejak peperangan panjang karena perbedaan ideologi pemimpinnya, terlihat pada beberapa situs sejarah kelam yang dikelola dalam wisata. Jejak-jejak sejarah kelam tampak dominan di eks Vietnam Selatan, dulu ber-ibukota di Saigon, sekarang diganti
nama menjadi Ho Chi Minh. Presiden Vietnam Utara yang makamnya diawetkan sampai sekarang dan ditempatkan di muselium di Hanoi (dulu Vietnam Utara). Dua kota besar ini di Vietnam dapat dicapai dengan beberapa pesawat dari Jakarta (ke Ho Chi Minh) atau Changi (ke Hanoi).

Ho Chi Minh City
Nama baru dari kota Saigon, eks ibukota Vietnam Selatan,merupakan kota yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.
Kathedral Nore Dame
. Vietnam Selatan merupakan eks jajahan Perancis. Di beberapa tempat masih terdapat sisa-sisa nama jalan dan bangunan bergaya Eropa. Sebut saja bangunan kantor pos, gereja kathedral dan beberapa bangunan pemerintah dengan corak dominan warna kuning. Notre Dame Cathedral, mengingatkan  pada Notre Dame de Paris, yaitu katedral berasitektur gothic di sebelah timur Île de la Cité di Paris. Terlihat banyak murid sedang praktek menggambar surealistik bangunan ini. Kantor pos Vietnam (Buu Dien), contoh arsitektur lain peninggalan masa penjajahan.
Kantor Pos (Buu Dien)
Masih digunakan fungsinya sebagai kantor pos dan toko souvenir serta sejarah bangunan dalam bentuk keterangan dan lukisan di beberapa dinding.
Bekas kantor presiden Ho yang ditata apik dengan berbagai koleksi souvenir. Diantaranya kaki gajah yang digunakan sebagai tong untuk tempat barang-barang, mengingatkan pada koleksi musium kerajaan Johor Baru.
Museum Istana
Jika ingin souvenir oleh-oleh kerabat dapat diperoleh di pasar Cho Ben Than. Masih di dalam kota,terdapat beberapa museum.Kemelut pengaruh perubahan dan perebutan ideologi liberal ala amerika dan komunis ala china, berbuntut invasi tentara US (era Nixon) ke Vietsel tahun 1975an. Perang fisik dengan berbagai media senjata dan peralatan perang yang standar dan yang mengerikan bisa disaksikan bekas-bekasnya di beberapa Museum Perang.
Cho Ben Than
Cunchi, terletak 75 km di luar kota Ho Chi Minh, memberi gambaran kepada dunia tentang bentuk-bentuk strategi perang darat dengan segala atributnya. Jebakan mematikan, dengan varian-nya, perlindungan diri dari serangan udara,
dahsyatnya bom dari pesawat B52 ditampilkan dalam bentuk kilas balik perjalanan rakyat Vietnama dalam areal seluas +/- 25 ha.
Cunchi, Mesuem Lapangan Perang Vietnam
Paket perjalanan dengan menggunakan bus dengan seorang guide dengan membayar 200.000 dong. Sebagai bagian dari promosi wisata, bus rombongan berhenti di industri merangkap show room souvenir. Uniknya pengrajinnya adalah korban disabel yang lahir karena efek Vietnam Rose.
Dengan tiket 20.000 dong seorang guide akan mendampingi pengunjung untuk menjelaskan dalam bahasa Inggris. Masih dalam suasana masa lampau yang sama, terdapat War Reminans Museum. Dahsyatnya bom kimia dalam program Agent Orange yang berdampak pada ketidaknormalan (cacat genetis) bayi-bayi yang lahir (Vietnam Rose).
War Reminant Museum
Keunikan lain dari kota ini adalah semrawutnya motor roda 2 sebagai moda transportasi berbaur dengan sedikit kendaraan roda 4. Walaupun demikian, pengamatan pada jalan padat dengan taman di
depan pasar Cho Ben Than tidak ditemukan kemacetan yang berarti, walaupun sebagian pengendara mengabaikan laampu lalin.
Saling pengertian. Yang lain, kabel listrik dengan kesemrawutan yang lain, Tidak jelas, apakah karena kondisi ini, beberapa souvenir kota Saigon menggambarkan situasi ini.

Hanoi.
Jika kota terbesar di selatan Vietnam, Ho Chi Minh, begitu pesat dengan pembangunan gedung-gedung modern, Hanoi terlebih lebih klasik dengan peninggalan bangunan paninggalan penjajah Perancis.
Moseleum Ho Chi Minh, bangunan berbentuk kotak persegi setinggi 20-25 meter, tempat bersemayam jenasah mendiang presiden Ho yang di balsem, seperti makam Lenin di Moskow. Sayang sekali, pada saat itu museleum ditutup karena jenasah sedang dalam proses pembalseman ulang. Di belakang taman muselium terdapat taman dengan pagoda satu pondasi (one pilar pagoda).
Taman kota dengan kolam, Hoan Kim, walaupun bukan week end, dimanfaatkan warga setempat untuk bersantai-santai.
Di salah bagian dari kolam terdapat pertunjukan wayang air, hanya untuk pertunjukan malam hari.
Museum Ho Chi Minh
Katedral dengan arsitektur gotic mirip dengan notre dome, tampak kusam tanpa cat, terlihat kusam. Tidak jelas apakah disengaja, sehingga tampak unik. Di tengah mayoritas penduduk beragama Budha,
Kathedral Hanoi
di daerah kota tua, terletak di Hang Luoc st.di tengah-tengah pertokoan yang ramai pada malam hari (night market).
Masjid Al Noor Hanoi, Huan Luoc
Masjid dengan takmir seorang keturunan Pakistan, sepi, sholat Isya hanya diikuti 4 jamaah saja. Uniknya ada tulisan Tiada panggilan sepenting panggilan Illahi. Jelas,
pesan ini ditujukan bukan untuk WNV, Warga Negara Vietnam.
Wisata alam yang unik lagi adalah Ha Long Bay. Terletak di teluk Tonkin,
Ha Long Bay
mendekati perbatasan dengan China, merupakan kawasan  wisata laut seluas 1500 km2 dengan adanya duaribu-an pulau-pulau kecil yang tersebar.
Sebagian besar tidak berpenghuni karena kecuramannya, sebagian digunakan sebagai gardu pandang yang berada di puncak. Perjalanan wisata dibandrol dengan harga 75-120 $US untuk dua hari. Hampir setiap hotel menyiapkan paket wisata ini. Jam 08.00 keesok harinya, penjemput dari travel agent sudah datang. Peserta dikumpulkan dulu di kawan Huan Loc, bersama dengan peserta lain menuju pelabuhan Bay Tham Marine, berjarak 170 km ke arah timur. Menggunakan mini bus ditempuh selama 2 jam. Seperti biasa, istirahat di Thanh Dong, workshop dan penjualan souvenir khas Vietnam. Perjalanan menggunakan perahu cruize yang cukup bersih dan lapang, kamar tidur dengan kamar mandi sendiri. Cuaca pagi cerah, perjalanan selama 3-4 jam ke arah utara.Eclipse, nama cruize yang menjadi host perjalan wisata ini.
Rupanya banyak sekali agen-agen wisata yang memberikan paket ke Ha Long Bay, dan dikelola secara profesional. Paket wist termasuk wisata kano, dinner ala western, breakfast dan lunch. Sensasi Halong Bay memang luar biasa, unik, hanya beberapa tempat yang bisa menyaingi, satu diantaranya Raja Empat. Salah satu obyek wisata yang diakui Unesco.
Pemukiman pekerja wisata layaknya kampung laut menjadi tempat transit sebelum wisata kano. Rombongan diberi waktu satu jam untuk menikmati kano sendiri-sendiri. Walaupun seumur-umur belum pernah menggunakannya, tidak terlalu sulit untuk melakukan olahraga air ini. Asik. Menjelang magrib, pemandu mengajak rombongan menuju cruize untuk persiapan mandi untuk dinner resmi. Pembagian kamar sesuai dengan jumlah tamu. Semua tamu rombongan pelajar-pelajar bule couple, kecuali penulis. Paket dinner didesain resmi ala western dengan urutan hidangan awal sampai penutup.
Kagok saja bagi kita yang tidak biasa. Basa-basi ngobrol asal-asal, dilanjutkan dengan menikmati malam di tengah deretan pulau-pulau kecil dan kerlipan lampu-lampu dari cruize lain yang sedang sandar jangkar.Suasananya santai...
Hari kedua di cruize, setelah breakfast pengunjung diantaer ke goa yang berada di salah satu pulau,  Hang Su Sot. Tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan goa Gong di Pacitan. Bedanya disini
sudah dikelola secara profesional dan terintegrasi dengan baik.
Berakhir sudah perjalanan di Hanoi, saatnya kembali ke tanah dan kerja rutin as usual.
















Senin, 23 Juli 2012

GMT+8

 Tertarik dengan penyatuan WIB,WITA dan WIT dalam satu waktu, L Wilardjo, fisikawan menulis artikel di harian Kompas pada tanggal 28 Mei 2012, sebagai berikut :

Oleh tokoh pers nasional, Adinegara, Nusantara dijuluki Zamrud Katulistiwa.
Di masa Adinegara, sebutan itu tepat sebab Nusantara ialah kepulauan di kawasan khatulistiwa yang terentan dari barat sampai timur: tampak hijau royo-royo karena hutan, sawah-ladang, dan nyiurnya yang melambai-lambai di sepanjang pantai.
Sekarang sabuk hijau di kahtulistiwa itu sudah bopeng-bopeng akibat ulak pembalak liar dan pengusaha tambang yang merambah hutan. Namun, syukurlah, NKRI masih utuh kendati sempat, dan masih, ada gerakan separatisme di ujung barat (Aceh) dan di ujung timur (Papua).

