Minggu, 19 April 2026

Bapak Munggah Kaji #2

7 Terbang Ke Tanah Suci

Seperti biasa, setiap hari ahad, hari ini, tanggal 3 Februari 2002 diadakan pertemuan dengan sesama anggota calon jamaah haji dari KBIH Miftahul Jannah.

Beberapa hal yang yang perlu menjadi para caloan jemaah haji yaitu antara lain :

1. Dibagikan Buku Kesehatan Haji kepada setiap calon jamaah.

2. Supaya mengisi daftar obat-obat yang harus/ biasa diminum setiap hari seperti yang tercantum pada halaman 47 dan akan ditandatangani oleh dokter pendamping Kloter 52 DKI Jakarta saat bertemu di Asrama Haji di  Pondok Gede, menjelang keberangkatan ke Mekkah.

3. Diajarkan tata cara membaca doa’ selama proses ibadah lengkap, mulai menggunakan pakaian ihram dimulai dengan niat, bacaan selama perjalanan, bacaan doa masuk ke kota suci Mekkah Harramian, masuk ke Masjidil Maharam, Thawaf, Sa’i dan lain-lain.  

Untuk keperluan loading koper, koper besar (bagasi pesawat) akan ditangani petugas khusus , sedangkan untuk transit semalam di Asrama Haji Pondok Gede, jamaah supaya membawa koper / tas kecil berisi peralatan pribadi dan akan di bawa di kabin.

 

Hari Senin tanggal 4 Februari 2002 mas Hari  dan mbak Yani berangkat terbang ke tanah suci menggunakan fasilitas ONH plus. Bapak, Ibu mad Bambang & dik Anak ikut mengantar sampai ke airport Bandara Sukarno Hatta. Keberangkatan menggunakan pesawat Royal Jordan Air dengan tujuan Aman, menginap semalam dilanjutkan dengan ke Jeddah keesokan harinya. 

Mas Hari Berangkat Haji

 

Tiga hari menjelang keberangkatan, cukup banyak tamu-tamu yang datang bergiliran  untuk silaturahmi dan mengucapkan selamat jalan.

Hari Jum'at tanggal 8 Februari 2002 teman-teman pengajian Ana sebanyak delapan orang datang, cukup ramai suasana di rumah.

Malam harinya, Dondi dan istri juga datang. Ngobrol cukup lama diantara kami. Kepulangan Dondi sempat membuat ibu agak bimbang sedikit sehubungan dengan adanya perbedaan persepsi tentang adanya dam yang harus dibayar sehubungan dengan prosesi rangkaian ibadah haji. Seperti sudah diterangkan pada saat manasik haji ada 3(tiga)  jenis ibadah haji.

1. Haji ifrad, yaitu sesampai di Mekkah melaksanakan ibadah haji dan setelah usai, melakukan ibadah umrah. Jenis ibadah ini tidak dikenakan dam/ denda.

2. Haji qiran, yaitu melaksnakan ibadah haji dan umrah diniatkan bersama-an, dengan catatan melakukan thawaf (lagi) setelah waktu wukuf.

3. Haji tamattu, ibadah umrah dilaksanakan terlebih dulu sebelum melaksanakan ibadah haji (dengan beberapa persyaratan tertentu) dan jamaah darus membayar dam.

 

Keesokan malam harinya, Sabtu, giliran kami dan keluarga, Ratih, Yoma, Usi dan mbaknya datang dan sekaligus bermalam di Citra Garden.

Sebelum kedatangan kami, dik Banitampak gelisah nggak sabar segera bertemu dengan sohibnya, Usi, beberapa kali menelpon ke Cipulir untuk menanyakan apakah sudah berangkat atau belum.

Tampak kegembiraan yang amat, ketika mendengar kami sekeluarga akan menginap di rumahnya.

Sayang, karena berangkatnya dari Cipulir agak malarn, bada sholat Isak, si cewek prencil, Usi, matanya suam-suam mendekati 5 watt, bahkan selama di mobil, tertidu pulas. Pun yang sulung, Yoma.

Sehingga pertemuan cewek-cewek kecil Bani & Us yang diharapkan heboh, tidak terjadi, bahkan agak korsleting. Mereka berdua langsung masuk ke kamar masing-masing (adiknya), Bala dan Bani.

Kami berlima, Bapak, ibu, Endri, Ratih dan Ana, Bambang sedang terbang, berbindang, ngobrol ngalor ngidul seputar rencana perjalanan haji, banjir yang belum 100% pulih dan yang lain-lain.

 

Sempat muncul diskusi tentang perbedaan pendapat tentang pembayaran dam. Kami  berpendapat sebaiknya dilihat situasi di sana nantinya dan tentu saja berkonsultasi ketua kloter, jenis haji yang mana akan diikuti, supaya tidak terhindar dam.

 

Pengalaman yang belum ada, apapbila tidak mengikuti sesama romobongan jamaah juga menjadi pertimbangan yang utama. Jangan sampai malahan akan merepotkan diri sendiri dan ketua kloter, sebagai penanggung jawab keberadaan jamaah, dan tentu saja sesam jamaah dalam satu rombongan.

Berdasarkan pengalaman melaksanakan umroh, kami hanya berpesan bahwa ibadah haji adalah ibadah yang penuh ujian untuk menata hatinya, menahan nafsu untuk mudah marah. Tidak boleh ada niat tidak baik, pikiran negatif apalagi kalau disertai tindakan dan perilaku ataupun lesan.

Rasa sombong, ceroboh, percaya diri yang sangta tinggi akan dibalas, bahkan seketika, dengan berbagi kondisi. Hal itu sangat mudah bagi Allah Yang Berkehendak. Contoh,  merasa sudah percaya diri biasa berjalan-jalan tempat yang baru, Allah memberi peringatan dengan menjadikan tersesat. Dalam kondisi seperti kita harus sadar, telah melakukan kesalahan dan segera istigfar, kalau perlu sholat tobat dua rakaa.

Sekali lagi, keikhlasan dan spenuhnya menyerahkan diri dan menggantungkan segalan urusan hanya kepada Allah swt.

Tidak terasa jarum jam menunJukkan 11.30 bapak sudah beberapa kali menguap dan minta mundur. Kamipun pamit mundur untuk istirahat.


Ngobrol Menjelang Keberangkatan

Ahad ,tanggal 10  Februari 2002, Henri dan  pak Zainudin datang dengan motor Honda C70 yang sudah di bersihkan dari kotoran airdan lumpur banjir.


Tidak berselang lama, besan,bapak Kamal dan ibu, Berti, yang sedang hamil, dan cucunya, Sasa,  juga datang dari Halim.

Hari menjelang sore, pak Kamal dan ibu mohon diri. Demikian juga dengan kami dan keluarga, karena Usi dan Yoma harus latihan Taekwondo di komplek rumah. Sebelum pamitan kami akan sempatkan waktu mengantar ke KBIH, karena sudah ijin kantor untuk masuk kantor.

 

Hari Senin, 11 Februari 2002, mas Bambang dan dik Ana t1dak ada jadwal terbang. Oh ya...mas Bambang bekerja sebagai pilot di Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia, sedangkan dik Ana sebagai pramugari di maskapai yang sama.

Aktifitas di rumah seperti biasa. Pak Parno sudah datang sejak pagi dan diajak ngobrol ringan-ringan dengan Bapak sambil ngopi, sambil nunggu tugas harian seperti biasa, yaitu mengantar Bala dan Bani sekolah. Ipah dan Nur  sejak pagi-pagi sudah datang dan sibuk dengan tugas harian. Ipah bersik-bersih rumah dan Nur bertugas memasak harian.

Setelah mengantar ke sekolah, pak Parno mengantar mas Bambang dan dik Ana untuk suatu keperluan.

Kami datang sekitar jam 10.00. Tidak beberapa lama kemudian pak Lubis dan istri, tetangganya di Komplek Citra Garden, datang ke rumah. Selain hendak mengucapkan selamat jalan untuk rencana keberangkatan ke tanah suci , beliau  memberikan bingkisan untuk ibu dan bapak. Ibu diberi bingkisan baju daster dan untuk bapak baju koko warna abu-abu muda. Alhamdulillah.

Seusai mengantar mas Bambang, pak Parno dan Bapak mengantarkan dua koper besar ke kantor KBIH Yayasan untuk handling oleh petugas dari Yayasan.

Jam 13 .30, setelah makan siang dan sholat dhuhur kami berangkat ke Kantor KBIH yang terletak di Jalan Peta, tidak jauh dari Komplek Citra Garden.

Kantor Yayasan Miftahul Jannah berada di dalan Darussalam( masuk dari jalan Peta Selatan) lokasi dekat perkampungan dekat dengan pasar. Jalan agak sempit, sehingga tidak masuk sampai ke kantor.

Ada petugas tugas yang mengatur lalau lintas kendaraan yang lewat sempit. Mobil tidak masuk ke dalam dan berhenti menurunkan penumpang dan selanjutnya parkir di pasar.

Dengan berjalan kaki yang berjarak ± 50 meter kami menuju bangunan madrasah sederhana, milik yayasan, yang digunakan sebagai titik kumpul menuju Asrama Haji Pondok Gede.


Transit Dulu di KBIH

Sebagian besar jamaah sudah berdatangan diserta pengantar yang cakup banyak, bahka lebih banyak dari jamaah itu sendiri.  Calon jamaah haji pria berpeci menggunakan seragam jas warna ungu sedangkan untuk perempuan menggunakan seragam warna biru.

Bapak dan beberapa anggota rombongan tidak menggunakan seragam, mungkin dipakai untuk keberangkatan dari Asrama Haji, esok harinya.

 

Bapak menyaksikan fenomena yang luar biasa melihat antusias pengantar yang banyak dengan semangat yang tinggi mengantarkan keluarga, sanak saudara bahkan tetangga se kampung, bahkan dengan meninggalkan waktu dan tenaga. Fenomena apa ini ?

Apa bedanya dengan bepergian yang tidak rangka ibadah, misalnya pergi melancong ke Eropa, Amerika dan tempat yang lebih jauh lagi.

Pertanyaan yang sangat mendasar dan bisa dimaklumi, karena di keluarga belum pernah mengalami peristiwa seperti ini. Walaupun  di kampung-kampung hal seperti hampir setiap tahun selalu ada.  Betul-betul pengalaman pertama yang mengesankan sebelum berada di tempat suci di jazirah Arab sana.

 

Calon jemaah disediakan di suatu ruangan yang sederhana, berkarpet dengan kipas angin menggantung di atas atas  berputar kencang. Bapak & ibu dan juga jamaah yang lain dipersilahkan duduk bersila sambil menunggu jamaah yang lain. Beberapa pengantar ikut duduk dan bergabung dengan jamaah lain atau sekedar bersalaman dengan jamaah lain dan memilih menunngu di serambi ruangan. Walau udara di dalam ruang agak pengap, suasan ceria tampak diantara para jamaah.

 

Beberapa saat kemudian, bapak Legimin, ketua rombongan, mengabsen satu persatu rombongan yang sudah hadir.

“Bapak Sutopo ?”, “Ada..”, Bapak menyahut dengan mengangkat tangan kanannya, “ Ibu Sutopo ?” ...dan seterusnya.

Sampai panggilan yang terakhir terdapat satu jamaah yang belum hadir.  Setelah dirundingkan dengan ketua rombongan, ibu hayati, yang bersangkutan terjebak macet di jalan, sehingga diputuskan untuk ditunggal dan yang bersangkutan supaya langsung menuju ke Asrama Haji Pondok Gede.

Sebelum berangkat , perwakilan dari Kantor Agama setempat memberi bekal rohani, ucapan selamat jalan dan berdoa semua semua jamaah diberikan kesehatan, kekuatan dan kalancaran dalam menjalankan ibadah sampai sampai kembali ke tanah air.

Lafaz Labaik Allohuma labaik.....berkumandang diantara lisan-lisan jamaah  mengiringi keberangkatan jamaah dan bersalam-salam dengan petugas.

 

Pengantar berbaris sepanjang halaman madrasah, ibarat mengiring calon pengantin.  Beberapa pengantar berkerumun di pinggir jalan, beberapa petugas membawa koper besar seragam bentuk dan warnanya milik para jamaah, dibawa menuju bus-bus yang parkir di dekat pasar.

Jalan raya Peta, Kalideres yang sempit dan  macet menjadi tambah macet, pada siang menjelang sore pada hari ini. Di kanan kiri jalan di pertigaan jalan yang ke arah kantor KBIH parkir mobil=mobil pengantar  calon  jamaah dan bus besar yang mengantar ke Asrama Haji Pondok Gede.  Sepintas terlihat wajah beberapa penumpang mobil yang terhenti karena macet, ada yang pasrah seakan-akan memaklumi melihat kemacetan ini, ada juga yang bermuka masam, terlihat kesal.

 

Walau sudah di-informasikan tentang pembangian bus bagi jamaah, beberapa jamaah tampak bingung mencari bus-nya.

Tepat jam 14.30 dua buah bus Hiba yang sengaja dicarter untuk membawa rombongan, berangkat. Perjalanan cukup lancar, cuaca cerah agak mendung di langit sebelah utara. Melewati jalan tol Cengkareng perlu waktu dua jam untuk sampai di asrama haji Pendok Gede.

Asrama Haji Pondok Gede berlokasi di Jalan Raya Pondok Gede, Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur. Diresmikan tahun 1997 dengan luas tanah +/- 16.2 hektar, di atasnya berdiri lebih dari delapan bangunan tower dan mampu menampung +/- 3000 tamu. Dibanguna khusun untuk penampung calon jamaah haji yang berangkat ke tanah suci.

 

Bus berhenti di depan bangunan utama, beberapa petugas dari gedung asrama siap untuk menunggu kedatangan jamaah. Gedung asrama cukup besar dan megah, petugas  mengarahkan transit dulu di aula.

Seorang petugas asrama memberi sambutan dan memberi arahan tantang apa yang yang akan dilakukan selama di Asrama Haji dalam dua hari sebelum berangkat ke tanah suci.

Di depan aula sudah beberapa  petugas yang akan membagikan kunci-kunci kamar dan gelang identitas jamaah haji Indonesia yang terbuat dari plat kuningan dengan warna chroom.


Gelang Haji

Gelang identitas ini penting, selain pasport, untuk mengetahui indentitas jamaah selama berada di tanah suci.   Karena, sebagian jamaah (terutama jamaah reguler) belum pernah melakukan perjalanan di luar negeri, apalagi dalam waktu lama (+/- 40 hari), tidak bisa berbahasa Arab atau Inggris dan selama di tanah suci akan melakukan aktifitas yang bercampur dengan jutaan jamaah haji dari negara-negara lain. Sehingga apabila seseorang jamaah mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tersesat, dengan mudah diketahui identitas yang bersangkutan.


Informasi di Gelang Haji

Selanjutnya petugas memberikan informasi tentang kamar-kamar. Satu kamar dihuni untuk empat orang, blok jamaah lelaki dan perempuan berbeda blok.

Oh..ya, Aktifitas resmi tidak ada, setelah mandi dan bersiap untuk sholat magrib di Masjid Jami Al Mabrur yang terletak tidak jauh dari kamar menginap.

Setelah sholat magrib, sambil menunggu sholat Isa, ada kajian. Beberapa jamaah meninggalkan masjid dan sebagian tetap untuk mendengar dan mnyimak kajian. Materi kajian biasanya seputar ibadah haji dan sangat penting untuk pengetahuan untuk keabsahan dan khusukan ibadah.

Ba’da sholat Isa, bapak dan jamaah lelaki lain balik ke gedung penginapan untuk makan malam. Sementara ibu dan jamaah perempuan melakukan hal yang sama.

Waktu ini banyak untuk mengobrol santai sambil berkenalan lebih dalam dengan jamaah lain. Bapak merasa sebagai orang baru dan komunitas baru, karena sebagian jamaah berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.

 

Selasa tanggal 12 Februari 2002, cuaca cerah tampak awan tersebar di beberapa titik di  langit. Acara pagi ini  pagi manasik haji terakhir sebelum melaksanakan ibadah yang sebenarnya, malam hari berangkat, take-off, ke Jeddah.

Jamaah dikumpulkan kembali ke aula dan petugas haji siap untuk memberikan informasi untuk pembagian paspor dan living cost selama di tanah suci sebesar 1500 SAR, atau lebih kurang setara dengan Rp. 5.000.000,-. Untuk makan harian (tiga kali) selama ditanah suci disediakan maktab dan merupakan bagian bagian ONH (ongkos naik haji) yang harus dibayar oleh setiap jamaah, sedangkan living cost digunakan untuk keperluan sehari-hari jamaah selain makan.


Manasik Haji

Acara selanjutnya manasik yang terakhir sebelum ke tanah suci. Di halaman utama Asrama Haji dibangun replika miniatur Ka’bah, tiga jumroh, jalur untuk sa’i Saofa-Marwa.

Semua jamaah dipersilahkan menuju halaman dan mengikuti arahan petugas untuk melakukan simluasi urutan prosesi ibadah haji. Walaupun selama pembekalan di KBIH kami mendapatkan simulasi tersebut. Dimulai dari rangkain thawaf, Sai dan lempar jumroh.

 

Menjelang sholat dhuhur pelaksanaan simulai selesai, jamaah kembali ke masing-masing dan persiapan untuk sholat dhuhur dan makan siang. Sesuai arahan petugas disarankan untuk melaksanakan sholat jamaah dhuhur dan asar, karena persyaratan safar terpenuhi.

Tidak lama sholat dhuhur selesai ada pengumuman dari patugas asrama, bahwa semua jamaah Kloter 52 DKI Jakarta supaya bersiap-siap berkemas-kemas untuk berangkat ke airport.

Ketua rombongan dan petugas dari KBIH mengingatkan kepada para jamaah supaya :

a.      Memakai seragam KBIH yang sudah disiapkan dan penutup kepala.

b.     Tas jinjing berisi baju ihram, baju pribadi dan lain-lain

c.      Tas kalung (berisi pasport, dompet dan lain-lain)

d.     Gelang identitas jamaah terpakai di pakai tangan

 

Di halaman asrama berdiri 10 bus stand by siap mengantar jamaah kloter 52 untuk mengantar ke airport Soekarno Hatta, Cengkareng. Di sepanjang jalan raya berdiri warung-warung dadakan, selama musim haji. Ini sangat membantu, misalnya yang terkait dengan barang-barang keperluan harian selama safar yang terlupakan belum terbeli. Misalnya sikat gigi, tusuk gigi, tensoplast dan lain-lain.

Satu  kloter terdiri dari sekitar 400 jamaah sesuai dengan kapasitas pesawat yang terdiri dari ketua kloter, dokter pendamping dan petugas pendamping.

Banyak pengantar jamaah yang berdiri berjejer-jejer mengantar kepergian jamaah. Ada sebagian jamaah yang berpelukan dengan kerabat-saudara yang mengantar. Kami sengaja mengantar hanya sampai ke kantor KBIH, tidak sampai ke Asrama Pondok Haji, karena bukan hari libur. 

Petugas haji dan dibantu ketua grup/ rombongan mengarahkan anggota menuju bus yang sudah ditentukan. Seperti biasa, prosedur standar dalam melakukan safar ber-rombongan ketua grup/ rombongan akan meng-absen satu-satu anggota jamaahnya. Kurang satu harus dicari sampai ketemu.

 

Bus Menuju Airport

Tepat jam 13.00 bus pengantar paling depan bergerak, ketua rombongan bersama-sama mengajak anggotanya untuk berdoa bersama. Bismillahi-arrahmanirrohim.

Lalu lintas cukup padat, beberapa angkut nge-tem  di sembarang tempat menunggu penumpang. Suasana pasca banjir masih tampak, aktifitas yang berhenti saat banjir, kembali berjalan pelan-pelan menuju kondisi normal. Kegiatan ekonomi, perdagangan, jual-beli, sekolah, pekerjaan menjadi aktifitas harian dan memenuhi jalan-jalan sempit di daerah kawasan sekitar Pondek Gede- Taman Mini dan sekitarnya. Beda dengan kota Malang, Jakarta menjadi tampak aslinya sebagai kota macet. Memasuki jalan tol Jagorawi jalanan lengang dan lancar.

 

Menjelang exit tol gate bandara, bus berjalan lambat untuk antri bayar tol. Rombongan bus mengarah ke terminal 2 khusus terminal haji. Di depan pintu terminal bus berhenti, penumpang jamaah bersiap-siap turun dengan membawa tas jinjing masing-masing.

Lodging untuk koper besar diurus oleh petugas dari KBIH, setelah melewati pemeriksaan oleh petugas bandara, satu-satu pasport jamaah diperiksa dan dicocokan dengan wajah pemilik pasport. Jika lolos diarahkan menuju pintu kotak untuk deteksi sinar X, dengan melepaskan barang-barang yang terbuat dari logam yang menempel di badan supaya di lepas, misalnya jam tangan, handphone, cincin, gelang dll  dan barang-barang yang dilarang dibawa di cabin pesawat, misalnya cairan yang berlebihan, benda-benda tajam dan lain-lain.

Selanjutnya petugas mengarahkan jamaah menuju counter-counter chek-in yang berderet panjang. Setelah memeriksa pasport calon penumpang, petugas maskapai mencetak boarding pass sebagai nomor  tempat duduk di pesawat.

 

Tahap selanjutnya pemeriksaan imigrasi.   Khusus di untuk bandara untuk  internasional terdapat counter untuk pemeriksaan imigrasi. Ruangan nya bersebelahan dengan ruangan chek-in.

Bergegas calon penumpang menuju ke deretan meja-meja counter imigrasi melakukan pemeriksaan keabsahan dokumentasi imigrasi, visa negara tujuan dan lain-lain.    Petugas imigrasi berseragam coklat tua minta pasport calon penumpang untuk mencocokan data dengan data yang ada pada database di Dirjen Imigrasi Departemen Kehakiman RI. Beberapa jamaah tampak canggung dan sedikit takut menuju counter.

Lolos verifikasi data imigrasi petugas men-stempel pada salah satu lembar pasport  dan menyerahkan kembali kepada pemilik.  Walaupun antri cukup lama dan sedikit melelahkan, tapi kami tetap menjalani dengan gembira.

 

Sebelum masuk ke pesawat, penumpang menunggu sebentar ruang tunggu sampai semua penumpang lolos verifikasi data ke-imigrasian-nya.

Jam 17.15 pesawat Garuda B747-4-700 petugas bandar mengumumkan bahwa pintu masuk pesawat sudah siap dan semua penumpang dipersilahkan boarding/ masuk. Satu-persatu penumpang jamaah antri dengan rapi masuk pesawat. Beberapa petugas maskapai Garuda melakukan pemeriksaan boarding pass dan mencocokan dengan pasport.

Jamaah diarahkan untuk pintu garba rata yang menghubungan bangunan bandara dengan pesawat terbang.

Dua-tiga pramugari Garuda dengan berjilbab warna terang sekali lagi melakukan pemeriksaan boarding pass untuk mengarahkan ke tempat duduk masing-masing penumpang.

Boing Jumbo 747-700  adalah pesawat dengan kapasitas besar/ jumbo, lebih kurang 400 penumpang, dengan dua tingkat dan masing susunan-nya tiga deret memanjang dan masing-masing deret terdapat 8  tempat duduk, dengan komposisi 3-4-3 (windows-middle-windows).

Di dalam pesawat beberapa pramugari dan pramugara berdiri bersiap untuk membantu penumpang untuk mencari tempat duduk dan memasukkan tas jinjing ke bagasi yang ada di atas kursi.

Seorang pramugari berjalan mondar ke depan dan ke belakang menge-cek jumlah penumpang dengan menekan counter yang ada di tangan, sementara yang lain ada yang menawarkan permen dan ada juga mengecek apakah setiap penumpang sudah memasang seat-belt . Sementara ada pesan suara yang mengingat untuk mematikan alat komunikasi. Tak berapa lama pintu pesawat ditutup, menunjukkan semua penumpang sudah berada di pesawat.

 

Mengikuti Standar Operasi Penerbangan TV monitor yang di depan setiap penumpang dan beberapa yang menggantung di atap pesawat menyala dan menayangkan prosedur penggunaan peralatan apabila terjadi keadaan bahaya.  Peragaan secara manual tetap dilakukan oleh para pramugari dengan mengikuti suara audio yang ada di layar monitor.

Peragaan Alat Keselamatan

Tidak berapa lama, terdengar suara captain pesawat dan menyapa kepada penumpang dan menyampaikan informasi tentang penerbangan, Jakarta- Jeddah , dengan kondisi awan cerah dan mengucapkan selamat mengikuti penerbangan. Good a nice flight.

Jam 16.15 pesawat bergerak pelan menuju run-way untuk bersiap-siap take-off, walaupun berbeda dengan waktu yang tercantum pada boarding pass.  Bagi jamaah yang tidak pernah bepergian menggunakan pesawat, ini merupakan pengalaman pertama, sehingga wajar kalau tampak cemas.  Sekali lagi, awak pesawat mengingatkan untuk mengikat seat-belt.

Sampai di ujung run-way, moncong pesawat ke utara, pelan dan pasti captaint pilot menambah power jet, perlahan pesawat bergerak maju. Di kursi beberapa penumpang membuka mushaf dan membaca dengan suara yang lirih.

Sampai batas jarak tertentu dan kecepatan yang cukup untuk lepas landas, moncong pesawat sedikit demi mulai naik, body pesawat sedikit condong ke atas. Pada batas tertentu kecepatan stabil body pesawat  normal. Lampu tanda seal-belt mati, menunjukkan penumpang bisa melepaskan sabuk pengaman.

Dalam waktu tidak berapa lama pramugari-pramugari dengan cekatan dan terlatih segera membagikan sajian-sajian makanan dan minuman. Selama perjalanan hampir 10 (sepuluh) jam  penumpang mendapat jatah makan dua kali.

Sempat terpikir dalam hati seandainya salah satu diantara, captain pilot atau awak pesawat adalah mas Bambang atau dik Ana, merupakan kebanggan yang tersendiri dan pengalaman yang langka. Ibu tampak gembira walau sebenarnya lelah.

 

Jakarta – Jeddah sesuai jadwal ditempuh dalam waktu 10 jam, duduk di kursi pesawat yang sempat merupakan aktifitas yang menjemukan.  Ibu dan beberapa jamaah lain khusuk membaca Al Qur’an yang dibawah dari rumah. Menjelang waktu maghrib, awak memberitahu kan kalau waktu sholat  sudah masuk.  Sesuai saran pak ustadz, sholat untuk sedang safar/ bepergian bisa di jamak atau jamak qasar (sholat Magrib dan Isa di kerjakan berurutan, Maghrib tetap 3 rakaat sedangkat Isak dapat ringkas menjadi 2 rakaat saja).  Untuk wudhu bisa bertayamum .

Selanjutnya ...zzzzzz  ... sampai..

 

Menjelang fajar hari setempat atau bertepatan dengan 08.00 WIB hari Rabu , awak pesawat memberi tahu kalau pesawat akan segera mendapat Bandara King Abdul Aziz Jeddah.

Sepuluh jam waktu tahap awal perjalanan serangkaian ibadah haji si tanah suci dimulai.

 

Pesawat berhenti di apron awak pesawat memberi tahu penumpang untuk melepaskan seat-belt dan bersiap-siap untuk keluar pesawat. 

 

Penumpang diarahkan ke loket-loket doane/ imigrasi yang berderet-deret yang jumlahnya cukup banyak.

Alhamdulillah semua jamaah lolos dari pemeriksaan administrasi di loket imigrasi. Jamaah menuju ruang bagasi. Koper-koper para jamaah sudah di-tangani oleh petugas khusus sampai nanti di hotel maktab di Mekkah. Aneh-nya kami semua nggak ada yang menanyakan.

Dengan membawa tas jinjing masing-masing, jamaah menuju bus yang siap mengantar ke Mekkah. Terlihat ibu agak lelah dan masih ngantuk.

 

8 Perjalanan Mekkah - Mekkah

Alhamdulillah ... urusan imigrasi dan bagasi sudah selesai , rombongan jamaah menuju hall dalam pintu kedatangan bandara, tim panitia penjemputan sudah siap menerima kedatangan para  jamaah.

Petugas mempersilahkan istirahat di tempat-tempat yang luas terbuka dengan fasilitas lengkap deretan kamar mandi dan tempat wudhu, tempat duduk , karpet yang bisa dignakan untuk rebahan atau sholat dan mushola yang lebih besar yang disediakan untuk sholat berjamaah. Bahkan pada hari Jum’at juga digunakan untuk sholat Jum’at. Sarapan pagi dibagikan kepada masing-masing jamaah, walaupun terasa masih terlalu pagi.

Bangunan bandara Jeddah cukup besar dan desainnya cukup indah, menyerupai tenda raksasa dengan warna putih. Bangunan yang dipersiapkan khusus untuk jamaah haji, terutama untuk persiapan transit sebelum ke tanah haram, Mekkah al Mukarommah. Setiap tahun menerima ratusan ribu bahkan jutaan jaamaah dari seluruh mancanegara, baik untuk ibadah haji (yang waktunya terbatas) maupun ibadah umrah (di luar waktu ibadah haji).

 

Selesai sarapan  dan istirahat, jamaah dipersilahkan mandi ditempat yang tersedia dan memakai pakaian ihrom diawali dengan niat ber-ihrom.

Bandara Jeddah sebelum Ke Mekkah

Kamar mandi dan WC cukup banyak dan bisa menampung semua jamaah, tidak perlu antri, dan bersih dengan fasilitas air hangat. Hanya sayangnya untuk WC yang tersedia untuk jongkok, sehingga bagi jamaah manula bisa menjadi kendala tersendiri.



Dalam hati ada pengharapan, mudah-mudahan ibu bisa mandi di kamar mandi umum seperti ini. Seperti diketahui ibu termasuk orang yang peduli dengan kebersihan di kamar mandi, kalau tidak bersih biasanya membatalkan untuk ke kamar mandi.

 

Tidak jelas komando dari mana, para jamaah dipersilahkan untuk berbaris rapi menuju serambi luar bandara. Jamaah lelaki dan perempuan dalam baris tersendiri, untuk selanjutnya dipersilahkan memasuki bus-bus yang siap meluncur ke Mekah.

Entah apa nama busnya karena tertulis dalam bahasa Arab, huruf Arab gundul lagi. Sebelum masuk bus, pasport diserahkan oleh seorang petugas khusus.  Entah bagaimana manajemen pengelolaannya, mengumpulkan sebegitu banyak pasport yang merupakan identitas utama seorang perantau di luar negeri.  Pertanyaan  yang lain, bagaimana kalau keselip salah satu pasport dan lain-lain. Setelah dicerna dalam-dalam, ada benarnya juga. Sebagian besar jamaah adalah lansia, potensi kehilangan nya lebih besar jika di pegang masing-masing jamaah. Sedangkan untuk identitas jamaah, karena musim haji, bisa digunakan gelang identitas dan kartu jamaah.

 

Hari Rabu jam 06.00 tanggal 13 Februari 2002 , dengan di awali doa dan dilanjutkan alunan bacaan talbiyah, Labaik Allohuma labaik. Labaik Allohuma labaik. .., rombongan bus yang membawa jamaah haji Kloter 52 asal DKI Jakarta meningggalkan bandara King Badul Aziz Jeddah menuju Mekkah. Jarak Jeddah – Mekkah ± 98 km. Perjalanan melewati jalan tol yang cukup lebar dan masih sepi.

Di beberapa ruas jalan, sepanjang kiri kanan jalan dipasang pagar pembatas , kira-kira apa ya fungsi pagar tersebut.  Karena di sepanjang jalan tersebut, kondisinya terdiri dari gunung batu, tidak ada bangunan sama sekali, apalagi kehidupan. Pertanyaan terus berlanjut, kalaupun ada kehidupan di area tersebut, bagaimana mereka bisa hidup yang begitu gersang dan tandus. 


Gapura Kota Mekkah

 

Bus melewati gapura Kota Mekkah yang khas, menggambarkan mushaff Al Qur’an yang terbuka menghadap ke langit di topang dengan meja yang menjulang ke atas setinggi ± 6 meter.

Sampai, di Mekah sudah hampir jam 10.00, bus langsung menuju ke maktab (tempat penginapan) di jalan Jawarhal, yang terletak di sbelah barat Masjidil Haram dengan jarak  2 km.

 

Maktab banyak dibangun di banyak titik-titik wilayah di Kota Mekkah untuk menampung jamaah haji reguler. Bentuknya berupa bangunan tower dengan 10-20 lantai. Biasanya diisi satu-dua kloter jamaah.

Jamaah dipersilahkan istirahat di lobby yang tidak luas, petugas memberikan informasi kamar dan menyerahkan kunci kamar kepada ketua grup.Satu kamar terdiri 5-6 jamaah, jamaah putra dan putri dipisahkan.

Dengan menjinjing masing-masing bawaan masing-masing jamaah setiap jmaah memilih kamar yang disiapkan. Bapak sekamar bapak Fajar Panjaitan, mantan Lurah Kalideres, saat itu menjabat Sekda di Kabupaten Kepulauan Seribu. Dan dengan pak Agus, tetangga mas Bambang di Perumahan Citra Garden.

Waktu menjelang sholat dhuhur, bagi yang lapar, makan   siang sudah siap, disiapkan oleh catering dari maktab. Bagi yang mau sholat  bisa dilakukan sendiri-sendiri.

Pemberitahuan dari ketua rombongan bahwa koper- koper besar jamaah bisa diambil di lobby maktab, bisa diambil sendiri-sendiri. Atau kalau ,mau bantuan office boy memberi tip.  

Tidak ada satupun jamaah yang melaporkan kehilangan kopernya.  Kesan yang bagus untuk  menilai bahwa manajemen pengelolaan kedatangan jamaah. Petugasnya memuaskan dan juJur. Berbeda dengan keadaan dengan kondisi di negara kita.


Flip book :  Klik !

Bapak Munggah Kaji #3

9 Mekkah

Sore hari direncanakan untuk melaksanakan umrah thawaf  mengelilingi Ka'bah dan serangkaian ibadah-ibadah yang lain.  Ini merupakan moment yang luar biasa dan yang ditungu-tunggu semua jamaah.

Dengan menggunakan pakaian ihrom warna putih bersih, selembar kain yang tidak berjahit, kami berjalan bersama-sama menuju Masjidil Haram yang berjarak 1 Km.

Labaik Allhuma labaik, labaika la syarikala labaik, innal hamda wani'mata lasari kala......

Megah dan indah bangunan masjid, banyak pintu masuk yang disediakan, konon ada sebanyak 99 buah pintu dan masing-masing mempunyai nama sendiri-sendiri. Di dalam bangunan masjid berdiri megah Ka'bah. Bangunan berbentuk kotak kubus yang dilapisi kain berwarna hitam dan dilengkapai dengan berbagai tulisan ayat2-ayat yang ada di Al Qur’an. 


Thawaf

Sholat jamaah Magrib dilakukan berjamaah, tidak beranjak dari tempat duduk karena akan diteruskan dengan sholat Isya'.

Selanjutnya kami bersama-sama melaksanakan tawaf, yaitu mengelilingi Ka'bah  sebanyak tujuh kali, dimulai dari Hajar Aswad, batu hitam sebesar buah semangka yang terletak di salah satu ujung Ka'bah, melewati Maqam Ibrahim dan Rukun Yamani. Pelataran sekitar Ka’bah penuh dengan jamaah, manusia dari seluruh penjuru dunia dapat dijumpai disini, kulit hitam, coklat, putih, mata sipit, rambut keriting ada semua.

Untuk ber-tawaf memutari Ka’bah butuh stamina dan tenaga dan kewapadaan karena harus berdesak-desakan dengan jamaah yang lain. Apalagi jika berdesak-desak dengan jamaah dari negara-negara Afrika yang badannya relatif besar.  

Saking terlalu sernangat, selesai tawaf ibu minta melaksanakan tawaf lagi. Tetapi bapak mencegahnya, untuk istirahat dulu sambil menunggu jamaah yang lain yang belum selesai. Beberapa orang tua yang sakit ditandu oleh beberapa orang kulit hitam. Juga terlihat beberapa mayat dibungkus kain kafan putih tergeletak, menunggu untuk disholatkan. 

Ka'bah berupa bangunan kotak persegi tertutup kain warna hitam yang bertuliskan ayat-ayat Al Qur'an dengan warna kuning emas. Atap bangunan masjid terbuka dan lantainya beralaskan marmer putih. Pada salah satu ujung Ka'bah dinamakan Hajar Aswad dan pojok yang lain dinamakan Rukun Yamani, sedangkan dua ujung yang lain tidak diberi nama. Bersebelahan dengan Ka'bah berdiri maqam Ibrahim, yaitu tempat berpijak Nabi ibrahim ketika membangun Ka’bah.

Terlihat beberapa jamaah menangis meraung secara berlebihan tetapi petugas masjid segera mengusirnya. Agak jauh sedikit terdapat sumur Zam-Zam yang sudah ada sebelum bangunan ini berdiri.

Kran-kran untuk berwudhu tersedia cukup banyak disekeliling dalam bangunan, sehingga apabila jamaah ingin wudhu atau sekedar minum dapat dilakukan dengan mudah.

Kiblat sholat menuju Ka'bah, disinilah arah umat Islam menghadap Tuhan, mohon apa saja yang kita inginkan.  Bapak bersujud kehadirat Tuhan seraya berdoa, " Ya Allah, ampunilah kesalahan yang telah saya lakukan, mohon dilindungi kesehatan saya, mohon diberi rezeki yang berkah, demikian juga untuk  istri saya tercinta, Sri Rusmiyatin, untuk anak-anak dan mantu serta cucu-cucu, Hari, Yani, Rini dan Rian,  Edi, Linda, Ludi dan Fara,  Endri, Ratih, Yoma dan Usi; Ana, Bambang, Bala dan Bani,  Henri dan Berti”

“ Demikran Juga untuk saudara-saudara, almarhum mBak Har dan anak-anaknya, adik Samsi dan anak-anaknya, ani dan Dina segera menemukan jodohnya, dik Broto dan anak-anaknya, dik Tini dan anak-anaknya, dik Surono dan anak-anaknya, dik Rustini dan anak-anaknya”

“ Dan juga kepada pak Erwan, teman Ana, saya sampaikan doa kepadanya dan semoga anak-anaknya yang perempuan segera menemukan jodohnya”

Kepada istri tercinta bapak saya sampaikan: "Saya sebagai suamimu minta maaf segala segala kesalahan, yang sengaja maupun tidak ". Ibupun mengucapkan sebaliknya : "mudah-mudahan saya dapat menyertaimu sampai akhir hayat. Aamiin ya Rabbal alamin”.

Bapak mencoba untuk mendekati maqam Ibrahim dan mencoba untuk meraba dengan kedua tangan, tetapi kesulitan karena jamaah begitu banyak dan berjubel dan mempunyai keiningna yang sama.

Demikian juga dengan sumur Zam-Zam dan Hajar Aswad, hanya dapat memandang dan berharap mudah-mudahan bisa menghampiri.

Sa'i
Selanjutnya dilanjutkan dengan sa'i,  yaitu berjalan dan Sofa ke Marwah dan berlari-lari kecil ke arah sebaliknya.

Lokasinya berada di selebelah barat Ka’bah, yaitu berupa lorong lebar tedapat tiga lintasan, lintasan pinggir untuk jamaah yang berjalan dari Sofa ke Warwah dengan lebar 8 meter-an dan panjangnya 400 meter-an dengan juga untuk arah sebaliknya dari Mawah ke Sofa.

Sedangkan lintasan tengah selebar 2,5 meter-an digunakan untuk jamaah yang menggunakan kursi roda atau di tandu. Sepanjang lintasan yang atapnya tertutup dipasang kipas angin. Walaupun penuh dengan jamaah tetapi rasanya tidak terlalu panas.

Sepanjang samping lintasan tertutup tembok berlapis marmer dan ada penghubung ke ruangan terbuka sisi dalam masjid dan pada sisi yang lain ke arah luar masjid.

Pada ujung lintasan, masing-masing diberi nama Sofa dan Marwah, didesain sedemikian rupa sehingga apabila kita berdiri di Sofa atau Marwa selalu dapat melihat Ka'bah. Kondisi lintasan cukup datar dan pada ujung Sofa dan Marwah jalannya agak menaik sedikit. Jarak kedua bukit itu 405 meter. Jamaah berjubel  yang sedang  melakukan sa'i, seperti saat thawaah bapak selalu  menggandeng ibu untuk menghindari terpisah dari rombongan. Demikiah juga dengan pasangan-pasangan yang lain.

Walapun demikian ada saja kejadian pisah rombongan, termasuk ibu dan beberapa jemaah lain. Bapak merasa ibu selalu berada di belakangnya, karena salah satu ujung pakaian ihrom terasa dipegang seseorang. Belakangan baru tahu bahwa yang memegang ternyata orang lain. Ibu bingung pisah dari rombongan dan berada diantara manusia yang masih asing. Untungnya ketemu beberapa teman yang juga pisah dari rombongan.

Mendapat laporan ada jamaah yang lepas, ketua rombongan langsung memerintahkan kepada rombongan yang lain untuk berkumpul di suatu tempat dan dia sendiri segera mencari jamaah yang terpisah tersebut. Tak berapa lama semua rombongan jamaah sudah dapat ditemukan.       

Sa'i merupakan salah satu rukun haji, kegiatan ini merupakan kegiatan napak tilas nabi Ibrahim. Secara singkat, kisahnya sebagai berikut :

Nabi Ibrahim yang beristrikan Sarah, tidak juga mendapatkan keturunan walaupun sudah lama menikah. Atas persetujuan sang istri, Ibrahim diperkenankan untuk menikahi seorang hamba, yang bernama Hajar,  yang diberikan Raja Mesir kepada Sarah.           Menikahlah Ibrahim dan Hajar.  Dalam selanga waktu yang tidak terlalu lama,  Tuhan mengabulkan do’a Ibrahim dan memberikan anak yang diberi nama Ismail.

Tuhan meminta seandainya anaknya sudah besar harus diberikan lagi kepada Tuhan. Hajar dan Ismail dibawa Ibrahim dari negeri Palestina ke lembah Mekah atas perintah Tuhan.

Tidak berapa hidup di Mekkah, Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam keadaan yang seadanya, Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail begitu saja di padang Mekah yang tandus.

Hajar kebingungan menghadapi situasi seperti itu, bagaimana dan dimana mencari minuman untuk dia dan menghidupi anaknya. Hajar berlari-lari dari bukit Sofa ke bukit Marwah. Demikran seterusnya sampai tujuh kali dilakukan bolak-balik di kedua bukit tersebut untuk mencari air. Hampir putus asa Hajar melakukan hal demikian dan datanglah malaikat dan mengatakan padanya : " Bukalah batu disitu, kamu akan mendapatkan air". Memancarlah air di balik batu yang ditunjuk oleh malaikat yang kemudian dinamakan dengan sumur Zam-Zam.  


Sumur Zam2

Salah satu keajaiban dari sumur ini adalah tidak pernah habis walaupun sudah diminum bahkan dibawa sebagai oleh-oleh bagi berjuta-juta jamaah kenegaranya masing-masing.  Di tempat ini dapat ditarik suatu pelajaran bahwa hakikat dari rukun haji ialah bagaimana Hajar dapat mempertahankan hidup bagi dirinya dan untuk menghidupi anaknya. Karena keimanannya sangat kuat, dia memohon kepada Tuhan dan Tuhan memberi jalan. Disini merupakan tempat yang paling tepat untuk memohon kepada Allah, apa keinginan kita. 

Sa’i berakhir di bukit Mawah dilanjutkan tahalul, yaitu memotong sebagian rambut.  Secara hukum, jamaah diperbolehkan untuk melepaskan ihrom yang dipakai sejak pagi hari di bandara Jeddah (sebagai tempat miqat bagi jamaah yang menggunakan pesawat udara, sebelum ke Mekkah)

Jam 02.00 dini hari rangkaian ibadah umrah yang dimulai dari waktu magrib,  selesai. Semua rombongan kembali ke maktab.  Sesampai di maktab kami semua langsung tidur, karena besok pagi-pagi sekali kami harus bangun pagi lagi untuk melaksanakan sholat shubuh di masjid.

Karena terlalu capai, mengingat kondisi fisik ibu yang kurang mendukung, kaki ibu terasa kram. Bapak mengatakan: "Kram itu akibat terlalu capai, obatnya hanya satu, istirahat".

Ibadah haji merupakan ibadah yang cukup berat, selain bekal agama yang cukup, juga persiapan fisik dan mental benar-benar diuji. Fisik harus kuat karena banyak sekali kegiatan-kegiatan yang memerlukan tenaga ekstra yang harus dijalani, sedangkan mental diuji karena keikhlasan dan kesungguhan mempengaruhi pelaksanaan ibadah itu sendiri. Karena bapak memang sudah berniat jauh-jauh hari sebelumnya, semua rangkaian kegiatan kami kerjakan dengan senang hati.   

Kamis tanggal 14 Februari 2002. Seharian kami istirahat penuh, makan dan tidur. Demikian juga dengan ibu, terus tidur untuk memulihkan stamina yang sehari sebelumnya telah terkuras. Kami serombongan pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Magrib dan Isya'. Secara tidak sengaja dan kebetulan penjaga masjid memeriksa tas ransel yang kami bawa dan menemukan tustel di dalamnya. Alhasil kami ditolak masuk dan terpaksa sholat di halaman luar masjid. Selepas sholat kami pulang ke maktab, selama berjalan bertemu dengan pedagang kaki lima yang ternyata orang Checknya, salah satu negara bagian di Rusia. Bapak membeli teropong jauh made in Rusia seharga R30 dan pedang hiasan seharga SAR30 (Saudi Arab Real) untuk souvenir.

Semakin malam jamaah yang datang ke masjid semakin ramai dan berjubel.  Saat pulang dari masjid, di pintu-pintu masjid banyak dijumpai sandal-sandal yang ditinggalkan jamaah  yang berserakan, dari jamaah  sayang sekali sandal tersebut tidak ada yang berpasangan. 


Pintu 79 King Abdul Aziz

Hari Jum'at tanggal 15 Februari 2002, sholat Jum'at pertama di Masjidil Haram. Jamaah demikian berjubelnya, jangan membayangkan sholat duduk manis seperti di masjid Al Jihad, masjid  belakang rumah di Malang.

Sholat di depan Ka'bah dengan posisi berdiri berdempetan sangat rapat sekali, merupakan pengalaman yang tidak terlupakan dan sekaligus yang pertama kali. Sholat Dhuhur dimulai jam 13.00, walaupun matahari cukup terik tetapi t1dak terasa keluar keringat setetespun. Hal ini bisa terjadi karena kelembaban udara di kota Mekah cukup rendah.

Rangkaian kegiatan rukun di atas yang dimulai dari Jeddah dengan mengenakan pakaian ihrom ke Mekah, tawaf mengitari Ka'bah, Sa'i dan bukit Sofa ke Marwah yang diakhiri dengan tahalul yang dilaksanakan sebelum tanggal 8 Dzulhijrah dinamakan Haji Tamatu, artinya mengerjakan umroh dahulu sebelum melaksanakan haji. Untuk itu kita dikenakan dam atau denda, yaitu menyembelih kambing atau membayar R350.

10 Menunggu Tanggal 8 Dzulhijjah 

Hari ini, empat hari sebelum hari H yang sudah ditunggu-tunggu, tepatnya hari Sabtu tanggal 16 Februari 2002 bertepatan dengan 4 Dzulhijjah 1422 H, rombongan jamaah Miftahul Jannah mengadakan daily tour  ber-ziarah ke tempat-tempat bersejarah. Ketua rombongan mengingatkan, jamaah putra supaya membawa baju ihrom, karena sore akan miqat dan dilanjutkan dengan umrah. 



Padan Arofah, Jabal Nur/ Rahmah

Jadwal kunjungan antara lain di Jabal Tsur, terdapat gua Tsur yaitu tempat Nabi Muhammad bersembunyi dari kejaran kaum musyrikin Quraish  yang akan membunuhnya saat hendah hijrah ke Yatsrib (selanjutnya berganti menjadi Madinah).

Tempat ini berupa sebuah bukit batu yang gersang dan tandus. Di puncak bukit terdapat lorong gua. Disinilah Nabi Muhammad menyembunyikan diri dari kejaran musuhnya. Hanya karena pertolongan Tuhan-lah musuh-musuhnya dibutakan matanya, melihat adanya sarang laba-laba di sekitar mulut gua, musuhnyapun berpikir, mustahil ada orang bersembunyi di dalamnya. Pencarianpun dibatalkan. Dari peristiwa tersebut terlihat bahwa dalam keadaan darurat seorang Muhammad seperti bukan manusia biasa, semuanya itu hanya dapat terjadi karena kehendak-Nya.

Bapak sendiri sebenarnya ingin sampai ke mulut gua, tetapi mereka ber-rombongan dan tidak semua mau dan mampu untuk ke sana, maka cukup melihat dari kejauhan saja.   Menggunakan teropong binokuler yang dibeli dari pedagang kaki lima, bapak melihat barisan orang-orang yang menuju ke puncak seperti barisan semut yang tertib dan berjalan perlahan-lahan menuju puncak bukit.

Jam 11.00 perjalanan dilanjutkan ke padang Arafah.  Di sini sudah tersedia beribu-ribu tenda-tenda besar berwarna putih bersih yang nantinya akan digunakan untuk wukuf (menginap) bagi para kafilah-kafilah.

Perjalanan terus berlanjut menuju ke puncak Jabal Rahmah. Bukit ini tidak terlalu tinggi dan sudah dipasang tangga dari batu yang cukup nyaman bagi pejalan kaki, semua rombongan dapat naik sampai ke puncak. Di puncak berdiri kokoh tugu yang lancip pada ujung atasnya yang terbuat dari batu utuh. Konon disini tempat Nabi Adam dan Siti Hawa bertemu setelah seratus tahun berpisah dari surga.  Hawa dibuang dan berada di sekitar daratan Mesopotamia atau tepatnya kalau sekarang yaitu di negara Irak, sedangkan Adam dibuang di daerah  India. 


Papan Indonesia dalam bahasa Melayu

Salah satu yang menarik yang ada di sekitar komplek Jabal Rahmah yaitu papan petunjuk yang dipasang oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dalam tiga bahasa yaitu bahasa Arab, Inggris dan Melayu/ Indonesia. Dapat dimengerti mengingat jamaah haji dari Indonesia yang terbesar dari negara-negara lain. Tentunya suatu kebanggaan tersendiri bagi jamaah kita.

Banyak onta beserta pemiliknya yang bertebaran di sekitar parkir mobil. Dengan SAR10 kita dapat berfoto dengan onta-onta tersebut bersama sebagai kenang-kenangan.    

Ibu masih lemah fisiknya, sehingga tidak mampu untuk turun dari bus.  Sedangkan bapak dengan menggunakan teropong cukup menyaksikan beribu-ribu orang mendatanginya.

Padang Arafah dinamakan juga sebagai kota setan, karena kota ini tidak berpenduduk, apalagi pada hari-hari biasa. Pada tanggal 8 Dzulhijjah nanti akan datang berjuta-juta jamaah dan seluruh dunia berbondong-bondong datang ke kota ini. Di tempat itu pula merupa an tempat yang afdol untuk memanjatkan doa supaya suami istri hidup rukun sampai akhir zaman.

Di sekitar padang Arafah, juga terdapat bukit yang dinamakan Jabal Nur, yaitu tempat Muhammad menerima wahyu yang pertama dari Tuhan. Di tempat ini pula Muhammad mengadakan pidato perpisahan dengan pengikut-pengikutnya dan setelah itu beliau menderita sakit dan kemudian meninggal.

Kunjungan dilanjutkan ke masjid Tan'im, yaitu tempat miqat (perbatasan) untuk haji/ umroh. Sholat sunnah dan niat umroh kami laksanakan dan selanjutnya berpakaian ihrom dan berangkat ke Mekah. Jam menunjuukan angka dua.

Kembali ke maktab untuk makan siang, sholat Dhuhur dan istirahat sebentar. Sholat Asar dilakukan di Masjidil Haram dilanjutkan dengan tawaf umrah. Selanjutnya sholat Magrib dan Isya tanpa beranjak dari tempat semula. Sa'i dilakukan seperti hari sebelumnya dan diakhiri dengan tahalul. Rangkaian kegiatan berakhir disini pada jam 21.00.

Rombongan kembali ke maktab, mampir ke kedai makan untuk beli barbeque untuk mengganjal perut malam hari. Baju ihrom bisa dilepas dan acara selanjutnya bebas.

Hari Senin tanggal 18 Februari 2002 pakaian ihrom dicuci, karena sudah agak bau dan tidak nyaman untuk terus menerus dipakai.

Hari Sabtu tanggal 19 Februari 2002 Ketua Rombongan mengingatkan kembali jadwal yang telah disusun sebelumnya, yaitu :

Tanggal 20 Februari 2002 atau 8 Dzulhijjah rombongan akan berangkat ke padang Arofah dan wukuf (mukim sebentar). Jamaah supaya menggunakan pakaian ihrom.

Tanggal 22 Februari 2002 atau tanggal 10 Dzulhijjah kembali ke Musdalifah-Mina untuk melaksanakan jumroh Aqoba.

Tanggal 23 Februari 2002 kembali ke Mekah. Dalam jadwal tersebut disarankan untuk membawa bekal secukupnya saja, cukup SAR200, bekal yang lain supaya dititipkan ke suami bu Hayati untuk disimpan di lemari di maktab. Kami titipkan uang SAR4000.

 

11 Padang Arofah

Hari Rabu tanggal 7 Dzulhijjah 1422 H atau bertepatan dengan tanggal 20 Februari 2002 jam 14.00. Dengan berpakaian ihrom seluruh rombongan jamaah berangkat naik bus yang sudah tersedia ke padang Arofah. Barang yang dibawa hanya tas jinjing saja, sedangkan tas/ koper besar ditinggal di kamar masing-masing dimaktab.


Padang Arofah 

Perjalanan cukup padat, karena semua jamaah berbondong-bondong menuju ke padang ini, sehingga perjalanan yang pada hari biasa bisa ditempuh dalam watu tidak sampai satu jam, tetapi kali ditempah dalam waktu tiga jam. Jam 17.00 tiba di Arofah,jamaah masuk ke tenda yang terseia sesuai dengan kloter masing-masing. Sembari menunggu keesok harinya (8 Dzulhijjah)  para jamaah memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan tilawah, dzikir.  

Seperti biasa, kebiasaan bapak apabila datang di tempat yang baru mengamati apapun yang ada di sekitarnya, apalagi jika ada yang aneh atau pengalaman pertama. Tenda  terbuat dari bahan yang anti terbakar berwarna putih berlantai karpet. Tendanya cukup besar bisa untuk sekitar seratus jamaah. Hawanya cukup panas, jamaah lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu. Walaupun kami sempat membawa bekal ternyata makanan yang disediakan maktab, cukup. Daging yang dimasak dengan resep makanan Arab, terlihat seperti rendang, buah-buahan, supermie dan minuman juice tersedia cukup banyak. Air panas disediakan untuk kopi/teh juga tersedia.

Kamar mandi, dalam bentuk tenda, tersedia cukup banyak, juga cukup baik kondisinya, air panas juga mengalir melimpah.

Dalam sehari disediakan makan empat kali, bahkan kadang-kadang membingungkan bagaimana cara menghabiskannya.

Malam harinya tertidur pulas dan dalam tidur itu bapak sempat mimpi cukup indah yakni berada di sebuah taman yang penuh dengan bunga yang berwarna-warni indah sekali.  Entah apa makna dari mimpi ini.

Suasana di Tenda Arofah

Inti dari rukun haji disinilah tempatnya, yaitu wakuf (bermalam) di Arofah. Padang Arofah terhampar diantara bukit-bukit yang mengelilingi, bukit yang terdiri dari batu-batu tandus tidak ada satu pohon tinggi yang tumbuh. Bapak mencoba naik ke salah satu bukit dan ternyata banyak sekali dijumpai jamaah, dari  Arab sedang tidur dan berkemah disitu. Ini merupakan jamaah mandiri yang ikut maktab, sehingga fasilitas untuk tidur dan keperluan sehari-hari dilakukan secara mandiri.

Tumbuhan kerdil dijumpai disekitarnya, ciri tumbuhan yang kurang mendapatkan air, lebih tepat mungkin berupa rumput dengan bunga-bunga warna kuning. Terlihat indah diantara bebatuan yang warnanya monoton. Ada juga burung merpati. Apakah diluar musim haji burung-bururng tersebut juga ada di sini ?  

Rasa keinginan tahu-an terus berlanjut, bapak survai lokasi, sebagai pengenalan daerah baru. Banyak dijumpai truk-truk kontainer yang membagi-bagikan makanan kepada siapa saja yang mau. Salah satu cara jamaah membagikan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan.


Ibu Bertemu Anak Menantu

Hari ini, mas Hari dan mbak Yani berjanji untuk bertemu dengan bapak dan ibu, setelah sebelumnya ber-SMS dengan  pak Erwan. Tetapi hanya ketemu ibu dt tenda, karena bapak sedang survai.

Seperti sudah diterangkan di depan, bahwa kawasan  padang Arofah terdapat bukit-bukit kecil, diantaranya Jabal Rahmah yaitu tempat bertemunya nabi Adam as dan ibunda Siti Hawa as setelah berpisah selama ratus-an tahun dan juga tempat Nabi Muhamad mengucapkan pesan-pesan terakhir kepada para sahabat-sahabatnya sebelum beliau wafat.  

Terdapat Jabal Nur yaitu tempat berupa gua dimana Nabi Muhamad mendapat wahyu untuk pertama kali. Ditempat ini nabi Muhammad merenung, berkontemplasi, instrospeksi diri tentang jati diri yang hidup di kalangan masyarakat Quraish yang saat itu disebut dengan masa jahiliyah. Siapa sebenarnya diri kita ini.  Seperti halnya Adam dan Hawa yang merupakan manusia pertama tercipta sehingga kita semua menjadi ada. Bapak dan ibu melahirkan anak, berkeluarga selanjutnya memperoleh keturunan dan memulai kehidupan baru dan seterusnya.

Disini juga tempat suami istri bersimpuh memohon kehadapan Tuhan untuk selalu dikarunia hidup aman dan damai dalam mencapai tujuan hidup.

Kegiatan rutin dimulai dari sholat Dhuhur, sambil menunggu Asar mendengarkan ceramah dari Ketua Rombongan, berdzikir, membaca Al Qur'an dan beberapa jamaah membaca sampai qatam. Walau dirasakan memang agak membosankan, tetapi karena niat yang kuat untuk beribadah, semua dapat dilalui dengan senang dan gembira.

Dengan berhaji diharapkan akan menjadi contoh, bagaimana menjadi orang yang berderma untuk orang lain dan tentu berbuat lebih baik dari sebelumnya.

Jam 24.00 kami meninggalkan Arofah menuju Mina dan masih dalam keadaan menggunakan baju ihram.


12 Mina

Rangkaian perjalanan ibadah selanjutnya yaitu ke Mına dalam rangka melempar jumrah. Perjalanan menggunakan bus yang sama, mampir dulu dı Muzdalifah mencari batu kerikil untuk melakukan jumroh. Bus berjalan merambat seperti jalannya siput, karana semua jamaah juga sedang menuju ke arah yang sama. Seandainya tidak dengan rombongan berjalan kaki mungkin waktunya jauh lebih singkat.  Berangkat dari Arofah jam 00.30 dan baru tiba di Mina jam 5.30 keesokaan harinya. Cukup lama untuk jarak yang tidak tarîalu jauh.

Kondisi geografi di Muzdalifah tidak terlalu berbeda dengan kondisi di Arofah. Walaupun pada malam hari, terlihat gunung-gunung batu dan sebagian dataran. Banyak di jumpai jamaah  haji yang sedang tidur terlelap dan beberapa tampak duduk-duduk beralaskan tikar seadanya.


Peta Perjalanan Haji

Sesampai di Mina juga telah disediakan tenda dalam bentuk yang lebih kecil dan hanya memuat untuk ± 60 jamaah. Seperti halnya di Arofah, jamaah berbaur menjadi satu. Walau hawa di luar tenda amat panas, di dalam terasa sejuk karena ada AC.  Air panas untuk minum tersedia di meja2, kamar mandi dilengkapai dengan water heater dan toilet cukup memenuhi kebutuhan jamaah.  Jamaah dipersilahkan istirahat sebentar dan dilanjutkan dengan sarapan.

Masih memakai pakaian ihrom, rombongan berangkat ke tempat Aqobah untuk melempar jumroh. Jaraknya ± 5 km dari Mina.  Jumroh, secara bahasa artinya batu kecil,  secara fisik berupa tugu yang menjulang setinggi ± 10 meter. Terdapat tiga jumroh, yatu Aqobah, Wustho dan Ula. Untuk kenyamanan dan antisipasi banyaknya jamaah, jalur yang menghubungkan ketiga jumroh tersebut dibangun bertingkat sehingga jamaah dapat melaksanakan dari atas atau dari bawah.

Di sekelilingnya telah dipasang tenda-tenda yang digunakan sebagai tempat menginap kafilah haji. Sedangkan bangunan-bangunan maktab terletak di seberang gunung lain. Untuk manghubungkan kedua tempat  tersebut  telah dibangun  jalan panghubunq  berupa tarowongan  yang menembus gunung-gunung.       Infrastruktur yang dibangun Pemerintah Saudi cuku bagus. Di saberang beraspal mulus, fasilitas umum berupa tempat minum cukup memadai dan memenuhi sesuai dengan kapasitas jamaah haji.

Terlihat di seberang bukit nun agak jauh di seberang sana, tampak bangunan yang tempat pernukiman, atau mungkin istana orang-orang kaya Arab.                                        

Kegiatan ritual di Mina masih berkaitan sekali dengan kisah perjalanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as di tanah Mekkah. Keinginan nabi Ibrahim yang menginginkan keturunan untuk meneruskan dakwa taukhid, di-ijabah Allah dengan menganugerahkan seorang anak, yang diberi nama Ismail. Berasal dari bahasa Arab dan Ibrani  yaitu isma yang artinya mendengar dan eel yang artinya Allah. Maknanya anak yang diberikan setelah mendengar doa hambaNya (nabi Ibrahim).   Ada ulama yang menambahkan bahwa pemberian anak tersebut, kelak akan diserahkan kembali kepada yang memberi, Allah. Wallahulalam.


Penyembelihan Nabi Ismail


Seiring dengan berjalannya waktu, Ismail tumbuh yang semakin tumbuh besar menjadi seorang remaja (ada yang megatakan berumur 14 tahun-an).  Allah menagih janji Ibrahim, melalui mimpi yang selalu datang selama tiga berturut-turut, untuk menyembelih anaknya. Dalam kaidah kenabian, mimpi seorang nabi adalah perintah. Dalam suasana kebimbangan yang sangat mendalam, wajar sebagai seoran ayah, perintah tersebut tidak langsung dilaksanakan tetapi diinformasikan kepada calon korban, Ismail, tentang mimpinya. 


Dan apa jawaban Ismail, tidak menolak, dapat dibayangkan jika itu terjadi di masa kini. Ismail dengan jawaban yang menyejukkan hati dan mendukung perintah tersebut, “Laksanakan perintah Allah, wahai Ayah, InsyaAllah engkau dapati aku sebagai orang yang sabar”.

Dalam menjalani perintah tersebut, selama perjalanan di padang Mina,  mereka berdua mendapat banyak godaan iblis berupa bisikan-bisikan dan rayuan yang intinya untuk menggagalkan perintah dengan berbagai macam dalih, misalnya itu bukan perintah Tuhan dan lain-lain.

Ibrahim sangat marah kepada suara-suara bisikan dan melempar dengan batu ke arah suara-suara itu. Demikian dilakukan terus menerus sampai tiga kali.

Peristiwa ini diabadikan sebagai bagian dari ritual ibadah haji dan ini merupakan penghargaan yang sangat mulia terhadap pengorbanan seorang nabi dalam menjalani ketaatan terhadap perintah Allah.

Atas kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah Allah, atas Kekuasaan dan Kebesaran Allah, tubuh Ismail yang tergeletak pasrah untuk disembelih, diganti dengan seekor domba, yang (konon) dikirm langsung dari surga. 


Melempar Jumrah
Setan-setan pengganggu diibaratkan dalam bentuk bangunan tugu yang dijadikan sasaran lemparan batu oleh para jamaah. Terdapat tiga tugu yang digunakan sebagai lempar batu yaitu Jumrah Ula, Wustha dan Aqoba tempat setan itu dan melempari balik kearah suara itu sebanyak tujuh kali di tiga taan yang selanjutnya dinamakan sebagai Ula, Wustha clan Aqoba. Sedangkan peristiwa penyembelihan, disimbilsasikan dengan penyembelihan hewan kurban bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji.    

Jumat tanggal 22 Februari 2002 atau bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1422 jam 07.00.  Setelah melempar jumrah, kesehatan ibu menurun sehingga harus  istirahat di tenda maktab. Rombongan jamaah  lain berangkat menuju Aqoba untuk melempar jumrah.

Berjuta-juta jamaah dari berbgai negara berbondong-bondong dan masing-masing membawa identitas berupa bendera negara atau identitas lain yang mudah dikenal. Antisipasi apabila ada jamaah yang lepas dari rombongan.

Ada yang tampak diantara jamaah berebutan untuk berbaris rapi, atau ada juga yang berjalan santai melewati terowongan yang menembus gunung batu sebagai jalan pintas akses dari Mina ke lokasi jumrah. 


Terowongan ke Mina

Terdapat dua terowongan yang masing-masing dibuat searah untuk jamaah yang akan melempar jumrah dan satunya untuk arah sebaliknya. Untuk menghindari bentrokan jamaah seperti yang terjadi pada tahun 1980-an dan menyebabkan ratusan jamaah meninggal karena terdesak di dalam  terowongan. Keadaan di dalam terowongan sendiri cukup terang, karena dipasang lampu-lampu yang cukup dan sirkulasi udara yang terlihat sudah diperhitungkan dalam pembangunanya.

Di sepanjang jalan banyak pengemis, yang umumnya berkulit hitam, orang Afrika. Ada yang tangannya cacat, baik yang kiri atau kanan atau keduanya. Berdasarkan informasi yang bapak dapatkan, mereka adalah mantan penjahat yang telah mendapat hukuman potong tangan atau kaki. Tidak jelas apa kesalahannya sehingga tangannya harus dipotong.  Saudi Arab merupakan salah negara yang menerapkan syariah Islam, diantaranya hukum potong tangan, penggal kepala sesuai tingkat kesalahannya.

Bapak mendapat informasi, entah dari mana,  Pemerintah KeraJaan Arab Saudi menyadari bahwa sistem pengadilan  demikian tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang.

Banyak sekali jamaah yang berdiri d sekitar Aqaba. Masing-masing berusaha sekuat tenaga untuk mendekati tugu jumrah. Perjuangan yang cukup berat, beruntung bagi orang-orang Afrika atau Turki yang fisik badannya besar dan tegap, sekali melangkah dapat menyingkirkan orang-orang yang postur tubuhnya relatif kecil, seperti orang-orang Asia (Selatan, Timur).    Dalam posisi berdiri yang cukup jarak terdekat dengan batu jumrah, jamaah melempar kerikil-kerikil Jumrah  Aqaba dengan sekuat-kuatnya dengan niat untuk menjauhkan gangguan setan.

Ada yang sampai kena batu ada yang tidak sampai atau bahkan kena kepala jamaah lain yang ada di depan jamaah lain. Dan juga bapak terkena lemparan kerikil yang dilempar oleh jamaah yang berada di belakang kita.  Tragis dan nasib malang ada seorang jamaah yang kepala nya berdarah, bisa jadi kena lempat kerikil sebesa buah jeruk purut.

Jam 11.00 prosesi melempar 3 jumrah selesai, ketua rombongan memberi aba-aba untuk kembali ke maktab  Menjelang tiba di tenda maktab kloter 52, tidak terduga ketemu mbak Utari, putri kedua bapak Tarso, dan suaminya, mas Yusuf.

Setiba di tenda terbayang mandi dengan air panas akan menyegarkan badan kembali, setelah berjalan cukup jauh menggunakan baju ihram.   

Sesama jamaah saling bersalaman menunjukkan suka cita karena telah melaksanakan sebagian rukun haji, alhamdulillah.

Dilanjutkan dengan makan siang yang sudah tersedia,dan berlebihan dan­ melimpah ruah bahkan melebihi apa yang biasa tersed1a di rumah. Dalam sehari  disediakan empat kali makan. Padahal kebiasaan kita makan di tanah air hanya tiga kali. Hanya... menunya yang belum/ tidak familiar dengan lidah malayu.

Seandainya jika tidak mengingat bahwa kami membutuhkan tenaga untuk keesokan/ malam harinya  mungkin  segan  untuk  menyentuh  makanan  tersebut.

Walaupun makanan yang disediakan cukup, hampir  semua rombongan menderita batuk pilek. Di dalam tenda selalu terdengar batuk jamaah layaknya koor yang  saling sahut menyahut, ibarat paduan suara yang tidak dipimpin oleh seorang dirigen.

Berpakaian ihrom merupakan beban yang cukup berat bagi kami yang tidak terbiasa. Hakikat dari penggunaan baju ihrom adalah adanya persamaan diantara semua kafilah. Ada sedikit berita yang kurang menggembirakan, diantara teman serombongan, pak Iskandar, sewaktu di padang Arofah terserang penyakit, kemungkinan terserang penyakit ginjal dan dibawa menggunakan ambulance ke rumah sakit di Mekah.

Sabtu tanggal 23 Ferbuari 2002 atau 11 Dzulhijjah 1422 aktifitas harian dimulai dengan melaksanakan sholat shubuh berjamaah di tenda. Bapak, pak Jafar dan istri, bu Hayati dan suami mencoba mencari tahu keadaan pak Jafar di rumah sakit Mekah. Bu Hayati dan suami tetap di rumah sakit sedangkan yang lain menuju maktab di jalan Jawarhal. Petugas maktab membukakan pintu dan ternyata pintu sudah dibongkar oleh tamu yang tak diundang. Koper-koper berserakan. Entah karena kebetulan atau apa, penghuni kamar yang dibongkar ada semua, kecuali bu Heni. Kecurigaan muncul ketika melihat amplop yang tertulis angka SAR1000 dan Rp.200.000,- berserakan. Sempat terlontar pikiran uang sudah diambil oleh pencuri itu. Tetapi setelah diinformasikan ke yang bersangkutan, uang itu dibawa ke Mina.

Seketika itu juga pintu diperbaiki oleh petugas dari maktab."Siapa gerangan yang begitu tega mencuri dalam situasi ibadah yang suci ini?", terucap dalam hati.

Jam 14.00  sudah sampai kembali ke Mina, istirahat, tidur siang sebentar. Jam 18.00 rombongan bersiap-siap berangkat untuk melempar jumroh di Ula , Wustha dan Aqaba. Jalan menuju lokasi jumroh seperti hari-hari sebelumnya, penuh. Berbaris dan berebut tempat mulai saat di terowongan dan terlebih-lebih di tempat jumroh. Dorong mendorong, saling mendahului untuk mendekati tempat yang paling dekat. Bagi yang kuat dan gesit akan dapat mencapai tugu, sebaliknya bagi yang fisiknya pas-pasan yah cukup dari kejauhan melempar dan kembali lagi.

Jumroh berakhir jam 21.30, makan malam, sholat Isa dan persiapan untuk tidur malam. Terdengar suara batuk bersahut-sahutan, lomba batuk dimulai lagi. Ada batuk ingus, batuk kering dan ada juga yang batu  basah.

Minggu tanggal 24 Februan 2002 atau 12 Dzulhijjah 1422 tidak ada acara yang khusus pada hari ini. Kegiatan rutin biasa dan makanan tambahan mulai sholat Shubuh, sarapan pagi, istirahat, sholat dan seterusnya. Sarapan dengan menu supermie rebus, telur matang dan juice jeruk. Buah yang tersedia ada buah apel dan jeruk.

Hari Senin keesokan· harinya adalah hari terakhir di Mina. Hari ini dipersiapkan untuk jumroh terakhir.

Jam 07.00 kami sudah sampai di tempat jumroh, jamaah sudah jauh berkurang, sehingga cukup nyaman dan dengan mudah untuk mendekati ketiga tugu Ula, Ustah dan Aqoba. Jamaah berkurang dari hari-hari sebelumnya.

Di sepanjang jalan menuju Mina banyak dijumpai pedagang musiman dari berbagai negara dengan berbagai barang dagangan yang di tawarkan.

Pedagang dari Afrika berjualan kain-kain, dari Ukraina/ Cheknya berjualanan peralatan teknik misal mesin bor, obeng, kuci pas, teropong, cincin dan lain-lain.

Jam 09.30 sudah berada di tenda kembali dan mempersiapkan kepulangan ke Mekah. Makan siang masih disediakan dan jam 12.30 berangkatlah rombongan meninggalkan Mina. 

Ibu Sakit

Dalam perjalanan ke Mekah ibu terserang jantung, sesak napas dan mengeluh putus asa: "Apakah ibu sempat sampai ke rumah?". Bapak hanya menjawab: "Saat ini bukan waktunya untuk berkata demikian. lbu supaya istigfar diberi kesembuhan dan kekuatan untuk menyelesaikan ibadah sampai selesai".

Sampai di maktab sudah menjelang sore, jam 16.00. Ibu langsung istirahat di lantai 3 di tempat dokter untuk memperoleh penanganan yang lebih serius. Sampai jam 18.00 dokter masih memonitor kesehatan ibu dan terus tidur sampai pagi hari