Sabtu, 10 Oktober 2026

Hikmah Kisah Dakhwah Nabi Shalih (Tafsir QS Al Araf [7]: 73-78) | Ust. Rois Imron Rosi, MPd.I | KSO #317

Kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih)


a. Adalah penerus kaum 'Ad (QS. Al-A'raf [7]: 74). Nasab mereka: Tsamud bin Atsir bin Iram bin Sam bin Nuh, sehingga mereka bertemu dengan 'Ad pada kakek yang sama, yaitu Iram. Mereka juga disebut sebagai kaum 'Ad yang kedua.

b. Keistimewaannya adalah ahli arsitektur yang mampu memahat gunung-gunung batu menjadi rumah (saat musim dingin) dan membangun istana di dataran yang rendah (QS. Al-A'raf : 74, QS. Asy-Syu'ara' [26]: 149)

c. Lokasi permukiman di Al-Hijr (Madain Saleh), terletak antara Hijaz dan Syam, sekitar 300 kilometer utara Madinah. Wilayah ini merupakan wilayah yang sedikit airnya (tsamad).

d. Al-Qur'an sering menyebut keduanya secara bersamaan sebagai contoh umat yang mendustakan rasul dan dibinasakan (QS. Al-Ankabut [29]: 38, QS. Ibrahim [14]: 9, QS. Al-Haqqah [69]: 4-5)

Dakhwah Nabi Shalih

1. Seruan Ber- tauhid  

a. Kaum Tsamud diberi kemampuan yang luar biasa yaitu bentuk fisik yang kuat dan kemampuan ilmu yang istimewa  
b. Tetapi keistimewaan tersebut tidak digunakan sebagai rasa syukur sebagai nikmat dari Allah swt tetapi sebaliknya, mereka menyembah berhala, keimanannya rendah sekali 
c. Allah menunjuk Nabi Shalih yang berasal dari kaum mereka sendiri  (akhahum fil insaniyah bukan akhahum fil imaniyah) dengan harapan bisa bisa menguatkan keimaman dan melembutkan hati (mawi'idhah) 
d. Nabi Saleh mengajak kaumnya menyembah Allah semata dan menyampaikan dakwah dengan bahasa yang lembut serta penuh kepedulian sesuai firman Allah dalam QS Al Araf [7]:73 : ".. Wahai kaumku (qaumi) , sembahlah Allah, tidak ada bagi kamu tuhan selain Dia. .."  

2. Mukjizat sebagai Bukti 

a. Dakwah nabi Shalih mengalami penolakan, " Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkari apa yang kamu imani" (QS Al Araf [7]: "76) dan bahkan menantang untuk membuktikan bahwa dia benar-benar seorang nabi .
b. Kenapa mereka menolak ? Karena merekan menggunakan akal, bukan hati, dalam menyikapi dakwah tersebut. Mereka beranggapan dengan banyak tuhan saja sulit menyelesaikan urusan mereka apalagi tuhannya hanya satu. Mereka lupa bahwa urusan dunia selalu dibersamai dengan dengan hawa nafsu, sehingga tidak akan selesai. semua urusan dunia selalu ada masalah dan masalah dunia tidak ada lagi setelah kita berada di surga 
c. Bahkan mereka menantang nabi dengan permintaan yg sangat spesifik dan cenderung kurang ajar yaitu untuk mendatangankan seekor unta.  Allah menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan  sebuah mukjizat berupa seekor unta betina  (dalam surat QS Al Araf [7]: 73 : "Sungguh, telah datang kepada kamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini adalah unta betina Allah untuk kamu sebagai mukjizat..")  yang sangat besar bunting dari gunung batu sebagai tanda kekuasaan-Nya. 
d. Nabi Saleh memerintahkan mereka membiarkan unta itu makan dan tidak menyakitinya (dalam surat QS Al Araf [7]: 73  : " ..Maka, biarkanlah ia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan keburukan apa pun sehingga kamu ditimpa siksa yang sangat pedih". 
e. Allah mengancam jika unta itu diganggu maka Allah akan mendatangkan adzab 
f. Keberadaan onta adalah bayyinah (bukti nyata yang sangat besar) bagi mereka, karena dilahirkan dari batu (bukan dari onta lain) dan tidak ada yang punya 
g. Apakah setelah dikabulkan permintaan, apakah mereka menjadi beriman ?