Tiga mintakat jadi satu.
Kita sudah terbiasa dengan pembagian Indonesia ke dalam tiga mintakat waktu: WIB, Wita dan WIT. Orang yang tinggal di wilayah  WIB memang merasa bahwa pukul 06.00 WIT di Manokwari masih terlalu gelap, tetapi perbedaan itu dapat ditenggang. Apabila, dan jika, seluruh Indonesia dijadikan satu mintakat waktu, perbedaan suasana pada jam yang sama antara Jayapura dan Banda Aceh kian kontras.  
GMT (Greenwich Mean Time) ialah waktu di kawasan Greenwich, di pinggir Sungai Thames, sebelah tenggara London. Garis bujur nol melintasi Greerwich. Dengan kata lain, Greenwich dilalui oleh meridian utama yang menghubungkan Kutub Utara dan Kutub Selatan.
Sekarang selisih waktu antara Inggris dan WIB  tujuh jam. Kalau WIB, WITA dan WIT dilebur menjadi  GMT+ 48, waktu di seluruh Indonesia menjadi sama dengan WITA sekarang ini. Orang yang tinggal di kawasan WIB akan memulai hari dan kegiatannya satu jam lebih awal. Sebaliknya, orang yang berdomisili di kawasan WIT bisa tetap berbaring di tempat tidur satu jam lagi, dihandingkan dengan kebiasaannya.  
Sabang kira-kira terletak di 95°BT, sementara Merauke ada di sekitar 142°BT. Busur lintang di dekat khatulistiwa antara Sabang dan Merauke besarya 47°.  Kalau waktu didasarkan pada perputaran Bumi  di sekliling sumbunnya, ada perbedaan waktu kira-kira 3 jam 8 menit antara Sabang dan Merauke;  Sabang keteter terhadap Merauke.  Selisih waktu alami ini akan dihapus, menjadi nol jika GMT+8 diterapkan.  Padahal,  jarak kedua kota itu sekitar 5.250 kilometer.
Apakah gagasan menyatukan WIB, Wita, dan WIT menjadi  GMT+8  itu cerdas, arif, dan berani atau bodoh, ngawur, dan gegabah?  Saya tak hendak menjawab pertanyaan retoris ini. Namun, kalau pertanyaannya ilmiahkah gagasan yang akan kan keputusan itu  dengan masa uji coba yang konon akan dimulai Oktober tahun ini, jawahannya: Tidaklah yauw!.

Apakah itu satu-satunya cara atau cara yang terbaik. Ada cara lain untuk mengetahui dan dalam hal tertentu bisa saja cara lain, yang tidak ilmiah, itu justru dianggap lebih baik.
Ilmu mempunyai dua komponen: eksperimental/observasional/empiris dan teoritis. Komponen yang pertama berupa interaksi antara manusia (baca: ilmuwan) dan lingkungannya, alam ataupun sosial. Dari interkasi ini diperoleh sjumlah data.
Dalam komponen teoritis makna data itu ditafsirkan. Ini terjadi di alam pikiran. Kecerdasan dan daya nalar -juga pertimbangan nilai-nalai- dipakai dalam pemaksanaan itu dan deduksi logis yang disimpulkan dari gambaran yang diperoleh dari komponen teoritis itu divalidasi dengan menghadapmukakan kesimpulan itu dengan kenyataan atau pengalaman di lapangan.
Jelaslah bahwa ilmu berkiblat pada apa-apa yang dialami. Rotasi bumi adalah alami. Kita tak dapat mengubahnya dan sebaiknya kita menyesuaikan diri dengan irama alami yang kodrati itu. Tak sesuai dengan yang alami berarti tak ilmiah.

Teknologiskah?
Apakah kita tak boleh mengubah yang alami itu? Tentu saja boleh, atau lebih tepat tak mengubah, tetapi menyiasati.  Itulah yang kita lakukan dengan mengembangkan teknologi, yang tak lain dari alat  dan/atau cara mengatasi masalah yang kita hadapi atau kita antisipasi sebelum masalah potensial itu menjadi aktual. Menurut Billy V Koen, di teras teknologi ada apa yang disebut perekayasaan: usaha mengadakan perubahan yang terbaik menurut persepsi masyarakat. Mengadopsi  GMT+8 berarti mengubah atau merekayasa yang alami/ilmiah. Namun, dengan perubahan  itu kita baru dapat disebut berkiblat ke teknologi kalau dalam persepsi rakyat Indonesia perubahan itu merupakan yang terbaik. Jadi, masih diperlukan uji publik dengan referendum atau musyawarah dan mufakat di DPR. Akankah uji coba Oktober nanti jadi proses demokrasi deliberatif di Lebenswelt Habermasian atau kita sedemikian paternalistiknya sehingga patuh saja kepada para pemimpin bak kerbau dicocok hidung?  Adopsi GMT+8 tak berkiblat  ke alam dan tak ilmiah, lagi pula belum tentu teknologis. Kelihatanya perubahan ke GMT+8 ini lebih berorientasi ke pasar agar jam buka bursa efek kita sama atau lebih banyak tumpang tindihnya dengan jam kerja pasar modal di bursa-bursa di Asean dan Asia-Pasifik. Jadi, kita menyerah diatur tangan-tangan kasatmata.
Masih mending jika pasarnya bebas. Persaingannya adil dan rasional sesuai moto laisez faire. Kalau pasarnya didominasi kekuatan-kekuatan raksasa ekonomi, berarti kita menerima Darwinisme sosial : membiarkan kesintasan Si Terkuat.

L Wilardjo, fisikawan.

Rabu, 17 Agustus 2011

17 Ramadhan 1432 H



Kejadian yang luar biasa dan langka adalah bersamaan waktu antara milad hari kemerdekaan RI yang ke-66 dengan turunya wahyu pertama Al Qur'an yang dikenal dengan Nuzul'ul Qur'an. Betapa tidak hari yang bersamaan tersebut pernah terjadi pada 17 Agustus 1848/17 Ramadhan 1264 H dan 17 Agustus 1685/ 17 Ramadhan 1096 H. Atau 353 dan 163 tahun yang lalu. Dan...kejadian yang sama akan terjadi 65 tahun yang akan datang atau tepatnya 17 Agustus 2076/17 Ramadhan 1499 H.




Semoga membawa dan mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemakmuran dan kesejahtaeraan bersama

Jumat, 29 April 2011

Negeri Serambi Mekah

Cerita menarik adalah selamatnya kapal feri Rondo yang melewati rute Ulueleu (Banda Aceh)-Balohan (Weh). Pada saat kejadian kapal sudah berada di tengah dalam perjalanan menuju pelabuhan Uleuleu. Sesampai di pelabauhan, kapten kapal tidak melihat ada pelabuhan yang tersisa di Uleuleu.
Pelabuhan Uleuleu, Banda Aceh ke Sabang (p Weh)
Salah satu kota Sabang dilihat dari Tugu Sabang Merauke
Komunikasi tidak dapat dilakukan karena semua BTS tumbang. Diputuskan untuk kembali ke Balohan dan mendapat kabar bahwa terjadi musibah di daratan yang meluluhlantakan fasilitas pelabuhan Uleuleu. Kapal beserta seluruh penumpangnya selamat, tetapi tidak dengan keluarga yang berada di Banda Aceh, termasuk kapten kapal. Dibalik musibah tsunami, Sabang menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Khususnya wisata pantai dan bawah laut. Pantai Iboih,pantai Tepin Layeu, pantai Gapang, pulau Rondo, pulau Kla, pulau Rubia merupakan beberapa potensi wisata yang patut dikunjungi. Menilik Sabang dalam sejarahnya merupakan kota tua yang menjadi basis pelabuhan bebas sejak jaman Belanda. Dan ditutup oleh pemerintah pusat pada tahun 1986. Bangunan-bangunan tua masih banyak dijumpai dan dipasang prasasti yang menjelaskan tentang sejarah keberadaan bangunan. Dan yang manjadi saksi keberadaan NKRI adalah adanya tugu NOL yang terletak di ujung bukit pulau Weh, 25 km dari kota Sabang. Bangunan terbuka berupa monumen dibangun oleh tim dari BPPT (dipimpin oleh Dr. Iwan Gunawan yang kebetulan teman kuliah penulis). Sayang sekali bangunan yang cukup megah di tempat yang sangat asri kurang terawat. Kompas besar yang terpasang di lantai dasar, sudah raib. Konon hilang selama masa konflik.


Tugu Km Nol


Pantai Keunuekai, P Weh

Pantai Tapin Layeu, Pulau Weh

Kamis, 10 Maret 2011

JavaJazz 2011


Perhelatan Java Jazz tahun 2011 tahun ini digelar untuk yang ketujuh kali. Yang menjadi andalan dan favorit pengunjung adalah hadirnya Carlos Santana dan George Benzon. Walaupun tergolong musisi gaek, kedua musisi mempunyai penggemar yang fanatik mulai dari abege sampai yang gaek-gaek.
Terbukti dengan pertunjukan dua kali dengan hari dan jam berbeda, kapasitas gedung utama di hall D PRJ Kemayoran Jakarta selalu penuh.Santana (63 tahun) dengan formasi full tim menggebrak dengan lagu andalan secara medley Black Magic Woman-Oye Como Va-Maria Maria. Disambut dengan teriakan histeris sebagian besar penonton dan bersahut-sahutan mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan dengan apik oleh dua penyanyi, Andi Vargas dan Tony Lindsay.Harus diakui, dengan umur yang sudah tidak muda lagi. Santana masih tetap prima manggung nonstop selama hampir dua jam dan menampilkan lima belasan lagu.

New York Voice
G.Benzon
Juan de Marcos Afro Cuba
Minangagong Sawahlunto


Bintang yang lain, tidak jauh berbeda, George Benzon tampil dengan ciri khas suara khas yang bebrbarengan dengan petikan gitar (scathsing). Tampil prima  selama lebih kurang satu setengah jam. Pada tampilan awal dengan lagu bernuansa pop, In Your Eyes, Nothing Gonna Change My Love for You, the Greatest Love of All. Akhirnya lagu yang identik dengan Benzon diperdengarkan, Broadway.
New York Voice, grup vokal jazz gaek yang masih bersuara prima dan jazzy. Manhattan Transfer banget. Ron King Big Band yang menyajikan jazz mainstream.

Hendrik Meurkens, musikaus gaek yang mahir bermain harmonika dan vibraphone, adalah langganan tetap di Java Jazz. Dari daratan Amerika Tengah hadir musisi dari Kuba yang mengusung musik khas Kuba, Juan de Marcos Afro Cuba.
Musisi tanah air yang beraliran jazz etnik datang dari kota kecil Sawahlunto, Minangagung Sawahlunto. Terban yang dimainkan oleh 4 pemain, menjadi dominan diantara alat musik yang lain. Sangat tradisional. Dari Bandung tampil  Indonesia NuPrograsive Band. Sekelompok anak muda dengan dandanan rakyat kecil mengusung lagu-lagu ala Hari Roesli, merakyat banget.

Jumat, 14 Januari 2011

Kyai Sholawat

Mapre, sebut saja namanya demikian, adalah mantan preman yang biasa malak, yang sudah insaf karena nasihat istrinya yang tercinta. Penghasilan harian yang biasa disetor istrinya merupakan hasil perbuatan yang banyak merugikan orang lain.
Dengan demikian setoran sudah tidak lagi, sedangkan pekerjaan lain susah didapat. Mungkin calon majikan-pun berpikir panjang untuk mau mempekerjakan Mapre. Alhasil, sehari-harinya Mapre hanya duduk bengong saja di rumah. Karena sayangnya, sang istri selalu membesarkan hatinya untuk tetap bersabar.
Seperti biasanya hari itu Mapre kongkow-kongkow di bangku depan rumah, dilihat serombongan orang berbondong-bondong menuju ke suatu tempat.
"Bang, itu orang-orang pada mau kemana ya ?",ujar istri membuyarkan lamunan Mapre,"Kali ada rejeni yang dapat buat makan kita hari ini", lanjut istri-nya. Belum sempat menjawab, istrinya menimpali lagi,"Yo Bang ikut saja, mudah-mudahan kita dapat rejekinya". Berangkatlah Mapre dan istrinya mengikuti serombongan bapak dan ibu tadi. Ternyata rombongan itu adalah majelis taklim yang akan mengikuti pengajian rutin di masjid yang tak jauh dari rumah Mapre. Karena sudah keburu ikutan, Mapre dan istri bergabung dalam rombongan mengdengarkan ceramah dari p Ustad. Kebetulan topik yang dibahas pada pagi itu adalah Berkahnya Sholawat. Pak Ustad dengan pembawaan yang menarik dan humor manarik perhatian majelis taklim yang hadir, termasuk Mapre dan istri.
"....salah satu kunci kunci rejeki adalah sholawat...", demikian salah sata bagian isi ceramah nya.
Mapre menyenggol lengan istrinya sambil berbisik,"Yok pulang aja".
"Kenapa Bang", tanya istrinya heran.
"Sudah ketemu kuncinya rejeki",jawabnya sambil tersenyum mantap. Tanpa bertanya lagi, istrinya-pun ngeloyor pergi mengikuti suaminya.
Sesampai di rumah-pun Mapre menggelar tikar di ruang depan rumahnya, dan mulai mengucapkan kalimat-kaliman sholawat,"Ashadu Allah Illahaillah Waashadu anna Muhammad Rasulullah".Pagi, sore dan malam, Mapre melakukan terus menerus tanpa lelah. Kadang-kadang dengan suara keras smapai tetangga dan orang-orang yang lalu-lalang mendengar suaranya.
Hari ke-2,3,4 dst, tak henti-nya Mapre mengucapkan sholawat.Sehingga masyarakat sekelilingnya menjuluki Mapre dengan Kyai Sholawat. Namun demikian rejeki yang diharapkan belum membuka pintu rejekinya.
Ditengah ke-putusasa-annya, tiba-tiba ada utusan dari pimpinan tertinggi wilayah dimana Mapre tinggal bertandang ke rumahnya. "Saya diutus Raja untuk memanggil pak Kyai Sholawat,"pinta utusan tersebut. Kekagetan melanda Mapre dan istrinya. Selain karena dipanggil Kyai Sholawat, juga ada apa Raja memanggilnya, pikirnya.
"Kami kehilangan mahkota kerajaan beberapa waktu yang lalu, pihak keamanan sampai saat belum berhasil menemukan siapa pencurinya,"kata Raja,"Saya minta tolong Kyai Sholawat untuk membantu menemukan mahkota kerajaan",lanjutnya.
"Rupanya Raja tahu kalau saya mantan preman, tapi belum kalau saya sudah insaf", pikir Mapre."Maaf Raja, saya tidak menolak, saya merasa tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan permintaan Raja",jawab Mapre dengan memelas.
"Saya perintahkan untuk melalukan",kata Raja dengan suara agak keras. Mapre mulai bertambah bingung bagaimana caranya menolak,
"Baik Raja, tapi ada syaratnya", jawab Mapre.
"Katakan apa syaratnya",tantang Raja.
"Hamba mohon disiapkan ayam bakar lengkap,"jawab Mapre.
"Masalah kecil,"pikir Raja. "Berapa ayam yang harus saya siapkan", kata Raja lagi.
"Malam pertama 1 ekor, malam ke-2 dua ekor, malam ke-3 tiga ekor sampai dengan malam ketujuh",pinta Mapre. Entah pikiran dari mana yang mampir ke otak Mapre. Hampir seluruh wilayah mendengar permintaan raja kepada kyai Sholawat, termasuk para pencuri mahkota kerajaan.
Ditengah-tengah kegalauan para pencuri, pimpinan pencuri (boleh jadi mantan sohib-nya Mapre), memutuskan untuk mengirimkan seorang utusan untuk menyelidiki apa yang dilakukan Mapre sehari-harinya.
Seperti biasa, Mapre melakukan ritual rutin yang dilakukan sehari-hari membaca sholawat, dari pagi sampai malam. Utusan pencuri melaksanakan tugasnya malam hari melakukan pengintaian rahasia di rumah Mapre. Ditengah-tengah keasikan mengintip kegiatan Mapre, seseorang menyodorkan ayam bakar lengkap di depan Mapre. Rupanya utusan Raja untuk memenuhi persyaratan yang diminta Mapre.
"Wah pak Kyai tahu kalau ada yang sedang mengintip",pikir utusan pencuri sambil diam-diam meninggalkan rumah Mapre. Utusan pencuri melaporkan kejadian itu kepada pimpinan. Melalui rapat pencuri pada malam itu juga diputuskan untuk mengirimkan dua orang utusan guna menyelidiki kegiatan Mapre pada kari kedua.
Pada hari ke-2, Mapre melakukan ritual yang sama, bersholawat dengan suara yang teratur kadang-kadang lembat-keras berselang-seling. Seperti yang dilakukan pada malam pertama, kedua utusan pencuri bergantian mengintip apa yang dilakukan Mapre. Pada saat yang sama seseorang mengantar dua ekor ayam bakar ke depan meja kecil yang ada di depan Mapre.
"Cilaka pak Kyai tahu kalau kita sedang ngintip,"pikir utusan pencuri. Berdasarkan laporan dari kedua pencuri ini, rapat para pencuri memutuskan untuk mengutus 3 pencuri dengan tugas melakukan hal yang sama dengan malam sebelumnya.
Pada malam ke-3, sampai malam ke-7 kejadian yang sama berlangsung yang membuat pimpinan pencuri agak keder hatinya. Akhirnya pada malam ke-7 diputuskan untuk menyerahkan mahkota kepada Kyai Sholawat pada esok harinya.
"Pak Kyai kami dengan sukarela menyerahkan mahkota yang kami curi, tapi dengan syarat janganlah kami dihukum," pinta pimpinan pencuri. Ditengah kegaluaan Mapre ada rasa kegembiraan yang terpancar di wajah Mapre,"Baik, aku akan mintakan permohonan mu pada Raja", jawab Mapre.
Walhasil mahkota kerajaan diserahkan ke Raja, dan keluarga istana menyambut dengan sukacita dan memenuhi persyaratan yang diminta para pencuri. Berkibarlah nama Kyai 'Mapre' Sholawat.
Hidupnya berubah menjadi lebih baik berkat bersholawat.
Beberapa hari kemudian, giliran sekelompok ulama mengundang Kyai Sholawat untuk menghadiri peringatan keagamaan disuatu masjid tertentu yang sudah tua. "Undangan apa lagi ini",pikir Mapre. Karena tidak mempunyai pemikiran yang macam, Mapre dengan rasa percaya diri berangkat-lah menuju lokasi undangan, yaitu masjid yang konon merupakan masjid tertua di wilayah tersebut. Dalam perjalanan menuju acara tersebut, salah seorang panitia meminta kepada Mapre untuk dapat memberikan khutbah yang merupakan acara utama dalam peringatan tersebut.
"Mati aku", pikir Mapre. Wajar saja Mapre berpikir demikian, walaupun orang sekeliling menjuluki Kyai Sholawat, sebenarnya Mapre hanya bisa mengucap sholawat doang. Sholat saja masih belum benar gerakannya, apalagi bacaannya.
"Apa yang harus aku lakukan",pikir Mapre. Kelihatan dahinya terlihat lekukan tiga tingkat gelombang, menandakan dia sedang beripikir keras.
"Baik, tapi saya punya sarat", kata Mapre.
"Apa kira-kira syaratnya pak Kyai",balas kyai Somad, utusan panitia. "Saya minta semua barisan yang ada didepan mimbar saya khotbah, dikosongkan sampai ke pintu keluar",pinta Mapre selanjutnya.
Setibanya dimasjid, mesjidnya memang tua sekali, beberapa tiang penyangga kelihatan sudah lapuk dan dimakan rayap, beberapa panitia meminta jamaah untuk mengosongkan barisan yang ada di depan mimbar. Sampailah saat yang ditunggu, Mapre dipersilahkan untuk naik ke mimbar memberikan tausiah. Dengan langkah agak loyo Mapre maju menuju mimbar.
"Assalamualaikum", salam Mapre kepada hadirin. Salam pendek yang tidak lajim diucapkan di mimbar-mimbar resmi seperti ini. Maklum ini pertama kali Mapre memberikan khotbah. Setelah mengucapkan dan mengajak sholawat kepada para hadirin, Mapre meninggal kan mimbar dan berlari kencang melewati baris kosong di depan. Kabur.Mapre merasa nggak mampu lagi apa yang harus diucapkan.
Semua jamaah pada kaget dan bengong semua. Secara spontan mereka berebutan mengikuti Mapre keluar masjid. Gerakan yang tidak terduga dan secara tiba-tiba serta bersamaan oleh semua hadirin berakibat buruk pada struktur bangunan yang memang sudah lapuk dan tua. Sedikit demi sedikit terdengar bunyi patahan kayu penyangga bangunan. Tentu saja semakin menambah kepanikan hadirin yang berebut keluar melalui pintu atau apapun yang bisa menjadi jalan keluar.
Alhasil setelah semua hadirian tiba di luar, ambruk-lah bangunan masjid dan alhamdulillah tidak ada jamaah yang cedera. Beramai-ramai hadirin memuji kehebatan Kyai Sholawat sehingga bencana terjadi tanpa korban.
Kyai Sholawat mendapatkan kunci untuk hidup yang lebih baik berkat sholawat.

Rangkuman dari pengajian Hikmah Pagi di Stasiun TVRI Pusat Jakarta pada hari Kamis tanggal 13 Januari 2011.

Rabu, 05 Januari 2011

Manado, Bibir-nya Lautan Pasifik

Manado Boulevard

Rest Area, Manado-Tomohon
Sepanjang boulevard memandang lepas lautan Manado dan pulau-pulau yang bertebaran tidak jauh darinya. Kepulauan Bunaken,Manado Tua dan gugusan pulau-pulau kecil lain merupakan pintu gerbang menuju kota Manado dari perairan lautan Pacifik.
Itu dulu.... sekarang ? Melalui proses reklamasi lautan Manado, Sepanjang sisi pantai boulevard sudah berdiri megah pertokoan dan mall untuk memanjakan warga Manado dan sekitarnya. Kalapun kalau mau menikmati pantai, mesti menuju ke belakang mall atau komplek pertokoan itu. Itulah kesan yang kentara untuk menikmati manado dari waktu ke waktu.


Namun demikian Manado masih ngangeni, bikin orang ketagihan untuk ingin selalu singgah ke sana. Restoran seafood yang bertebaran di sepanjang Malalayang, memanjakan pelancong untuk menikmati kuliner khas Manado. Udang goreng rica-rica (pedas), nasi kuning sambal khas Manado, tinutuan (bubur Manado) sangat sayang untuk dilewatkan.

Pulau Bunaken dan Manado Tua

Selam....Luar Biasa Indah..

Mengunjungi Manado tanpa melihat pemandangan bawah laut di perairan Bunaken kayaknya kurang mantap. Untuk menuju pulau Bunaken dapat dilakukan dengan berbagai cara, melalui paket-paket wisata yang diselenggarakan oleh biro perjalanan atau menyewa perahu sendiri. Dari segi biaya tidak terlalu banyak bedanya, berkisar antara Rp.400 ~ 500 ribu rupiah per orang.
Untuk yang rombongan menggunakan kapal motor dengan kapasitas 15-20 orang. Sedangkan untuk melihat taman laut dapat dilakukan dengan snorking atau kapal yang dilengkapi kaca bawah. Untuk yang memiliki waktu terbatas disarankan untuk menyewa boat kecil dengan pertimbangan ada keleluasaan untuk mengatur waktunya. Untuk menyewa kapal dapat dilakukan di daerah pasar baru, tempat kapal-kapal yang akan menuju kep.Bunaken dan sekitarnya berlabuh. Silahkan melakukan tawar menawar.
Pengalaman penulis (sendirian), menyewa boat kecil (kapasitas 4 orang) dan eralatan snorling (baju, sepatu dan kacamata)dan waktu setengah hari, seharga Rp.400.000,00 (termasuk kursus singkat snorkling). Kalau mau mandi (bilas) dapat membeli air tawar sekaligus sewa kamar mandinya Rp.10.000,00. Manado-Bunaken dapat ditempuh selama 45 menit dengan kondisi cuaca normal. Apabila mempunyai waktu yang cukup, bermalam di pulau Bunaken perlu dicoba. Tersedia penginapan yang lumayan.Pulau Manado Tua dapat ditempuh dengan waktu 30 menit lagi dari p Bunaken.

Taman Laut Bunaken
Makam Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional
Wisata lain yang perlu dikunjungi adalah kota Tomohon, danau Linow dan danau Tondano. Jarak dari kota Manado relatif tidak terlalu jauh. Berangkat pagi pulang sore hari, waktu yang cukup untuk mengunjungi dan menikmati ke-3 tempat tersebut.
Tidak jauh setelah keluar kota Manado, di daerah pertigaan Pineleng, bersemayam makam Imam Bonjol, pahlawan nasional dari tanah Minang (Bonjol) yang dibuang Belanda dan meninggal di sini tahun 1846. Di depan bangunan makam berdiri megah masjid Imam Bonjol, sedangkan di belakang bangunan, agak menurun tebing ke arah sungai berdiri bangunan kecil sederhana persis di atas sungai.
Konon tempat Imam Bonjol sholat dan tafakur di sebuah batu besar.Sampai saat ini keturunan pengawal Imam Bonjol beranak pinak dengan warga setempat dan menjadi komunitas muslim yang hidup rukun di sekitar makam.Manado-Tomohon berjarak 25 km dapat ditempuh selama 1-1.5 jam (tanpa istirahat).Kondisi jalan yang menanjak dan menikung ditambah dengan kepadatan lalulintas, memperlambat perjalanan.

Gunung Lokon
Ditengah perjalanan dapat berhenti di rest area di daerah menjelang Tinoor, pengunjung disediakan tempat yang lapang dapat memandang kota Manado dari pengunungan. Bagi yang non muslim, apabila ingin mencoba makanan ekstrim dapat mencoba restoran tua, RM Tinoor Jaya, tidak jauh dari rest area.
Bagi yang hobi tanaman anggrek, tidak jauh dari rumah makan, dijumpai 2-3 keluarga yang memajang berbagai jenis anggrek spesies dijual dengan harga relatif murah, antara Rp.25.000- Rp.60.000.
Tomohon, kota dingin, kota bunga dan tempat yang cocok untuk istirahat. Pada tahun 2008 pernah diselenggarakan Festival Bunga.Sayang, ini saat yang kurang pas untuk menikmati bunga-bunga yang ada di kota Tomohon. Sepanjang raya jalan  utama banyak toko bunga dan pohonnya.
Anehnya, kalau cari pohon anggrek nggak ada, kalau adapun 1-2 jenis anggrek bulan hibrid yang didatangkan dari Jakarta. Tomohon merupakan kota yang terdekat dengan gunung Lokon, salah satu gugusan berapi yang masih aktif.
Danau Linow

Resto Danau Linow
Obyek selanjutnya adalah danau Linow. Luasnya tidak terlalu besar. Di salah satu sisinya masih tampak batu belerang yang mempengaruhi bau rasa air danau.  Danau Linow dikelola pihak swasta, untuk masuk dikenakan biaya Rp.25.000/orang plus makanan kecil dan minum ringan. Suasana dan desain bangunan sangat bagus sekali. Sehingga menjadi salah satu sasaran untuk pemotretan pre-wedding bagi pasangan yang akan menikah. Pemda setempat tak mau ketinggalan dalam mengelola kawasan. Di seberang area, sedang dipersiapkan tempat wisata yang bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang kurang mampu.

Masjid Agung Kyai Modjo, Tondano
Kota Tondano identik dengan danaunya. Merupakan kawasan pengunungan dengan terain dataran yang luas. Boulevard-nya Tondano adalah jalan utama yang membelah persawahan luas. Warna kuning dominan dengan diselingi warna hijau. Selain itu, tas kresek dan berbagai macam bendera menggantung diantara hamparan sawah-sawah tersebut, sebagai upaya para petani untuk mengusir hama burung.
Rupanya pembuangan tidak hanya Tuanku Imam Bonjol saja yang di buang ke tanah Minahasa, Kyai Mojo, tokoh pergerakan melawan Belanda yang merupakan sekutu Pangerang Diponogoro juga dibuang kesini. Atau tepatnya di Tondano pada abad 18. Selain meninggalkan keturunan yang sudah membaur dengan masyarakat setempat, Jaton (Jawa Tondano) melahirkan komunitas muslim di tanah Minahasa.Salah satu peninggalan yang masih bisa dinikmati sampai saat ini adalah masjid Kyai Modjo yang berdiri megah di Kampung Jawa, Tondano.

Danau Tondano merupakan danau yang terluas di tanah Minahasa, Sulut. Terletak di dataran di lereng gugusan gunung-gunung yaitu g. Lembean, g. Kaweng dan g. Masarang dan bukit Tampusu.
Danau Tondano

Dengan luasan 4200-an hektar dan dikelilingi jalan aspal dengan kondisi rusak tidak parah. Angkutan umum ada tapi masih jarang. Perairan danau banyak ditumbuhi enceng gondok, yang menyebabkan adanya pedangkalan dasar danau. Sayang sekali kurang ada perawatan. Tidak tertutup kemungkin akan mempengaruhi debit air yang menjadi suplai utama sawah irigasi yang membentang di kota Tondano. Di beberapa tempat tepi danau, dipasang- keramba peternak ikan nila yang merupakan binaan Kementrian Kelautan dan Perikanan. Sempat bertemu dengan seorang bapak yang memancing di sela-sela keramba. "Untuk apa pak ?", iseng-iseng bertanya kepada sang Bapak. "Untuk digoreng buat anak saya yang tinggal di Depok", jawabnya singkat sambil sekali-kali membetulkan tali pancing. Sayang anak...sayang anak....


Woloan-Industri Rumah Knock Down

Kepulangan ke Manado, kami sempat melewati desa Woloan. Desa ini terkenal dengan kerajinan rumah kayu yang terbuat dari batang kelapa. Contoh pesanan rumah yang sudah jadi atau masih dalam pengerjaan berderet rapi sepanjang jalan utama desa Woloan. Menjadi ciri khas dan andalan tanah Minahasa.
Harga berkisar Rp.1.500.000/m2 (icl pemasangan)
Sebagai informasi harga rumah Rp.1,5 juta/m2 termasuk ongkos masang, tidak termasuk ongkos transport untuk pamasang.

Sebagai oleh-oleh dari Manado, jangan lupa kue klapertaart, jika dimakan dalam kondisi dingin....mak nyussss..
Keponakan (Muti & Feri) & Cucu (Lala)

Minggu, 12 Desember 2010

JakJazz Cares 2010

Perhelatan musik jazz akbar kedua digelar di ibukota pada tahun ini, setelah Java Jazz pada bulan Maret, kali ini giliran JakJazz Production mempersembahankan JakJazz Care 2010 pada tanggal 10-11 Desember.
Bertempat di tempat yang apik di sebuah mall baru di bilangan Kebayoran Lama, Gandaria City, sejumlah band lokal menunjukkan kepiawaiannya dalam berimprovisasi dalm aliran musik jazz.
Dengan semangat solidaritas bagi sesama korban bencana alam yang terjadi secara beruntun di tanah air, pagelaran membawa tema JakJazz Cares. Pengunjung dapat menikmati sajian dengan gratis di 3 panggung yang tersedia, 2 indoor mini stage dan outdoor main stage di pelataran barat.


Walaupun tak semegah pegelaran tahun-tahun sebelumnya (sudah digelar 10 kali sejak tahun 1988), pagelaran kali ini termasuk mini dalam pengunjung dan peserta. Namun dalam kualitas penampilan, tentu saja,tidak jauh berbeda, berkualitas.
Sederetan grup band dan kolaborasi dari pemain al.Slodyoz Jazz-BSO Band(UI),Jeffrey Tahalele & Friends (feat Emil S. Praja & Farah Di), Dede Vai ,Time Warp,Ireng Maulana Combo feat Anna Andrea, Jackie & Lana N, Yuyun George & Jazzmint feat Grace Simon, Idang Rasjidi Syndicate dan 5 Pendekar Gitar (Kiboud Maulana, Oele Pattiselanno, Donny Suhendra, Agam hamzah & Tyo),Indra Lesmana Trio,ESQI:EF (Syaharani & the Queenfireworks), Big-Brenyitz,Otti Jamalus Quartet, Bhumi Band, Zarro, Rio Moreno, Syafira, Jacket Potato. Groove Box – UPH, Beben Jazz & Friends feat Inna Kamarie, JOC Trio feat Imel,Ireng Maulana & Friends feat Ermy Kulit, Margie Segers, Bertha & Didiek SSS.
Indra Lesmana Trio
Diantara sekian grup band baru yang tampil adalah Bhumi Band dari BPN-RI. Dimotori oleh rekan Bambang Setiawan, Bhumi Band menampilkan warna jazz yang berbeda dengan mengusung lagu etnik nusantara, diantaranya Nusaniwe, Ampar-ampar Pisang, Sansaro, Angin Mamiri,Sinanggar Tulo.
Bhumi Band (BPN RI)
Bhumi Band merupakan grup band dengan anggota terbesar, pemain dan penyanyi (yang sebagian besar PNS baru dan Josef Pesolima-saudaranya Broery) berjumlah 30an orang, mendapat sambutan yang cukup hangat. Apalagi dihadiri oleh pimpinan BPN RI (bp. Joyo Winoto dan ibu) dan segenap jajaran pejabat teras (Bp. Gde, Bp. Wenny).
Selamat perhelatan JakJazz Cares 2010 dan ditunggu penampilan Bhumi Band di ajang berikutnya.