Kamis, 09 Mei 2013

Sisi Lain dari Perth, Waverock.

Ke Australia tidak harus ke Sidney atau Melbourne yang letaknya berada di sebelah timur benua tersebut. Selain jaraknya relatif lebih jauh,dan tentunya korelasinya dengan biaya transportasi, tempat-tempat wisata yang terletah di sekitar kota Perth tidak kalah bagus untuk dikunjungi. Dengan lama penerbangan sekitar 3-4 jam dari Jakarta,tentunya akan menghemat waktu dan biaya yang bisa dilakukan. Perth merupakan ibukota Australia Barat yang mempunyai luas wilayah 30% dari luas wilayah dari benua Australia dengan jumlah penduduk 2 juta-an.

Sebenarnya tersedia banyak paket-paket wisata yang tersedia promosinya di konter-konter hotel, travel dan tempat-tempat umum lain. Paket a whole day menawarkan kunjungan wisata dalam satu hari penuh mengunjungi 3-4 tempat wisata, tentu dalam arah jalur transportasi yang sama. Harga yang ditawarkan beragam tergantung lokasi, akomodasi yang disediakan. Harga bervariasi mulai dari Aus$150 ~200-an. Biasanya berangkat mulai dari jam 08.00 wib dan dijemput di hotel, kemudian di kumpulkan dengan wisatawan-wisatawan yang lain dan dengan menggunakan bus yang besar diberangkatkan bersama-sama ke tempat tujuan yang sudah ditentukan. Petugas resepsionis di hotel-hotel dengan senang hati memberikan bantuan dan pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan tujuan wisata kita. 

Sewa Mobil. Diantara banyak tempat-tempat wisata yang ada, terdapat 2 tempat wisata alam yang menarik untuk dikunjungi, antara lain Wave Rock dan Pinnacle. Keduanya terletak yang berseberangan dari kota Perth, Wave Rock di sebelah selatan-timur, sedangkan Pinncale di utara. Jarak masing-masing relatif hampir sama, 350 km sekali jalan. Sehingga dengan waktu yang satu hari penuh-pun tidak mungkin kalau kedua tempat tersebut harus dikunjungi. Dari brosur-brosur yang tersebar-pun tidak ada paket wisata untuk mengunjungi kedua tempat dalam satu hari penuh. Apa boleh buat, keputusan harus dilakukan untuk menentukan salah satu dari kedua tempat tersebut. Dengan berbagai pertimbangan yang matang, maka diputuskan untuk mengunjungi Waverock yang letaknya relatif  berada di daratan, tidak terlalu dekat dengan pantai. Keputusan selanjutnya adalah transportasi untuk menuju ke lokasi. Dengan pertimbangan keleluasaan dan fleksibilitas dalam perjalanan, kami memutuskan untuk menyewa mobil. Cukup banyak pula brosur-brosur yang menawarkan penyewaan mobil dengan segala merk dan kapasitas serta jenis mobil. Biaya relatif murah, untuk jenis kendaraan sedan (Hyundai tahun 2006) dipatok harga Aus$165 plus asuransi yang ditawarkan dengan dua pilihan, Aus$30 dibayar langsung (tidak dapat refund) terbebas dari segala kerusakan yang terjadi selama masa sewa. Atau dibayar kemudian apabila terjadi kecelakaan dengan membayar Aus$300, jika tidak terjadi kecelakaan tidak akan dikenakan pembayaran lagi. Tepat jam 9.30 waktu setempat kunci mobil diserahkan setelah urusan administrasi pembayaran dan peng-cek-an SIM di entry di database kantor penyewaan.  Pembayaran hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit, tidak menerima pembayaran secara tunai. Demikian juga pembayaran untuk kekurangan bahan bakar (unlead). Keadaan bahan bakar dalam posisi full tank, setelah diserahkan terimakan akan di’ukur’ berapa kekurangan bahan bakar yang harus dibayar.Masalah muncul karena peta yang tersedia di mobil hanya untuk dalam kota saja, sedangkan peralatan GPS yang biasanya tersedia di setiap mobil,ternyata tidak ada. Tak kurang akal, dengan memanfaatkan fasislitas kamera yang tersedia di handphone dan peta wilayah Australia Barat yang terpampang di ruangan resepsionis, dilakukan pengmotretan peta menuju lokasi dengan bebarapa kali secara berurutan. Jadi-lah Google Map ala manual. Lumayan bisa untuk orientasi.. Walaupun sistem transportasi lalulintas tidak berbeda dengan di tanah air (jalur kiri dengan stir kanan), orientasi arah menuju luar kota merupakan tantangan sendiri.

Walaupun dalam keseharian pada acara-acara rutin biasanya menggunakan transportasi umum dengan jalur-jalur yang tertentu, mengemudikan mobil sendiri di negara orang memerlukan tantangan dan kejelian tersendiri . Dan tentu saja harus  extra hati terhadap rambu-rambu lalulintas yang ada. Maklum ketidakdisispilnan dalam berkendara di tanah air takut kebawa di negara tetangga. Walaupun tidak dijumpai polisi lalulintas (apalagi polisi tidur..)  di setiap perempatan jalan, yang lazim terjadi dit anah air. Banyaknya papan-papan hijau yang terpasang disemua perempatan jalan sangat membantu siapapun pengendara yang buta jalan. Salah satu hal yang membedakan dengan kondisi lalin di tanah aiar adalah jarang terdapat tanda lalulintas untuk arah balik (U-turn),

sehingga kalau salah belok harus mencari perempatan dan mengikuti rute kotak untuk menuju perempatan asal.Untungnya desain penataan kota hampir semua; wilayah pemukiman-perkantoran berbentuk blok-blok, sehingga sangat memudahakan bagi pengendara yang salah jalan. Dengan mengikuti logika berpikir bidang persegi panjang, posisi awal kesalahan dapat terlacak dengan cepat. Ada beberapa cara untuk menuju kota Hyden, distrik terdekat dengan Wave Rock, yaitu ke arah selatan melewati jalan nomor 30 menuju kota Wiiliams-Narrogin-Wickepin-Jitarning-Kulin-Kondinin-Kariganin-Hyden. Atau dengan waktu tempuh lebih pendek melalui  jalan nomor 40 ke arah  tenggara menuju kota Brookton-Corrigin-George Rock-Kondinin-Karigarin Hyden.  Pilihan lain keluar kota melalui jalan nomor 120, melawati York, bertemu dengan jalan nomor 40 di kota Brookton. Rute terakhir inilah yang ditempuh oleh penulis dan rombongan. Arah terdekat yang harus menuju arah timurpusat kota dengan melewati Graham Farmer Fwy-Great Eastern Hwy-Midland-Great Southern Hwy-Mundaring-York. Perjalanan sampai dengan York banyak dijumpai rumah-rumah pinggir kota dengan halaman luas, ciri khas kota daerah pedesaan.  Kecepatan kendaraan juga dibatasi 60 km/jam,cukup banyak tanda lalin warna biru yang menunjukkan batas maksimum kecepatan. Jalur hijau memisahkan jalanyang menuju dan meninggalkan kota Perth. Semua perempatan jalan terpasang lampu lintas. Karena banyak sekali dijumpai perempatan jalan maka kecepatan kendaraan-pun terbatas.Apalagi pada akhir pekan ini banyak sekali komunitas tertentu yang memanfaatkan jalan raya ke luar kota sebagai bagian dari aktifitas mereka. Seperti dijumpai penulis, serombongan komunitas penggemar sepeda santai yang terdiri dari anak-anak, remaja dan kakek dalam rombongan ±40 orang dengan dikawal mobil pengawal di depan dan mobil penyapu di belakang selalu mengingatkan kepada pengendara lain jangan menyalip jika keadaan tidak aman, padahal panjang rombongan bisa mencapai 200 meter sedangkan jalan hanya terdiri dari satu jalur.Selepas memasuki daerah pedesaan sepanjang; jalan nomor 40 pemandangan sebagian besar monoton sepanjang 300 kilometer, yaitu berupa hamparan perkebunan dengan berbagai macam jenis tanaman, biji-bijian, sereal danlain-lain. Rumah-rumah pedesaan ditandai dengan kotak pos yang berjejer, sedangkan rumah berada jauh di dalam melewati jalan tanah satu jalur. Petani-petani mempunyai perkebunan dengan dengan luas areal yang luas 10 ~ 400 hektar. Gudang atau bangunan untuk penunggu rumah terletak di tengah-tengah bidang tanah, sehingga memerlukan waktu yang cukup untuk menuju bangunan dari jalan pintu masuk. Yang unik segerombolan domba-domba dibiarkan menggelandang dalam wilayah areal perkebunan tanpa ada penunggunya. Di beberapa tempat terpampang gambar kanguru (roo)-next 23 km. Untuk menghindari terjadinya lalulalang kanguru yang melintas jalan-jalan raya, dipasang pagar-pagar kayu setinggi 1~1,5 meter. Di setiap desa-desa yang dilalui selalu ditemukan petunjuk tentang lokasi wisata dan tempat-tempat strategis dalam suatu rest area.
Tentu saja sangat membantu bagi kami yang baru perdana dan mungkin terakhir menuju tempat-tempat seperti ini.Sebagian besar jalan hanya terdiri dari dua jalur untuk dua arah dengan arah lurus, jarang sekali terdapat belokan. Sehingga apabila kita  berada di tengah jalur memandang kedepan akan tampak satu titik yang merupakan ujung jalan tempat kita berdiri.  Walaupun bukan jalan tol, dengan lebar  antara 3~4 meter setiap jalur,kondisi jalan sangat mulus dan tidak terlihat adanya tambalan seperti layaknya  banyak dijumpai di jalan-jalan sepanjang Pantura pulau Jawa. Beberapa mobil trailer yang bergerak dengan roda 8~10 ban meluncur dengan santai dan menyalakan klakson seolah-olah menyapa para pejalan yang berpapasan.


Camping Ground. Tak terasa lebih dari tiga jam perjalanan sudah dilalui. Menjelangwaktu Ashar, desa Kondinin (sesama rombongan sering memlesetkan menjadi Konidin) tampak didepan mata. Pengemudi sudah berganti sebanyak tiga kali, waktunya makan siang dan isi bahan bakar Tepat di perempatan Gordon Street  terdapat stasion bahan bakar sekaligus tersedia motel, restorant, toko kelontong dan tentu saja WC umum. Harga premium Aus$ 1.39/liter. Setelah mengisi 23.5 liter untuk menempuh jarak sekitar 300 kilometer (65 kilimeter lagi sampai lokasi yang dituju) diteruskan dengan memesan ayam , chips (kentang goreng) dan coba sebagai pengganjal makan siang seharga Aus$ 13. Terlihat dua orang polisi sedang berdiri santai di ujung jalan, walaupun tidak ada lalulintas yang melintas di jalan desa tersebut, kecuali kami. Untuk menghemat waktu kami makan siang sambil jalan. Tidak banyak pemandangan yang berbeda dengan sebelumnya.
Papan yang menunjukan arah Wave Rock terpasang di beberapa tempat di kiri maupun kanan jalan, menunjukkan lokasi yang dituju sudah semakin dekat. Sampai akhirnya pada papan setinggi satu meter dengan tulisan Wave Rock County-Welcome You di sebelah kiri jalan, menunjukkan tujuan akhir perjalanan. Pengunjung diminta melapor di ‘Booking Office’. Setelah membayar biaya masuk sebesar Aus@15 untuk mobil (orang-nya gratis), pengunjung dipersilahkan memarkir mobil di tempat yang tersedia dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Tersedia banyak sovenir terpajang di rak-rak yang tersusun rapi di dalam kantor pengelola. Harga relatif lebih mahal sedikit dengan harga-harga di kota. Tersedia beberapa fasilita ; wisata antara lain, perkemahan, treking, motor trail dan lain-lain. Beberapa mobil caravan sudah terparkir rapi di lapangan perkemahan, tenda-tenda sudah terpasang. Bahkan sebagian keluarga sudah menggelar karpet dan peralatan gril untuk persiapan makan malam bersama. Dan tentu saja api unggun. Secara teritorial Wave Rock berada di wilayah desa Hyden. Luas areal gugusan batuan yang menjadi andalan untuk bisa langsung di treking yaitu ± 15 ha. Keunikan yang utama dari gugusan batu ini yaitu adanya bentukan topografi hampir vertikal menyerupai gelombang laut berselang-seling melingkar sepanjang 4 kilometer. Pada beberapa tebing terlihat landai sehingga memungkinkan pengunjung untuk naik ke puncak tebing dan di beberapa tempat tampak curam dengan arah menonjol keluar pada bagian atas, sehingga mustahil pengunjung dapat naik sampai atas. Di tempat-tempat tertentu terpampang larangan menggunakan sepatu yang menggunakan hak tinggi untuk menaiki tebing. Pada beberapa tebing yang curam ketinggian bisa mencapai 14-15 meter dengan memanjang sampai 110-an meter.
Di sisi sisi sebelah barat yang menghadap ke utara memajang sampai dengan 150-an meter.
Yang menarik diantara dua tebing yang merupakan satu kesatuan hamparan batuan terdapat cekungan yang difungsikan sebagai penampung air minum dengan kapasitas ± 30000 meter kubik. Setelah menaiki tangga yang disediakan,terhampar dataran yang cukup lapang seluas lapangan sepak bola. Di ujung seberang adanya sekumpulan batuan sebesar mobil berserakan membentuk pemandangan yang unik. Terdapat satu batuan dengan posisi menggantung sehingga seseorang seolah-olah menahan batu tersebut untuk tidak jatuh. Unik. Ke arah utara terhampar pemandangan gurun dengan diselingi semak-semak pohon. Tampak dikejauhan jalan raya yang raya salah satu tranportasi untuk menuju Kalgorlie, kota yang terkenal karena pertambagannya di tengah-tengah benua Australia. Pada pinggir tebing batuan yang kemiringannya curam dipasang pagar pengaman setinggi 50 sentimeter yang terbuat dari beton. Wave Rock merupakan salah satu bagian dari gugusan batuan di bentangan wilayah Hyden yang terbentuk pada jaman  Arkaeozoikum yaitu 2500-300 juta tahun lalu. Diperkirakan pada saat itu belum ada kehidupan dan keadaan kulit bumi masih panas. Warna permukaan batuan dominan coklat dan di beberapa tempat yang curam di selingi warna putih hitam yang merupakan bagian proses erosi yang sudah berlangsung jutaan tahun. Sekilas formasi batuan hampir mirip dengan the wave yang terletak di Utah, AS. Menjelang senja merupakan pemandangan yang sangat eksotis; ke arah ufuk barat, sembari bersyukur mengagumi kebesaranNya dalam menciptakan bumi dan segala isinya.

Senin, 01 Oktober 2012

Negeri Paman Ho

Bandara Internasional Ho Chi Minh

Dalam dua kesempatan yang berbeda, kunjungan ke negeri Paman Ho, plesetan dari Uncle Sam, negeri yang menaklukan negeri Paman Sam, terkesan tidak pergi ke  luar negeri. Perawakan dan bentuk muka yang melayu faces, tidak jauh berbeda kecuali setelah berbicara langsung atau mendengar pembicaraan masyarakat lokal. Jejak-jejak peperangan panjang karena perbedaan ideologi pemimpinnya, terlihat pada beberapa situs sejarah kelam yang dikelola dalam wisata. Jejak-jejak sejarah kelam tampak dominan di eks Vietnam Selatan, dulu ber-ibukota di Saigon, sekarang diganti
nama menjadi Ho Chi Minh. Presiden Vietnam Utara yang makamnya diawetkan sampai sekarang dan ditempatkan di muselium di Hanoi (dulu Vietnam Utara). Dua kota besar ini di Vietnam dapat dicapai dengan beberapa pesawat dari Jakarta (ke Ho Chi Minh) atau Changi (ke Hanoi).

Ho Chi Minh City
Nama baru dari kota Saigon, eks ibukota Vietnam Selatan,merupakan kota yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.
Kathedral Nore Dame
. Vietnam Selatan merupakan eks jajahan Perancis. Di beberapa tempat masih terdapat sisa-sisa nama jalan dan bangunan bergaya Eropa. Sebut saja bangunan kantor pos, gereja kathedral dan beberapa bangunan pemerintah dengan corak dominan warna kuning. Notre Dame Cathedral, mengingatkan  pada Notre Dame de Paris, yaitu katedral berasitektur gothic di sebelah timur Île de la Cité di Paris. Terlihat banyak murid sedang praktek menggambar surealistik bangunan ini. Kantor pos Vietnam (Buu Dien), contoh arsitektur lain peninggalan masa penjajahan.
Kantor Pos (Buu Dien)
Masih digunakan fungsinya sebagai kantor pos dan toko souvenir serta sejarah bangunan dalam bentuk keterangan dan lukisan di beberapa dinding.
Bekas kantor presiden Ho yang ditata apik dengan berbagai koleksi souvenir. Diantaranya kaki gajah yang digunakan sebagai tong untuk tempat barang-barang, mengingatkan pada koleksi musium kerajaan Johor Baru.
Museum Istana
Jika ingin souvenir oleh-oleh kerabat dapat diperoleh di pasar Cho Ben Than. Masih di dalam kota,terdapat beberapa museum.Kemelut pengaruh perubahan dan perebutan ideologi liberal ala amerika dan komunis ala china, berbuntut invasi tentara US (era Nixon) ke Vietsel tahun 1975an. Perang fisik dengan berbagai media senjata dan peralatan perang yang standar dan yang mengerikan bisa disaksikan bekas-bekasnya di beberapa Museum Perang.
Cho Ben Than
Cunchi, terletak 75 km di luar kota Ho Chi Minh, memberi gambaran kepada dunia tentang bentuk-bentuk strategi perang darat dengan segala atributnya. Jebakan mematikan, dengan varian-nya, perlindungan diri dari serangan udara,
dahsyatnya bom dari pesawat B52 ditampilkan dalam bentuk kilas balik perjalanan rakyat Vietnama dalam areal seluas +/- 25 ha.
Cunchi, Mesuem Lapangan Perang Vietnam
Paket perjalanan dengan menggunakan bus dengan seorang guide dengan membayar 200.000 dong. Sebagai bagian dari promosi wisata, bus rombongan berhenti di industri merangkap show room souvenir. Uniknya pengrajinnya adalah korban disabel yang lahir karena efek Vietnam Rose.
Dengan tiket 20.000 dong seorang guide akan mendampingi pengunjung untuk menjelaskan dalam bahasa Inggris. Masih dalam suasana masa lampau yang sama, terdapat War Reminans Museum. Dahsyatnya bom kimia dalam program Agent Orange yang berdampak pada ketidaknormalan (cacat genetis) bayi-bayi yang lahir (Vietnam Rose).
War Reminant Museum
Keunikan lain dari kota ini adalah semrawutnya motor roda 2 sebagai moda transportasi berbaur dengan sedikit kendaraan roda 4. Walaupun demikian, pengamatan pada jalan padat dengan taman di
depan pasar Cho Ben Than tidak ditemukan kemacetan yang berarti, walaupun sebagian pengendara mengabaikan laampu lalin.
Saling pengertian. Yang lain, kabel listrik dengan kesemrawutan yang lain, Tidak jelas, apakah karena kondisi ini, beberapa souvenir kota Saigon menggambarkan situasi ini.

Hanoi.
Jika kota terbesar di selatan Vietnam, Ho Chi Minh, begitu pesat dengan pembangunan gedung-gedung modern, Hanoi terlebih lebih klasik dengan peninggalan bangunan paninggalan penjajah Perancis.
Moseleum Ho Chi Minh, bangunan berbentuk kotak persegi setinggi 20-25 meter, tempat bersemayam jenasah mendiang presiden Ho yang di balsem, seperti makam Lenin di Moskow. Sayang sekali, pada saat itu museleum ditutup karena jenasah sedang dalam proses pembalseman ulang. Di belakang taman muselium terdapat taman dengan pagoda satu pondasi (one pilar pagoda).
Taman kota dengan kolam, Hoan Kim, walaupun bukan week end, dimanfaatkan warga setempat untuk bersantai-santai.
Di salah bagian dari kolam terdapat pertunjukan wayang air, hanya untuk pertunjukan malam hari.
Museum Ho Chi Minh
Katedral dengan arsitektur gotic mirip dengan notre dome, tampak kusam tanpa cat, terlihat kusam. Tidak jelas apakah disengaja, sehingga tampak unik. Di tengah mayoritas penduduk beragama Budha,
Kathedral Hanoi
di daerah kota tua, terletak di Hang Luoc st.di tengah-tengah pertokoan yang ramai pada malam hari (night market).
Masjid Al Noor Hanoi, Huan Luoc
Masjid dengan takmir seorang keturunan Pakistan, sepi, sholat Isya hanya diikuti 4 jamaah saja. Uniknya ada tulisan Tiada panggilan sepenting panggilan Illahi. Jelas,
pesan ini ditujukan bukan untuk WNV, Warga Negara Vietnam.
Wisata alam yang unik lagi adalah Ha Long Bay. Terletak di teluk Tonkin,
Ha Long Bay
mendekati perbatasan dengan China, merupakan kawasan  wisata laut seluas 1500 km2 dengan adanya duaribu-an pulau-pulau kecil yang tersebar.
Sebagian besar tidak berpenghuni karena kecuramannya, sebagian digunakan sebagai gardu pandang yang berada di puncak. Perjalanan wisata dibandrol dengan harga 75-120 $US untuk dua hari. Hampir setiap hotel menyiapkan paket wisata ini. Jam 08.00 keesok harinya, penjemput dari travel agent sudah datang. Peserta dikumpulkan dulu di kawan Huan Loc, bersama dengan peserta lain menuju pelabuhan Bay Tham Marine, berjarak 170 km ke arah timur. Menggunakan mini bus ditempuh selama 2 jam. Seperti biasa, istirahat di Thanh Dong, workshop dan penjualan souvenir khas Vietnam. Perjalanan menggunakan perahu cruize yang cukup bersih dan lapang, kamar tidur dengan kamar mandi sendiri. Cuaca pagi cerah, perjalanan selama 3-4 jam ke arah utara.Eclipse, nama cruize yang menjadi host perjalan wisata ini.
Rupanya banyak sekali agen-agen wisata yang memberikan paket ke Ha Long Bay, dan dikelola secara profesional. Paket wist termasuk wisata kano, dinner ala western, breakfast dan lunch. Sensasi Halong Bay memang luar biasa, unik, hanya beberapa tempat yang bisa menyaingi, satu diantaranya Raja Empat. Salah satu obyek wisata yang diakui Unesco.
Pemukiman pekerja wisata layaknya kampung laut menjadi tempat transit sebelum wisata kano. Rombongan diberi waktu satu jam untuk menikmati kano sendiri-sendiri. Walaupun seumur-umur belum pernah menggunakannya, tidak terlalu sulit untuk melakukan olahraga air ini. Asik. Menjelang magrib, pemandu mengajak rombongan menuju cruize untuk persiapan mandi untuk dinner resmi. Pembagian kamar sesuai dengan jumlah tamu. Semua tamu rombongan pelajar-pelajar bule couple, kecuali penulis. Paket dinner didesain resmi ala western dengan urutan hidangan awal sampai penutup.
Kagok saja bagi kita yang tidak biasa. Basa-basi ngobrol asal-asal, dilanjutkan dengan menikmati malam di tengah deretan pulau-pulau kecil dan kerlipan lampu-lampu dari cruize lain yang sedang sandar jangkar.Suasananya santai...
Hari kedua di cruize, setelah breakfast pengunjung diantaer ke goa yang berada di salah satu pulau,  Hang Su Sot. Tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan goa Gong di Pacitan. Bedanya disini
sudah dikelola secara profesional dan terintegrasi dengan baik.
Berakhir sudah perjalanan di Hanoi, saatnya kembali ke tanah dan kerja rutin as usual.
















Senin, 23 Juli 2012

GMT+8

 Tertarik dengan penyatuan WIB,WITA dan WIT dalam satu waktu, L Wilardjo, fisikawan menulis artikel di harian Kompas pada tanggal 28 Mei 2012, sebagai berikut :

Oleh tokoh pers nasional, Adinegara, Nusantara dijuluki Zamrud Katulistiwa.
Di masa Adinegara, sebutan itu tepat sebab Nusantara ialah kepulauan di kawasan khatulistiwa yang terentan dari barat sampai timur: tampak hijau royo-royo karena hutan, sawah-ladang, dan nyiurnya yang melambai-lambai di sepanjang pantai.
Sekarang sabuk hijau di kahtulistiwa itu sudah bopeng-bopeng akibat ulak pembalak liar dan pengusaha tambang yang merambah hutan. Namun, syukurlah, NKRI masih utuh kendati sempat, dan masih, ada gerakan separatisme di ujung barat (Aceh) dan di ujung timur (Papua).

Tiga mintakat jadi satu.
Kita sudah terbiasa dengan pembagian Indonesia ke dalam tiga mintakat waktu: WIB, Wita dan WIT. Orang yang tinggal di wilayah  WIB memang merasa bahwa pukul 06.00 WIT di Manokwari masih terlalu gelap, tetapi perbedaan itu dapat ditenggang. Apabila, dan jika, seluruh Indonesia dijadikan satu mintakat waktu, perbedaan suasana pada jam yang sama antara Jayapura dan Banda Aceh kian kontras.  
GMT (Greenwich Mean Time) ialah waktu di kawasan Greenwich, di pinggir Sungai Thames, sebelah tenggara London. Garis bujur nol melintasi Greerwich. Dengan kata lain, Greenwich dilalui oleh meridian utama yang menghubungkan Kutub Utara dan Kutub Selatan.
Sekarang selisih waktu antara Inggris dan WIB  tujuh jam. Kalau WIB, WITA dan WIT dilebur menjadi  GMT+ 48, waktu di seluruh Indonesia menjadi sama dengan WITA sekarang ini. Orang yang tinggal di kawasan WIB akan memulai hari dan kegiatannya satu jam lebih awal. Sebaliknya, orang yang berdomisili di kawasan WIT bisa tetap berbaring di tempat tidur satu jam lagi, dihandingkan dengan kebiasaannya.  
Sabang kira-kira terletak di 95°BT, sementara Merauke ada di sekitar 142°BT. Busur lintang di dekat khatulistiwa antara Sabang dan Merauke besarya 47°.  Kalau waktu didasarkan pada perputaran Bumi  di sekliling sumbunnya, ada perbedaan waktu kira-kira 3 jam 8 menit antara Sabang dan Merauke;  Sabang keteter terhadap Merauke.  Selisih waktu alami ini akan dihapus, menjadi nol jika GMT+8 diterapkan.  Padahal,  jarak kedua kota itu sekitar 5.250 kilometer.
Apakah gagasan menyatukan WIB, Wita, dan WIT menjadi  GMT+8  itu cerdas, arif, dan berani atau bodoh, ngawur, dan gegabah?  Saya tak hendak menjawab pertanyaan retoris ini. Namun, kalau pertanyaannya ilmiahkah gagasan yang akan kan keputusan itu  dengan masa uji coba yang konon akan dimulai Oktober tahun ini, jawahannya: Tidaklah yauw!.

Apakah itu satu-satunya cara atau cara yang terbaik. Ada cara lain untuk mengetahui dan dalam hal tertentu bisa saja cara lain, yang tidak ilmiah, itu justru dianggap lebih baik.
Ilmu mempunyai dua komponen: eksperimental/observasional/empiris dan teoritis. Komponen yang pertama berupa interaksi antara manusia (baca: ilmuwan) dan lingkungannya, alam ataupun sosial. Dari interkasi ini diperoleh sjumlah data.
Dalam komponen teoritis makna data itu ditafsirkan. Ini terjadi di alam pikiran. Kecerdasan dan daya nalar -juga pertimbangan nilai-nalai- dipakai dalam pemaksanaan itu dan deduksi logis yang disimpulkan dari gambaran yang diperoleh dari komponen teoritis itu divalidasi dengan menghadapmukakan kesimpulan itu dengan kenyataan atau pengalaman di lapangan.
Jelaslah bahwa ilmu berkiblat pada apa-apa yang dialami. Rotasi bumi adalah alami. Kita tak dapat mengubahnya dan sebaiknya kita menyesuaikan diri dengan irama alami yang kodrati itu. Tak sesuai dengan yang alami berarti tak ilmiah.

Teknologiskah?
Apakah kita tak boleh mengubah yang alami itu? Tentu saja boleh, atau lebih tepat tak mengubah, tetapi menyiasati.  Itulah yang kita lakukan dengan mengembangkan teknologi, yang tak lain dari alat  dan/atau cara mengatasi masalah yang kita hadapi atau kita antisipasi sebelum masalah potensial itu menjadi aktual. Menurut Billy V Koen, di teras teknologi ada apa yang disebut perekayasaan: usaha mengadakan perubahan yang terbaik menurut persepsi masyarakat. Mengadopsi  GMT+8 berarti mengubah atau merekayasa yang alami/ilmiah. Namun, dengan perubahan  itu kita baru dapat disebut berkiblat ke teknologi kalau dalam persepsi rakyat Indonesia perubahan itu merupakan yang terbaik. Jadi, masih diperlukan uji publik dengan referendum atau musyawarah dan mufakat di DPR. Akankah uji coba Oktober nanti jadi proses demokrasi deliberatif di Lebenswelt Habermasian atau kita sedemikian paternalistiknya sehingga patuh saja kepada para pemimpin bak kerbau dicocok hidung?  Adopsi GMT+8 tak berkiblat  ke alam dan tak ilmiah, lagi pula belum tentu teknologis. Kelihatanya perubahan ke GMT+8 ini lebih berorientasi ke pasar agar jam buka bursa efek kita sama atau lebih banyak tumpang tindihnya dengan jam kerja pasar modal di bursa-bursa di Asean dan Asia-Pasifik. Jadi, kita menyerah diatur tangan-tangan kasatmata.
Masih mending jika pasarnya bebas. Persaingannya adil dan rasional sesuai moto laisez faire. Kalau pasarnya didominasi kekuatan-kekuatan raksasa ekonomi, berarti kita menerima Darwinisme sosial : membiarkan kesintasan Si Terkuat.

L Wilardjo, fisikawan.

Rabu, 17 Agustus 2011

17 Ramadhan 1432 H



Kejadian yang luar biasa dan langka adalah bersamaan waktu antara milad hari kemerdekaan RI yang ke-66 dengan turunya wahyu pertama Al Qur'an yang dikenal dengan Nuzul'ul Qur'an. Betapa tidak hari yang bersamaan tersebut pernah terjadi pada 17 Agustus 1848/17 Ramadhan 1264 H dan 17 Agustus 1685/ 17 Ramadhan 1096 H. Atau 353 dan 163 tahun yang lalu. Dan...kejadian yang sama akan terjadi 65 tahun yang akan datang atau tepatnya 17 Agustus 2076/17 Ramadhan 1499 H.




Semoga membawa dan mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemakmuran dan kesejahtaeraan bersama

Jumat, 29 April 2011

Negeri Serambi Mekah

Cerita menarik adalah selamatnya kapal feri Rondo yang melewati rute Ulueleu (Banda Aceh)-Balohan (Weh). Pada saat kejadian kapal sudah berada di tengah dalam perjalanan menuju pelabuhan Uleuleu. Sesampai di pelabauhan, kapten kapal tidak melihat ada pelabuhan yang tersisa di Uleuleu.
Pelabuhan Uleuleu, Banda Aceh ke Sabang (p Weh)
Salah satu kota Sabang dilihat dari Tugu Sabang Merauke
Komunikasi tidak dapat dilakukan karena semua BTS tumbang. Diputuskan untuk kembali ke Balohan dan mendapat kabar bahwa terjadi musibah di daratan yang meluluhlantakan fasilitas pelabuhan Uleuleu. Kapal beserta seluruh penumpangnya selamat, tetapi tidak dengan keluarga yang berada di Banda Aceh, termasuk kapten kapal. Dibalik musibah tsunami, Sabang menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Khususnya wisata pantai dan bawah laut. Pantai Iboih,pantai Tepin Layeu, pantai Gapang, pulau Rondo, pulau Kla, pulau Rubia merupakan beberapa potensi wisata yang patut dikunjungi. Menilik Sabang dalam sejarahnya merupakan kota tua yang menjadi basis pelabuhan bebas sejak jaman Belanda. Dan ditutup oleh pemerintah pusat pada tahun 1986. Bangunan-bangunan tua masih banyak dijumpai dan dipasang prasasti yang menjelaskan tentang sejarah keberadaan bangunan. Dan yang manjadi saksi keberadaan NKRI adalah adanya tugu NOL yang terletak di ujung bukit pulau Weh, 25 km dari kota Sabang. Bangunan terbuka berupa monumen dibangun oleh tim dari BPPT (dipimpin oleh Dr. Iwan Gunawan yang kebetulan teman kuliah penulis). Sayang sekali bangunan yang cukup megah di tempat yang sangat asri kurang terawat. Kompas besar yang terpasang di lantai dasar, sudah raib. Konon hilang selama masa konflik.


Tugu Km Nol


Pantai Keunuekai, P Weh

Pantai Tapin Layeu, Pulau Weh