3. Pelanggaran dan Kesombongan 

a. Allah memerintahkan supaya onta dibiarkan untuk hidup, makan minum di wilayah mereka (bumi Allah) & jangan mengganggunya 
b. Nabi membuat aturan sumur air yang di wilayah mereka digunakan  secara bersama-sama untuk kepentingan masyarakat dan onta. Caranya ? yaitu mempergilirkan minum air sumur setiap hari secara bergantian, sehari untuk kepentingan masyarakat dan sehari  untuk minuman onta.  Begitu seterusnya.  
c. Seiring beriringnya waktu, keserakahan & kesombongan  (QS Al Araf ]7]: " Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya...") mulai menggeluti pikiran mereka, di dipelopori oleh sejumlah tokoh yang dipimpin oleh Qidar bin Alif untuk menyakiti onta 
d. Caranya ? Mempengaruhi pikiran kaum mereka bahwa sumur air milik mereka, gara-gara onta kita tidak bisa minum setiap hari. Padahal, tidak demikian, Nabi Shalih menyampaikan saat giliran sumur air untuk onta, mereka bisa minum air susu onta, karena produksi susunya sangat banyak sekali 
e. Maka mereka akan  membunuh unta (QS Hud [11]:65) tersebut meski telah diperingatkan . Qidar melakukan dengan memotong dulu kakinya, sehingga onta terjatuh. Kemudian datanglah yang lain dan memotong-motong (mutilasi) dan digambarkan dalam QS As Syams [91]:11 dengan sebutan perbuatan yang telah melampui batas (kadzdzabats tsamudu bithoghwaaha)  
f. Kesombongan mulai tampak dengan menantang kepada nabi  agar mendatangkan azab, sebagai dalam QS Al Araf [7]: 77 : "Wahai Saleh, datangkanlah kepada kami apa (ancaman siksa) yang engkau janjikan kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang diutus (Allah)". Bahkan diulang setiap hari sampai tiga hari (QS Hud [11]:65), "Maka, dia (Saleh) berkata, “Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari". Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan".

4. Jawabannya Azab Datang 

a. Setelah tenggang beberapa waktu, kaum Thamud ditimpa azab (QS Hud [11]: 66: " Ketika keputusan Kami datang, Kami menyelamatkan Saleh dan orang-orang yang beriman bersamanya..." 
b. Allah mendatangkan gempa dan meratakan dengan tanah (QS As Syams [91]): 14 dan dalam QS Hud [11]: 67 dengan "Suara yang menggelegar juga menimpa orang-orang zalim itu, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka"  dan meraka binasa. 



Lesson Learning

1. Nikmat dan Tanggung Jawab. Nabi Saleh mengingatkan kaumnya atas nikmat berupa kemakmuran, kekuatan, dan kemampuan membangun. Nikmat seharusnya menumbuhkan syukur, bukan kesombongan atau kerusakan.

2. Apabila menjumpai tempat-tempat yang dihuni kaum yang pernah diazab Allah, dianjurkan untuk merenung dan tidak berlama-lama , sebagaimana  Rasulullah SAW yang meminta para sahabat bergegas ketika melewati kawasan peninggalan kaum Thamud dan tidak berlama-lama di sana, bahkan disuruh membuang air ketika sahabat mengambil air untuk memasak makanan.

3. Syukuri nikmat dan gunakan secara bertanggung jawab. Kemakmuran, sumber daya, dan kemampuan adalah amanah, bukan alasan untuk merasa berkuasa.

4. Terima kebenaran tanpa kesombongan. Menolak nasihat dan meremehkan pembawa pesan dapat mendorong seseorang atau kelompok menuju keputusan yang merusak.

5. Sampaikan nasihat dengan bijaksana. Pendekatan Nabi Saleh menekankan kelembutan, kepedulian, dan pengingat atas nikmat.

6. Jangan menganggap remeh peringatan atau nasehat, khususnya dari orang2 yang saleh. Tantangan terhadap konsekuensi dan pengabaian terhadap batas yang telah disampaikan berujung pada kehancuran kaum Tsamud.

7. Hadapi ketidakpastian dengan tawakal. Manusia dapat merencanakan masa depan, tetapi perlu menyadari keterbatasannya dan menyerahkan hasil kepada Allah.

8. Kisah kaum Tsamud mengajak umat untuk menjaga tauhid, merendahkan hati, mensyukuri nikmat, serta menghindari tindakan yang merusak. Kekuatan dan kemakmuran tidak dapat melindungi suatu kaum apabila mereka menolak kebenaran dan menyalahgunakan nikmat yang diterima.

Rekaman di sini Klik ?

Tidak ada komentar: